BINTANG (Journey Of Love)

BINTANG (Journey Of Love)
BINTANG 68


__ADS_3

Aksa mengetuk ngetukkan jari jarinya di atas meja kebesarannya seraya menatap luar ke kaca hitam yang tembus pandang dari dalam ke ruangan sekretarisnya, Bintang.


Sudah dua hari setelah kejadian penghinaan itu terlewat, Namun Bintang tak kunjung masuk bekerja.


""Aku merindukan mu Bintang, dua hari sudah cukup untuk kamu beristirahat.?"" Gumamnya menyeringai.


Ya....Aksa sengaja membiarkan Bintang beristirahat tanpa ada gangguan darinya, sebab ia mengerti bahwa Bintang pasti masih terguncang atau marah kepadanya dan tidak mau bertemu dengannya setelah kejadian penghinaan itu.


Tapi, Bukan Aksa namanya kalau ia membiarkan Bintang untuk terus tidak masuk bekerja, padahal Bintang masuk pun Gadis itu hanya mengabaikan tugasnya, Bintang hanya sibuk mencari cari celah kekesalan Aksa supaya segera di pecat, tidak di gunakan untuk bekerja layaknya sekretaris biasa pada umumnya.


Aksa sekarang terlihat sedang mendail kontak Bintang dengan seringai liciknya.


sebelum tersambung, dari arah pintu terdengar suara ketukan.


""Masuk."" Lantang Aksa. Aksa pun menundah dan menaruh layar pipih nya di atas meja.


""Selamat pagi, pak.!"" Ucap Wiwid setelah sudah berada di depan singgasana Bos-nya. wajah Wiwid terlihat takut takut dengan tangan memegang secarik amplop panjang.


""Eum..ada apa?"" Datar Aksa.


""Saya mau menyerahkan surat ini, pak.!""" Wiwid menyodorkan amplop tersebut ke arah Aksa.


""Surat ? dari siapa ?"" Aksa tak bergeming, ia mengabaikan amplop itu di tangan pak Wiwid.


""ini surat pengunduran diri dari Nona Jaauza, pak."" jelas Wiwid takut takut.


Dor..


praaang...


Mendengar itu, Aksa murka dan langsung mengeluarkan senjata api dari balik Jasnya membidik dan berhasil melesat dari atas kepala Wiwid, apa kabar hiasan dinding yang terkena peluru panas di belakang sana, tentu saja hancur berlubang.


""Pa--pa--pak."" Tubuh Wiwid bergetar ketakutan, peluh tiba tiba menetes di pelipisnya di dalam ruangan bersuhukan AC. Wiwid tidak menyangka akan mendapat amukan seperti itu hanya karena sekretaris bosnya mengundurkan diri.


""Apa dia sudah pergi.?"" Sentak Aksa.


""Sudah, tapi mungkin masih berada di dalam lift atau di lobby, pak."" Wiwid memberanikan diri menyahut dengan bibir bergetar pucat.


""pergilah, sebelum peluruku mengenai kepala mu.""


Mendengar sudah di usir, Wiwid langsung mengambil jurus langkah menghilang cepat dari hadapan bosnya yang menambah julukan di benak pak Wiwid dari bos tegas beralih bos psychopaht.

__ADS_1


""Tidak akan ku biarkan.""


Aksa langsung memakai kartu As-nya untuk menghentikan Bintang yang akan out dari genggamannya. dengan cepat ia sudah mengirimkan foto muslihat itu ke tersangka.


Setelah mengirim beberapa foto ke Bintang, Aksa memasang wajah datarnya kembali, tanpa di kejarpun burunan yang akan kabur, pasti akan menyerahkan diri sendiri. Pikirnya.


Tak


Tak


Tak


""Satu dua ti---""


Dor..Dor...Dor...Dor..


Hitungan Aksa terpotong, ia sudah menebak kalau Bintang datang dengan jalan menghentak hentakan kakinya dengan emosi ber api api. Dengan cepat ia berlindung di balik meja kebesarannya, takut. Takut terkena amukan senjata api milik Bintang karena Aksa tanpa sengaja pernah melihat ada pistol berwarna gold di dalam tas Bintang yang sebelumnya pernah di sitahnya.


""Aksa.."" Marah Bintang dengan senjata masih melesatkan peluru demi peluru ke segala isi office sehingga ruangan itu sudah berantakan dengan barang barang tidak berbentuk.


""Keluar dan jangan jadi pengecut."" Tantang Bintang.


""Apa kamu rindu."" santai Aksa malah merentangkan kedua tangannya seakan akan Bintang ingin di peluk dirinya.


""Cuih.."" Bintang membuang ludahnya ke sembarang tempat.


Dor...


Dengan emosi yang memuncak ia melepaskan pelatuknya ke arah Aksa. Tapi....


""Sial.."" Umpat Bintang. pelatuk yang terlepas hanya mengeluarkan angin kosong.


""Kenapa pakai habis sih."" marah Bintang melempar senjata apinya pas ke arah Aksa.


""Shap."" Aksa dengan lincah menangkap senjata itu hanya menggunakan tangan satu.


""Aku sudah menghitung peluru yang kamu lesat kan, Bintang."" Lirihnya seraya tersenyum meledek ke arah Bintang yang sedang berapi api.


""Bi--""


""Diam, jangan sebut namaku."" Bentaknya.

__ADS_1


Bintang melempar tasnya ke Aksa untuk mengalihkan perhatian Aksa dan dengan cepat ia sudah berada di hadapan Aksa, dengan bogeman siap meluncur ke perut sixpack pria itu.


Bugh..Bugh..Buhg..


Perut yang berbalut jas mahal terkena beberapa Bogeman mentah dari tangan lembut namun menyakitikan jika terkena.


Bukannya menghindari, Aksa malah menahan dan memasang tubuhnya untuk di jadikan samsak pelampiasan marah Bintang.


""Ayo lawan aku, pukul aku, jangan seperti patung, yang mau menerima pukulan gratis dariku."" seru Bintang di sela aksi tinjunya.


Bintang jadi kesal sendiri, merasa Aksa hanya pasrah menerima amukan darinya, tanpa ada perlawanan seakan akan dirinya sedang di remehkan.


""Pukul lah sesukamu, Bin.!"" pasrah Aksa.


""iya...aku akan memukul mu sampai mati, kamu jahat, kamu tega melakukan itu kepada ku.""


Bintang semakin gila mengeluarkan seluruh tenaganya untuk menghajar Aksa, sampai penampilan Aksa yang rapih kini sudah berantakan.


Sakit, sakit, sakit fisik yang di terima Aksa dari Bintang tidak sepadan yang di terima oleh sakit mental Bintang yang di terima darinya. jadi Aksa berpikir, tidak apa-apa dirinya di amuk walaupun babak belur sakalipun.


""Balas dan pukul atau kalau bisa bunuh saja aku, kamu tega sekali melakukan pelecahan, menggunakan kesempatan sewaktu aku pingsan.""


Tenaga Bintang melemah, air mata seketika menetes begitu saja tanpa permisi, Bintang berpikir kalau Aksa sudah mengrepeh repeh tubuhnya di saat dirinya sedang tidak sadarkan diri sampai dengan teganya Aksa mengabadikan momen kurang ajar itu.


""Hiks..hiks..aku tidak menyangka kamu setega itu kepada ku, Aksa. aku benci di sentuh oleh lelaki seperti mu, aku benci dengan tubuh ku, menjijikan, hanya kamu mantan yang kurang ajar setelah Justien."" Racaunya.


Aksa menangkap tangan Bintang yang sekarang memukul mukul dadanya.


""Maaf kan aku, Bin. aku tidak, itu..itu.."" Aksa gelagapan ia tidak bisa menjelaskan ke Bintang kalau dirinya sama sekali tidak melihat ataupun menyentuh tubuh memabukkan itu, kalau ia menjelaskan maka percuma saja ia melakukan muslihat.


""Aaarg..."" Bintang menyentak kan tangannya yang di pegang Aksa, ia kembali menyerang Aksa, menampar dan memukuli Aksa membabi buta.


""Pukul lah semau mu, aku ikhlas aku pantas menerimanya."" pasrah Aksa yang sudah terjatuh ke lantai.


Gelap, pikiran jernih Bintang terhempas entah kemana, merasa tidak ada perlawanan dari Aksa, tanpa sadar ia menarik pecahan bingkai dan berniat melukai tubuhnya sendiri yang sudah di gerepeh gerepeh Aksa, pikirnya.


Aksa yang melihat itu dari duduknya di lantai, dengan cepat memanfaatkan satu tangannya sebagai penopang tubuhnya yang tidak sempat berdiri, lalu menendang tangan Bintang agar beling yang di pegang Bintang terhempas dan tidak melukai tubuh yang sedang rapuh itu.


***


Like....like...like...

__ADS_1


__ADS_2