
""Kenapa baru kali ini kamu ingin belajar dengan bersungguh sungguh,?"" penasaran Bintang. ""Trus, orang tua mu ke mana?"" selidik nya.
""Deg...""
Aksa tersentak dengan pertanyaan Bintang, buku yang akan di taruh di raknya pun tidak sengaja di jatuhkannya. ia berpikir, apakah harus? menceritakan tujuannya ke Bintang. yang hanya karena ingin mengetahui kronologis hidupnya. Makanya, ia baru mau belajar dengan sungguh sungguh. dan masalah orang tuanya, ia sendiri tidak tahu jelas ke mana papanya, yang ia tahu pria paruh baya itu sedang sibuk di luar.
Merasa, Aksa terlihat terkejut dengan pertanyaan yang sederhana darinya, Bintang mengerutkan dahinya bertambah Bingung, ia berdiri dari kursi meja belajar, lalu mengambil buku yang di jatuh kan oleh Aksa.
""Maaf, tidak usah di jawab.!"" Tepuk Bintang di bahu Aksa untuk membuyarkan lamunan pria itu. ""hari ini, sudah selesai belajarnya, Aku ingin pulang, sudah malam !"" lanjutnya membereskan tasnya.
"" Apa kamu tidak ingin bertemu dengan ibu ku dulu?"" Aksa langsung menarik tangan Bintang, yang lagi sibuk bebenah tas, berjalan ke arah kamar mandi membuat Bintang semakin bodoh dan bingung. pria dingin itu, berniat mengajak Bintang untuk melihat ibunya yang sedang berada di atas langit bersama bintang bintang indah yang jauh di atas.
""Ak---"" protes Bintang terhenti, saat Aksa berbelok menaiki anak tangga kecil menuju ke atap.
""Ayo naik.."" Aksa mengulurkan tangannya, Agar Bintang bisa berpegang seraya menaiki anak tangga kecil yang khusus di rancangnya.
pelan tapi pasti, Bintang menaiki tangga dengan sangat hati-hati.
Gelap, dingin, dan angin yang bising, menggambarkan atap rumah itu, membuat Bintang gemetar seakan tidak bertulang di bagian kakinya, akibat fobiahnya di tempat yang gelap. wajahnya pucat pasi seketika, tangan dan seluruh tubuh sudah mengeluarkan keringat dingin. Namun Aksa tidak menyadarinya karena tempat itu sangatlah gelap.
Mulut yang sudah mangap ingin mengeluarkan suaranya, seakan tertahan tercekat di tenggorokan. Fobiahnya ini adalah kelemahannya sedari kecil akibat pernah terjebak di ruangan yang gelap sempit sampai sehari membuat Bintang kecil harus di rawat dengan keadaan hampir merenggang nyawanya.
Tidak ingin, di ketahui oleh orang lain tentang penyakit Fobiahnya dan tidak ingin di anggap lemah. ia berbalik, merabah pintu kecil yang sudah tertutup rapat.
Aksa baru menyadari, jika Bintang sudah tidak ada di sampingnya saat ada cahaya yang keluar dari pintu kecil itu. pria itu bergegas turun ke kamarnya untuk mencari Bintang.
"" Hai..Bin..? kenapa ?"" selidik Aksa, melihat Bintang duduk di lantai seraya mengatur nafasnya.
Aksa semakin mengerut bingung, saat wajah bersih Bintang terlihat pucat, spontan pria itu menaruh punggung tangannya ke dahi dan ke leher Bintang secara bergantian.
""Apa kau tidak enak badan.?"" Tanyanya. Bintang menggeleng.
""Aku tidak apa-apa, cuma sedikit pusing, ayo antar aku, aku ingin pulang.!"" serkanya bergegas berdiri dan berjalan gontai sampai tas pun lupa di bawahnya.
__ADS_1
""Aneh.."" lirih bingung Aksa, menggeleng kepala seraya menarik tas Bintang yang di tinggalkan.
****
""Ayo naik..!"" kodenya hanya dengan tatapan saja
Bintang mengerutkan dahinya, mengumpati orang yang berada di atas motor.
""tch..dasar cowok datar, tidak peka, orang lagi pening, malah di antarnya pake motor."" umpatnya membatin, Namun ia tetap melangkah bergegas naik ke motor Aksa dengan kasar mendudukkan bokongnya, membuat Aksa hampir ke hilangan ke seimbangan.
""Yaak..Bin..? apa kamu mau jatuh ?"" ketus Aksa.
""Jalan.!"" Malas Bintang.
""Haaa.."" Aksa membuang nafas kasarnya, lalu menjalankan Moge birunya, ia tidak habis pikir perubahan Bintang yang secara tiba-tiba, tidak jelas.
Di perjalanan, Aksa menjalankan Mogenya dengan kecepatan pelan, membuat Bintang malah mengantuk terkena Sepoi Sepoi angin malam yang sejuk menerpa matanya. sesekali gadis itu menghuyungkan kepalanya di punggung kekar Aksa, Namun sang empu punggung tidak merasakan, karena sibuk dengan pikirannya sendiri, sampai ada beberapa motor di belakang yang mengikutinya pun ia tidak tahu dan tidak menyadarinya.
""Bruuuumm..Bruuuumm.."" Motor yang mengikuti Aksa dan Bintang semakin mendekat di belakang Bintang.
""Aksa..lajukan motormu dengan cepat."" teriak Bintang, insting nya sudah menangkap sinyal bahaya, tapi Aksa masih setia melamun, sampai beberapa motor lain itu sudah sampai mensejajarkan laju motor Aksa, baru Aksa tersentak. Namun telat, dengan cepat orang yang berada di boncengan motor lain itu, mengeluarkan pisau dan secepat angin menggoreskan ke lengan Bintang yang cukup dalam sehingga langsung mengeluarkan darah segar.
""Aw..****.."" ringis Bintang langsung memegang lengannya.
""Bintang.."" panik Aksa, me- rem Mogenya secara mendadak sampai mengeluarkan suara decitan keras ban dan Aspal yang saling bergesekan.
""Ayo, Aksa.. cepat kejar motor itu."" pekik Bintang tidak memperdulikan lukanya yang bercucuran darah, pikirnya, ia harus membalas tingkah ekstrim orang orang yang bermotor tadi.
""Apa kamu yakin.""
""Haaa.."" marah Bintang.
Aksa dengan terpaksa mengejar dua motor yang sudah jauh di depan, bahkan hampir menghilang tak terlihat, padahal ia menghawatirkan Bintang yang sudah terluka begitu. pikirnya, ia ingin mengobati gadis istimewanya itu dulu. balas dendam, masalah belakang yang terpenting keselamatan Bintang.
__ADS_1
Bukannya tidak marah, Aksa bahkan sudah memerah padam, mata elangnya sudah terlihat menahan emosi, Ingin segera menghajar orang yang berani melukai gadis istimewanya.
""Damn.."" Umpat Aksa merutuki keleletannya, karena motor yang di kejarnya menghilang di pertigaan, yang entah berbelok ke mana motor sialan itu.
""Bin.. turun..kita obati dulu lukamu ?"" perhatian Aksa.
""Tidak, Aku mau orang itu merasa kan lukaku."" Keras kepala Bintang.
""Tap---""
""Belok kiri, Aku yakin orang orang itu mencari jalan sepi.!"" tebak Bintang dengan nada ketusnya.
""hhmmm...baiklah! pegangan yang kuat kita akan kejar orang orang itu, sampai ke ujung jalanan, tapi aku minta kamu harus baik baik saja."" panik Aksa yang melihat darah Bintang sudah semakin banyak keluar.
""Cepat lah..atau aku akan marah kepadamu."" Ancamnya tidak sabar.
""keras kepala."" sahut Aksa lalu menjalankan Mogenya dengan sangat cepat.
Berputar putar di jalanan mereka lalui dengan mata tajam mengerlyatkan ke segala arah untuk mencari Jejak motor sialan itu. Namun nihil, tidak ada jejak, membuat Aksa semakin merutuki ke bodohannya, Bintang sudah terluka dan pelaku sudah bebas kabur entah ke mana tanpa mendapat balasan.
Merasa sia sia tidak ada hasil, Aksa berbelok arah untuk mencari rumah sakit terdekat berniat mengobati luka Bintang.
Motor berhenti di depan rumah sakit luas besar berlantai empat, yang Bintang sangat kenali tempat itu, karena rumah sakit itu adalah salah satu rumah sakit keluarganya.
""yaaak..bodoh.."" Bintang menoyor kepala Aksa yang masih memakai helm dari belakang.
""Apa sih..Bin? kamu terluka tidak terluka, tetap saja galak."" Cemberut Aksa, lalu menyuruh Bintang untuk segera turun. tapi gadis itu tetap stay di atas motor.
""Aku mau mengobatinya sendiri, jangan kerumah sakit ini, di dalam ada singa tidur, yang jika di bangunkan akan mengamuk langsung tidak karuan."" Ucapnya, membicarakan papanya, yang entah ada atau sudah balik kerumah, tapi tetap saja ia tidak mau masuk, secara semua perawat mengenali wajahnya. ia takut, jika ada yang lapor ke papanya, kan bisa gawat bisa bisa dirinya tidak bisa bebas main lagi.
""Singa ? maksud mu.?"" Bingung Aksa. tapi semenit kemudian, ia menurut pergi dan berniat untuk mengobati luka Bintang sendiri.
Bersambung...
__ADS_1
beri dukungan mu...š