
Malam pun datang, kini Bintang sudah siap dengan baju casual modisnya ala anak remaja terkini namun terkesan tertutup sopan dan aman untuk di bawa baku hantam, mengingat dirinya seakan mempunyai musuh maka tiap bepergian ia selalu menggunakan baju yang bisa untuk di ajak kompromi jika sedang bertarung.
Bintang terlihat sedang memasuki taksi di depan rumahnya yang akan mengantarkan dirinya untuk ke taman kota yang sebelumnya di sepakati bersama Aksa. rencananya mereka akan merayakan kelulusannya hanya berdua saja.
Dirgan melihat itu dari balkonnya, ia jadi penasaran, sahabatnya akan pergi kemana, dengan penampilan yang sangat ekslusif, cantik.
Tak ingin bertanya tanya sendiri, ia masuk ke dalam kamarnya lalu mengambil layar pipihnya untuk bertanya langsung ke Bintang.
Tut..Tut..Tut..
Dirgan mendumel sendiri sebab sahabatnya mengabaikan panggilan darinya, Biasanya Bintang tidak seperti itu, kenapa jadi begini. Apa kah Bintang sengaja sudah melupakannya atau handphone gadis itu dalam mode silent. Apakah ia harus menyusul saja, tapi ia tidak enak kalau di bilang pengganggu.
Sedangkan Gadis yang telah di hubunginya sudah berada di taman dan terlihat duduk sendiri di bangku panjang dengan keadaan taman terlihat sepi. tidak biasanya taman itu terlihat seram mencengkeram, awan malam pun terlihat mendung gelap menambah kegelisahan Bintang yang tidak jelas ada apa..
""Aksa kok belum datang, tumben lama?"" monolognya tidak sabaran.
****
Sementara di rumah Aksa beberapa menit yang lalu ketika Aksa ingin keluar dari rumahnya, pria itu di jegat keluar, dari suara papanya sendiri.
Aksa menghentikan langkahnya yang hampir melangkah keluar pintu utama, menoleh ke asal suara, lebih tepatnya dari arah ruang tamu, bersama seorang paruh baya serta seorang gadis yang Aksa sudah kenal, Gissel.
Aksa mengkirut aneh serta bingung, kenapa sosok gadis itu bisa kenal papanya, dan ada apa sehingga mereka berkumpul di rumah mewah yang selalu sepi kaya kuburan itu, apa ada masalah ? seketika dirinya merasa ada yang ganjal.
""pa..Aku ingin berbicara penting.!"" ucap Aksa tidak mengindahkan tamu orang tuanya. pikirannya hanya ingin cepat cepat membicarakan niat hatinya yang ingin kuliah di dalam negeri saja.
""Ya..tapi papa ingin mengenal kan dulu mereka kepada mu, itu Om Antonio dan di sebelahnya Gissel, papa yakin kamu pasti sudah kenal Gissel kan? Gadis cantik ini akan pergi bersama mu kuliah di luar negeri, Om Anton sudah mempercayakan anaknya kepada mu untuk menjaganya di negeri orang."" Ucap Papanya Aksa panjang lebar, yang tak lain adalah Gunfatur Gilman, tapi sebagaian orang mengenalnya dengan nama Damian Lionel.
__ADS_1
""Hah..?"" Aksa tertohok kecewa mendengar penuturan papanya yang berbeda dengan kemauannya. ""Tidak.."" Tolak Aksa tegas dengan suara terdengar membentak.
""Tidak ada bantahan apa pun dan malam ini juga kalian akan terbang ke Berlin, papa sudah menyiapkan semuanya ""
Fatur yang mendengar bantahan Aksa menahan gejolak marahnya, jika saja tidak ada tamunya, mungkin ia sudah memukul anaknya itu, sayang sekali ia membutuhkan Gissel sebagai pion pembalasan dendamnya jadi ia harus pura pura bersikap baik. Entah apa yang di rencanakan Fatur sampai Aksa dan Gissel akan dijadikannya sebagai pion pembalasan dendam kepada keluarga Meca.
""Aku tidak mau pergi, aku ingin kuliah di sini, Aku janji, akan lulus nanti dengan nilai terbaik."" Ucap Aksa seraya kedua tangannya menyatu di depan dada, memohon.
Entah apa yang terjadi jika ia harus pergi tanpa ada kata pamit ke Bintang, Bintang akan marah, Pikir takut Aksa.
""Aku bilang tidak ada bantahan."" Sentak Fatur seraya menatap tajam dan melangkah mendekat ke arah Aksa. ""Nurut atau tidak sama sekali, ingat kronologis hidupmu."" bisik Fatur dengan seringai licik di bibirnya.
""Ayo cepat bereskan apa yang ingin kamu bawa, beberapa menit lagi orang papa akan mengantarkan kamu dan Gissel ke bandara."" Final Fatur.
""Pa.. tolong jangan malam ini, aku ada janji sama seseorang sekarang, aku janji besok aku akan berangkat dan seterusnya menuruti semua keinginan papa setelah ini."" mohon Aksa, otak pusingnya hanya menghawatirkan Bintang saat ini, ia yakin Bintang sedang menunggunya sekarang. dan ia perlu berbicara serius kepada kekasihnya itu.
Gissel yang melihat drama percekcokan anak dan orang tua itu secara langsung di hadapannya, tersenyum penuh kemenangan. pikirnya, Aksa dan dirinya akan mulai dekat tanpa ada pengganggu, Bintang.
Aksa bingung akan menurut atau tidak, posisinya sekarang benar benar terdesak, di sisi lain ia ingin mengetahui kronologis hidupnya dan di sisi lain ada Bintang yang memberatkan hatinya untuk pergi. Harus bagaimana sekarang ? pergi atau tinggal? Yaa..Aksa akan tinggal, masa lalu biar lah masa lalu, yang terpenting masa depannya bersama Bintang.
""Maaf..pa ! aku tidak mau pergi."" Tolak Aksa
Setelah berucap, ia melangkah menuju pintu keluar dengan jalan gontai terburu buru. Fatur yang tidak suka di bantah mengepal kuat kan tangannya.
""Sial...ini pasti karena anaknya si dokter dan ahli hukum itu."" Batinnya Geram.
Fatur pun sesegera mengejar anaknya keluar, setelah berucap maaf kepada Antonio dan Gissel atas percekcokan kecil yang mereka saksikan.
__ADS_1
""tutup gerbangnya."" Teriak Fatur pada body guardnya.
""Jangan..."" Sentak Aksa yang sudah di atas Moge birunya.
Bodyguard tersebut menjadi bingung harus mendengarkan Bos gedenya atau tuan mudanya.
""Tutup.."" Marah Fatur.
Bodyguard itu spontan menutup gerbang besi yang menjulang tinggi melihat bosnya sudah melotot berkacak pinggang kepadanya.
""Aaarg..."" ringis Aksa. saat dapat pukulan keras di bagian tengkuknya yang masih di atas motor, Seketika pandangannya menjadi buram, gelap. sedetik kemudian Aksa tidak sadarkan diri karena ulah papanya sendiri.
""Aku tidak suka di bantah, anak nakal.."" seringai Fatur yang sigap menahan tubuh Aksa agar tidak terjatuh di atas motor.
""Kalian kenapa diam saja."" Fatur marah kepada anak buahnya yang empat orang berbadan atletis semua.
""Ayo masukkan dia ke dalam mobil dan antar langsung ke dalam pesawat."" perintahnya.
""Baik..tuan.""
Serampak mereka bersama, lalu mengambil alih tubuh Aksa dari tuannya.
Sepergian Fatur masuk kerumahnya, Gissel yang diam-diam menguping dan menonton itu, segera berpamitan untuk menyusul Aksa masuk ke dalam mobil.
""Handphone.. Handphone."" Gissel menggeledah saku Aksa satu persatu yang lagi tidak sadarkan diri.
""Nah.. dapat."" Senangnya.
__ADS_1
Kesenangannya bertambah saat layar handphone Aksa tidak sama sekali memakai kode apa pun.
Gadis itu menyeringai melihat betapa banyak panggilan dan pesan dari kontak Culunku yang masuk tanpa di ketahui oleh Aksa sama sekali, ia yakin kontak itu punya Bintang setelah membaca beberapa pesan tersebut, dengan liciknya, Gissel langsung memblokir semua akses nama Bintang dari kontak itu. Supaya Aksa dan Bintang tidak bisa saling berkomunikasi lagi.