BINTANG (Journey Of Love)

BINTANG (Journey Of Love)
BINTANG 43


__ADS_3

""Stooop..pak.."" pekik seorang gadis yang berada di atas taksi, menyuruh Sang sopir berhenti saat ekor matanya menangkap sosok pria yang sedang kesusahan dengan tangan menggendong tubuh seorang gadis di bawah derasnya hujan.


Taksi berhenti mendadak, sang sopir menatap penumpang dengan alis bertaut.


Namun yang di tatap langsung turun dari mobil.


""Astaga..apa yang..."" pekiknya tertahan terkejut. Gadis yang berpenampilan tomboy itu menatap curiga ke Dirgan setelah meneliti tubuh Bintang yang terluka, ia mengenali Bintang dan Dirgan. Namun hanya sebatas kenal muka tidak pernah saling menyapa hangat di sekolahan yang baru saja menyatakan mereka lulus.


""Tolong aku, aku butuh tumpangan."" Setelah menoleh ke gadis tomboy manis itu, Dirgan segera berjalan cepat ke arah taksi. Dirgan tak perduli dengan tatapan aneh gadis tersebut.


Mereka sudah di atas taksi, gadis tersebut masih menatap curiga ke Dirgan yang duduk di bangku belakang penumpang bersama Bintang yang di tidurkan di pahanya. sedangkan dirinya mengalah duduk di samping pengemudi taksi.


""Apa kamu melakukan kriminal?!."" tuduhnya ke Dirgan.


""Pak tolong lebih ngebut lagi..."" Dirgan tak mengindahkan tuduhan itu, ia hanya mementingkan kesalamatan sahabatnya. melirik sekilas Gadis tersebut lalu kembali sibuk memeriksa keadaan Bintang, memastikan denyut nadinya.


""Bertahanlah.."" Panik Dirgan.


""Hey.. kamu..! Tutup pakai ini.."" Gadis itu menyodorkan syhal coklatnya ke Dirgan, menyuruh untuk menutupi luka tusuk Bintang agar darahnya tidak bercucuran lebih lancar.


Dirgan menyambar kain tersebut dengan cepat. "" Terimakasih."" tulusnya.


Hening... Gadis itu tertahan untuk bertanya ke Dirgan, melihat wajah panik itu, ia hanya bertanya dengan benaknya sendiri. Bintang kenapa bisa terluka..? apakah yang melukai orang yang sedang memangkunya..? hubungan mereka apa? setaunya Bintang itu pacarnya Aksa? apakah Bintang pacar barunya Dirgan, play boy itu? play boy yang membuat adiknya menangis sampai sakit karena di putusin tanpa sebab.? ingin sekali ia menghajar Dirgan saat ini, jika mengingat adiknya merengek curhat kepadanya sampai hidup tenangnya di gangguin terus karena di paksa untuk mendengar curhatan yang tak bermutu, apalagi tentang cowok yang sok ganteng seperti orang yang lagi menumpang di taksinya.


""Selain play boy, ternyata kriminalitas juga."" Gumamnya berasumsi.


****


""Hah?..ini kan anaknya Dr Miller, pemilik rumah sakit ini."" pekik suster yang mendorong brangkar Bintang.


Dirgan langsung berhenti tersadar di selah langkahnya, ternyata sakin panik dan takutnya Bintang kenapa kenapa, ia sampai lupa menghubungi keluarga Bintang.

__ADS_1


Dirgan merogoh kantongnya untuk mencari Handphone, ingin menghubungi keluarganya Bintang.


""Aah..sial..pakai mati lagi, dasar handphone murahan."" rutuknya ke handphonenya yang mati terkena air hujan.


""Ni.. pakai handphone mahal ku.."" Sindir gadis yang dari tadi membantu Dirgan. menyodorkan layarnya ke depan wajah tampan basah Dirgan.


""Kamu..?"" Dirgan menoleh ke asal suara, ia tidak tahu kalau gadis itu masih mengekor.


Apa gadis manis ini meminta bayaran taksi karena dirinya sudah menumpang? atau.. Gadis ini mengikutinya karena dirinya di tuduh menjadi penjahat, penyebab Bintang terluka, pikir Dirgan.


""iya..aku.. Kenapa ? tidak suka ?"" ketus Gadis tersebut.


Dirgan tak merespon, ia tidak punya waktu untuk meladeni gadis aneh yang selalu ketus sejak bertemu di mading sekolahan. Dirgan malah pergi ke arah resepsionis untuk pergi meminjam telepon. percuma ia menerima tawaran gadis itu jika no keluarga Bintang tidak di ingatnya luar kepala, Pikirnya rumah sakit ini pasti tahu no pemilik rumah sakit itu.


""tch...belagu.. Sombong...Sok nolak.. tadi aja minta numpang... Nyesel aku nawarin handphone ke dia, kali ini kamu masih selamat tidak aku hajar, jika kita bertemu lagi di jalan, aku akan menghajarmu, gara gara kamu adik ku masuk ke rumah sakit, apa sih hebatnya dia, tampan sih tampan, tapi kalau play boy di tambah kriminalitas, apa gunanya."" Gadis itu menggerutu di sela langkah panjangnya menulusuri koridor rumah sakit ingin menjaga adiknya yang di Opname.


****


""Dirgan..."" pekik Serempak mereka bersama.


Dirgan menoleh dengan wajah yang berekspresi khawatir. dan berhambur masuk ke dekapan Fina. ""Mama... Bintang..ma ! Bintang terluka..!"" adunya meraung.


Tidak biasanya Dirgan terlihat manja di depan orang tuanya, apa lagi di depan semua keluarga Bintang. Fina saja sampai tercengang seraya memeluk anaknya, apa kah Bintang kelemahannya Dirgan? tapi kenapa?, Benak Fina.


""Apa yang terjadi..?"" Tanya Vero yang belum di beri tahu kan apa penyebab anaknya masuk ke rumah sakit sampai harus di tindak lanjut kan di ruang operasi.


""Di mana, Jaauza...hah? anak ku baik baik saja kan? apa yang sebenarnya terjadi? "" Meca terlihat panik dan syok.


Sementara yang lainnya hanya diam menunggu penjelasan dari Dirgan yang masih tertunduk di tubuh tinggi Fina.


""Ayo jelas kan sayang."" Lembut Fina melepaskan pelukannya.

__ADS_1


Dirgan menerawang memori yang baru terjadi beberapa jam yang lalu, ia menjelaskan semuanya dengan detail, sesekali ia bernafas berat di selah ucapan, sesak di dada serta panas di mata yang ia tahan saat ini, Benar benar lemah dirinya jika hal yang menyangkut Bintang.


""Damn..."" umpat Vero tertuju ke pelaku yang membuat anaknya tidak berdaya. ia berbalik ingin mengambil baju histeril, berniat ingin masuk ke ruang operasi.


""Tertusuk, ingin di lecehkan?"" Kaki Meca bergetar hebat dan terjatuh di lantai begitu saja, hatinya tersayat mendengar penderitaan anaknya. orang tua mana yang mampu mendengar anaknya terluka parah setelah hampir di lecehkan.


""Sayang... kakak..kakak ipar


...Meca...Tante...!""


Semua orang yang sedang terkejut mendengar penjelasan Dirgan, bertambah panik melihat Meca yang tersimpu lemah di lantai, termasuk Vero, Hingga Vero mengurungkan niatnya masuk ke ruangan operasi.


""Kak Vero, bawa kakakku ke ruangan yang kosong untuk beristirahat."" Ucap Titan.


""iya kak..biar kami yang menunggu di sini."" Timpal Vane.


""Tidak..Aku tidak mau.. aku ingin menunggu di sini, aku tidak apa-apa.?"" tolak Meca.


""Dasar keras kepala, penyakit tua mu sudah Kambuh."" Geram Fina, yang sangat tahu pasti tekanan darah tinggi Meca menyerang tiba tiba.


Gion dan Biru hanya bisa menghembuskan nafas cemas yang sedari diam tak berkomentar apapun, Tidak...Biru diam diam berkecamuk ingin menghajar Justien saat ini, Namun tertahan pergi, sebab ia ingin tahu keadaan sepupunya terlebih dahulu.


Sementara Gion diam diam sudah memberi titah kepada anak buahnya, agar sesegera menangkap tersangka.


Ceklek.


Pintu ruangan operasi terbuka, keluar seorang dokter yang mengenakan seragam hijau dengan mata tertuju menatap Vero yang masih duduk di lantai bersama Meca....


""Dok...Gimana operasinya.?!"" Serbuh mereka serempak dengan wajah terlihat kepo semua.


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2