BINTANG (Journey Of Love)

BINTANG (Journey Of Love)
BINTANG 85


__ADS_3

Dirgan tersadar dari tidur panjangnya, ia memijat pelipisnya yang terasah pening.


Menarik tubuhnya untuk duduk di atas ranjang.


""Aih..kok.""


Dirgan merasa heran, kenapa dirinya sudah ada di dalam kamarnya ? Bukannya ia berada di party ? siapa yang membawanya pulang ? Apa kah Nata atau....""


"Shit" Umpatnya. ""Aku mabuk.?"" Lirihnya.


""Bodoh bodoh bodoh.."" Dirgan merutuki dirinya, pasti Bintang yang membawanya pulang, secara...harum parfum Bintang menempel di bajunya, parfum itu mengalahkan bau alkohol.


""Apa aku meracau yang tidak tidak? ah, jangan sampai.?""


Dirgan beranjak dari tempat tidur, buru buru untuk melakukan aktivitas bersih bersih di kamar mandi.


Bip...Bip..Bip..


Di luar unit Dirgan. Gadis yang baru di pikir kan oleh pria yang lagi di guyur hujan buatan, shower. sedang menekan tombol unit dengan sarapan pagi di tangannya yang khusus menghilangkan Hangover akibat minuman beralkohol yang di konsumsi berlebihan.


Pintu terbuka, Bintang pun masuk menuju arah kamar Dirgan, membuka pintu kamar perlahan, dan..... tidak ada orang, Dirgan sudah bangun dan terdengar percikan air dari kamar mandi.


Gadis itu pun keluar dan berniat menunggu Dirgan di ruang makan saja.


""Semalam, Dirgan meracau omong kosong apa benar tidak sih?.""


Sepeninggal Bintang di kamar Dirgan, Gadis itu semalaman kurang tidur, memikirkan setiap pengakuan Dirgan, apakah hanya racau pengaruh alkohol atau benar adanya.


""Bin."" kaget Dirgan.


Bintang menoleh dengan wajah datarnya.


merasa tenggorokan kering panas, Dirgan yang sudah rapih langsung menuju ruang makan, namun alangkah terkejutnya, Gadis yang berhasil mengisi hatinya sedang duduk termenung.


""Pagi, Dir ! ini...""


""Pagi."" Sahut Dirgan.


Dirgan duduk di hadapan Bintang, menyambut sarapan penghilang Hangover yang di sodorkan Bintang. aaah... coba saja ini adalah perhatian istri ke suaminya, mungkin Dirgan adalah pria yang paling bahagia... walaupun ia tahu jika Bintang memberi sarapan hasil dari tukang ojol, karena kekasih dalam diamnya itu tidak bisa memasak, tapi tetap saja bahagia...karena perhatiannya itu lho... membuatnya susah move on.


Antara Dirgan dan Bintang sekarang malah terlihat canggung satu sama lain. jika Dirgan Canggung sebab takut jikalau ia meracau keceplosan memberi tahu Bintang tentang hatinya. Bukan apa apa, cuman saja... Dirgan tidak ingin membuat rencana pernikahan sahabatnya hancur hanya gara gara dirinya, ia rela luka hati yang penting Bintang bahagia. pikir Dirgan.

__ADS_1


sementara Bintang, Gadis itu canggung ingin bertanya kebenaran tuturan Dirgan perihal isi hatinya, jika benar hati Dirgan untuknya, Maka dirinya akan mencoba bicara baik baik dengan Aksa, untuk jangan melanjutkan rencana pernikahannya, walaupun seorang Aksa pasti menolaknya, Namun kalau di coba tidak ada salahnya kan.


Bintang nyaman berada di dekat Dirgan, dan apa itu di namakan Cinta ? entah lah, Bintang juga belum bisa mengartikan itu, intinya bersama-Dirgan, ia merasa nyaman dan juga senang.


""Habiskan makanan mu, aku ingin bicara ?"" ujar Bintang.


""Eum, pasti mau menyampaikan kabar baik tentang pernikahan mu, aku sudah tahu, dan... selamat untuk kalian."" Dirgan melukis senyum paksa.


Aih.... Bodoh sekali kamu Dirgan, dodol, bego, kenapa malah memberi selamat, seakan akan dirimu ikutan senang padahal hatimu sedang menangis darah.


Bintang langsung menebak, jika Dirgan hanya meracau omong kosong.


""Aku sudah selesai."" Dirgan mendorong piring menjauh dari hadapannya. ""Aku akan berangkat ke showroom, apa kamu mau di antar bekerja atau nyetir sendiri.?"" Dirgan terlihat datar seperti tidak terjadi apa apa di dalam hatinya.


""Apa kamu mencintai ku, Dirgan ? apa benar racauan mu semalam ?"" Bintang tidak mau menebak nebak, ia ingin mendengar langsung kepastian mulut Dirgan, dalam mode kesadaran seratus persen.


Dirgan terkekeh garing, ia mencoba berkelit.


""Kalau betul bagaimana ? tidak mungkin kan kamu membatalkan pernikahan kalian, Aksa tidak akan membiarkan itu, dan.... jangan dengarkan racauanku yang tidak tidak, orang mabuk alkohol hanya meracau omong kosong doang."" Dirgan berkelit, ia tidak mau membuat pikiran Bintang bercabang hanya karena dirinya. dan berujung mendapat masalah, biarkan saja penderitaan hatinya, toh...ia sudah sering mendapat sakit hati dalam diamnya, pikirnya.


Mendengar itu, Bintang membuang nafas panjang, ada rasa kecewa di dalam hatinya, entah kenapa ia tidak suka kalau racaun Dirgan hanya omong kosong.


""Aku bisa berangkat sendiri.."" Tidak ada senyum hangat yang Bintang sematkan untuk Dirgan, Gadis itu beranjak dan bergegas pergi.


******


Bintang yang akan berangkat ke kantor seketika berubah haluan menghampiri rumah Aksa, Malas namun ia harus menurut, ini adalah kesempatan langkah karena Papanya Aksa menerima keinginannya yang ingin bertemu.


Tap,.Tap...Tap..


Bintang melangkah masuk setelah di persilahkan oleh pelayan Aksa yang familiar di matanya, Namun ia lupa siapa nama pemilik wajah paru bayah itu.


""Non, apa kabar, senang bertemu dengan Nona Bintang lagi."" Ucap sang pelayan yang tak lain adalah Bu Retno.


""Kabar baik Bu.....""


""Bu Retno, Nona.""


""ahh, iya ! Bu Retno.!"" Sopan Bintang.


Paru bayah itu pun menggiring Bintang menuju ruang makan, sebab kedua Tuannya sedang melangsungkan asupan gizi di pagi hari.

__ADS_1


""Bin."" Senang Aksa. pria itu pun menyiapkan kursi untuk Bintang tak perduli dengan tatapan mata seorang Fatur, Papanya.


""Selamat pagi, Om-----!""


""Damian, Nama Om adalah Damian Lionel."" Bohong Fatur atas namanya sendiri.


""Bi... Maksud ku Jaauza Al Miller."" sahut Bintang memperkenalkan diri.


""Saya sudah tahu lewat Aksa, dan..."" Fatur meneliti dalam dalam wajah Bintang. ""sangat cantik."" pujinya.


""Ciplakan Meca."" Seringai Fatur dalam hati.


""Terimakasih Om, atas pujiannya."" Entah kenapa di hati Bintang ada yang ganjel atas perlakuan hangat Fatur terhadapnya.


Sementara Aksa, pria itu hanya tersipu sendiri atas momen langkah yang ada di hadapannya, sesaat ia melupakan tujuan utamanya untuk menikahi Bintang yang hanya ingin membalas dendam ke keluarga Bintang.


""Jadi, apa tujuan mu yang ingin menemui Om."" Tanya Fatur.


Bintang melirik Aksa dengan ekor matanya, lalu kembali fokus ke wajah Fatur yang sedang menyeringai tipis.


""Apa Om tahu ? jika anak Om mengajak aku untuk menikah dalam waktu yang sangat singkat.?""


Fatur mengangguk mengiyakan.


""Justru aku yang merencanakan."" ucap Fatur dalam hati.


""Sebagai Orang tua, pasti Om mengerti jika menikah itu tidak segampang membalikkan telapak tangan."" tutur Bintang.


Meski berbicara dengan orang tua, Bintang tidak ada suara grogi atau apa pun itu, ia terlihat berwibawa jika sedang membicarakan hal yang serius, malah wajah dinginnya begitu tersirat di raut wajah yang cantiknya.


""Pfu...kenapa berhadapan dengan gadis ini, seakan akan telah di intimidasi oleh Ahli hukum Meca sialan itu."" Batin Fatur, belum apa apa sudah menciut sendiri.


""Eum, terus ? apa maksudmu ? menikah kan soal mudah, tinggal pergi ke ahlinya untuk melakukan ritual kalian."" Bodoh Fatur yang tidak pernah merasakan ritual pernikahan.


Bintang tersenyum kecut, "" Tidak seperti itu ! apa Om tidak pernah melakukan ritual lamar melamar ke Bundanya Aksa sebelum menikah."" Tajam Bintang.


Walaupun ia tidak terlalu menginginkan pernikahan paksa ini, Bintang tidak mau jika ritual demi ritual di lewatkan, apa lagi tidak membawa keluarganya untuk ikut serta. Bintang ingin bertopeng dalam pernikahannya atas dasar suka sama suka pure tidak ada paksaan.


""Sialan, mana aku tahu urusan begituan, menikahi Garlin saja tidak pernah, kami punya anak karena kebodohan kami, dan kebodohan itu akibat berurusan dengan orang tua mu."" Lagi lagi Fatur mendengus kesal dalam hatinya dan Bintang berhasil membuat dirinya tersulut emosi.


""Aku ingin Om menghampiri orang tua ku dan bicarakan niat baik keinginan anak Om."" Tekan Bintang mengutarakan niat sesungguhnya dalam pertemuan itu.

__ADS_1


Deg....


__ADS_2