
Ting...
Satu Notifikasi masuk ke smartphone Nata yang sedang menyetir menuju ke Bandara dengan kecepatan keong karena terjebak macet.
Putri galak
Nama itu yang muncul di notifikasinya.
""Bintang..?"" Gumamnya, lalu segera membuka chat itu.
Putri galak : Calon Casanova, tuan putri sudah menunggu delman putih besi mu di bandara, kamu di mana?
Nata mengulas senyum ke arah layar pipinya saat membaca pesan itu. ia yakin, jika dirinya telat menjemput, Bintang pasti memukul kepalanya, Namun tidak masalah baginya, karena dirinya juga sedang rindu di pukul oleh Bintang yang sudah lama tidak berjumpa.
Ting...
Calon Casanova: Aku masih di jalan, terkena macet., tapi sebentar lagi sampai.! Aah.. tolong di ralat, Aku bukan calon Casanova, tapi calon raja Casanova.
Bintang menggeleng geleng membaca balasan chat dari Nata.
""Astaga... padahal aku cuma bercanda manggil kamu calon Casanova, ternyata....!"" Bintang menggurutu seraya menatap foto profil Nata di Smartphone-nya. ""Apa benar kata pepatah, 'Buah jatuh tidak jauh dari pohonnya.' "" Lanjutnya.
Bintang mendengus kesal. pasalnya, Nata tak kunjung muncul muncul menjemputnya, pria itu berucap sebentar lagi sampai, Tapi sudah hampir satu jam Bintang berdiri di koridor Bandara, Nata tidak kunjung datang.
""Calon raja Casanova, rupanya kamu minta di pukul."" Gerutu Bintang mendengus.
""Dengan senang hati.""
Baru saja Bintang menggerutu, Nata sudah menyahut di belakang tubuh pendek Bintang jika di bandingkan tingginya seorang, Dinata Kedward Abraham.
Bintang berbalik dengan smirk jailnya.
BUGH...
"" Aku juga dengan senang hati memukul mu, pria tinggi."" Bintang berjinjit untuk meraih kepala jangkung Nata. setelah itu ia memeluk hangat tubuh tinggi Nata.
""Hahaha.. tidak sakit."" Sahut Nata membalas pelukan Bintang.
""tch.. kalau terlalu keras bisa bisa kamu tidak akan pernah menjadi raja Casanova."" Dengus Bintang. ""Nanti aku akan menebasnya sekalian, kalau kamu mengikuti jejak papamu."" Bintang melepas pelukannya.
""Ya..ya..ya.. terserah kamu saja."" Nata mengambil alih koper Bintang.
""Ayo..kita pergi."" ajak Nata.
Mobil sudah membelah jalanan Aspal menujuh Apartemen Meca yang dulu pernah di huni oleh Mamanya di jaman kuliah, kini Bintang dan Nata sedang berbincang bincang ringan tentang jurusan apa yang akan mereka tempuh di universitas yang sama.
""Wah..kita ternyata sama."" Ucap Nata di sela kemudinya.
""Benarkah ? kamu juga ingin mengambil Manejemen per-Bisnisan.""
Nata mengangguk. ""iya..!"" Namun wajahnya kurang bersemangat.
Bintang menyadari itu.
__ADS_1
""Tapi... wajah mu berkata lain, Nata. apa kamu terpaksa?!."" selidik Bintang.
Nata melirik sekilas lalu kembali fokus memacu kemudinya. ia tidak menyangka Bintang bisa menebak ke terpaksaannya.
""Eum... seperti yang ada di pikiran mu."" Jujur Nata.
""Tch... kenapa ?"" Cerewet Bintang kepo.
""Biasa, anak tunggal harus serba ikut titah sang berkuasa.""
""Maksud mu? kamu di paksa sama Papamu.""
Nata mengangguk sebagai jawaban.
""Astaga...Gimana kalau kita berbicara dengan papa mu, aku bantu deh..!"" Tawar Bintang menyeringai. kalau bujuk membujuk Bintang jagonya, apa lagi membujuk seorang Om Casanova tobat-nya, pasti sangat mudah baginya, pikir Bintang.
""Sekarang..?"" Nata terlihat antusias. walaupun ia yakin kalau papanya akan menolaknya lagi. dirinya saja anaknya tidak di turuti kemauannya, apa lagi hanya Bintang, pasti keputusan papanya tetap sama, pikir Nata.
"" tch..jangan sekarang aku capek ingin istirahat."" Tolak Bintang.
""Baiklah.. besok aku jemput, kita kerumah besar.""
Bintang mengangguk setuju.
""Tapi kalau boleh tahu, Niat kamu ingin mengambil jurusan Apa? ""
""IT.."" Sahut Nata seraya menerawang cita cita tingginya yang ingin membangun perusahaan Software-nya sendiri tanpa Ingin mendapat tekanan dari papanya.
Bintang mengembangkan senyum bangganya terhadap keinginan Nata, ia mengetahui kemampuan sepupunya itu yang berbau bau teknologi.
""Aaaah...untung orang tua ku selalu mendukung anaknya tanpa harus memaksa mengikuti keinginannya. kangen jadinya, padahal baru beberapa jam."" Batin Bintang membanggakan kedua orang tuanya.
""Bin....sosial media gambar mu ngilang tiba tiba.!"" Sindir Nata mengingat kan perihal Foto foto Aksa yang sudah di hapus.
""Oh..itu.. mm.. Gambarnya lagi di rebus."" Celetuk Bintang asal asalan, lalu berpura pura memejamkan mata setelah mendapat posisi enak untuk menyandarkan punggungnya di palana mobil, ia tidak ingin membahas yang bersangkutan dengan Aksa.
Nata terkikik geli, ia tahu kalau Bintang banyak mantannya, Tapi baru kali ini ia merasa bingung, Biasanya Bintang tidak pernah memposting satupun foto dari mereka kecuali Morgan dan terakhir Aksa, Namun kenapa Foto Aksa tiba tiba hilang.
""Bin...Namanya siapa yang di foto itu.?"" Nata tahu kalau Bintang hanya pura pura tidur.
Bintang membuka mata malas.
""Foto yang mana ? Foto yang berbulu namanya Mumun kembaran kamu."" Bintang menyahut sok bodoh.
""Tch.. kalau Mumun aku tahu, itu kan adik kamu dan Gilang."" Nata mulai jail. ""Yang cowok ganteng itu.?"" tanyanya penasaran.
""Buaaaaayak yang ganteng di klise jejaring sosial ku, Ada Dirgan, Biru, papa, papa kamu, om Titan dan Om Gion, kamu serta Gilang dan Mumun juga ganteng."" Bintang kekeh tidak ingin menyebut nama Aksa, ia mengerti kalau Nata ingin menjurus kesana sampai monyet Gilang di bilangnya ganteng.
""Yaaak.."" Nata jadi gagal untuk menggoda Bintang.
******
""Om kemal, Tante Cantik."" Bintang datang datang langsung menghambur duduk di tengah-tengah orang tua Nata yang sedang bersantai di hari libur.
__ADS_1
Yola menyambut hangat, begitu pun Kemal.
""Kenapa tidak tinggal di sini saja, Jaauza" Seru Kemal di angguki Yola.
""Tante padahal sudah senang mendengar kalau kamu kuliah di sini, tapi saat tahu kalau kamu tinggal di Apartemen, Senang itu hilang terhapus, ikut ikutan saja sama Nata."" Timpal Yola seraya mendelik anaknya yang duduk di sofa lainnya.
""Jaauza tidak mau mengganggu Honeymoon kalian."" Celetuk Bintang.
Yola tersipu malu mendengarnya, karena memang begitulah tiap hari kenakalan suaminya, Nata saja sampai tidak betah makanya minta tinggal sendiri.
""Kamu bisa aja.!"" Santai Kemal biasa saja.
Bintang hanya tersenyum menyahutinya.
""Om, aku ingin berbicara, penting. tapi..""
""Di ruang kerja Om saja."" pengertian Kemal jika mendengar kata penting.
Yola dan Nata menatap kepergian keduanya.
""Ada apa, Nat ?"" penasaran Yola.
""Mungkin mau membujuk papa agar Nata di ijinin masuk ke bidan IT."" Jelasnya.
""Semoga berhasil."" Antusias Yola yang tahu sikap kekeh suaminya.
Setelah beberapa menit berbicara yang katanya penting kini Kemal sudah keluar dari ruang kerjanya dengan mimik wajah yang tertekuk lesuh sedangkan Bintang menyeringai senang, Entah apa yang di perbuat Bintang sehingga wajah Casanova tobat itu kalah telak mengijinkan Nata untuk melakukan apa yang ingin di perbuat anaknya.
""Kamu boleh mendaftar di jurusan IT."" Terang Kemal lalu pergi begitu saja.
Nata dan Yola melongo senang mendengarnya, sedetik kemudian mereka menatap penuh tanya ke Bintang.
""Bin..apa yang membuat papa ku berubah pikiran."" selidik Nata.
Bintang mengedipkan bahu. ""Tidak tahu, Nanya saja sama pawang-nya.""
""Pawang ? siapa ?"" Yola terkesiap, ia penasaran siapa yang di maksud oleh Bintang.
""Pawang-nya orang ini."" Bintang memarkan potret Meca dari layarnya. ""Tadi mereka sempat berbicara di telepon, apa kalian tahu, Om kemal di ceramahin panjang lebar oleh sang ahli hukum."" Bintang terkikik sendiri kalau mengingat nyali Omnya menciut hanya karena ulah Mamanya.
""Benarkah... kalau begitu, Tante akan berguru dari mama kamu."" Sunguk Yola antusias.
Sementara Nata sudah bersorak ria di dalam hatinya.
""Thanks..Tante cantik."" Tulus Nata ke Meca membatin.
****
Di rumah Meca.
""Huaaaaaciii..."" Meca lagi makan, bersin memuncratkan makanannya ke wajah Gilang.
""Mama... iiihhh...Jorok...Mata Gilang terkena sambel.. Pedas...pedas.. huwaaaa...Papa mama tolong."" Gilang berloncat loncat seraya menangis kejer.
__ADS_1
""Aah.. maaf...ini pasti ulah Om kemal mu di sana, pasti sudah menggerutui mama."" Belanya sendiri, menyalahkan Kemal yang tidak tahu apa apa.