
Dirumah sakit...
Aksa menatap langit langit ruangan VVIP tempatnya di rawat. Dirinya baru di tinggalkan papanya yang akan mengurus perusahaannya yang sudah beberapa hari di tinggalkan dirinya yang berada di luar kota.
Dari kemarin sudah siuman namun gadis yang di nanti nantinya tidak datang menjenguknya, Hanya Vero dan Meca yang datang berkunjung setelah dirinya sadar.
""Bintang pasti sangat membenci ku. ?"" Monolognya.
""Wajar saja !"" Bibir pucat Aksa tersenyum kecut. ""Aku orang jahat, gara gara aku sahabat kesayangannya sedang bertarung nyawa, Maaf kan aku Dirgan, maafkan aku Bintang, semuanya maafkan aku.!"" Sesal Aksa berharap dapat kata maaf dari orang orang yang sempat menaruhkan dendamnya ke Keluarga besar Bintang.
Ceklek...
Pintu ruangan terbuka dan pelakunya adalah Gadis yang di rindukan Aksa, Aksa menyadari pintu terbuka namun dirinya terlalu malas menoleh berpikir itu hanya dokter Samuel yang berjadwal memeriksa rutin kondisinya.
Bintang masih mematung setelah menutup rapat pintu itu, Memerhatikan wajah pucat Aksa yang sedang melamun melihat langit langit putih.
""Apa kamu terlalu senang melihat langit langit sehingga ada orang yang masuk tak di hiraukan.?"" Sindir Bintang, wajah cantiknya hanya Datar tidak ada senyum hangat atau apapun itu.
""Bintang?"" Aksa menoleh cepat dengan bibir pucat tersenyum senang.
""Maaf, aku tidak menyadari jika ada orang yang masuk."" Bohongnya.
""Tidak masalah.!"" Datar Bintang seraya mendekat ke bangsal Aksa.
Pintu kembali terbuka sebelum Aksa dan Bintang berucap lanjut.Yang di perkirakan Aksa baru masuk, Yakni Dokter Samuel dan satu Suster yang mengekor.
Bintang menoleh ke Dokter Samuel dengan senyum tipis menyapa.
__ADS_1
""Selamat siang, Nona Jaauza, Tuan Aksa."" Sapa hangat Dokter Samuel.
""Siang Dok."" Sahut Bintang. Aksa sendiri hanya tersenyum tipis menyapa ke Dokter Samuel.
""Aku akan memeriksa kondisi Anda hari ini."" Ujarnya ke Aksa dan langsung melakukan tugasnya tanpa menunggu Jawaban dari Aksa.
Bintang mundur dan beranjak ke sudut ruangan, menghampiri single sofa tak berniat mengganggu kerjaan Dokter Samuel.
Tidak ada suara, Selamah dokter memeriksa bekas operasi Aksa, Bintang sendiri hanya menunduk menatap layar ponselnya berharap ada komunikasi dari Fina atau Gion perihal kabar kesehatan Dirgan.
""Shit.."" kesalnya ke Smartphone-nya yang tidak ada yang menarik. ""Kenapa aku begitu terasa kehilangan dirimu, Dirgan!.? ada apa dengan ku?."" Dirinya bertanya tanya. ""Aku yakin kamu akan sembuh dan kembali lagi kan ?"" Bintang menatap foto Dirgan yang berpose menjulurkan lidahnya tepat ke arah Wajahnya yang berpose bersama. ""Entah kenapa diriku mendadak hampa seperti ini tanpa kehadiran mu.! padahal kamu hanya pergi berobat bukan pergi selamanya.?"" Ujarnya.
Aksa mendengar dumelan Bintang yang tanpa sadar gadis itu berucap sedikit lebih tinggi Bukan gumaman atau lirihan kata.
""Itu MUNGKIN karena dirimu mencintai sahabat mu, Gadis bodoh.!"" sedih Aksa bergumam memperhatikan wajah Bintang yang terlihat kusut. ""Tapi aku berharap itu hanya perkiraan ku saja, aku masih mencintaimu Bintang dan semoga kamu pun sebaliknya.!""
""Nona Jaauza, saya permisi.!"" pamit dokter Samuel. Bintang terkesiap di sebut namanya. ia pun mendongak dari sofa, memberikan anggukan dan senyuman hangatnya.
Hening dan terasa canggung menyerang antara kedua orang itu. Bahkan Bintang yang tadinya ingin membicarakan sesuatu tiba tiba lidah terasa kelu untuk berucap.
Aksa sendiri bingung mau meminta maaf, jadi merasa canggung dan takut. Takut, jika permintaan maafnya tidak di terima.
""Bin.!" Aksa memecah keheningan. Bintang menaikkan satu alisnya. ""Aku mau menghirup udara segar, apa aku boleh minta tolong ? tolong bawa aku ke taman.!"" Pintanya.
""Tidak boleh, nanti luka jahitannya akan terbuka jika kamu kebanyakan gerak.!"" Tolak Bintang.
""Tapi aku tidak akan bergerak banyak kok, aku kan di kursi roda dan kata Dokter Samuel aku sebentar lagi akan pulih, bergerak sedikit kan lebih baik untuk kesehatan ku."" Kekeuh Aksa yang sebenarnya ingin bersentuhan dengan tangan Bintang, ia begitu rindu dengan Bintang yang ceria nan welcome kepadanya. Sekarang yang di lihatnya dari Bintang hanya lah ke dataran.
__ADS_1
""Baiklah !"" Bintang pun menyiapkan kursi roda yang terletak di sisi ruangan.
Aksa tersenyum tipis Seraya menarik tubuhnya pelan pelan yang sebenarnya masih terasa sakit hanya untuk sekedar menarik tubuhnya.
""Diamlah Bodoh, sok kuat ! aku akan membantu mu."" Bintang menarik tangan Aksa dari rebahannya. menaruh tangan Aksa di bahunya berniat untuk memudahkan Aksa turun dari bangsal.
""Aku merindukan ini, Bintang.!"" Gumamnya dalam hati yang sedang menghirup dalam dalam wangi dari aroma rambut Bintang.
""Pfhuuuuu, Badan mu ternyata berat sekali."" Gerutu Bintang setelah menaruh tubuh Aksa di atas kursi roda. Aksa sendiri hanya tersenyum geli di katain berat.
Dengan dorongan pelan, Bintang pun mendorong kursi roda Aksa keluar dari ruangan, tidak ada obrolan selama berjalan ke arah taman yang di tuju untuk mencari udara segar yang terbebas dari aroma obat obatan khas rumah sakit.
""Nah, Disini saja."" Bintang memilih tempat duduk yang berada di bawah pohon rindang yang berada di taman.
""Terimakasih."" Ucap Aksa. ""Dan maafkan Aku.!"" Aksa sudah memulai obrolan serius.
""Maaf untuk yang mana?"" Sindir Bintang. ""Apa karena kesalah pahaman mu ke keluarga ku atau maaf atas segala kepemaksaan dirimu yang ingin membuat ku menjadi istri mu dan berniat untuk melakukan balas dendam melalui diriku."" Todong tajam Bintang.
Hati Aksa tersentak atas sindiran Bintang yang benar adanya bahwa dirinya sempat ingin balas dendam ke keluarga Bintang melalui gadis yang ada di dekatnya, ia juga terlalu egois memaksakan kehendaknya untuk memiliki Bintang. dirinya lupa bertanya serius dari hati ke hati ke Bintang. Dirinya tidak pernah bertanya kenyamanan Bintang ! apa kah Dirinya masih ada kesempatan di hati Bintang yang paling dalam atau sudah tidak ada sama sekali?. jika pun tidak ada maka ia akan rela dan membiarkan Bintang bebas memilih kehendak hatinya.
""Maaf untuk segalanya, dan aku sangat menyesali perbuatan ku, berikan aku kesempatan.""
""Aku sudah memaafkan mu, Aksa. Justru aku harus berterima kasih karena dirimu sudah menolong nyawa mamaku dari tangan papa mu, kami pun sudah memaafkan papa mu dengan syarat dia benar benar tobat dan tidak akan menggangu ketenangan keluargaku."" Syarat Bintang di angguki Aksa seraya tersenyum senang sudah mau di maafkan oleh Bintang.
""Papa ku tidak akan menggangu ketenangan kalian, aku akan pastikan itu. Tapi masalah....."" Jeda Aksa ragu yang ingin menanyakan kesempatan kelangsungan rencana pernikahannya. Apa kah berlanjut atau tidak ? jika tidak pun dirinya harus belajar menerima yang bukan miliknya dan tidak mau lagi memaksakan hati Bintang dengan menggunakan Foto foto muslihat Vulgar Bintang lagi.
Bersambung....
__ADS_1