
""Yaaak..Aku kira kita akan bermain kejar kejaran."" ucap Bintang pura pura Bodoh.
Gissel mendorong kuat tubuh Bintang ke depan kaca toilet.
""Hahahaha.."" Geng Gissel menertawakan Bintang yang terlihat polos.
""Kejar kejaran..menarik."" Sungging Gissel. ""Lari lah jika bisa."" Gissel mengunci pintu toilet rapat rapat, lalu mengambil silet yang terselip di sakunya, ia akan berniat menyilet nyilet baju Bintang seperti korban korbannya sebelumnya.
""Yaak..gila juga ni geng busuk, ini mah sampah sekolahan."" Batin Bintang ngeri jika silet itu mengenai kulitnya.
""Apa kau tahu apa yang akan kami lakukan untuk benda tajam ini."" tanya Gissel yang sudah tepat di hadapan Bintang, dengan kedua temannya sudah mengepung Bintang kiri kanan, posisi Bintang sangat terdesak, ia di himpit orang di depan kiri kanan dan di belakang terdapat wastafel toilet.
Bintang menggeleng polos. "" Apa?"" ketus Bintang. ia malah memancing emosi Gissel dengan kata ketusnya, seraya memuncratkan gerimisnya dan tepat mengenai wajah sombong Gissel.
"" jaga nadamu, dan iiiihhhh..jorok."" Gissel menjatuhkan silet itu tepat di depan kaki Bintang. lalu mengelap wajahnya pakai tissue.
Dengan cepat Bintang berebut silet tersebut bersama Selly.
"" memang buat apa silet ini.?"" Tanya Bintang penasaran, ia berhasil merebut silet itu yang hampir di ambil oleh Selly.
""Yaak..sini balikin, kami akan menyilet baju mu, biar kamu malu, dan menurut pada kami."" Jelas Selly yang ingin merebut silet itu yang di umpetin Bintang ke belakang tubuhnya menggunakan tangan kirinya.
""Sial.. tidak akan.!"" Bintang mendorong kuat tubuh Selly ke samping, sampai gadis itu terduduk kesakitan.
""Anak baru..! kamu keterlaluan, kamu akan menyesal."" marah Gissel melihat temannya jatuh, telunjuknya menunjuk kasar wajah Bintang.
"" cih tangan mu kurang ajar sekali."" Bintang mendorong kuat tubuh Alifia yang ingin mencekal lengannya. lalu dengan cepat menarik tangan kurang ajar Gissel untuk memitingnya ke belakang.
""Aww.."" Ringis Gissel. ""Tolongin Aku kampret..!"" lanjutnya memarahi ke dua temannya yang susah berdiri karena merasa sakit di bagian bokongnya yang jatuh terduduk kasar.
""jangan ada yang menolong, jika tangan kurang ajar ini tidak mau patah, aku tidak segan segan kepada orang yang sudah berniat jahat kepadaku."" Geram Bintang. matanya terlihat merah karena menahan diri untuk tidak melukai Gissel lebih fatal lagi. ia masih punya belas kasihan jadi dia tidak mau mematahkan tangan kurang ajar itu.
Kedua teman Gissel mematung takut melihat perlawanan Bintang, apalagi Bintang sudah mengeluarkan silet tajam itu dengan satu tangannya yang lain.
Bintang tersungging tajam. "" Hay..kamu yang bernama Selly, sini.!"" panggil Bintang. "" Cepat.."" sentaknya saat Selly hanya diam tak bergeming.
""I iya.."" Gugup nya mendekat.
""Ambil silet ini, dan lakukan kepada teman mu yang kurang ajar ini."" Bintang menyuruh Selly untuk menyilet baju Gissel.
__ADS_1
""Apa.. jangan Bodoh."" Kaget marah Gissel.
""Diam dan pilih sendiri patah tangan atau baju sobek sobek."" Bintang menguatkan pitingan tangannya.
""Aargg..i iya.. maaf..! dan lepaskan Aku."" Gissel meringis kesakitan karena tangannya di piting kuat.
""Tidak..aku tidak akan memaafkan sampah sekolahan seperti kalian, kamu harus merasakan apa yang korban kalian rasakan sebelumnya. jadi kamu, Selly cepat lakukan atau..""
""Selly lakukan.. cepat."" Gissel lebih memilih bajunya yang rusak dari pada tangannya harus patah. ia sudah tidak kuat dengan pitingan kuat dari Bintang.
Selly dengan tangan gemetar menuruti kemauan Bintang, hanya beberapa detik baju Gissel sudah sobek sobek bagian depannya. Selly nambah terkejut lagi, saat Bintang menyuruh Alifia untuk menyilet nyilet bajunya dan begitu pun sebaliknya, sehingga ketiga geng Cabe rawit busuk itu mendapatkan balasan dengan baju tidak berbentuk.
""Ah.. kalian memang aneh...masa bermain dengan teman sendiri."" Celetuk Bintang menyindir habis geng Cabe rawit busuk itu, lalu terbahak sendiri pas di belakang kuping Gissel.
""Aww.. lepas Anak baru."" ringis Gissel yang belum di lepaskan.
""Ahh..iya maaf..aku lupa lho.."" Bintang melepas tangannya lalu mendorong kuat Gissel ke depan agar menjauh darinya.
""Nama ku B I N T A N G..Jika kalian melakukan bullyan lagi atau mengemis lagi, maka aku akan benar benar mematahkan tangan kalian satu persatu."" Bintang menekan namanya, menatap sinis satu persatu geng Cabe rawit busuk itu, lalu meninggalkannya dengan keadaan memalukan di bagian depan Gissel, Selly dan Alifia.
""Argh..aku akan membalasmu."" teriak Gissel tidak terima.
Bintang berjalan di koridor lantai empat seraya menggeleng geli setelah selesai bermain bersama gengnya Gissel. senyum di wajahnya tak pudar pudar tidak perduli dengan siswa yang ia lewati.
""Sweetie..hey tunggu."" panggil Morgan yang jauh di belakang.
Bintang tanpa menoleh sudah tahu siapa orang yang sudah memanggilnya, bukannya berhenti Gadis itu malah mempercepat langkahnya untuk kabur.
ia menghilang di belokan koridor dan masuk ke perpus untuk mengumpat dari Morgan.
""Aahh.. kenapa harus bertemu Morgan sih."" Bintang bersembunyi di bawah meja pojok perpus, ia tidak perduli dengan orang yang sedang menatapnya aneh yang sedang duduk bersila di atas meja bundar itu. tidak ada orang lain selain Aksa, cowok malas itu sedari pagi sudah menjadi penghuni perpus untuk tidur dan jika pria itu ada di dalam maka perpus akan kosong karena pada takut dengan kemarahan Aksa.
""Cewek aneh.. ngapain."" Aksa menaikkan satu alisnya untuk minta sahutan. Namun Bintang hanya menaruh telunjuknya di bibirnya untuk menyuruh Aksa diam.
Suara langkah terdengar mendekat, Bintang semakin meringkuk, bersembunyi.
""Aksa..tadi lihat cewek lari kesini tidak.?"" Tanya Morgan.
Aksa mengedipkan bahunya. "" Cari saja di bawah meja."" ucapnya datar.
__ADS_1
""Tch.. pria kaku, kenapa malah di kasih tahu si?"" Bintang berkomat Kamit membatin memberi umpatan kasar ke Aksa karena pria itu malah memberi tahu Morgan.
""Gitu."" Morgan sudah siap berjongkok.
""Bukan di meja sini, meja di kelas.."" Lanjut Aksa seraya mengacak acak rambutnya yang sudah berantakan.
""Hmm..gitu..Baiklah..thanks..bro."" ucap Morgan sok Akrab lalu keluar dari perpus.
Bintang keluar dari meja, lalu menoyor kepala Aksa dengan kuat.
""Ahh.. shiit.."" umpat Aksa menatap tajam ke Bintang, Gadis itu hanya cuek dan malah duduk bersila di samping Aksa.
""Rasain..itu Akibatnya., aku hampir ketahuan.!"" Bintang tersenyum, memperbaiki duduknya dan tidak sadar jika lututnya bersentuhan dengan lutut Aksa yang sama sama duduk bersila.
Aksa mendelik lututnya, bibirnya tersungging manis saat merasakan sentuhan Bintang, entah kenapa ia suka jika Bintang ada di dekatnya, hatinya merasa aman dan nyaman.
""woy.. pria Dingin, kenapa melamun,? terus kenapa bolos terus?"" Bintang menarik tangan Aksa untuk melihat luka yang terkena pisau akibat menolongnya.
Sentak pria itu terkejut setengah senang, saat tangan lembut itu menyentuh tangannya.
""Apa yang kau lakukan, Culun?"" ucapnya Gugup.
""Aah..maaf..aku hanya memeriksanya, kan gara gara aku, tangan mu bisa terluka."" Bintang melepaskan tangannya dari tangan Aksa.
""Eum.. tidak apa-apa? wajar aku menolongmu, kita kan teman."" Celetuknya tidak sadar seraya tangannya mengacak rambut Bintang.
Bintang melongo tidak percaya dengan pria dingin di depannya. "" Teman ?"" ulang Bintang bingung lalu menyentuh kepalanya.
""Maaf..! aku hanya salah berbicara."" Aksa membuang muka malunya ke depan, kenapa ia harus mengaku ngaku teman, bukannya ia tidak suka dengan orang asing yang tiba-tiba masuk ke dalam hidup sepinya.
""Teman.."" Bintang tersenyum manis melayangkan tangannya untuk berdeal sebagai teman. ia menatap mata Aksa dalam dalam dan entah kenapa ia merasa ada kesedihan di dalam sana di balik topeng dinginnya.
""Apa kamu yakin? apa kamu tidak Takut dengan sikap dingin dan kasar ku."" Ucap Aksa meyakinkan.
""Hahahaha..Kasar? Begini maksud mu.?"" Bintang melotot tajam ke Aksa lalu menoyor kepala Aksa yang sebelumnya tidak ada yang berani melakukannya.
""Aku juga galak, Dirgan adalah korbanku kemarin kemarin dan sekarang ada kamu korban ke dua ku."" Bintang tertawa keras melihat wajah Aksa yang terlihat kaku dan datar.
""Yaak.."" Aksa membalas toyoran Bintang dan alhasil mereka berakhir dengan saling toyor toyoran dengan tawa Bintang yang menggelegar, Aksa sendiri hanya tersenyum tipis.
__ADS_1