BINTANG (Journey Of Love)

BINTANG (Journey Of Love)
BINTANG 57


__ADS_3

Dirgan masih memeluk Bintang dengan tangan mengusap lembut rambut Bintang naik turun, membuat Gadis itu tenang dan mengantuk karena mendapat elusan lembut di kepalanya, Gadis itu pun tertidur pulas tanpa sepengetahuan Dirgan, Entah nyaman dengan perlakuan lembut Dirgan atau mungkin hanya memang kecapean bekerja bersama Aksa.


""Bin.? Sudah berapa banyak mantan pacar mu di kota ini ?"" Tanya Dirgan di sela pelukan hangat itu.


Bintang tidak menjawab, bahkan Gadis itu sudah mendengkur kecil.


""Bin.."" Dirgan menyerinyit saat bertanya tidak ada respon.


Dirgan semakin menyerinyit saat mendengar dengkuran kecil Bintang di Timpal tangan lembut Bintang yang tadinya mengelus punggungnya kini terkulai lemas kebawah.


""Dasar gadis nakal, sudah seperti kucing yang tidur di sembarangan tempat, aku kira kamu begitu nyaman dan betah di peluk, sampai tidak mau melepaskan diri ku. Ternyata tertidur.""


Dirgan tersenyum manis, walaupun ia tahu kalau Bintang tidak ada rasa untuknya tapi ia tetap senang mendapat perlakuan welcome dari Bintang.


Dirgan dengan telaten menggendong ala bridal style, memindahkan tubuh Bintang ke dalam kamar yang di prediksinya, kamar luas rapi bernuansa putih itu, pasti kamarnya Bintang karena sahabatnya suka dengan nuansa serba putih.


Pelan dan hati hati, Dirgan menaruh tubuh Bintang ke atas kasur berseprai putih embos, setelah menyelimuti kaki putih jenjang yang terekspos itu, kini dirinya duduk di sebelah kepala Bintang, menyenderkan satu bahunya di punggung tempat tidur Queen tersebut seraya menatap lekat wajah Bintang yang sedang tertidur pulas.


""Bin, aku mencintai mu, Entah kenapa namamu di hati ku tidak bisa pudar, Tempat dekat maupun kita terpisah jauh dalam beberapa tahun ini, hati ku tetap sama, hanya ada kamu yang tertulis di sana."" Lirih Dirgan mengadu tepat di depan tubuh Bintang yang terpulas.


Dirgan hanya bisa mengadu di belakang Bintang , tak berniat untuk menyampaikan secara langsung tentang perasaannya yang sudah tumbuh sejak masa masa remaja hingga dewasa pun hanya bisa tertahan, Nyalinya menciut, takut dan takut, itu yang ia rasakan, pengecut memang, namun apa boleh buat, Dirgan tidak bisa menerima penolakan plus menerima putus ikatan persahabatan sekaligus, itu yang ia takutkan kalau Bintang menolaknya.


""Aku akan belajar melupakan mu, kalau dirimu sudah menikah dan hidup bahagia bersama pangeran mu di kala waktu mendatang."" Janjinya seraya meyubikiri jari jentik Bintang.


""Tidurlah, aku akan menumpang mandi di kamar mandi mu, ok."" izinnya, berdiri setelah mengecup hangat pucuk kepala Bintang yang masih terpulas.


Selain rindu ingin bertemu dengan pacar khayalannya , Dirgan pun sebenarnya punya tujuan lain menghampiri kota yang di naungi Bintang dan Nata. ia berencana membuka cabang ke tiga showroom motornya di tempat yang sudah di belinya sejak beberapa hari yang lalu.


Kini Dirgan sudah kembali Fresh setelah melakukan ritual membersihkan diri di kamar mandi Bintang. ia pun keluar dari kamar itu, tidak ingin mengganggu Bintang dan tidak mau membuat hasrat lelakinya tersulut jika melihat bibir mungil yang sejak dulu menggodanya.


Jam berputar dengan arah jalurnya menunjukkan pukul tujuh malam, kini Bintang mengerjapkan mata kucingnya untuk menetralkan silau lampu yang masuk ke maniknya.


""Lapar."" Gumamnya. bergegas turun dari kasurnya dan segera membersihkan tubuhnya agar kembali fresh dan rileks kembali.


Baju kaos oblong putih, Celana jeans pendek atas lutut, sudah terpasang di tubuh segarnya dengan rambut hitam lurusnya di ikat gulung acak acak kan namun terkesan menarik walau tanpa satu make up yang menempel membuat nya tetap cantik bahkan sangat alami.


Bintang menyeringai jail, saat mendapati Dirgan yang sedang pulas di atas sofa panjangnya tertidur dengan posisi tengkurap, Tv pun masih menyala seakan mendongeng hanya untuk Dirgan seorang.

__ADS_1


Bintang menyabut beberapa bulu bulu halus dari sofenir yang tergantung cantik di dinding, dengan jailnya, ia mengitik hidung Dirgan menggunakan bulu tersebut.


Dirgan menepis bulu itu tanpa Ingin membuka mata nya. ia memalingkan wajahnya memepet ke sofa agar tidak bisa di ganggu, Dirgan hanya pura pura tidur, sudah tahu kalau Bintang ada di dekatnya hanya mencium khas bunga farfumnya saja kalau orang itu adalah Bintang.


""Tch...Dirgan.!"" jengah Bintang duduk bersila di bawah lantai pas di sebelah kepala Dirgan dengan sikut di atas sofa seraya menopang dagunya menggunakan tangan satu.


""Dirgan lagi tidur, gara gara kebosanan."" Sindir Dirgan yang menunggu Bintang bangun dari tidurnya.


""Maaf..."" Bintang menarik narik lembut rambut Dirgan agar wajah tampan itu tidak menatap punggung sofa lagi lalu berbalik menatapnya.


Dirgan tidak menjawab, ia malah sengaja mendengkur keras bahkan sangat keras membuat Bintang jadi jengkel sendiri yang mendengarnya.


Bintang berdiri lalu langsung duduk kasar di atas punggung Dirgan yang masih tiduran dengan posisi tengkurap.


""Aaargh.. Bintang."" protes Dirgan merasa Berat dengan beban tubuh Bintang yang selalu mengorbankan punggungnya.


""Bangun tidak, aku lapar."" Manjanya.


Bintang sengaja duduk bersila seakan dirinya sedang bertapa di atas batu yang bergerak gerak.


""iya... tapi turun dulu, dan kalau lapar tinggal makan saja."" sahut Dirgan menggoyang goyangkan tubuh punggungnya agar Bintang tidak nyaman dari duduknya.


Bintang tergelak tawa, bukannya takut jatuh, ia malah menyuruh Dirgan semakin menggerakkan punggungnya.


""Bintang, berat, sumpah , badanmu sangat berat, jangan terlalu gendut."" Goda Dirgan.


Bintang semakin jail, ia tidak terima di katain berat ataupun di katain gendut.


""Aku tidak berat, badan gool begini di bilang gendut."" Protesnya.


""iya...kamu Gendut.,Turun tidak ! punggung ku akan patah sebelum menikah, dan aku tidak akan bisa merasakan nikmatnya malam pertama.""


""Masa...! yakin..! belum pernah merasakannya bersama cewek cewek bohay mu."" Bintang meragukan keperjakaan sahabatnya, ia menyamakan Dirgan yang hanya bertopeng bohay dengan Nata yang sungguh sungguh Casanova keturunan kemal si tobat casanova.


""Yakin, Kalau tidak percaya, ayo kita buktikan."" Tantan Dirgan tidak menyaring ucapannya.


Plaaakk...

__ADS_1


""Dasar mesum."" Galaknya.


Bintang menabok kuat Kepala Dirgan yang tertunduk dalam di sofa sebab masih menahan berat badannya.


""Sakit Bintang."" Tanpa sadar Dirgan membalik paksa tubuhnya sehingga Bintang merasa oleng dan terjatuh ke lantai."


""Aww."" ringis Bintang memegangi pantatnya yang jatuh terduduk.


"""Hahahaha..""


Kini giliran Dirgan yang tergelak tawa melihat Bintang terjatuh mengelus elus pantatnya.


Bintang mencibik mengerucut ""Bantuin."" manjanya dengan tangan minta di tarik untuk berdiri.


Dirgan menyambut tangan mulus itu, menarik dan mendudukkan Bintang di sofa dan duduk di sebelahnya.


""Apa masih sakit.?"" perhatian Dirgan.


Bintang menggeleng.


""Aku lapar, ingin makan.!"" rengeknya.


""Jangan seperti orang susah, Gadis nakal. Makan lah..!"" Sahut Dirgan.


""Aku lagi boke, traktir."" Jujur Bintang. Sebab tas yang berisi dompet serta kartu kreditnya di tahan Aksa.


Dirgan menoleh menatap Bintang dengan alis menaut heran, dengan alasan yang tidak masuk akal yang di ucapkan Bintang.


""Boke ?"" Ulang Dirgan penuh tanya.


""Eum...tas, dompet, kunci mobil di tahan oleh atasan yang nyebelin."" Jelas Bintang kesal kalau mengingat Aksa.


""Waaah..Minta di hajar itu orang.?"" Dirgan menggebu gebu kesal tertahan padahal ia belum tahu siapa yang di maksud oleh Bintang.


""Hey..gadis galak, kamu masih Bintang yang galak kan ? apa sudah berubah menjadi orang pengecut yang di tindas terus diam saja."" Dirgan sekarang malah mengoceh ke Bintang sebab tidak biasanya Bintang menjadi lemah.


""hmmm...ngoceh aja terus, aku malas harus berhadapan dengan atasan baru ku, karena orangnya itu AKSA."" Tekan Bintang di akhir ucapannya.

__ADS_1


""Uhuuuk...Uhuuuk.."" Dirgan terbatuk keselak ludahnya mendengar orang itu datang dan masuk lagi di hari hari Bintang...


Bersambung...


__ADS_2