BINTANG (Journey Of Love)

BINTANG (Journey Of Love)
BINTANG 66


__ADS_3

Aksa sudah berjalan menuju kasur seraya tangannya meraba-raba di udara karena matanya tidak bisa melihat akibat ulahnya sendiri yang sekarang tertutup memakai lakban hitam.


Hanya memakai insting, Aksa sudah menggapai kasur itu, dengan santainya Aksa langsung membuka selimut yang di kenakan Bintang dan ikut berbaring di sebelah Bintang, sehingga dirinya ikut tertutup di balik selimut.


Harum tubuh Bintang begitu menusuk masuk ke Indra pengendusannya membuat hasrat laki lakinya tersulut, Namun di tahannya karena ia sadar kalau dirinya belum pantas untuk menyentuh tubuh yang memabukkan itu.


""Bu Retno."" panggil Aksa.


Bu Retno terkesiap dari tercengangnya.


""iya, tu-tu-tuan.!"" Bu Retno masih terbata bata, ia belum bisa menebak tuan mudanya akan berbuat apa dengan mata tertutup lakban.


""Tolong tangan Bintang di taruh di atas dada ku, seakan akan dia sedang memelukku."" Pinta Aksa. ia tidak mau meraba-raba sendiri kalau salah pegang bahaya baginya, bisa bisa ia tidak tahan dengan hasrat lelakinya.


Bu Retno menurut paksa, sudah kepalang tanggung untuk menolak, ia dengan cepat melakukan apa yang di perintahkan oleh Aksa agar adegan muslihat itu cepat selesai.


Tangan Bintang sudah berada di atas dada bidang Aksa, dan posisi itu seakan-akan Bintang sedang memeluk agresif tubuh Aksa.


""Shit."" Umpat Aksa, Hasrat laki lakinya semakin memuncak saat kulit hangat nan lembut Bintang menyentuh kulit dadanya.


""cepat di foto Bu Retno, dan jangan sampai wajah ku tertangkap kamera biarkan wajah Bintang yang tertangkap, dan satu lagi, dada Bintang juga jangan sampai terbuka, tetap tutup pakai selimut."" Titahnya dengan berat hati melakukan tipu muslihat itu, sungguh sebenarnya Aksa juga tidak tega melakukan kecurangan tersebut, tapi bagaimana pun caranya Bintang harus menjadi miliknya. ia akan menggunakan foto tersebut untuk menekan Bintang agar Gadis itu tidak pergi dari hidupnya.


""Cepret..cepret... cepret."" Bu Retno dengan cekatan memotret adegan muslihat itu. Hasil potretnya pun sangat tidak senonoh untuk di publikasikan. apa lagi pas kepala Bintang sengaja di tidur kan di atas dada bidang Aksa. sungguh, Bintang di foto itu seperti Gadis yang sedang merayu seorang pria untuk melakukan hal yang berbau intim.


""Sudah tuan muda."" ucap Bu Retno.


""Eum."" sahut Aksa bergegas turun dari kasur.


""Tolong, di perbaiki selimutnya, Bu Retno."" Lanjutnya, Aksa ingin membuka penutup matanya.


Bu Retno tanpa menyahut langsung membetulkan selimut tersebut yang memang memperlihatkan buah dada Bintang yang masih terbungkus rapih


""Apa kah sudah.?"" tanya Aksa.

__ADS_1


""Sudah, tuan muda."" sahutnya.


""Aww.."" ringis Aksa, saat membuka paksa lakban tersebut membuat kulitnya terasa ketarik sampai bulu matanya pun ada yang ikut tercabut.


Aksa tanpa menoleh ke arah Bintang sedikit pun langsung berjalan menuju kamar mandi dengan masih berdada polos.


""Bu Retno, tolong kenakan pakaian Bintang kembali dan setelah itu Bu Retno boleh pulang."" Tutur Aksa sebelum menghilang di balik pintu kamar mandi.


""Baik tuan muda.""


Bu Retno kembali mengenakan pakaian Bintang yang baru di bawahnya. tidak perlu waktu lama ia sudah selesai melakukan tugas terakhirnya, merasa sudah kelar ia pun bergegas pergi dengan langkah tergopoh-gopoh. ia merasa bersalah kepada Bintang, pasalnya Bintang begitu baik sopan dan ramah kepadanya dulu di rumah lama Aksa.


""Aaarg..."" Di bawah guyuran shower, Aksa merutuki kelakuannya sendiri. dengan geramnya, tembok kamar mandi pun di jadikan samsak tinju pelampiasannya sehingga buku buku tangannya terluka dan mengeluarkan darah segar yang merembes keluar tapi langsung terhapus dari air shower yang terus mengalir.


""Perih tangan ku mungkin tidak setara luka hatimu setelah melihat foto foto terkutuk yang aku buat pada mu Bintang, Maaf kan Aku, tapi aku harus melakukannya."" Gumamnya merasa bersalah.


Aksa sekarang lagi memikirkan ide, bagaimana caranya supaya Bintang tidak mendapatkan tambahan guncangan mental untuk hari ini, Bintang pasti down lagi setelah terbangun dan menyadari dirinya sudah berganti pakaian, di jelaskan pun Bintang pasti tidak percaya kalau yang menggantikan pakaiannya adalah ibu Retno.


""Dirgan."" idenya dan bergegas menghentikan ritual mandinya.


***


""Sampai."" ucap Aksa memandang penuh sesal salah ke Bintang yang masih terpejam cantik di kabin belakang.


""Tuan Muda."" ucap sang Dokter pribadi Aksa, Dokter pribadinya sendiri yang menjemput Bintang dan Aksa di lobby rumah sakit karena Aksa sudah menghubunginya sebelum berangkat.


""Bawah masuk suster."" Titah sang Dokter setelah Bintang sudah di taruh di atas brankar.


""Saya permisi tuan muda."" pamit sang Dokter.


Aksa hanya mengangguk karena dirinya sedang sibuk mendail kontak Dirgan.


***

__ADS_1


""Di mana Bintang."" nyalang Dirgan, datang datang sudah ketus ke Aksa.


Dirgan yang mendengar kabar bahwa sahabatnya masuk ke rumah sakit langsung meninggalkan acara pembukaan showroom barunya.


""ada di dalam."" Datar Aksa melirik pintu ruangan salah satu kamar VVIP rumah sakit.


""Jangan kemana-mana, aku ingin berbicara setelah melihat keadaan Bintang."" tuturnya.


""Aku tidak bisa berlama-lama di sini, aku akan menghadiri meeting penting."" Bohong Aksa.


Seketika Dirgan menghentikan tangannya yang siap menarik knop pintu lalu berbalik ke wajah datar Aksa.


""Bintang kenapa bisa pingsan ? apa yang kamu perbuat ? tadi, sebelum berangkat kerja dia sehat sehat saja, katakan?"" tuduh Dirgan.


Aksa tersenyum miring seakan akan meledek kekhawatiran Dirgan.


""Santai, dia baik baik saja, jangan menuduh seperti itu, aku tahu kamu suka dan cinta kepada Bintang tapi tidak usah berlebihan."" Serang ucapan Aksa.


Dirgan terkesiap, kenapa Aksa bisa membaca perasaannya.


""jangan sok tahu"" kilah Dirgan.


""tch, berbohong, sejak sekolah pun aku sudah tahu kalau kamu cinta kepada sahabat sendiri, tapi sayang.. Bintang tidak menyadari itu, dia hanya mencintai ku, dulu dan sampai saat inipun dia masih mencintaiku."" Tekan Aksa.


Dirgan mematung, mencerna setiap penuturan Aksa, memang begitulah kenyataannya, Bintang memang tidak pernah menyadari perasaan cintanya. tapi ia yakin cinta Bintang sekarang bukan milik Aksa lagi.


""Kamu terlalu percaya diri Aksa, dulu Bintang memang mencintai mu tapi sekarang berbeda, dan iya....aku akui, aku cinta dan sayang kepada Bintang sejak dulu, sebelum kamu masuk kedalam hidup Bintang pun rasa ku padanya sudah ada."" jelas Dirgan dan berniat beranjak dari hadapan Aksa. tapi...terhenti dan berbalik lagi.


""Dulu rasa itu aku pendam, tapi sekarang aku akan mengutarakan kepadanya."" Tantang Dirgan.


Seketika tatapan Aksa menatap dingin ke Dirgan, Sahabat Bintang itu pun tak kalah membalas dengan tatapan elangnya.


""Percuma, karena Bintang akan menjadi milikku sebentar lagi, dan bersiap siap lah merasakan patah hati sebelum memiliki hati itu."" Aksa dengan bangganya memperlihatkan senyum ejeknya ke Dirgan.

__ADS_1


""ya...kita lihat saja, bagaimana kisah ini berakhir."" Datar Dirgan lalu meninggalkan Aksa yang masih menatap dirinya dengan tatapan horor.


""Aku yang akan menang."" Seringai Aksa yang sudah memegang kartu As saat ini.


__ADS_2