
""Tidak... kamu tidak boleh kuliah jauh jauh di sana.."" Tolak Meca.
Vero masih diam mempertimbangkan kemauan Bintang yang ingin kuliah di luar kota, lebih tepatnya di kota X tempat keluarga Kemal bernaung.
Bintang memasang puppy eyes dengan muka penuh harap, di tambah mata kucingnya berakting sudah mau meneteskan air asin gratis ke arah Vero yang selalu mendukung keputusannya.
""Mama dan Papa itu sekarang memperbatas pergerakan kamu untuk bebas di luar sana, kamu mengerti kan? kami tidak mau kejadian kemarin terjadi lagi."" Seru Meca takut kalau ada orang jahat yang ingin macam-macam lagi.
Bintang membuang nafas berontaknya, ia mengerti kekhawatiran orang tuanya, tapi keinginannya terlalu besar untuk mencari suasana baru agar kenangan indah bersama Aksa sedikit terhapus di otaknya.
""Justru itu ma, Di sana kan Bintang orang baru jadi Bintang tidak akan mempunyai musuh, Beda dengan disini, musuh bertebaran seperti hama penggerogot."" Sahut Bintang meyakinkan.
""Hama penggerogot? musuh..?"" Selidik Meca kurang paham.
""Yaak..Mama telmi deh."" Songong Bintang.
Meca mendelik seram.
""Mantan, mama... Mantan adalah musuh Bintang."" jelasnya menciut dapat tatapan horor.
Vero mengulas senyum tipis mendengar perdebatan kecil antara anak serta istrinya.
""Pa..."" rengek manja Bintang minta pembelaan.
Vero mendelik lembut setelah menaruh gelas kopinya yang habis di seruput ke atas meja ruang keluarga, menyuruh anaknya untuk mendekat ke sofa yang sedang duduk di lantai bersama Gilang yang asyik bermain PlayStation.
Bintang menurut, dengan mimik wajah memelas berakting.
Meca memberi tatapan horornya ke Vero, supaya suaminya itu tidak mengindahkan kemauan anaknya.
Namun, Vero malah mengedipkan mata genitnya ke arah istrinya.
""Sekarang memang tidak punya mantan di sana, karena kamu masih di sini, Tapi pasti ada kan, kalau kamu kumat lagi."" Sindir Vero.
Meca dan Vero sudah mengetahui perihal putusnya hubungan asmara Aksa dan Bintang. Tidak di kasih tahu pun orang tua itu pasti sudah paham karena ketidak hadiran Aksa beberapa hari ini.
""Bintang janji tidak akan berpacaran dulu sampai lulus kuliah, Bintang bersungguh-sungguh pa, kalau Bintang melanggar, Aku.. Jaauza Al Miller akan mati sampai Jomblo, eeeh..ralat, akan Jomblo sampai mati."" Bintang menangadakan tangannya di udara untuk bersumpah konyol.
""plaaakk.."" Meca menepis tangan Bintang. ""Sumpah..Sumpah.. jangan bersumpah konyol anak nakal."" Kesal Meca berdiri berkacak pinggang.
__ADS_1
""eits..mama ! jangan menye menye melulu, ingat tekanan darah."" santai Bintang, tapi bergeser lebih dekat lagi ke duduk papanya untuk minta perlindungan.
Meca semakin geram dengan perlawanan anaknya. Namun kesalnya tertahan saat dapat delikan menenangkan dari suaminya, Mata genit.
""Apa tujuan mu sebenarnya, hingga kamu ingin kuliah di kota itu."" selidik Vero, ia yakin kalau anaknya tidak mungkin menciut hanya karena mantannya banyak bertaburan di luar sana.
Bintang berpikir sejenak.
""Satu, aku ingin mengubah suasana baru, bosan tinggal di kota ini ini aja, tidak ada yang istimewa. Dua, aku ingin belajar hidup mandiri.""
""Berarti harus biayain kuliah sendiri."" potong kejam Meca.
Vero mendelik tajam ke istrinya, mana tega dirinya menyuruh anaknya banting tulang membiayai kuliah sendiri, Belum saatnya, pikir Vero.
""Menarik...boleh tuh..!"" Bintang malah antusias kerja. ""Mama ada Cafe kan di sana ? aku akan jadi tukang cuci piring, melap meja, menyikat toilet, pasti seru tuh memakai baju seragam pelayan."" Bintang sengaja mendramatisir keadaan hidupnya jika harus menjadi pelayan.
"" Aaaah.. tidak boleh, Nanti barang barang Cafe mama akan hancur berantakan karena kecerobohan mu.!"" Bohong Meca, padahal hatinya langsung terenyuh tidak tega membayangkan anaknya menjadi pelayan.
""So..."" Bintang menyeringai senang. ia mendapat sinyal sinyal pengabulan.
""Terserah keputusan papa mu saja."" Ucap Meca mengalah dan pergi menuju kamar, sebenarnya ia tidak bisa jauh dari anaknya tapi di sisi lain, ia juga harus memberi pengalaman mandiri untuk Bintang demi masa depannya.
Kembali keruang keluarga.
""Papa guaaaanteng papa baik, papa ku sayang, Boleh yaaa..."" Rayu Bintang memuji agar niatnya di kabulkan seraya matanya berbinar penuh harap.
Vero tersenyum geli, tidak di rayu pun ia setuju saja asalkan anaknya senang, dan itu pun menyangkut hal positif di hidup masa depan Bintang.
""Tinggal di rumah Om kemal atau...."" Tawar Vero terputus.
""No..."" Serka Bintang cepat. ""Di tempat lain."" pintanya. ""Nata aja sudah tinggal sendiri di apartemen, masa Bintang gangguin Om Casanova tobat si pa..apa papa mau mata Bintang ternodai jika melihat Tante Yola di raba raba sama Om kemal."" Bintang bergidik yang tahu persis kelakuan Kemal.
""Makanya jangan di Serka tawaran papa.. Apartemen papa atau punya mama kamu, walaupun satu lantai, tapi interior designnya berbeda."" jelas Vero memberi pilihan.
""Aaa..yang mana saja, aku suka yang penting tidak di rumah Om kemal."" Senang Bintang mengecup hangat pipi Vero.
Vero tersenyum bahagia dengan kelakuan anaknya.
*****
__ADS_1
Setelah berlama-lama membujuk orang tuanya dan sudah selesai mempeking barang bawaannya, kini Bintang berlompat ria ke balkon Dirgan untuk menyampaikan bahwa dirinya akan pindah keluar kota.
""Yuuuhuuu..orang galak tapi cantik sudah sembuh..."" Teriak Bintang masuk menyelonong di kamar Dirgan.
""Tidak ada orang."" Lirihnya. ""Yuuuhuuuiii.."" teriaknya lagi.
""Berisik...!"" Sentak Dirgan yang baru munjul dari arah kamar mandi dengan hanya menggunakan handuk terlilit di pinggangnya.
Tapi anehnya Bintang tidak tahu malu, gadis itu malah mendekat dengan senyum mengembang.
Sementara Dirgan sudah gugup tersipu malu. ""Gila..ni gadis nakal..apa dia tidak malu dengan aku yang telanjang dada."" batinnya.
""Jangan mendekat."" Pinta Dirgan.
""Kenapa..?"" Bintang tersenyum remeh. ""Aku tidak nafsu dengan dada jelek mu.""
""Aaaah..sialan..jika mendekat aku buka handuknya."" Ancam Dirgan.
""Bego..kamu mau klise Bugil ? bukan di sini tempatnya tapi di kamar bohay mu."" Bintang jadi jengah sendiri berbalik ke balkon.
Dirgan bernafas lega dan berbalik menuju lemari pakaian. ""Aku nafsunya hanya denganmu saja, Gadis tidak peka."" batinnya.
""Dirgaaaaahayu...Aku mau pindah keluar kota, kuliah di sana bersama Nata, sekarang sudah mau cap cus ke bandara, jangan kangen ya..!"" Teriak Bintang sebelum menghilang di ambang pintu balkon.
Dirgan yang lagi memilih milih baju di depan lemarinya, tersentak terkesiap, dan segera berlari kebalkon mengejar Bintang tanpa sadar masih menggunakan handuk.
""Bintang.."" Lirihnya. Gadis itu sudah masuk ke kamarnya.
""Ah..handuk sialan."" Rutuknya ingin melompat tapi masih menggunakan kain putih tebal itu.
""Ya Tuhan...baru juga ingin berniat mengambil hatinya, sudah mau pergi aja meninggalkan hatiku yang mencintai mu."" Sedih Dirgan.
Dirgan ingin ikut kuliah di sana tapi tidak mungkin..ia sudah mendaftar di universitas favoritnya yang berniat ingin mengambil Teknik otomotif.
""Selamat tinggal, Bintang. hati ku menunggu mu, menyatakan Sekarang pun percuma karena aku sudah tebak, pasti hanya penolakan yang akan ku dapatkan."" lirih nya menatap nanar balkon Bintang.
Dirgan memutuskan mengurungkan niatnya untuk menyusul Bintang ke kamarnya, hatinya tidak sanggup untuk melihat langsung Bintang pergi saat ini.
Bersambung...
__ADS_1