BINTANG (Journey Of Love)

BINTANG (Journey Of Love)
BINTANG 40


__ADS_3

****


Di taman kota, Bintang masih setia menunggu kedatangan Aksa dengan perasaan dongkol.


ia sedari tadi menghubungi kekasihnya itu berkali kali, namun tidak ada jawaban sama sekali, malah sekarang panggilannya tulalit terus seakan nomernya di blokir oleh pemilik handphone, Aksa.


"" Astaga lama amat."" kesalnya.


Handphone Bintang bergetar berbunyi, dengan cepat ia mendail ikon hijau tanpa fokus melihat siapa yang sedang meneleponnya.


""Halo..woy..pria dingin, ke mana saja? kenapa belum datang.?"" Cercanya dengan sekali tarikan nafas.


""Hey...hey..hey..ini aku."" Sahut Dirgan di seberang telpon.


Bintang menjauh kan layar pipih itu dari telinganya, melihat nama kontak tersebut.


""Dirgan..?"" Lirihnya.


""Lagi di mana, Bin..?"" tanya Dirgan.


""Taman ko...Mmmppp..""


Belum sempat ia menjawab Dirgan dengan benar, sudah ada orang yang membekapnya dari belakang.


""Bin.. Bintang..halo..kenapa.?"" panik Dirgan saat mendengar suara Bintang yang tertahan.


""Tolong..."" Bintang menjatuhkan Handphone miliknya dengan komunikasi masih tersambung dengan Dirgan, memukul tangan yang membekapnya. Baru sekali teriakan minta tolong, ia kembali di bekap kuat oleh orang yang belum di lihatnya.


""Tolong..?!"" Ulang Dirgan menatap layarnya.


Dengan cepat ia berlari keluar kamarnya setelah menarik jaket serta kunci motornya, perasaannya benar benar tidak enak saat mendengar teriakan Bintang minta tolong.


""Mmmppp.."" Bintang masih di bekap kuat, ia meronta-ronta ingin di lepaskan.


""Jangan berteriak sayang, atau.."" Seringainya.


""Justien.."" Batin Bintang saat mendengar suara itu. ""Mmmppp.."" Bintang kembali meronta dengan sekuat tenaganya.


""diam...!"" Sentak Justien, Mantan Bintang itu menahan kuat pergerakan Bintang, mengingat bahwa mantannya jago beladiri ia mengkode Rico dan Roy untuk membantu mengikat tangan Bintang ke belakang.


""Mmmm..."" ronta Bintang lagi, sebisa mungkin ia bergerak gerak agar tangannya tidak cepat terikat supaya ia bisa mencari kesempatan untuk menyerang orang yang mencekalnya. Namun sayang, sekuat apapun dirinya meronta jika pergerakannya di kunci oleh tiga tenaga pria tersebut tetap saja ia akan kalah.

__ADS_1


""Hahaha...kamu sekarang dalam bahaya, Bintang.!"" Tawa kemenangan Justien, ia melonggarkan bekapannya, dengan satu tangan memegang pisau kecil tajam. pisau tersebut di taruhnya di pipi mulus Bintang.


""Jangan macam-macam."" Ucap Geram Bintang yang tidak jelas karena masih di bekap.


""Hah..tadi ancaman atau candaan.? harusnya kamu menangis, karena hidup mu ada di tangan ku sekarang.


""Mmmmmp.. tolong."" Bintang benar benar merasa di ujung tanduk sekarang.


""Aku bilang diam..atau pisau ini akan melukai wajah cantik mu."" Justien menekan sedikit pisau di wajah Bintang.


""Mmm.. jangan..""


Bintang langsung menurut diam, saat pipinya merasa perih, Justien benar tidak main main sampai pipi Bintang sudah tergores kecil dan mengeluarkan darah sedikit.


""Ayo,. gadis manis, menurut.."" Tekan Justien. ia mendorong pelan tubuh Bintang agar mau berjalan mengikuti arahannya.


Bintang melirik tempat taman tersebut dengan ekor matanya.


""Damn.."" umpatnya. ""Kenapa sepi sekali."" Batinnya.


Mau tidak mau ia menurut berjalan, berteriak pun merasa percuma, tidak ada orang sama sekali mungkin mau hujan jadi taman terlihat sepi, benar benar sial hidupnya sekarang. Tangan di ikat dengan pipi di todong pisau tajam, ia hanya berharap ada Aksa yang datang menolongnya.


""Aksa kamu di mana, jika aku kenapa kenapa maka tidak ada maaf untuk mu."" Batin Bintang.


Otak Bintang sudah memberi sinyal bahaya penuh saat dirinya di tuntun masuk ke dalam toilet umum.


""Justein, kamu mau apa ?"" Tanya Bintang di sela langkah takutnya.


Justien hanya menyeringai tidak menjawab pertanyaan Bintang. dengan kasar ia segera mendorong Bintang masuk ke toilet umum itu sampai tubuh Bintang tersungkur tengkurep dengan tangan ke ikat ke belakang membuatnya susah untuk bangun berdiri.


""Aww..""Ringisnya. ""Justien."" nyalang Bintang. ia mencoba duduk dari tengkurepnya.


""Kenapa..? marah? ini cuma permulaan, intinya belum, dan aah..apa kamu mau tahu intinya? intinya kita akan melewati malam yang penuh kenikmatan."" seringai Justien.


Pria bertubuh atletis dengan wajah setengah bule Jerman menatap penuh minat ke arah duduk Bintang.


""Sialan..!"" maki Bintang.


""Rico, Roy.."" Justien mengibaskan tangannya untuk menyuruh kedua temannya berjaga jaga di luar toilet.


""Justien, apa kita ke bagian."" Goda Roy.

__ADS_1


""Tidak, gadis galak ini hanya makanan ku seorang."" Sahutnya tanpa dosa.


""aaagrr..sialan kalian, Memangnya aku mau, apa? jangan jadi pengecut, kalian itu banci, beraninya main belakang jika kalian bukan banci maka lepaskan tanganku kita adu kekuatan.""


Bintang mencoba memutar otaknya, sengaja menyinggung harga diri Justien agar pria itu tersulut, berharap mau di bukain ikatannya dan bertarung sampai mati pun ia rela asal tidak di lecehkan.


""Terserah mau mengataiku seperti apa? Banci, pengecut atau apapun itu, TERSERAH..!"" Tekan Justien seraya melangkah mendekati Bintang.


Justien tidak mengindahkan penghinaan Bintang, ia hanya menyeringai, sepertinya ia sangat tahu maksud penghinaan itu.


Rico dan Roy sudah keluar dari toilet tersebut meninggalkan Justien yang akan bersenang senang.


""Kamu sangat cantik, Bintang. tapi sayang kamu itu sok jual mahal, di cium saja tidak mau, kenapa hah? apa aku kurang tampan kah?""


Justien memutar lembut pisau tersebut di wajah Bintang untuk menakut nakutinya. ia seakan akan seperti ingin membuat wajah cantik itu terluka.


Bintang tidak menjawab, matanya langsung di pejamkan saat pisau persis di sebelah matanya, peluh tiba tiba menetes begitu saja.


""Aku benci situasi ini, lemah.."" Batin Bintang mengomeli dirinya sendiri karena dengan mudahnya ia di lumpuhkan oleh Justien.


""Mata mu indah seperti mata kucing yang tajam, bibir mu...Ssshh..sangat menggoda, bau tubuhmu membuat hasrat ku bangun, satu lagi...tubuh indah mu, membuatku lapar..""


Justien meneliti dalam tubuh indah gadis yang tak berdaya terikat di depannya tak lupa pisaunya masih di mainkan. menghirup wangi tubuh Bintang dengan sangat dekat.


""Justien..lepas.. minggir, aku muak dengan sikap mesum mu."" Bintang meronta ronta berusaha melepas ikatan tangannya.


""Tch..tch..tch.."" Justien menyeringai seraya menggeleng geleng meledek.


""Menangis lah, Bintang..! Aku ingin melihat air mata mu.""


Justien tanpa aba aba langsung menyobek kerah baju Bintang memakai pisau.


""Aaarg..."" Murka Bintang menendang kuat tubuh jongkok Justien hingga terseret ke belakang. ""Kurang ajar..Aku akan membunuhmu."" Ancam Bintang. pikirnya hanya satu menyelamatkan diri dari pelecehan itu. masuk penjara tidak apa apa yang penting ia harus membalas perlakuan Justien dengan kematian.


""Damn.."" Umpat Justien. ""Kamu masih bisa melawan."" Justien tanpa ampun berdiri lalu menginjak kuat kaki Bintang.


""Aaarg.. Ssshh.."" Desah Bintang tertahan. Bibir mungilnya di gigit sekuat mungkin agar ******* lemahnya tidak terdengar. padahal air matanya sudah keluar dari wadahnya, Bukan karena kesakitan di injak melainkan ia takut di nodai.


""Hahaha.."" tawa kurang ajar Justien.


Bersambung..

__ADS_1


wajib meninggalkan jejak setelah membaca..šŸ˜‰


__ADS_2