BINTANG (Journey Of Love)

BINTANG (Journey Of Love)
BINTANG 86


__ADS_3

Tak...Tak...Tak....


Balik dari rumah Aksa, Bintang langsung menuju kantor. dan sekarang ia berjalan cepat ingin menghindari Aksa yang berada di belakangnya.


""Bin, hey.. tunggu aku."" panggil Aksa


Bintang tak mengindahkan. gadis itu malah cepat cepat menekan tombol agar liftnya cepat tertutup.


Dengan cepat, Aksa langsung menghadang pakai kaki di tengah tengah pintu stainless lift yang sebentar lagi tertutup rapat. terbuka, ia pun masuk ke lift dan hanya dirinya dan Bintang yang ada di dalam sana.


Aksa memojokkan tubuh Bintang ke dinding stainless. gadis itu tidak melawan, toh ujung ujungnya ia juga kalah lagi.


""Kenapa harus ribet ribet mengadakan pertemuan keluarga, aku ingin keluargamu langsung menyetujui tanpa ada pertemuan dulu, biar aku dan kamu menemui keluarga mu, papaku mungkin tidak bisa, ia akan pergi ke luar negeri dalam Minggu ini, jadi beliau tidak mungkin menghadirinya."" Aksa memang pengin menang sendiri. Berkelit tentang papanya pun ia lakukan agar bisa meyakinkan Bintang.


""Nikah saja sana sama monyet."" kesal Bintang.


""Bin."" Geram Aksa lebih mendekatkan wajahnya ke wajah Bintang.


""Apa ? mau mengancam ? cih, selalu."" Malas Bintang, mendorong kebelakang wajah Aksa menggunakan telapak tangannya.


""Bagus, kalau sudah tahu."" santai Aksa menyeringai. ""malam ini kita balik ke kota lama untuk menemui keluarga mu.""


""Terserah.."" Malas Bintang. ""tapi Aku kok ada rasa yang mengganjal di hatiku terhadap papa mu, papa mu aneh di mata ku."" Cibir Bintang.


""Jaga bicaramu, dia sebentar lagi akan menjadi mertua mu."" elak Aksa.


""Kamu memang pintar, sudah curiga lebih dulu terhadap papa ku, tapi aku tidak akan membiarkan rencana kami gagal begitu saja, kamu sendiri yang akan meyakinkan papa mama mu untuk hubungan mendadak ini."" Lanjut Aksa dalam hati.


""Mertua.?"" Bintang menggeleng, Apa kah waktunya untuk menyerah dengan keadaan.? Baiklah.... Bintang akan mencoba, mungkin ini sudah takdirnya., Toh... tidak ada lagi cinta yang lain untuk di harapkan, Dirgan saja mengaku jika racauannya hanyalah omong kosong.


*****


Deg....


Deg...


Hati Fatur tidak tenang saat mendapat tuturan dari Bintang, Gadis muda yang berhasil mengintimidasinya.


" Aku ingin Om menemui orang tua ku dan bicarakan niat baik keinginan anak Om.""

__ADS_1


Fatur masih mempertimbangkan keinginan Bintang yang baru beberapa menit Gadis berpendidikan itu tinggalkan di otaknya.


""Sial... gadis itu ternyata pintar juga, mana mungkin aku menemui keluarga Al Miller, yang ada akan hancur berantakan jika bertemu terlebih dahulu sebelum pernikahan terjadi.""


Beberapa menit yang lalu, Fatur meninggalkan Bintang dan Aksa di ruang makan tanpa memberi jawaban ke Bintang, ia tidak menolak dan tidak juga mengiayakan keinginan kecil Bintang yang ingin mempertemukan dua belah pihak. permintaan kecil bagi Bintang, Namun hal bahaya bagi Fatur.


""Alex.."" Teriak Fatur dari ruang kerjanya.


Asisten Aksa itupun langsung sigap memasuki ruangan tuan besar nya.


""iya tuan !"" tunduk Alex.


""Berikan solusi, agar aku dan Meca tidak bertemu sebelum pernikahan terjadi, dan bagaimana caranya juga agar Gadis pintar itu tidak menaruh curiga apapun. aku yakin, sepeninggal dari rumah ini, Anak dari Meca itu pasti merasa aneh dengan sikap ku tadi yang tidak langsung mengiyakan keinginannya.""


Fatur memijit pelipisnya, pusing mendadak.


""Kalau masalah itu, tuan tidak perlu mengambil pusing, Tuan Muda pasti ada solusi sendiri, buktinya saja Nona Jaauza bisa menurut atas keinginan mendadak tuan Aksa."" Jelas Alex.


""Benar juga."" Fatur kembali semberiwing. ""Kira kira, Aksa membuat anak Meca tunduk dengan cara apa? apa kamu mengetahuinya, Alex?""


Alex menggeleng.


""eum, baiklah..aku pastikan anakku yang penurut itu tidak mungkin keluar dari monopoliku."" Seringai Fatur.


******


Malam pun tiba, tidak membuang waktu beberapa lama di atas pesawat serta perjalanan darat. Aksa dan Bintang sudah sampai di rumah mewah bernuansakan putih. Lebih tepatnya di rumah mewah milik keluarga Bintang, Alvero Miller.


""Aku rindu halaman luas ini."" Gumam Bintang mengerlyatkan matanya di sekeliling pekarangan tempat bermainnya bersama sahabatnya.


Aksa pun ikut bernostalgia, di sini.. dulu ia juga sering bermain basket bersama Bintang, menggoda Bintang serta belajar bersama Bintang, aaah... sungguh manis di saat itu ! ia tidak menyangka jika takdir begitu kejam akan masalalu Bundanya. kenapa harus keluarga Bintang, kenapa bukan orang lain saja yang menjadi musuhnya.


""Ayo masuk, dan beri kejutan buat keluarga mu.!"" Aksa memasang lengannya agar Bintang mau bergelayut manja layaknya kekasih yang bahagia.


""Ok.."" Bintang memantapkan hati, mungkin ini jalan terbaik di akhir pencarian pangeran hidupnya dan orang itu MUNGKIN....Aksa. dan cinta... MUNGKIN pun akan tumbuh lagi untuk Aksa di sela sela pernikahannya.


Bel rumah sudah di tekan oleh Aksa...


dan....

__ADS_1


Sosok pria remaja yang membukakan pintu, anak nakal yang sering bergelayut bersama monyet sudah tumbuh menjadi pria yang bertubuh tinggi putih, hidungnya emmm...pasti sudah kebanyakan di tarik oleh Mumun sehingga terlihat sangat mancung.


""Ka--ka--kaka."" Gagap Gilang begitu lebay.


""Bukan Ka--ka--kaka, tapi Kaka."" Bintang tersenyum geli seraya merentangkan tangannya agar Gilang memeluknya.


Gilang pun berhambur memeluk tubuh Kakanya yang tingginya sudah hampir sama.


""Kak, lihatlah ! aku sudah besar dan tumbuh tinggi."" Bangga Gilang setelah melepas pelukannya.


""iya..iya..Kaka lihat, tapi ngomong-ngomong sudah di sunat belum."" Bintang mulai menggoda adiknya.


""Huss, Kaka !"" malu Gilang, walaupun sudah di sunat tapi itu adalah pengalaman yang tidak mau di ungkit ungkit.


""Eheeem"" Aksa yang sebagai tamu merasa di kacangin oleh dua adik kaka yang baru bertemu, di dalam hatinya ia juga ingin merasakan keluarga yang hangat.


""Aish..iya...ada Kak Aksa, ayo kita masuk..Mama papa ada di dalam.""


Gilang berjalan di depan dan di susul Bintang serta Aksa yang berjalan di belakang layaknya seperti gerbong kereta.


"""Siapa Lang yang datang."" Ucap Meca yang hanya asyik duduk bermesraan dengan suami di depan TV tanpa menoleh ke anaknya.


""itu ma.. ada pengemis cantik minta sumbangan." Otak jail Gilang mulai On, padahal sama mama sendiri. dasar emang si Gilang ini, Minta di sunat dua kali oleh papanya yang punya alat-alat runcing kedokteran.


Bintang sudah standby ingin memukul kepala adiknya, Namun Aksa menahannya dan menyuruh Bintang untuk diam. Pria dingin itu pun merasa geli mendengar Bintang di katain pengemis


""Alah...semua orang pun kamu di katain cantik, bahkan Mumun monyet pun sama di bilang cantik, lulus sekolah mama akan nikah kan kamu dengan monyet mu itu."" canda Meca.


""Hust..."" lerai Vero. pria jutek itu pun sama saja, tidak ingin menoleh ke belakang, Vero hanya asyik tiduran di paha Meca. ""Kasihan si mumunnya jika di nikahkan dengan Gilang."" Vero malah menyayangkan Mumun dari pada anaknya.


""Kenapa emang Ma pa jika Gilang di nikahin sama si Mumun."" Bintang bersuara.


""Gilang belum di sunat."" Celetuk Vero tanpa sadar siapa yang bertanya, Namun sedetik kemudian....


""Bintang/ Jaauza.!"" Kompak Meca dan Vero.


Sepasang suami istri itu terkesiap. apalagi Meca yang langsung bangkit dan membuat Vero yang tiduran di pahanya terbentur ke lantai.


Apa kabar dengan Gilang, anak kurang ajar itu langsung terbahak menertawakan Papanya yang lagi mengelus elus Kepalanya yang terbentur. dasar anak minta di hajar.... penderitaan orang tua di tertawai.

__ADS_1


__ADS_2