
Sinar pagi pun menyongsong cerahnya Mentari di langit Paris, Prancis. Sama dengan halnya seorang Dirgantara Malik yang hatinya lagi tersenyum seperti sinar Mentari.
Pria itu sudah bangun di pagi hari, menyiapkan sarapan ke sukaan Bintang. ia berkutat di dapur sendirian yang sebenarnya sudah ahli walaupun laki laki, ia memang pintar memasak, hidup mandiri yang memaksanya untuk bisa memasak sendiri. Fina dan Gion... entah kemana orang tua itu, mungkin belum bangun atau lagi jogging bersama.
""Sip, Jadi."" Dua piring nasi goreng spesial ala chef Dirgan tersaji di atas meja makan, Sederhana tapi rasa bintang lima, sebab Dirgan memasak memakai bumbu cinta...eaaaa..awas jangan keasinan.
Dirgan meninggalkan dapur menujuh ke kamar untuk melihat kekasih galaknya sudah bangun apa belum.
""Hemm...belum bangun.""
Seulas senyum jail terulas di bibirnya. Dirgan mendekat ke sisi kasur tepat di sebelah tidurnya Bintang, mendekat ke telinga Bintang dan berbisik...
""Bin...bangun ! Kota Paris sebentar lagi tenggelam."" Bisiknya dengan suara khas seraknya.
Bintang tak bergeming, reflek gadis itu malah merapatkan selimut. Dirgan tak menyerah.
Dirgan beranjak ke arah jendela, menggeser gorden dan membuka jendela lebar lebar meminta cahaya pagi untuk mengusik mata terpejam Bintang.
Gadis cantik tapi tidur kaya' kebo' itu malah bergerak membelakangi sinar matahari yang mengusiknya. ada seulas seringai jahil juga di balik pura pura tidurnya, Bintang sudah bangun saat bisikan serak Dirgan menggelitik telinganya.
""Astaga ni gadis..untung cinta kalau tidak udah aku siram."" Gumamnya kembali mendekat.
Dirgan berjongkok di sisi kasur tepat di hadapan wajah Bintang dengan wajahnya bertumpu di kasur. Di pandangi wajah itu dalam dalam yang terlihat damai. tadinya niat untuk menjahili namun ia malah tersenyum hangat.
""Rasanya ini mimpi bagiku, Bin. kamu ada di sini di hadapan ku dengan status berbeda. Aku mencintaimu. dan tidur lah."" Monolognya, Membelai lembut pipi Bintang menggunakan satu jarinya.
""Aku juga mencintaimu."" Dirgan terperanjat kaget. Bintang membalas ucapannya dengan mata terpejam dan jarinya di tangkap oleh gadisnya.
__ADS_1
""Pagi."" Mata Bintang terbuka dengan senyum cerah terulas di sana. wajah bantalnya di majukan ke wajah Dirgan. dan...Cup, Bintang memberikan kissmorning tepat di bibir Dirgan sekilas. ""Calon suami ku."" Lanjutnya tersenyum nakal melihat wajah Dirgan merona merah.
""Yaaak... kamu membuat ku terkejut Bin."" Dirgan membuang rasa tegangnya, Bintang selalu membuat jantungnya bersport ria bila berada di dekatnya.
Bintang menarik tubuhnya untuk duduk di sebelah kepala Dirgan yang masih menumpuh di kasur dengan senyum tipis.
""Kenapa pipi mu merah Dir, katakan ? apa kamu memakai blush on ku."" Godanya mencolok lembut tulang pipi Dirgan.
""Nakal, ni rasain.."" Dirgan mencekal kaki Bintang yang mengudara di sisi kasur, menggelitik telapak kaki itu dengan agresif tanpa ampun. sehingga sang empu kaki terbahak geli minta di lepaskan.
*****
Di sisi lain, waktu Negara yang di pijar oleh Bintang dan Dirgan, lebih lambat lima jam dengan waktu yang di pijar oleh negara keberadaan Aksa dan waktu Negara yang Aksa injak adalah tepat jam dua belas siang.
Aksa menggunakan jam istirahatnya untuk mengunjungi panti asuhan, tiada hari tanpa kesana baginya untuk berkelit dari hatinya yang sedang hampa, berhasil... sedikit demi sedikit bayangan Bintang mulai redup di dalam sana, sulit memang tapi ia tidak mau terpuruk dan membuang buang waktunya hanya karena patah hati.
""Kak Aksa.!"" Teriak kompak anak anak panti saat Aksa turun dari mobil dengan dua plastik mainan di jinjingan.
Aksa tersenyum senang, ia bersyukur bisa berbagi dengan mereka semua, ia juga pernah merasakan di posisi mereka.
""Di bagi rata ya adik adik."" Suara berat namun terdengar lembut di sana.
Aksa mengerlyatkan matanya, mencari sosok mantan pengasuhnya, Bu Rury. Ketemu...Bu Rury sedang berada di kursi panjang dekat taman tempat anak anak bermain bersama seorang gadis yang tak asing di matanya.
""Itu kan..? Sahabat Bintang ? kok ?"" Lirihnya Mendekat.
""Siang Bu Ruri."" Sapa Aksa.
__ADS_1
Bu Ruri dan gadis yang di sebut Aksa sebagai sahabat Bintang pun menoleh.
""Kamu."" Tunjuk Gadis tersebut yang tak lain adalah Rere yang bernama lengkap Relia Jingyim Nama yang penuh dengan makna. anak Nina bersama pria keturunan cina, lebih tepatnya almarhum. Rere dari kecil sudah menjadi anak yatim akibat papanya mempunyai riwayat jantung di umur di bilang masih muda. dan Rere kadang kala tinggal di rumah Oma dari keluarga Jingyim. Nina pun tak masalah Anaknya ikut bersama siapa sebab Nina dan mantan mertuanya masih berhubungan dekat, bahkan Nina sudah di anggap Anaknya sendiri. Makanya Dirgan sering memanggil Rere dengan ingus mata sipit. Sebab Rere keturunan dari Cina yang khas mempunyai mata merem merem melek.
Hidup Rere memang misterius, Sahabat sahabat kecilnya saja kurang tahu masalah pribadinya sebab Rere begitu rapat tidak menceritakan apa pun yang menyangkut pribadi baik percintaan atau pribadi yang lainnya. dan sahabatnya menghormati itu, bahkan Nata yang jahil tidak berkutik tidak mempunyai bahan hanya sekedar melempar candaan saja.
""Akhirnya kalian bertemu juga."" Selip Bu Ruri di antara saling tunjuk tajam itu.
""Maksudnya ?"" Kompak Aksa dan Rere.
Bu Rury menggeleng geli dengan ekspresi kedua anak muda yang ada di hadapannya.
""Katanya kalian saling ingin bertatap muka, kan sekarang Uda tuh, Lili dan Bisu.!"" Jelas Bu Rury dan langsung beranjak meninggalkan mereka yang masih melongo satu sama lain.
""Bisu ?""
""Lili ?""
Mereka saling tunjuk detik kemudian melempar kan senyum dengan masing-masing menepuk jidat sendiri sendiri dengan konyol.
""Astaga Aksa ? kamu ternyata Bisu mantan pacar Bintang, yang dingin dan datar...dunia memang sempit tapi penuh dengan rahasia."" Rere begitu datar dan terdengar tajam hanya sekedar mengobrol biasa saja. dan itu sebenarnya sikap biasa biasanya, tidak ada yang lembut darinya yang nampak tapi hatinya lah yang lembut dan penyayang, terbukti di balik sikap Tomboynya ia begitu menyukai anak anak panti yang hidupnya kurang beruntung dari pada dirinya, ia masih punya Nina sebagai Mamanya, punya Oma Opanya yang sipit sipit, punya adik cantik yang bernama Reina Jingyim mantan pura pura pelampiasan Dirgan sebagai playboy cewek bohay di hadapan Bintang dan ia juga punya sahabat sahabat yang baik serta keluarga sahabatnya sudah menganggapnya anak.
""Rere ? Lili ? kamu sudah tidak cadel lagi rupanya ? Jadi di waktu kamu ingin memperkenalkan nama mu itu maksudnya Relia bukan lilia dan sebab aku pusing mendengarnya dengan singkat aku panggil lili saja walaupun kamu garang dengan protestan mu... hahaha.!"" Tawa kecil Aksa meledek di telinga Rere sudah mengungkit masa kecil yang menurutnya sangat memalukan yang tidak bisa berbicara dengan benar.
""Yaaak... tertawa saja terus...Bisu ! kenapa sudah besar malah cerewet sih? harusnya kamu tetap Bisu saja, itu terlihat manis dan lucu tidak seperti sekarang...seram dan emmm...apa lagi ya.. ? Menyebalkan.!"" Kesal Rere.
Hening, Mereka nampak berpikir, terlihat ada kecanggungan...mata mereka hanya menatap ke sekeliling halaman panti yang tak pernah berubah tempat bermain mereka di waktu masih kecil.
__ADS_1
Bersambung....