
""Wajah mu sangat jelek kalau marah marah terus.!"" Goda Aksa.
""Aksa, jangan berbelit, ayo katakan apa yang ingin kamu mau dariku, tidak mungkin seorang Aksara yang mempunyai perusahaan maju di bidangnya sendiri menginginkan uang dari seorang wanita yang tidak mempunyai apa apa."" Kesal Bintang.
""iya, Ok.! aku akan mulai."" Seringai Aksa menatap senang ke Bintang yang masih duduk di atas mejanya.
""Aku ingin kamu menurut kepada ku.""
""Menurut apa ? jangan minta yang aneh aneh.!"" potong Bintang cepat.
""Jangan di potong, diam lah seperti kucing manis."" Aksa tersenyum manis.
""Aneh, aku tidak suka dengan senyum jelek mu."" Celetuk Bintang.
""Bin, diam lah, Bibir mu cerewet sekali, apa mau aku ci---""
""iya, aku diam.!"" ketus Bintang, ia tahu akan di ancam lagi.
""Bagus."" Sekilas Aksa menepuk sayang kepala Bintang.
"" Aku mulai dan kamu harus menjawab dengan cepat.!"" seringai Aksa. ia akan menjebak Bintang lagi.
""Aku ingin... kamu masih kerja di sini, Setuju?."" ucap Aksa cepat.
""Setuju."" Sahut Bintang cepat, ia tidak apa apa kembali bekerja lagi bersama Aksa, asalkan reputasi papa dan mamanya masih terjaga karena ulah keteledorannya yang tidak becus menjaga diri.
""patuh, bekerja dengan benar.""
""Setuju""
""tanpa harus minta di pecat.""
""Setuju.""
""jangan membuat masalah lagi.""
""Setuju.""
""menjadi pacarku lagi."" seringai Aksa
""Setuju."" celetuk Bintang tanpa mencerna permintaan Aksa.
""aah, terimakasih."" Senang Aksa langsung berhambur memeluk Bintang.
""eeeeh,, kenapa peluk peluk.""
""Kita kan sudah sepasang kekasih lagi."" jelas Aksa menyeringai di dalam dekapan Bintang.
""hey.."" pukul Bintang di punggung Aksa.
""Kapan aku menerima mu."" Ucap Bintang belum engeh.
Aksa melepas pelukannya.
__ADS_1
""tch, tadi aku bertanya, apa kamu mau menjadi pacar ku lagi? Kamu menjawabnya, SETUJU."" tekan Aksa di akhir kalimatnya.
Bintang melotot dengan mulut melongo, ia sama sekali tidak memfilter sahutannya.
""Aduh,..bego, bodoh."" rutuknya menepuk jidatnya berkali kali.
Aksa terkikik senang seraya menghentikan tangan Bintang yang masih memukuli jidatnya sendiri.
""Lepaskan tanganmu."" lirik Bintang di pergelangannya.
""Ok,!"" nurut Aksa melepaskan.
""tch, kamu memang di atas awan sekarang, tapi INGAT, aku hanya terpaksa, dan jaga baik baik foto itu, kalau sampai tersebar maka bukan ruangan mu lagi yang akan berantakan tapi gedung ini akan terbakar."" Tekan Bintang.
Aksa mengangguk paham, ia juga tidak mungkin menggunakan foto itu untuk menjatuhkan Bintang di luar sana karena ia mencintai Bintang sepenuh hatinya.
""Janji."" ucap Aksa menjulurkan jentiknya.
Bintang menepis tangan Aksa, lalu turun dari meja itu. ia terlihat kesal melihat Aksa yang akan yubikiri dengannya.
""Jangan membuat yubikiri kalau hanya untuk di ingkari."" Sindir keras Bintang seraya berjalan menuju pintu.
Aksa mengerti kekesalan Bintang, ia tahu diri yang tidak menepati janjinya di kala itu.
""Mau kemana.? ingat patuh.!"" tekan Aksa.
Bintang berhenti, berbalik menghadap ke Aksa.
Aksa menggeleng.
""Aku ijin pulang, dan akan kembali besok, Boleh.?!"" pintanya, namun nadanya terdengar sinis.
""sangat boleh, aku akan meng---""
""Aku tidak butuh tumpangan, aku bawa mobil sendiri, lebih baik bereskan ruangan mu yang hancur ini."" potong Bintang cepat. ia masih kesal dengan pemaksaan Aksa kepadanya.
Aksa termangu menatap punggung Bintang yang akan meninggalkan ruangannya.
""Aku akan membuat mu jatuh cinta lagi kepada ku, Bintang. mungkin hari ini kamu memang terpaksa, tapi aku berharap kedepannya kamu ikhlas dalam hubungan kita, cepat ataupun lambat itu pasti terjadi."" Gumamnya, sangat berharap ke welcome man Bintang untuknya.
****
Setelah membuat kekacauan di kantor Aksa, Bintang kini berakhir mengunyah kue bermacam jenis di meja Cafe milik mamanya yang di bawa pantauan Nina, mantan asisten Meca di kota ini.
Bintang melampaiaskan kekesalannya dengan cara mengunyah kue kesenangannya dengan lahap.
Dari meja lain, Nina memperhatikan wajah kesal Bintang, merasa penasaran, ia pun menghampiri anak atasannya itu.
""Bin."" sapa Nina langsung duduk di kursi kosong hadapan Bintang.
Bintang mendongak lurus, ingin memamerkan senyum ramahnya tapi tidak bisa, pasalnya, mulutnya penuh terisi kue.
""Hay Tante."" ucap Bintang tidak jelas.
__ADS_1
""eum."" Nina menggeleng dengan tingkah Bintang yang sangat rakus.
""Tante apa kabar?""
""Baik, telan dulu makanan mu, baru berbicara."" protes Nina.
""eum.."" Bintang menurut, menelan kasar kue tersebut yang terasa susah untuk di telan paksa.
Melihat kekonyolan Bintang, Nina semakin melongo dengan kepala menggeleng kembali.
""Kamu kenapa ? jam segini tidak bekerja ?"" selidik Nina.
"" tangan ku sakit, jadi bolos."" Celetuk Bintang.
Nina melirik tangan Bintang. ""Kenapa bisa begitu.?""
""itu, mm, tidak sengaja tergores beling gelas."" Bohongnya. "" Tan, anak Tante si kalem dan si tomboy di mana? apa si tomboy sudah balik dari luar kota."" Bintang mengalihkan pembicaraan.
Nina tersenyum geli mendengar sebutan asal asalan anaknya dari gadis blak blakan di depannya.
""Si Kalem Reina, masih di rumah neneknya dan si Tomboy Rere ada di kota ini, dia lagi baru membuka motorcycle showroom sendiri tapi dengar dengar ada sedikit masalah."" Jelas Nina.
""Showroom ? "" seketika Bintang mengingat sahabatnya, Dirgan.
""eum, showroom.!"" ulang Nina.
""posisinya di mana, Tan ?""
Nina memberikan secarik brosur. dengan cepat Bintang menyambarnya dan langsung menyeringai setelah tahu alamatnya.
""Tan, aku boleh tidak main ke tempat Rere, aku sudah lama tidak bertemu, setelah kalian berkunjung ke rumah papa di waktu kami masih kecil, itu yang terakhir kalinya.""
""Benarkah ?"" Nina tidak percaya. "" Bukannya anak anak Tante pas sekolah menengah atas berada di kotamu, bahkan Reina saja sampai sekarang masih di sana bersama neneknya."" Heran Nina.
""Masa sih ? aku tidak tahu, bahkan wajah Reina dan Rere pun, aku lupa."" Cengir Bintang.
""Pfufuf.."" Nina membuang nafas beratnya.
""Kalian anak muda aneh aneh saja, dan aku tidak habis pikir dengan Rere yang cueknya minta ampun, padahal tante sering menyuruh Rere untuk berkunjung ke rumah papa mamamu, tapi dia hanya mengiyakan omong kosong doang."" oceh Nina panjang lebar.
Bintang tak menggubris ocehan Nina, ia malah sibuk membaca brosur motorcycle showroom milik Rere, seraya mengingat ingat alamat yang tertera di dalamnya.
""Aku pernah dengar alamat ini, tapi siapa yang-------"" Bintang bermonolog mengingat ingat.
""Dirgan."" Bintang menggeprak meja dengan keras setelah mengingat kalau Dirgan ternyata membuka cabang di daerah yang sama persis dimana tempat Rere akan membuka usahanya.
Apa kabar dengan Nina yang mendapat kan geprak kan meja dari Bintang.?
""Bin.."" Geram Nina yang wajahnya terkena cipratan saus kue berwarna coklat, bahkan baju putih sifon Nina sudah bernoda bintik bintik cokelat.
Bintang cengengesan tanpa dosa seraya tangannya menarik tasnya dan mengambil ancang-ancang ingin kabur sebelum di hukum yang tidak tidak oleh Nina, ia tahu Nina galaknya seperti Fina jika di usik, jadi sebelum itu terjadi Bintang kabur ngebirit tanpa permisi dan tanpa membayar tagihan.
""Astaga, anak itu, kalau bukan anaknya Meca, Uda aku goreng tuh anak."" gerutu Nina seraya membersihkan wajahnya.
__ADS_1