
Hujan sudah mulai turun, walaupun tidak terlalu besar, Namun berhasil membuat jalanan pendakian orang orang yang mencari Bintang sangat sulit karena selain gelap, tanah pun seketika licin dan becek seakan berlumpur.
Namun walaupun begitu. Aksa, Dirgan dan Morgan tidak membuatnya menyerah begitu saja, Mereka masih mendaki terus dengan baju yang sudah basah kuyup seraya memanggil manggil nama Bintang.
""Bintang.. Bintang.."" teriak Aksa Dirgan serta Morgan secara bergantian, tapi dengan jarak yang berjauhan, karena mereka saling berpencar tanpa takut di area licin seperti itu..
Bintang semakin histeris ketakutan, ia semakin meraung-raung tidak jelas dengan suara bergetar saat membuka mata ada kilatan petir di tempat gelap itu yang seakan siap menyambar hidupnya.
""Hiks.. tolong, siapa pun, Aku mohon."" lirih nya di selah selah isaknya dengan bibir yang menggigil kedinginan. Nafasnya sekarang sudah hampir di ujung tanduk, Oksigen yang masuk ke vital pernapasannya seakan tercekat tertahan yang siap mencekik lehernya. Fisiknya yang kuat langsung tidak berfungsi jika gelap mengintimidasinya. kini hanya ke ajaiban saja yang diperuntungkan olehnya. Pasrah, hidup dan mati, itu yang sudah terlintas di otaknya.
""Bintang.."" Teriak Aksa yang kesekian kalinya di lain tempat.
Cukup lama, hujan rintik-rintik turun kini mulai redah, membuat kelompok orang itu merasa lega walau hanya sedikit karena sudah hampir dua jam mereka mencari namun masih nihil.
""Bintang.."" Dirgan tak kalah lantang memanggil manggil sahabatnya. Jatuh bangun di area licin berlumpur itu di terjalnya. tapi ia masih setia semangat mencari sahabatnya.
Sementara Morgan tidak bisa berkutik lagi, langkahnya semakin berat, ia tidak kuat berjalan di area becek dan licin. ""Aaahh.. tidak berguna."" marahnya merutuki kelemahannya seraya duduk di tanah yang berlumpur.
__ADS_1
Jam menunjukkan pukul setengah sepuluh malam, polisi hutan serta guru laki-laki itu menghampiri Aksa termasuk sang wali kelas, pak Togar.
""Maaf..kita tunda dulu pencariannya , ini semakin malam, jalanan juga tidak mendukung, sebaiknya kita kembali lagi besok pagi."" ucap salah satu orang itu dengan hati hati ke Aksa.
Seketika langkah Aksa terhenti, menoleh ke belakang dengan tatapan dinginnya. ""jika kalian mau balik, maka balik lah, aku akan mencarinya sendiri, sampai kapan pun.!""
Pak Togar menimpali ucapan dingin Aksa dengan menggeleng tak habis pikir ke orang yang baru saja bertutur santai, kalau anak orang itu yang di posisi Bintang sekarang, apa dia masih sanggup menghentikan rombongan yang ingin mencari orang yang terjebak ke gelapan seperti sekarang.
""Baiklah, pencarian kita lanjutkan."" Panitia itu mengalah. ia merasa tidak seharusnya berhenti dan menyerah begitu saja, masalah ini menyangkut ke selamatan nyawa orang.
Pencarian berlanjut, Aksa sudah berada di tengah tengah badan gunung, suasana gelap gulita, Senter yang di bawahnya di putar pelan ke segala arah penjuru pepohonan.
Hati Aksa langsung tenang, orang yang membuatnya panik dan khawatir kini sudah terlihat di matanya. Namun ada yang sedikit aneh dengan posisi tubuh Bintang yang sedang duduk memeluk lutut, seharusnya orang yang terdesak dalam bahaya, minimal meracau tidak jelas bukan? tapi ini, Gadisnya itu hanya meringkuk memeluk lututnya tanpa ada suara dan gerakan sedikitpun, Apa kah Bintang tertidur? tapi kalau kata Dirgan, Gadisnya itu sangat takut dengan kegelapan. Berarti tidak mungkin Bintang tertidur pulas dengan tenang, pasti ada yang salah dengan keadaan Gadisnya itu.
Di arah lain, Dirgan juga melihat Bintang, Bahkan ia melihat lebih dulu tubuh kaku sahabatnya itu. Namun langkahnya tertahan dengan tumbuhan liar yang menjalar kemana-mana. Sedikit sulit ia melepaskan kakinya yang tersangkut itu, giliran sudah terlepas sudah ada Aksa yang memeluk sahabatnya dengan sangat erat. Takdir memang berkata lain, menjaga sahabatnya saja tidak bisa, jadi mana pantas dirinya untuk bersanding sebagai kekasih Bintang, pikirnya.
Aksa melepas pelukan eratnya, menepuk nepuk pipi Bintang agar bangun dari tidur atau dari pingsannya, Entahlah Aksa tidak mengerti kondisi Bintang saat ini. yang jelas ia yakin, Bintang sedang tidak baik baik saja, menyentuh tubuhnya saja sudah terdeteksi, seakan dingin tanpa kehangatan sedikitpun.
__ADS_1
""Aksa..! apa yang kamu tunggu? cepat beri dia nafas buatan."" Dirgan datang datang langsung menggosok gosok tangan Bintang biar sedikit memberi kehangatan. ia sangat yakin kejadian di waktu kecil kembali terulang, sahabatnya itu pasti sedang susah bernafas dengan baik, itu yang ia dengar dari Vero seketika menjelaskan ke Meca dikala waktu ia masih kecil dan masih terngiang betul di memorinya.
Aksa tersentak menatap bingung ke Dirgan, Nafas buatan? itu artinya bibirnya dan bibir Bintang menyatu langsung, dan artinya lagi ia mencium Bintang. Aksa Bukannya tidak mau tapi jika ia melakukannya, ia takut dengan ancaman Bintang yang akan membuatnya seperti Morgan, Mantan.
Tapi jika Aksa tidak melakukannya dengan cepat, resikonya bisa membuat kondisi Bintang yang akan kehilangan nafas sepenuhnya karena tidak mendapat pertolongan pertama.
Dirgan mendengus kesal saat melihat Aksa berpikir dulu tanpa langsung melakukan perintahnya, jika Aksa tidak mau, ia siap memberikan Nafas buatan untuk sahabatnya itu, masa bodoh dengan Bintang yang akan marah kepadanya jika sadar nanti, ia lebih memilih di marahin dari pada melihat tubuh kaku Bintang untuk yang terakhir kalinya.
""Aaaaarg..kalau kamu tidak mau, maka aku bisa melakukannya."" kesal Dirgan. Dirgan menghargai Aksa sebagai kekasih Bintang, makanya ia menyuruh melakukan itu ke Aksa, Bisa saja ia main menyelonong tanpa permisi.
Aksa yang mendengar itu menghentikan Dirgan dengan tatapan pembunuhnya sekilas, lalu dengan cepat memberi nafas buatan untuk Gadisnya.
Dirgan terus menerus memberi kehangatan ke Bintang dengan cara apapun seraya menunggu Aksa memberikan nafas buatannya, sekarang bukan waktunya untuk cemburu, bagaimana pun caranya Bintang harus bangun.
Nafas buatan sudah tersalurkan, Namun tubuh Bintang tidak ada reaksi apapun untuk bangun dari tidurnya, membuat Aksa dan Dirgan semakin panik, di dalam kepanikannya suara rombongan panitia datang dan menyuruh salah satu dari Aksa atau Dirgan membawa tubuh Bintang segera turun agar cepat di tangani oleh pihak medis di tempat pedesaan ini.
Di dalam kepanikan Dirgan terselip ada rasa bangga ke Aksa, ia melihat ada keseriusan di diri Aksa untuk sahabatnya itu, dan ia berharap Aksa tidak memberi luka hati ke Bintang sampai kapanpun jika memang mereka berjodoh. walaupun ia mencintai sahabatnya itu, tapi ia rela untuk mundur jika Bintang benar benar bahagia bersama dengan orang lain.
__ADS_1
Bersambung...