
Baku hantam antara Dirgan dan Justien pun terjadi di dalam toilet umum yang kecil dan kotor itu, Tidak ada yang mau saling mengalah, Emosi dan murka menggorogoti perasaan Dirgan kali ini, pikiran jernihnya sudah hilang, hanya satu yang ingin di lakukannya yaitu ingin menghabisi orang yang tega ingin melecehkan sahabat tercintanya.
Bintang yang melihat itu hanya menjadi penonton kosong yang menyedihkan, menangisi kondisi tubuh yang hampir hilang kesuciannya yang selama ini di jaganya. Kakinya bergetar hebat masih ketakutan jika mengingat perlakuan Justien yang baru terjadi beberapa menit yang lalu. Ternyata kelemahan gadis itu bertambah selain kegelapan, ia sekarang juga takut mengenal sosok pria baru
lain di luar sana.
Roy dan Rico terlihat baru memasuki ruangan tersebut. dengan cepat, mereka berdua membantu Justien untuk menghajar Dirgan bersama, dengan serangan picik, dari belakang.
Buuugh..Braaak..
Dirgan tersungkur kuat di lantai pas tempat berdirinya Bintang, Namun tatapan Bintang hanya terlihat kosong, tidak ada respon atau bantuan sama sekali dari gadis itu, kayanya benar benar terpukul sekali mental Bintang saat ini. sampai Dirgan yang berada di kakinya tidak di hiraukannya.
Dirgan membuang fokusnya dari Justien, menoleh ke arah orang yang sudah menyerangnya dari belakang, tatapan elangnya seakan siap menerkam mangsanya yang tertuju ke arah Rico dan Roy. Dirgan berdiri kasar hingga pergerakannya sedikit menyenggol lengan Bintang dan pergerakan itu membuat seorang Bintang tersadar dari kekosongannya.
""Dirgan..ha----!"" ucap Bintang terhenti.
Jleeeb...
""Ssshh.. aaargh.."" Ringis pelan Bintang. perutnya tertusuk oleh pisau Justien.
Justien yang mengambil kesempatan ke tidak fokusan Dirgan kepadanya. sesegera mengeluarkan pisau yang di taruh di jaketnya. bergerak, berniat menusuk Dirgan dari belakang, Namun miris... yang terkena tajamnya pisau tersebut malah perut Bintang. Gadis itu spontan tanpa berpikir akan terluka langsung memasang tubuhnya untuk melindungi Dirgan dari pergerakan cepat Justien.
""BINTANG.."" Lirih Frustasi Justien dan segera melepaskan tangannya dari pisau yang tertancap di perut Bintang.
Justien mematung di tempat, dengan menatap tangan yang sudah terkena darah segar Bintang. semenit kemudian, ia tersadar dari perbuatannya, ia segera kabur keluar ngebirit sebelum di lihat Dirgan.
__ADS_1
Dirgan baru sadar saat mendengar panggilan lemah Bintang.
""BINTANG.."" Dirgan membulatkan matanya di area perut Bintang lalu bergerak cepat untuk menangkap tubuh lemah itu agar tidak terjatuh ke lantai.
****
""Bintang....."" Teriak Aksa di ruangan VVIP pesawat.
Aksa yang sudah di atas pesawat, baru tersadar dari pingsannya dan langsung terduduk memegangi dadanya yang seakan berdenyut sakit tak beralasan.
Peluh terlihat menghiasi pelipisnya, ia belum sadar jika dirinya berada di atas pesawat yang sudah terbang di awan.
""Bintang..Ada apa ini..?"" lirihnya masih memegang dadanya.
""A-aku.. Astaga..Jam.."" Aksa terkesiap melihat jam di pergelangan tangannya yang sudah sangat sangat telat menemui Bintang.
""Aaargh..."" Aksa mendengus kesal saat menyadari dirinya telah berada di atas pesawat, di tambah ada sosok Gissel yang baru keluar dari kamar mandi ruangan VVIP itu dengan senyum merekah tergambar di bibir merah merona tertuju kearahnya. Coba saja itu Bintang yang menemaninya kuliah di Berlin, ia pasti akan sangat senang hati menjalani hari belajarnya di negeri orang.
""Jangan mendekat, jaga jarak mu, jika ingin hidup tenang di negera orang."" Suara Aksa terdengar mengancam telak dingin ke arah Gissel yang ingin menghampirinya.
Sekarang Aksa hanya pasrah dengan jodoh saja, dirinya sudah talang tanggung, ia sudah terbang menuju Berlin, meninggalkan Bintang sebelum pamit tanpa memberikan kepastian bahwa dirinya akan kembali suatu saat nanti. Takdir tidak berpihak padanya kali ini.
Gissel langsung terkesiap, kakinya seketika mengurungkan niatnya, ia jadi mengubah haluannya ke arah kasur yang tadinya di tempati Aksa.
""Sabar.. Gissel... masih banyak waktu di Berlin.."" Batinnya menguatkan diri sendiri.
__ADS_1
""Bintang..Aku harap kamu di sana baik baik saja, Entah kenapa jantungku berdetak sakit saat ini, apakah kamu mengutuk ku di sana karena aku tidak datang menemui mu dan mala pergi jauh? tunggu aku sayang, culunku.! aku akan kembali setelah study ku kelar dan aku berharap kamu tidak membenci ku ketika aku datang kembali."" Batin Aksa berkecamuk.
****
""Bin..Bin.."" Dirgan begitu panik melihat darah Bintang semakin bercucuran keluar terus menerus. sementara Ambulance yang di hubungi tak kunjung datang.
""Bin..aku mohon bertahanlah."" ucap Dirgan menepuk nepuk pipi Bintang agar mata indah itu tidak terpejam.
""Aku tidak apa-apa, bodoh..aku hanya capek.."" Sahut Bintang yang terbata bata di pangkuan sahabatnya.
""Kamu bodoh..hiks.. kenapa..kamu memasang tubuh mu buat melindungi ku.. jika kamu tidak baik baik saja, aku akan menghukum diri ku sendiri.""
Pertahanan Dirgan runtuh sudah, bulir bulir bening jatuh begitu saja. hatinya sangat sakit, tidak pernah terlintas dalam bayangannya, akan seperti ini kejadiannya.
seandainya saja tadi tidak perlu baku hantam dan membawa Bintang pergi sesegera mungkin dari hadapan Justien maka tragedi ini tidak akan pernah terjadi, Sesal pikir Dirgan.
""Dirgahayu... kamu sudah menyalamatkan ku, kamu tidak salah, kita kan saudara, jadi tugas kita saling melindungi."" ucapan Bintang semakin terbata bata. Tangan lemahnya menjulur ke atas ingin memukul kepala Dirgan untuk menggoda sahabatnya yang sering dilakukannya.
Dirgan menunduk dan memasang kepalanya, pasrah. Suatu saat hal yang akan di rindukannya adalah tangan enteng Bintang jika nanti sahabatnya jauh darinya. Hati Dirgan semakin campur aduk sakit, melihat kondisi Bintang seperti itu, di tambah ucapan Bintang yang hanya menganggap dirinya sebagai sahabat serta saudara saja.
Tangan lemah yang menjulur itu belum sampai ke kepala Dirgan, Tapi tiba tiba sudah terkulai lemas terjatuh sendiri, mata Bintang pun sudah terpejam setelah melempar senyum manisnya untuk orang yang memangkunya.
""Hah?..hiks..hiks..Bin..buka mata mu, bodoh..buka..! kamu tidak boleh terpejam! bahkan, kamu belum tahu perasaanku yang sesungguhnya untuk mu, jadi kamu harus bangun untuk menolak ku mentah mentah, Aku mencintaimu Jaauza..aku sangat mencintaimu..bangun lah..gadis nakal, bangun dan pukul aku.."" Racaunya terisak seraya memeluk erat tubuh yang sudah tidak sadarkan diri.
Tersadar dari ke bodohannya yang tidak cepat bertindak, Dirgan memapah tubuh Bintang untuk keluar dari tempat sempit itu, dan segera mencari kendaraan di bawah derasnya hujan.
__ADS_1
Sepi, kendaraan yang melintas kebanyakan motor, Dirgan semakin takut tak bertepi, sudah tertusuk di tambah guyuran hujan meledek luka itu, Perih pasti sangat perih. Dirgan berjalan seraya berdoa agar bantuan segera datang, ia juga merutuki Ambulance yang lelet bertindak, Mungkin genangan air kah yang memperlambat mobil berserine itu terlambat datang.
Bersambung...