
Hari yang panjang dan menguras emosi bagi Bintang untuk pertama kali di alaminya bekerja di perusahaan tersebut setelah kehadiran Aksa.
Kini Bintang hanya menopang dagunya di atas meja sekretaris dengan bantuan dari kepalan tangannya tanpa berniat ingin mengambil tas yang di tahan oleh Aksa dan balik karena jam kantor sudah usai untuk hari ini.
""kenapa sih mimpi semalam menjadi kenyataan ? bertemu sama Aksa membuat hatiku panas. Aku tidak suka bekerja di sini lagi.!"" racaunya sendiri.
""pikir...pikir...pikir.. Jaauza,. bagaimana caranya kamu bisa berhenti bekerja tanpa membuat karyawan terdampak.""
Bintang menggedorkan kepalanya di meja untuk berpikir keras.
""Kenapa kamu sampai segitu frustasinya Bin, Apa hati kamu sudah tertutup untuk nama ku, atau kamu sudah mempunyai pengganti ku ?"" Sedih Aksa yang melihat Aksi Bintang dari ruangannya melalui kaca hitam yang terlihat dari dalam ruangan.
Aksa bergegas membuka lacinya, mengambil tas milik Bintang, berniat ingin mengejar Bintang yang ingin pulang tanpa membawa tasnya.
""Gadis keras kepala ! tas mu kenapa di tinggal, aku yakin kunci mobil mu pasti di dalam sini."" Gumamnya di sela langkah panjangnya menuju lift khusus CEO.
Sementara Bintang sudah berada di lobby sedang menunggu di jemput oleh Nata berniat meninggalkan mobilnya di perusahaan dari pada harus bertemu Aksa lagi dan membuatnya dongkol.
Bip..bip..bip..
Kode klakson dari mobil sports Gallardo hitam mengkode Bintang untuk naik, kaca mobil pun di turunkan.
""Putri galak..!""" panggil Nata. ""Ayo naik."" lanjutnya.
""Tch.. tidak ! aku ingin di bukakan pintunya secara aku di panggil putri oleh mu, Casanova."" Manja Bintang.
Nata terkikik seraya turun dari mobilnya, memutari mobil mewah itu untuk menghampiri Bintang.
""Tch, Manja. jika rekan kantor mu melihat kita, mereka pasti akan menganggap kita mempunyai hubungan istimewa.""
Nata berucap seraya menarik mesra hidung Bintang dan benar saja apa yang di ucap Nata, para karyawan yang hendak pulang melirik tanya ke arah Bintang dan Nata, termasuk Aksa yang sudah di berada sedikit jauh di belakang dari tempat mereka berdiri.
Bintang mundur menaiki satu anak tangga lobby, meraih rambut Nata lalu mengusap sedikit kasar sehingga rambut rapi itu berantakan.
""Aku tidak perduli, ayo antar aku pulang."" Cuek Bintang lalu tangan nakalnya melingkar mesra di lengan berotot Nata layaknya sepasang kekasih.
""Ayo, Silahkan naik tuan putri."" Sambut Nata tak kala mesranya setelah membuka lebar lebar pintu mobilnya.
Aksa tadinya sudah mangap mangap memanggil Bintang, tertahan tertelan panggilannya, Saat melihat ada seorang pria muda tampan tak kalah rapih berjas mewah seperti dirinya memperlakukan Bintang dengan sangat Akrab dan mesra.
__ADS_1
""Bintang, kamu tidak pernah berubah dari dulu, selalu mempunyai laki laki setelah putus dari pacar mu, Aku jadi ragu tentang ke sucian mu yang telah kamu jaga mati matian semenjak dulu.""
Rahang Aksa mengeras marah, hatinya panas tidak terima kalau Bintang mempunyai kekasih selain dirinya, tas yang di pegangnya pun teremas dalam genggaman kuatnya.
*****
""Sampai tuan putri."" kata Nata yang sudah berada di depan lobby Apartemen Bintang.
""Kenapa tidak di parkiran ? tidak mampir ?"" tawar Bintang.
Nata menggeleng . ""Apartemen mu tidak ada yang menarik, kalau ada cewek lain, Cantik seperti mu di sini sih aku dengan senang hati mampir terus."" Genit Nata mengeluarkan sisi pria bejatnya.
""Tch, najoong, sana pulang, lanjutkan Aksi gila mu di luar area ku, dan jangan sampai tertangkap basah olehku , kalau itu terjadi maka burung mu akan aku tebas dan mencincangnya sampai halus."" Ancam Bintang melirik pedang perkasaan Nata.
Nata menelan salivanya, membayangkan perkataan Bintang sejenak, jika itu terjadi maka hancur sudah masa depan keturunannya.
""Ngeri."" Ngilu Nata bergidik.
""hahahaha...jaga baik baik, ok."" goda Bintang seraya membuka pintu mobil.
Bintang masih berdiri menatap kepergian mobil sepupunya yang tak kalah bejatnya dari kelakuan Kemal sebelum tobat menjadi Casanova.
Bintang meninggalkan lobby, bergegas ingin cepat cepat naik ke unit Apartemennya, pikirnya hanya satu, yaitu ingin berendam di bathtub untuk meredakan otak frustasinya yang di buat oleh Aksa.
Bintang memperlambat langkahnya saat melihat ada sosok pria yang sedang mengotak atik tombol pintu unitnya.
""Maling apa ? kok Bisa ada maling yang masuk di tempat Apartemen mewah ini."" Gumamnya yang tidak melihat siapa sebenarnya pemilik wajah itu karena orang tersebut membelakanginya.
Bintang sudah berada di belakang punggung orang yang masih mencoba menebak kode unitnya, Menyeringai senang saat tahu siapa sosok orang yang hendak membobol passwordnya.
Buuuuurr...
""Dirgahaaayuu."" Senang Bintang berloncat naik ke punggung Dirgan, sampai leher Dirgan merasa tercekik ulah tangan nakalnya yang berpegangan enak di leher tersebut.
Dirgan terkaget, ia hampir membanting tubuh Bintang ke lantai, namun tersadar saat mendengar suara yang di rindukannya, spontan tangannya ke belakang untuk menahan beban tubuh Bintang agar tidak terjatuh.
""Gadis nakal, singkirkan tanganmu di leher ku, aku tercekik."" protes Dirgan namun ia merasa senang dengan posisi dekat seperti itu.
""Tidak, ini hukuman jika ingin mencuri di unitku."" Tolak Bintang semakin memperkuat pegangan tangannya.
__ADS_1
""Kamu ingin membunuh ku.""
""Iya..."" Santai Bintang masih di atas punggung sahabatnya. "" Aku merindukan mu, pria mata Bohay.""
""Aku pun, sangat !"" Jujur Dirgan
""makanya aku kesini dan berniat menculik mu."" lanjutnya berbohong.
""Tch..aku bukan anak kecil yang mudah di culik, ayo tekan passwordnya.""
Bintang tidak berniat turun sebelum berada di dalam, ia hanya memberi tahukan kode unitnya ke Dirgan.
Biiip..
Kode terekam dengan sempurna, Dirgan menggendong masuk tubuh Bintang layaknya seperti monyet yang bergantung di belakang punggungnya.
""Ayo turun, nafasku hampir habis."" Jujur Dirgan.
Bintang turun dari punggung Dirgan.
""Hahaha..maaf, padahal aku senang membuat wajah mu menjadi merah."" Goda Bintang yang mengira kalau wajah Dirgan merah karena kesakitan.
""Wajah ku panas karena ulah mu yang membuat jantungku berpacu kencang, Gadis bodoh, tidak pekah."" Lirih Dirgan menggerutu.
""Tadi menggurutu apa, hah.? kamu menyumpai ku ya, begitu kah ?""
Bintang yang duduk di sofa seraya membuka sepatu ber high nya, samar samar mendengar Dirgan menggerutu tidak jelas.
Dirgan ikut duduk di sebelah Bintang.
""Aku tidak menyumpai mu, tapi aku merindukanmu."" kata Dirgan.
""anak bayi, sini.!"" Bintang merentangkan tangan menyuruh Dirgan memeluknya.
Dirgan dengan senang hati menyambut kesempatan itu. Justru hatinya sedang berdisko ria di dalam sana.
""I Miss you so much, Very much."" Jujur Bintang mengelus punggung Dirgan naik turun.
Sementara Dirgan yang menang banyak, tersenyum senang menikmati harum rambut Bintang dengan wajah yang sudah tersipu seperti tomat merah yang sudah mau busuk.
__ADS_1
Bersambung....