BINTANG (Journey Of Love)

BINTANG (Journey Of Love)
BINTANG 93


__ADS_3

Aksa sudah berdiri tepat di samping mobil putih mewah yang sudah tidak terbentuk body depan, dengan wanita cantik yang sedang berdiri di hadapannya sedang menatapnya dengan tatapan tajam.


Bagh...bugh...bagh..bugh...


Tanpa ba bi bu, Gadis itu langsung menyerang Aksa dengan cara membabi buta.


Aksa menepis serangan Bintang tanpa ingin membalasnya dan Aksa juga menyuruh orang orangnya untuk tidak ikut campur, ia tidak mau ada yang menyentuh tubuh Bintang selain dirinya.


Sementara Bodyguard serta Fatur masih berdiri menurut perintah Aksa. mereka hanya mengelilingi Aksa dan Bintang yang sedang bertarung. Bintang sekarang dalam bahaya, seorang wanita tidak akan mampu melawan sepuluh orang sekaligus tanpa adanya bantuan.


""Menyerah lah, Bin."" bisik Aksa yang sekarang memiting tangan satu Bintang kebelakang.


""Tidak akan."" Geram Bintang menggunakan tangan bebasnya, menyikut kuat ke arah perut Aksa di timpal kakinya bermain menginjak kaki Aksa penuh dengan tenaga.


Terlepas, Bintang kembali bebas dari pitingan tangan kekar Aksa, pria itu menyeringai licik. memberi isyarat mata ke Papanya di sela adu jotosnya.


Fatur melirik mobil Bintang dengan tatapan menyipit, seketika Fatur mengerti dengan syarat mata anaknya.


""Oh.., ternyata Al Miller kecil ada di dalam mobil, ini sih kesempatan emas bagiku, dua mangsa yang akan membuat Meca menangis darah di hadapan ku"" Seringai Fatur berjalan menghampiri mobil Bintang.


Dor.


Fatur melepaskan peluru ke udara, Bintang terhentak dari Aksinya, semua mata tertuju ke arah Fatur dan Alex yang sedang berdiri di depan mobil Bintang. Sementara Gilang yang berada di dalam mobil sudah bergetar hebat dengan air mata terus menetes.


""Jangan......"" Teriak Bintang begitu menggelegar tertuju ke Fatur yang sedang menodongkan pistol pas ke arah Gilang yang berada di dalam mobil.


""Diam di tempat."" Sinis Fatur menghentikan langkah Bintang yang akan menghampirinya.


Bintang terdiam mematung. ia tidak akan berkutik jika sasaran bahaya tertuju ke adik tersayangnya.


""kepala adik mu akan berlubang jika masih melawan."" Ucap Aksa yang sudah berdiri di belakang Bintang, siap untuk menangkap Bintang.


""Sialan, kamu jahat Aksa."" Geram Bintang.


""Hemm...aku jahat karena orang tua mu.""


Bugh....


Bintang siap berceloteh namun terhenti, Aksa melumpuhkan Gadis itu dengan cara memukul tengkuk Bintang sampai gadis itu tak sadarkan diri.

__ADS_1


""Kaka..."" pekik Gilang dari dalam mobil.


Anak kecil itupun keluar dari persembunyiannya, berniat menolong Kakanya.


""Eits...mau kemana anak tampan."" Cegat Fatur di pergelangan tangan Gilang.


""Kaka...hiks..hiks.."" Tangis Gilang pecah di sela sela jalannya yang di geret paksa oleh Alex untuk mau masuk kedalam mobil. Sementara Aksa sudah berjalan ke mobil lainnya dengan Bintang yang berada di gendongannya layaknya karung beras yang di pikul oleh kuli beras.


*****


Di kediaman keluarga Bintang.


Semua keluarga masih terlihat senang dan bahagia atas persiapan pernikahan Bintang, Gion, Rere, Reina, Biru dan Nata pun sudah terlihat di antara mereka yang baru datang dari kesibukan masing-masing, kecuali Dirgan dan Meca yang tidak terlihat.


Meca masih setia mengurung diri di kamar, namun kali ini, Meca melamun di dalam kamar Bintang, hati orang tua itu seakan tidak tenang, jantungnya pun berdetak sakit tanpa adanya sebab tertentu.


Vero masuk ke kamar berniat menyuruh istrinya untuk berkumpul bersama.


""Hey...apa yang kamu lakukan, sayang ? Kenapa malah melamun di sini ?"" peluk Vero di pinggang Meca dari belakang. ""Ayo kita keluar dan berkumpul bersama.!"" Ajaknya.


Meca melonggarkan tangan Vero dari pinggangnya, memutar tubuhnya ke arah Vero.


Vero menggeleng.


Meca membuang nafas kasarnya dengan cepat. ""Coba hubungi mereka, dari tadi Mama hubungi Bintang tapi tidak tersambung, menghubungi Gilang dan Aksa pun sama saja tidak ada yang menyahut."" Jelas Meca gusar.


""Kenapa ? ada apa ? apa ada masalah ? kamu terlihat pucat, apa kamu sakit.?"" Cerewet Vero seraya menaruh punggung tangannya ke dahi Meca yang suhu tubuhnya normal normal saja.


Meca menangkap tangan suaminya, mengecup singkat punggung tangan itu dan berhambur masuk kedalam dekapan suaminya.


""Entahlah... perasaan ku tidak tenang sedari tadi."" adunya.


Vero tersenyum simpul, ia hanya mengira istrinya tidak tenang sebab tidak rela anak Gadisnya akan di bawa oleh calon suaminya nanti.


""Ayo lah, sayang... berbahagia lah, ini tuh hari langkah dan satu kali seumur hidup kita untuk melihat anak kita bersanding di atas altar bersama pasangannya. jadi tersenyum lah."" Vero mengelus punggung Meca yang masih dalam pelukannya berniat menyalurkan ketenangan untuk sang istri.


Meca melepaskan pelukannya, menangadakan kepalanya menatap dalam mata suaminya.


""Apa kamu bahagia?.""

__ADS_1


Vero menyerinyit menatap Meca atas pertanyaan konyol isterinya.


""maksud ku, apa kamu tidak ragu kepada Aksa ?"" Lanjutnya.


""Maksud mu ?"" Bingung Vero.


""Entahlah...tapi aku curiga dengan anak itu, maksud ku, kenapa Keluarganya tidak menyempatkan hadir untuk pernikahan anaknya sendiri ? coba pikir saja dengan logika ? keluarganya sangat misterius bagiku."" Jelas Meca.


Vero nampak berpikir, yang di katakan Meca benar juga. Aksa sangat misterius kehidupan keluarganya.


""Jadi, kita harus bagaimana ? apa kamu mau aku membatalkan pernikahan ini, dan membuat Bintang malu sebab bayi dalam kandungannya.""


Meca ingin menyahuti dengan kata 'iya' untuk membatalkan saja, Namun seketika mendengar kata kandungan, ucapannya tertelan kembali. ia hanya menggeleng tidak tahu harus berbuat apa.


""Ya sudah, ayo kita turun, Mama akan mencoba untuk membuang pikiran negatif ku ke Aksa."" Pasrah Meca.


""Baiklah... mungkin itu lebih baik."" sahut Vero lalu menggandeng mesra istri tercintanya keluar dari kamar Bintang.


""Bayi dalam kandungan ?"" Kaget Dirgan membekap mulutnya di luar balkon.


Pria itu tidak sengaja mendengar percakapan orang tua Bintang, Dirgan hanya Berniat untuk memberi kejutan ke Bintang atas kehadirannya yang baru sampai dari kota lain. justru malah dirinya yang sangat terkejut hebat.


Dirgan kembali melompat ke balkon tengah milik Biru. Shap, melompat lagi ke balkon kiri miliknya dengan cepat berlari masuk kedalam kamarnya.


""Aaarg.... Kenapa hati ini sangat sakit mendengar Bintang mengandung anak orang lain., aku benci dengan hati ini, benci...benci...benci.."" Dirgan memukul mukul dadanya sendiri yang terasa sesak.


""Baru tadi siang aku memantapkan untuk merelakan mu menikah dengan orang lain, dan mencoba ikhlas, tapi mendengar jika dirimu...... aaargh...aku seakan tidak rela lagi, aku mencintaimu, sangat sangat mencintaimu, Jaauza."" prustasi Dirgan seraya mengusap foto Bintang yang berada di atas nakas.


Dirgan meneteskan air matanya tanpa ada suara Isak yang keluar dari mulutnya dan tangis seperti itulah yang sangat sakit. Sungguh, hati kecilnya sangat tidak rela sehari lagi akan melihat kekasih dalam diamnya akan bersanding di atas Altar. rasanya, dunianya berhenti seketika jika memikirkan hari esok, salahkah dirinya jika ia tidak merelakan sahabatnya berbahagia tanpa dirinya, Bintang dari kecil selalu memberikan warna untuknya, sedari kecil ia sudah bersama sama, bermain akur, berantem, sampai di bilang makan satu piring satu sendok bersama.


Di luar pintu kamar Dirgan yang terbuka sedikit, Fina ikutan meneteskan air matanya mendengar pengakuan anaknya.


""Anak Bodoh, pengecut... kenapa kamu dari dulu diam saja, dan kenapa baru hari ini pengakuan manis itu terucap, kenapa tidak mengatakan langsung ke Bintang, jika seperti ini kamu sudah kalah sebelum bertarung, kamu sudah terlambat Dirgan. Aku tidak menyangka punya anak pengecut seperti dirimu, bisa bisanya hanya bisa diam selama ini, dan para cewek bohay itu....apa hanya topeng, dasar anak bodoh.""


Tak ingin masuk, Fina hanya merutuki sifat pengecut anaknya dari dalam hatinya, orang tua itu pun pergi lagi tanpa Ingin mengganggu Dirgan yang sedang menetaskan kepiluannya.


Bersambung......


Vote.... Vote....Bunga bunga...

__ADS_1


__ADS_2