BINTANG (Journey Of Love)

BINTANG (Journey Of Love)
BINTANG 55


__ADS_3

Lamunan Aksa membuyar saat ketukan pintu berirama menggema masuk ke indaranya.


""Masuk."" Kesalnya tidak ingin di ganggu kalau bukan hal yang penting maka yang mengetuk akan terkena sanksi


Sosok Asisten pribadinya masuk dengan gaya sopan yang tak lain mata mata dari Fatur. Orang tua licik itu sengaja menaruh orangnya agar bisa tahu gerak gerik aksa jika sedang berbelok keluar dari alur monopolinya.


""Beri kabar yang menarik, kalau bukan hal penting jangan sampai kan dan jangan pernah ganggu aku."" Aksa berbicara tanpa memutar kursinya dan tanpa melihat siapa yang di bawah oleh sang asisten. ia masih membelakangi meja kebesarannya menatap jauh keluar dinding kaca besar.


""Maaf tuan muda, saya mem...."" Asisten yang bernama Alex menjeda laporannya saat Bintang memberi isyarat telunjuk di bibir mungilnya.


""Aku juga tidak sudih mengganggu mu apa lagi ingin melihat wajah dingin mu."" Bintang berbicara layaknya orang yang sedang kesal tanpa memperdulikan Aksa adalah pemimpinnya.


""Bintang.""


Aksa langsung memutar kursinya ke depan dengan senyum tipis terlukis, Sangat tipis hingga Alex dan Bintang tidak melihatnya.


""Alex pergilah, dan cepat selesaikan tugas yang aku berikan."" Titah Aksa mengingatkan tentang penyelidikan masalah hidup mamanya dua puluh tiga tahun yang lalu.


Setelah pengakuan papanya di waktu itu, Aksa diam diam menyuruh asistennya menyelidiki kasus Bundanya, Namun nihil, sampai sekarang tidak ada titik keterangan, Aksa hanya mendapat sugesti itu itu saja dari papanya. Namun tanpa sepengetahuan nya, ia di bodohi lagi dengan papanya yang licik itu, Fatur menaruh Alex ke sisi aksa, agar laporan rekayasa dan kebohongan yang di dapatkan oleh Aksa.


""Saya pamit tuan muda."" bungkuk Alex sebelum pergi, Alex sudah tidak sabar melaporkan ke Fatur kalau berlian yang di maksud sudah ketemu dan masuk ke sangkar sendiri tanpa bersusah payah.


Kini hanya ada Bintang dan Aksa di ruangan luas itu, Bintang berdiri dengan tangan terlipat di perut seraya memicing sebal, sedangkan Aksa masih duduk merasa canggung harus memulai pembicaraan apa.


""Pfhuuuuu.."" Bintang membuang nafas kasarnya hingga terdengar di telinga Aksa.


""Tugas ku sebagai sekretaris apa, apa hanya berdiri dan melihat wajah datar mu saja.!"" Ketus Bintang.


""Jaga nada mu Bin... maksudku Nona Jaauza, ini adalah kantor."" Datar Aksa.


Aksa membuang rasa canggungnya dengan keformalitasnya, padahal rasanya, ingin sekali ia mengunci tubuh Bintang, lalu membungkam mulut mungil itu agar suara pedasnya tidak berbicara ketus lagi kepadanya, ia merindukan Bintang yang dulu, menerima dan mencintainya lagi.


Aksa sadar kalau Bintang pasti membencinya karena sudah melanggar yubikiri nya. Tapi apa boleh buat, ia juga tidak mau mengingkari tapi takdir lah yang berkehendak.


""Kalau tidak suka maka pecat saja, susah amat.!"" Tantang Bintang. ia akan membuat hidup Aksa tidak tenang kalau Aksa masih saja memperkerjakannya sebagai sekretaris, terserah apa pun caranya, Bintang bodoh amat kalau Aksa adalah pemilik perusahaan ini.


""Aku tidak akan memecat mu."" Aksa berdiri dan melangkah ke arah Bintang yang masih berdiri.


""Aku akan mengajukan surat pengunduran diri."" Tantang Bintang lagi.


Aksa menyeringai, ia sadar kalau Bintang bukan gadis yang gampang di taklukan jika sudah membenci seseorang, cara apa pun Aksa akan lakukan untuk membuat Bintang tetap berada di sampingnya.


""Terserah, ajukan saja jika kamu tega melihat semuaaaa... karyawan di sini akan menjadi pengangguran, mereka semua akan ku pecat termasuk Wiwid."" Ancam Aksa menjeda.

__ADS_1


""....Dan, yang harus bertanggung jawab adalah kamu, kamu penyebab mereka di pecat tanpa ada pesangon seperak pun."" Aksa sudah berdiri tepat di hadapan Bintang.


""Kamu. ."" Tunjuk kasar Bintang tepat di depan wajah Aksa. ia tidak mau melibatkan atau menyusahkan orang hanya karena masalah pribadinya.


Buuuur..


Aksa menarik kuat tangan Bintang, hingga tubuh itu masuk ke dalam dekapannya. sangat erat, tangan kekar itu menahan tubuh Bintang yang meronta ingin terlepas.


""Aku merindukan mu, Culun. Sangat"" Kata Aksa lalu mencium pucuk kepala Bintang.


Bintang langsung mematung dari rontanya saat mendengar pengakuan Aksa, Memecamkan matanya di dada bidang itu, Sekilas penghianatan Aksa terngiang dan menyadarkannya, kalau dirinya sekarang lagi di peluk oleh orang yang tega mematahkan hatinya.


""Aaaaarg... minggir.""


Plaaakk....


Bintang berhasil terlepas dari pelukan Aksa, mendorong sedikit menjauh dan langsung menampar orang yang sudah berani memeluk tanpa seizinnya.


""Jaga...sikap mu Tuan CEO yang terhormat, ini adalah kantor, dan kamu..."" Bintang menjeda tuturannya, menunjuk kasar wajah Aksa lagi.


"".... tidak ada hak untuk memeluk dan menyentuh kulit ku walau seujung kuku sekalipun."" Marah Bintang.


Aksa mengelus pipinya yang terasa panas terkena tangan halus tapi bertenaga itu.


Bintang mendengus geram, ia menarik tasnya yang tergantung di pundak lalu membidiknya ke punggung Aksa yang berjalan ke arah singgasananya.


Bugh...


Tas branded import berhasil mendarat di punggung lebar serta kokoh itu.


""Kena."" songong Bintang.


""Bin.."" protes Aksa setelah berbalik dan memungut tas tersebut.


""Aku reflek.."" Balas santai Bintang memperlihatkan sungging tajamnya secara terang-terangan, Gadis itu sengaja membuat Aksa kesal, biar Aksa memecat dirinya begitu saja tanpa ada ancaman pemecatan untuk orang lain.


""Kembali lah bekerja."" Aksa mengalah namun tas cantik berwarna hitam itu di masukkan ke dalam laci mejanya.


""Hey...hey...hey ..apa apaan kamu,hah ? apa kamu berniat memakai tas wanita, jika itu maumu sini aku dandanin dulu."" ledek Bintang kembali menguji kesabaran Aksa.


""Pergilah Bintang dan bawakan aku kopi yang enak."" Aksa masih sabar, ia sadar kalau Bintang sengaja berbuat kurang ajar kepadanya.


""Kopi.?"" Ulang Bintang sempat menolak sebelum otak kosletnya kembali tersambung.

__ADS_1


""Ya...kopi ! "" tekan Aksa kembali ""Tidak manis dan tidak kepahitan juga."" lanjutnya.


""Baiklah..! Tidak manis dan tidak pahit, kan?"" Seringai Bintang menurut manis penuh maksud.


Aksa mengangguk tidak curiga dengan ke manisan Bintang, lalu memulai dengan kerjaan yang sudah menunggu di atas meja.


Bintang keluar ruangan dengan penuh maksud, berjalan ke arah pantri khusus ke butuhan CEO seorang, di lantai paling atas, yakni lantai 29.


"" Cangkir cantik, kopi hitam, No Gula, pakai Cuka, kopi ala Jaauza Al Miller."" Bintang membanggakan kopi buatannya seraya mengaduk pelan tanpa ada korban kecerobohannya bagi isi pantri tersebut.


""Tidak manis, nurut. Tidak pahit juga nurut, Tapi... rasanya Aseeeem..cuka, hihihi...Jamu buat orang nyebelin"" Jail Bintang menambahkan dua cair sendok makan kedalam kopi khusus untuk Aksa.


Kopi istimewa siap di tangan, Bintang kini sudah masuk nyelonong ke ruangan Aksa tanpa ada rasa sopan sedikitpun.


""Ni..! minumlah secepatnya..nanti ke buru dingin."" Suruh Bintang menyodorkan cangkir kopi ke Aksa.


""Terimakasih, menurut lah, Aku suka.!"" Senyum senang Aksa terlukis yang lama tidak di rasakannya.


""Minum dulu pak Bos, baru mengucapkan sesuatu, Dan pecat lah aku sesukamu."" Batin Bintang yang ingin bebas dari Aksa saat ini.


""Uhuuuk.."" Aksa terbatuk menyemburkan kopi tersebut ke atas meja dan berhasil mengotori dokumen penting perusahaan.


""Bintang..."" kesal Aksa menatap tajam.


""Apa.."" Tantang Bintang tak kalah tajam menatap Aksa.


""Aaaah... sudah lah, sana keruangan mu."" Kesal Aksa tertahan. ia berpikir kalau Bintang sengaja mengaduk aduk emosinya agar di pecat begitu saja.


""Itu saja ? Apa aku di pecat ?"" Harap Bintang bertanya ketus.


Aksa menggeleng. ""Tidak, pergilah Bintang, sana bekerja dan jangan makan gaji buta."" Jengah Aksa.


"" tch,.katanya, orangnya tegas, tidak mau di lawan, tidak suka kalau ada pegawainya bertingkah tidak sopan."" Bintang semakin menantang Aksa dengan mempertanyakan sikap teguh Aksa sebagai pemimpin.


""Hei..aku di sini, pegawai yang seperti itu...pecat... pecat...pecat lah aku."" songong Bintang.


Merasa tidak ada respon dari Aksa, Bintang berucap mendayu seakan bernyanyi minta di pecat seraya berjalan keluar ruangan.


""Astaga.. Bintang? apa aku sanggup mempertahankan sikap sabar ku, jika kamu bertindak semau mu., Semoga hari ini saja, besok besok jangan sampai berbuat yang aneh aneh.""


Aksa menatap nanar penuh frustasi ke dokumen penting yang sudah rusak dan kotor di atas meja.


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2