BINTANG (Journey Of Love)

BINTANG (Journey Of Love)
BINTANG 91


__ADS_3

Hari H pernikahan tinggal satu hari lagi, keluarga besar serta sahabat yang mendapat undangan mendadak merasa terkejut atas pernikahan tiba tiba adanya. dari keluarga Airin dan Angga di kampung, Keluarga kecil kemal, Keluarga Nina, bahkan tetangga Meca sendiri yakni keluarga Titan dan Fina merasa terkejut bingung sekaligus bahagia mendengar jika Bintang akan menikah.


Tidak ada penyebaran undangan sebab Bintang dan Aksa kompak hanya ingin keluarga saja yang menghadirinya.


Semua keluarga yang di undang sudah berkumpul di rumah mewah Al Miller, hanya saja sahabat sahabat Bintang tidak ada yang terlihat mungkin mereka pada sibuk dengan Bisnisnya apalagi Nata sebagai seorang CEO, Dirgan.... Entah kemana orang itu, mungkin dia lagi sibuk dengan Mogenya yang berkaki dua, Bintang tidak bisa menghubunginya dari kemarin kemarin. Biru si brownies lagi sibuk dengan cabang barunya. hanya para orang tua yang ada kecuali Gion seorang diri. Polisi itu ada tugas ke luar kota, dan sampai saat ini pula janji Fina untuk memberikan foto Fatur belum tertepati sebab data Fatur tersimpan rapi di kepolisian yang di pegang oleh Gion.


""Tante Fin."" Panggil Bintang. Fina menoleh yang lagi berkumpul dengan keluarga besar Bintang.


""Eum."" Sahut Fina dengan alis terangkat.


Bintang menarik Fina keluar, ke taman belakang yang hanya ada Gilang dan Mumun sedang bermain garuk garukan. tidak perduli dengan keluarganya yang sedang menatapnya sedang menggeret Fina, bahkan lontaran godaan dari Kemal pun tak di indahkan.


""Apa sih, Bin ?"" Bingung Fina.


""Tante ingkar Janji, mana foto orang itu, entah kenapa Jaauza pengin melihatnya."" Cerocos Bintang.


""Anak nakal."" Fina mensentil lembut bibir mungil Bintang. ""Tante tidak ingkar janji, sana salahin Om Gion mu, dia yang belum sempat pulang ke kantor polisi. Tante sudah menghubunginya kok, tapi....ya begitulah Om mu lagi sibuk dinas."" Jelas Fina.


""Nanti sore katanya balik, dia akan mengirimkan itu ke padamu."" Tambahnya lagi.


""eum baik lah."" datar Bintang.


""Muka kenapa tidak berekspresi begitu.? bukannya bahagia akan menikah ? malah datar kaya Aspal."" Ledek Fina.


""Tidak apa-apa."" sahutnya. ""Lihat Mama tidak Tan ?"" Tambahnya menanyakan Meca yang tidak terlihat berkumpul, hanya Vero tuan rumah yang menemani keluarga besar.


Fina mengedipkan bahu. "" Mungkin di kamar.""


Bintang pun menuju kamar Meca, orang tua satu itu masih sedikit kesal kepadanya, perihal kehamilan bohongnya, keluarga yang lain pun tidak ada yang tahu jika Bintang sedang di gosip kan hamil, hanya kedua orang tuanya dan Gilang yang tahu.


Ceklek..


Pintu terbuka, Bintang langsung masuk ke kamar Orang tuanya.


""Ma."" Ujarnya.


""Eum."" Meca cuma melirik dengan ekor matanya.

__ADS_1


Tanpa aba aba, Gadis itu langsung tiduran di kasur berbantalkan paha Mamanya, memeluk perut Meca sedikit erat hingga wajah itu tenggelam tak terlihat.


""Mama masih marah kepada Jaauza.?""


Tidak ada jawaban dari Meca.


""Kamu sudah besar Jaauza, sudah tidak pantas untuk tidur di pangkuan Mama."" Ucap Meca.


Hatinya berkecamuk di dalam, anak yang dulu selalu di gendongnya sebentar lagi akan di bawa pergi oleh calon suaminya. ia sebenarnya sudah tidak marah lagi perihal isu kehamilan Bintang, Meca hanya belum siap anaknya di pinang oleh orang, apalagi Aksa. ada sedikit yang mengganjal tentang pernikahan anaknya, dan lebih mencurigakannya kepada keluarga Aksa yang tidak pernah menampakkan sosoknya. Namun apa boleh buat, Meca harus merestui pernikahan itu sebab anaknya sedang berbadan dua, Pikirnya.


""Biarin Jaauza di posisi ini, hati Jaauza lagi tidak tenang."" Bintang langsung memejamkan matanya, tidak perduli dengan mamanya yang mungkin masih kesal kepadanya.


Meca spontan mengusap lembut rambut anaknya, matanya tanpa sengaja sudah berembun.


""Kenapa tidak tenang ? bukannya kamu senang akan menikah."" Kelit Meca. padahal hatinya pun seakan tidak rela.


""Entahlah... Mungkin Mama tidak suka dengan pernikahan ini."" Tebaknya.


""Tidak sayang, Mama hanya sedih jika anak Mama yang galak ini akan di bawa pulang oleh calon suami mu."" Suara Meca terdengar bergetar manahan tangis.Membuat Bintang membuka matanya dan mendongak naik menatap wajah Meca.


""Mama tidak menangis sedih, mungkin ini tangis terharu ternyata anak mama sudah besar dan akan mempunyai anak sendiri.""


""Aksa sialan."" rutuk Bintang dalam hati, mendengar ucapan Mamanya, ia jadi ingat kalau dirinya ada janji dengan Aksa untuk membeli cincin pernikahan.


""Mama jangan sedih lagi dong.., kalau mama masih sedih Jaauza pun akan sedih."" Rayunya.


""Tidak lagi."" Bohong Meca dengan senyum di paksakan. Bintang pun tersenyum untuk memberi ketenangan sang Mama.


Bintang menarik tubuhnya untuk duduk memeluk spontan tubuh Mamanya.


""Aku menyayangi mu, Ma....Sangat.!"" Tulus hati Bintang.


""Aku pun, sangat sangat menyayangi mu dan Gilang, apa pun mama akan lakuin demi kebahagiaan kalian, bahkan mama rela mengorbankan nyawa ku untuk mu dan Gilang."" Sungguh sungguh Meca.


""its... jangan ngaur kalau bicara ma, nyawa mama ada berapa ? Mama sudah pernah sekali hampir merenggang nyawa jangan sampai ada yang ke dua kalinya."" Bintang spontan berucap, membuat Meca menyerinyit dan segera melepaskan pelukannya.


""Dari mana kamu tahu, hah?"" Selidik Meca yang tidak pernah mengungkit itu lagi.

__ADS_1


Bintang menggigit bibir bawa merasa gugup, kata Fina jangan pernah ungkit masalah itu lagi dan ia akan menurut.


""Ma, Jaauza ada janji dengan Aksa, aku pamit."" Kelit Bintang segera beranjak.


""Bin."" Panggil Meca meminta penjelasan. Gadis itu hanya mengedipkan bahu, tidak mau bercerita.


""Aku bawa gilang sekalian jalan jalan."" Timpalnya.


""hemm, dasar.! paling mulut licin Fina yang bocor."" cibik Meca.


******


Bintang dan Gilang sekarang terlihat di depan pintu rumah lama Aksa yang dulu sering di kunjunginya tanpa memberi kabar dahulu, Gadis itu berkelit dari Meca sehingga kabur ke rumah Aksa, padahal mereka sudah sepakat untuk bertemu saja di tempat toko cincin tapi Gadis itu berubah haluan membawa Gilang, pula.


Bintang dan Gilang sudah masuk setelah di persilahkan oleh pelayan yang bertubuh kekar, rupanya bukan pelayan biasa yang di pekerjakan oleh Fathur melainkan bodyguard.


Adik kaka itu semakin dalam menulusuri rumah mewah Aksa.


""Satu hari lagi pa, rencana puncak akan segera terlaksana."" Ucap Aksa yang sedang mengobrol dengan Fatur.


""Hahaha, benar ! kamu memang anak papa yang terbaik.""


Bintang spontan menghentikan langkahnya dan menyuruh Gilang untuk diam dengan syarat telunjuk tangan. Mereka menempelkan tubuhnya di pembatas dinding ruangan. Gilang hanya menurut bingung.


""Ada suara Om Damian ? bukannya dia lagi....."" Gumam Bintang terpotong.


""Al Miller tunggu pembalasanku, terutama kamu Ahli hukum."" Suara Fatur begitu menggelegar bangga. Sementara Aksa hanya terlihat tenang dengan raut wajah datarnya.


""Al Miller ? Ahli hukum.? pembalasan ? apa Om Damian adalah..... "" Bintang sangat terkesiap mendengar obrolan nyalang Fatur bersama Aksa.


""Kak ?"" lirih Gilang.


Diam Diam anak nakal pintar remaja Gilang pun mengerti keadaan mendengar marga keluarga nya di sebut sebut.


Bersambung....


Vote dan Bunga bunga dong.....biar author semangat Up...

__ADS_1


__ADS_2