
""Morgan."" Batin marah Bintang.
""Dir..!"" Morgan langsung duduk di samping Bintang. Cowok itu tidak perduli dengan tampilan Bintang yang tompelan. dan ia juga tidak mengenali Bintang.
""Apa?"" ketus Dirgan.
""Minta nomernya Bintang dong.?"" pinta Morgan.
Deg..
Bintang tersentak, menatap sinis ke cowok yang pernah membuat hatinya patah hati.
""Buat apa?"" Dirgan melirik Bintang yang ada di depannya.
""ya..adalah..!"" sahutnya tersenyum manis.
Bintang hanya diam mendengarkan obrolan mengenai dirinya.ia penasaran apa maksud dari mantan terindah sekaligus mantan yang menyakitinya.
""Tidak..aku takut sama Bintang, jika Nomernya di sebarkan ke orang yang pernah melukainya."" Dingin Dirgan.
""tch.. justru itu! aku ingin meminta maaf, dan dulu itu cuma salah paham."" terang Morgan.
""tch dasar, salah paham apanya? jelas jelas Lo ciuman di depan mata Gue, kampreet. Gue tonjok tau rasa tuh, muka blasteran."" batin Bintang mencibik kesal
""Ayolah, Dirgan, please..Aku masih sayang tahu ke Bintang."" mohonnya curhat, agar Dirgan mau memberikan kontak Bintang.
""sayang pala Lu Benjol."" geram Batin Bintang
""Byuuur..Bugh..""
""Shiit...Aww."" ringis Morgan ketumpahan minuman yang di sengaja ke senggol oleh Bintang, bukan hanya itu yang di lakuin Bintang, Gadis tompel ompong itu pun sengaja menginjak kuat kaki Morgan yang duduk di sampingnya.
""Apa yang kau lakukan."" sebal Morgan menatap tak suka ke Bintang.
""ohw..maaf lho, aku tidak sengaja, tangan dan kaki ku memang nakal sering ceroboh."" Bintang memasang muka sesalnya yang dibuat buat sebisa mungkin padahal ia ingin sekali membuat perhitungan yang lebih dari pada itu.
""yaaaak..."" kesal Morgan pergi meninggalkan meja kantin yang di duduki Bintang dan Morgan.ia tidak mungkin kan membalas cewek hanya karena tidak di sengaja.
""pfufufufu."" Dirgan tertawa tertahan menatap kepergian Morgan yang terpincang.
__ADS_1
""Bugh..""
""Aww..kok aku ikut di timpuk sih?"" ringis Dirgan saat tangan enteng Bintang memukul kuat lengannya. mata siswa siswi yang berada di kantin pun sedari tadi sudah menatap aneh ke Bintang yang dengan mudahnya bisa bergaul dengan Dirgan yang cukup terkenal di sekolahannya.
""Biarin, sini Aku hajar sekalian, hu? bisa bisanya kamu menyembunyikan jika si kampret Morgan sekolah di sini juga."" Cibiknya memarahi Dirgan.
""Huuuuu..aku kira tidak penting, buat ngasih tahu ke kamu tentang mantan indah mu itu."" Godanya mencolok pelan kaca mata bundar Bintang.
""Tch..Mantan indah apanya, yang ada mantan bikin sakit hati,iya."" Bintang memperbaiki kaca mata tebalnya yang melorot karena ulah Dirgan.
""Ada lagi satu mantan mu yang bersekolah di sini."" kata Dirgan lalu memutar matanya untuk mencari sosok yang di carinya.
""Siapa.?""
""nah..itu dia..""
Bintang mengikuti arah pandangan Dirgan.
""Justien-tapi-bukan- Bieber."" pekiknya kaget, karena setahunya sebelum putus justien-tapi-bukan-Bieber itu tidak bersekolah disitu.
""yaaak..Justien mantanmu."" Goda Dirgan. ""makanya aku melarang mu untuk pindah kesini, Bintang sayaaaaang."" Dirgan tertawa keras melihat bibir cemberut Bintang, dan spontan mata penghuni kantin menatapnya lagi yang lebih aneh.
""eh..Bin..mau kemana?"" tanya Dirgan saat Bintang berjalan ke tempat duduk Justien-tapi-bukan-Bieber.
Bintang langsung duduk di samping Justien-tapi-bukan-Bieber,ia tidak perduli dengan kedua temannya Justien-tapi-bukan-Bieber itu yang menatapnya jijik. Justien pun sama, pria keturunan indo Jerman itu malah bergidik ngeri.
""Ya ampun Bin, ini baru sehari kamu disini lho, tapi udah mau berbuat ulah."" Dirgan geleng geleng tak habis pikir dengan sahabat galaknya. ia hanya diam di tempat ingin melihat apa yang akan di perbuat oleh Bintang.
""Ehh.. Tompel..! kenapa Lo duduk di sini."" marah Justien-tapi-bukan-Bieber.
""tch.. kemaren kemaren kamu Uda mencium pipiku, dan gue belum puas memberi pelajaran ke Lo Justien-tapi-bukan-Bieber."" seringai Bintang membatin
""iya..ihh..kita kan jadi tak berselera makan.!"" Timpal Roy temannya Justien-tapi-bukan-Bieber.
""Siapa sih, Justien.?"" Tanya Rico teman lainnya.
""Mana aku tahu.?"" ketus Justin menatap tajam ke Bintang.
""Maaf lho..aku cuma mau menebeng duduk di sini, aku tak berniat kok ngeganggu kalian."" Bintang tersenyum lebar memamerkan gigi hitamnya.
__ADS_1
""aiss..Setan tompel Ompooong."" Justien-tapi-bukan-Bieber dan kedua temannya terperanjat kaget jatuh kelantai secara berjamaah dan alhasil mengundang gelak tawa para penghuni kantin.
""Aiss..memalukan."" kesal Justien-tapi-bukan-Bieber berdiri membersihkan bajunya yang terkena minuman berwarna.
"" ya ampun, keren gila si tompel itu, pasti dapat balasan ekstrim dari geng Justien yang pembuat onar itu."" lirih salah satu siswa yang pernah jadi korban Justien.
""Sialan.."" Justien-tapi-bukan-Bieber menunjuk kasar wajah Bintang.
""Maaf?"" Bintang memicing, menatap tangan Justien-tapi-bukan-Bieber yang terluka, otaknya melanglang buana curiga, tentang insiden di tempat pelatihan penembakan.
""Tidak ada kata maaf."" sentaknya menarik kuat tangan Bintang untuk mengikutinya.
Suasana Kantin jadi hening seketika, menatap iba ke Bintang. namun tidak ada yang berani menolongnya.
Dirgan hanya membuang nafas beratnya, seraya mengekori langkah Justien.
Bintang pun sama hanya mengekor pasrah kemanapun Justien membawanya ia akan nurut namun bibir ranumnya menyeringai tajam.
""wow.. pemandangannya keren abis..jika ingin mengajak ku melihat pemandangan di atas gedung, kenapa harus menyeret segala."" celetuk polos Bintang. ia sengaja berbicara sok polos padahal mah otak bahaya sudah menyambung kabel kabel untuk memberinya sinyal.
""tch.."" Justien berdecih menatap tajam ke Bintang yang lagi berdiri di pinggir roof top gedung.
""Kita tidak akan melihat pemandangan gedung sayang..tapi kita semua akan memandang body tubuh mu, walaupun muka kamu jelek tapi tubuh mu sungguh menarik, dan tubuh indah mu itu mengingat kan mantan cantik ku yang sangat galak ."" Terang Justine menatap nafsu Bintang.
""Tch.. brengsek, ternyata aku mempunyai mantan yang mesum, syukur waktu itu aku sudah putus, dia sangat berbahaya, dasar bermuka dua."" Batin Bintang merasa jijik dengan tingkah sosok Justien yang baru di ketahuinya.
Bintang hanya bermuka datar, wajahnya tidak menampakkan ciri ciri orang takut, ia malah melipat tangannya di perut.
""Wah..Bro, anak culun itu kayanya tidak mengerti bahasa kita."" ucap Roy. melihat Bintang hanya santai tak bergeming.
""Bukan begitu bro, paling dia ingin pasrah membuka seragamnya untuk kita tonton bersama."" Timpal Rico.
""Hahaha..bagus, jika seperti itu.kita tidak perlu repot-repot memaksa menarik pakaiannya satu persatu."" Justien mulai mendekat pelan ke arah Bintang.
Ucapan Rico dan Justien berhasil memancing emosi Bintang yang di tahannya, niat di kantin hanya ingin mengasih pelajaran biasa ke Justien, namun kali ini berbeda, Justien dan teman temannya sudah melecehkannya dengan ucapan kotor dari mereka, dan kali ini ia tidak akan main main lagi. ia berpikir, sebelum ini apakah ada korban yang berhasil di lecehkan oleh sampah yang berdiri di depannya.
Bersambung...
jangan bosan yah..baca novel author yang sederhana ini, jangan lupa tinggalkan jejak mu...šš
__ADS_1
Like..komen..hadiah..Vote and rate lima...