BINTANG (Journey Of Love)

BINTANG (Journey Of Love)
BINTANG 45


__ADS_3

""Kecuali Dirgan..""


Merasa di sebut, Dirgan berhenti dan berbalik dengan senyum mengembang, ia memang sebenarnya tidak mau pergi dari sisi Bintang saat sakit seperti itu.


Morgan terlihat iri serta cemburu akan hal itu, tapi ia memilih diam dan ikut keluar bersama keluarga Bintang.


""Istirahat lah, aku akan menjaga mu."" Dirgan duduk di kursi samping Bed. Bintang menggeleng, ia menyuruh orang pergi hanya ingin bertanya kepada Dirgan.


"" Aksa..? apa kamu tahu di mana dia?""


Dirgan nampak berpikir dengan wajah terlihat bingung. pertanyaan Bintang barusan membuatnya aneh juga, terhadap Aksa yang tidak terlihat.


""Tidak...Aku tidak tahu, bahkan sejak dari semalam pacar mu itu tidak terlihat."" Sahut Dirgan.


""Oh.. Begitu.."" Bintang terlihat kecewa.


""Jangan sedih, ada aku, Biru, serta mantan kesayangan mu juga ada."" Dirgan tahu Bintang sedang kecewa, ia berusaha menghibur sahabatnya dengan godaan garingnya.


Bintang tersenyum paksa, ternyata Aksa membawa efek besar di hatinya, sangat Berbeda yang di rasakannya jika hanya sahabat, sepupu serta Mantan yang menjenguknya.


""Kenapa terasa sesak, Come on Bintang, ini bukan pertama kalinya kamu patah hati, Mungkin Aksa sedang sibuk, pria dingin mu akan datang."" Batin Bintang. ia mencoba menepis pikiran negatifnya terhadap ketidak hadiran Aksa.


""Kamu tidak apa apa kan, Bin..?"" selidik Dirgan, ia meraih tangan Bintang untuk di genggamnya.


Bintang terkesiap, ia reflek menarik tangannya. membuat Dirgan salah paham, Apa Bintang segitunya tidak mau di sentuh olehnya.


Sementara, Bintang seketika mengingat kejadian kurang ajar Justien kepadanya, sentuhan Dirgan merasa tidak nyaman untuknya saat ini.


""Maaf Dirgan, aku ingin beristirahat, kamu pergilah beristirahat juga."" usirnya dengan nada lembut.


Setelah berucap, Bintang langsung memejamkan matanya, Dirgan melihat ada embun di sudut mata Bintang.


Dirgan langsung pergi tanpa ingin bertanya lagi, ini bukan saatnya terlalu banyak mengobrol bersama Bintang.


""Apa Bintang menangis karena Aksa ? aah.. sialan orang itu, butuh di hajar apa?"" Dirgan menggerutu seraya berjalan di koridor rumah sakit.


*****

__ADS_1


Beberapa hari kemudian, Bintang sudah di perbolehkan pulang, walaupun belum sembuh total luka tusuknya, tapi Dokter Samuel sudah mengijinkan Bintang pulang dengan catatan tidak boleh beraktivitas dulu dan bergerak terlalu aktif karena lukanya belum kering.


Bintang sudah rebahan di dalam kamarnya yang bernuansa putih bersih dengan pikiran bergulat tak bertepi tentang Aksa, menatap tajam langit langit seakan properti itu mangsanya.


""Aku membenci mu, Aksa..! aku sangat sangat membenci mu, Tega sekali kamu tidak datang menjenguk. boro boro menjenguk, di telpon saja tidak bisa tersambung. awas saja, setelah aku sembuh aku akan menghajarmu.""Bintang menunjuk nunjuk langit langit kamarnya.


""Apa kamu sengaja menyuruh ku menunggu mu di taman kota dan sengaja kamu tidak datang, Cih..asal kamu tahu pria dingin, gara gara dirimu aku hampir mati dan hampir hilang kesucian ku, Aku membencimu...Aksa bodoh..pria kutub...****..."" Bintang mengumpat kasar tanpa sadar gadis itu bergerak gerak aktif di kasur sehingga mendapat tekanan di perutnya.


""Damn..."" umpatnya lagi seraya mendesah sakit.


""Tch..tch..tch..Gadis nakal."" Dirgan masuk melalui balkon, ia mendengar makian Bintang sedari tadi untuk langit-langit kamar yang tidak berdosa.


""Apa.."" Ketus Bintang.


""hey..hey..hey..Calm down baby..!"" Goda Dirgan seraya tersenyum manis.


""Jangan senyum senyum, sini aku pukul, kamu meledek ku, Dirgahayu..""


Dirgan mendekat dan duduk di sisi kasur.


Deg...


Dirgan terbawa suasana, wajah itu menghipnotis jantungnya lagi, Seakan Bintang mengalirkan setrum pas di hati serta jantungnya.


Bintang menoyor jidat Dirgan agar menjauh dari rebahannya. ""Minggir Bodoh, apa kamu mau mencium ku, tch.. jangan sampai, aku akan memotong bibir jelek mu kalau itu terjadi."" Ancamnya seraya bibirnya sudah mengerucut manyun.


""Kamu malah membuat ku bertambah kesal, Dirgan."" lanjutnya.


""Hahaha.. kenapa aku, bukannya langit langit yang membuat mu patah hati."" Goda Dirgan.


""Tuh..kan.. ledek aja terus, apa perlu aku panggilin Tante Fina untuk menghukum mu, Aku akan menyuruh mama mu untuk menghukum mu mencuci pakaian lagi.""


""eits.. jangan.. Tangan ku bisa berdosa kalau aku harus memegang kain berbentuk gunung kembar itu, apalagi harus mencuci layang layang segi tiga berenda."" Dirgan bergidik seperti orang polos, padahal otak mesumnya menerawang jika melihat kain bergunung kembar, serta layangan rendah rendah bersegi tiga.


""Tch..sok suci kamu, nyukk.. tangan mu dan bibir mu itu sudah banyak dosanya, sudah berapa banyak cewek bohay yang kamu sosor."" Bintang menyelidik seperti pacar yang sedang merajuk.


""Tidak ada..pikiran mu terlalu jelek tentang ku."" elak nya. ""kalau banyak kenapa? apa kamu cemburu."" Dirgan ikutan menyelidik.

__ADS_1


"" Yaak.."" Bintang menyubit perut rata Dirgan. "" Cemburu kenapa ? kita bukan pasangan kekasih, Boy..! lanjutkan Aksi bohay mu aku tidak perduli."" Cueknya.


Kecewa, Dirgan menatap dalam netra Bintang, Hati nya seakan mendapat bantingan keras di dalam sana, miris sekali, tidak ada cinta untuknya di mata itu, membuat Dirgan maju mundur untuk menyatakan terang terangan rasa cintanya.


""Dirgan..apa aku salah ngomong."" Bintang menangkap keganjalan di raut wajah sahabatnya.


Dirgan menggeleng seraya tersenyum paksa untuk menutupi kekecewaannya, ia takut jika persahabatannya renggang hanya karena penolakan dari Bintang.


""Aksa sudah ada kabar."" Dirgan mengalihkan pembicaraan.


Giliran Bintang yang menggeleng kecewa.


"" Belum ada, antar aku dong ke rumahnya.?!"" pintanya memasang puppy eyes-nya.


""yaak.. Minta di hukum tuh bibir."" Ancam Dirgan sengaja mendekat kan wajahnya lagi. ""Tidak boleh.""


""Bughh.."" Bintang menabok kasar wajah kurang ajar sahabatnya, Dirgan mengelus wajah sakitnya. "" tch.. kenapa.?"" tanya Bintang.


""Luka mu belum sembuh, sayang..! tidak boleh banyak bergerak, apa lagi naik motor, sudah di bayangkan apa efeknya, lebih parahnya lagi, Aku dan Biru dapat peringatan dari mama papa mu."" Dirgan seperti berbisik di akhir ucapannya dan matanya meneliti pintu kamar yang tertutup rapat.


""Peringatan? apa..?"" penasaran Bintang.


""Kami di larang membawa mu kemana pun lebih dari satu jam, dan itupun harus meminta ijin langsung dulu.""


Bintang menjulurkan kedua tangannya ke Dirgan, meminta bantuan untuk duduk dari rebahannya.


""Kenapa begitu.."" Pekik Bintang terkesiap.


""pikir aja sendiri, bodoh...! mana ada orang tua yang mau melihat anak nakalnya terluka lagi dan lebih parahnya...""Ucapan Dirgan terhenti, ia tidak berani membahas tentang Justien lagi. ""Kamu mengerti kan."" lanjutnya.


""iya...aku mengerti.!"" Bintang mengangguk paham.


""Tapi aku ingin memastikan tentang Aksa."" lanjutnya.


""Tidak perlu..."" Suara berat Biru tiba-tiba nyambung dari arah balkon.


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2