BINTANG (Journey Of Love)

BINTANG (Journey Of Love)
BINTANG 52


__ADS_3

Praaaak....


Lagi lagi Bintang menggeprak meja, saat mendengar denda pinalti yang akan di bayarnya,ia melupakan keformalannya kepada pak wakil direktur tersebut, dan lagi lagi pula pak Wiwid terlonjat seraya mulut latahnya kembali menyebut hidung babi.


""Nona Jaauza, dibalik otak cerdasnya, dia juga mempunyai sisi yang sangat galak, aku saja sebagai atasannya takut melihat mata tajamnya."" batin Wiwid melihat kekesalan di mata Bintang, ia jadi menyesali kebohongannya.


""Tunggu sebentar di sini, aku akan keruangan ku untuk mengambil sesuatu."" Bintang berdiri kasar dari duduknya. ia sama sekali tidak memandang Wiwid sebagai atasannya sampai sikap sopannya sudah di hempaskan jauh hingga nyangkut di gunung Fuji.


""Tch.. Pemerasan, Maju si maju tapi perusahaan in berlaku tidak adil !"" Bintang mendengus seraya memijar kan kakinya menulusuri lantai licin menuju ke ruangannya untuk mengambil cek pembayaran, sebenarnya ia tidak sudi mengeluarkan uang sebanyak itu, Tapi hatinya tidak sudih untuk menjadi sekretaris orang yang di bencinya.


Wiwid mengelus dadanya sabar setelah kepergian Bintang, Wiwid jadi penasaran, apa yang ingin di ambil oleh Bintang di ruangannya. pikirnya hanya satu yang terlintas bagi Wiwid, yaitu, bagaimana pun caranya ia harus menahan Bintang untuk bekerja di perusahaan tersebut, dan ia harus mengabulkan keinginan CEOnya.


Pintu ruangan Wiwid kembali terbuka tanpa ada ketukan sebelumnya, Bintang berjalan masuk dengan tas branded import tergantung anggun di bahunya.


Bintang duduk, mengeluarkan cek dari tasnya.


Wiwid terbengong bengong menatap cek kosong yang di miliki Bintang, ia samakin penasaran dengan sosok Bintang itu siapa ? kenapa karyawan biasa mempunyai lembaran cek khusus yang Bintang pegang saat ini.


Bintang menulis nominal ke cek tersebut di depan mata pak Wiwid tanpa banyak cocot yang keluar dari bibir mungilnya.


Mata Wiwid membulat sempurna saat melihat nominal yang tertulis. ia jadi syok sendiri, dari dua ratus lima puluh juta kini bertambah menjadi tiga ratus juta.


""Nona Jaauza, anda sebenarnya siapa ? aku saja sebagai wakil direktur tidak mempunyai lembaran cek seperti anda.""


Wiwid memberanikan diri bertanya asal usul Bintang padahal dalam hatinya ada rasa takut, menit ini ia berurusan dengan Bintang yang Asumsinya kalau Bintang bukan orang sembarangan, dan setelah ini, ia akan kembali berurusan lagi ke atasannya yang super tegas. pikirnya, Aksa akan memecatnya kalau ia tidak bisa menjadikan Bintang sebagai sekretaris pemimpinnya.


""Aku bukan siapa siapa, aku hanya pekerja kantoran biasa saja."" Bintang menyembunyikan identitas keluarganya yang tak kalah majunya dari perusahaan Aksa sejak dirinya belum jadi benih pun ia sudah kaya.


Mamanya yang ahli hukum kondang , Papanya yang sudah menjadi Profesor penelitian terkenal dengan rumah sakit dan Lab khusus terbangun nyebar di negaranya, di tambah ke dua Om kecenya pun memiliki perusahaan ternama di bidangnya masing-masing. Apalagi KA Grup yang bergerak di berbagai bidang sebagai, Properti, munafaktur, pemilik rumah sakit terbesar di beberapa kota seperti Papanya, di tambah Nata yang sudah bergerak sendiri di bidang Software yang bisa mengunci semua data data penting keluarganya.

__ADS_1


Bintang menjawab seraya menulis surat pengunduran dirinya tanpa menatap lawan bicaranya.


"" kalau boleh tau siapa keluarga besar anda."" Wiwid nambah kepo.


""Apa perlu."" Bintang mengangkat pandangannya dari kertas menatap datar muka Wiwid yang kepo.


""Maaf.. seharusnya saya tidak bertanya seperti itu."" Wiwid tersenyum kikuk. Namun wajah keponya masih ada.


""Semestinya begitu."" Datarnya, Namun di hatinya ia jadi geli melihat wajah kepo atasannya yang sebentar lagi akan menjadi mantan atasannya.


Wiwid mengalihkan perhatiannya dari Bintang saat ada suara telpon yang masuk.


Wiwid mengeluarkan keringat dingin di pelipisnya saat Bos besarnya sudah menuntut di mana sekretaris barunya kenapa belum terlihat di mejanya.


""Astaga aku terjebak di antara manusia rupawan, Namun mematikan untuk ku, Gimana caranya biar Nona Jaauza tidak boleh keluar jika itu terjadi aku pun akan di pecat langsung, Tuhan tolong hamba mu yang lagi terhempit ini."" Wiwid berdoa membatin dengan kefrustasiannya.


Seketika Wiwid mendapat ide cemerlang, jika kali ini gagal maka dirinya pun masuk kedalam jurang kemarahan Aksa.


Bintang mendongak lurus lurus Namun tangannya hampir tanda tangan di kertas permohonannya.


""Ada apa.?""


""Apa anda mempunyai Oma Opa?"" tanya Wiwid yang akan mulai akting kedramalitis kehidupan ngarangnya.


Bintang mengangguk.


""Kenapa memang?""


Wiwid pun mulai bercerita bohong masalah penyakit Omanya dengan mata di buat gerimis sebisa mungkin untuk mengelabuhi kelembutan hati Bintang, agar Bintang merasa iba kepadanya.

__ADS_1


""Jadi Oma pak Wiwid harus cuci darah setiap minggunya."" iba Bintang masuk jebakan Batman. "" dan yang biayain pak Wiwid seorang.""


Wiwid mengangguk seraya menghapus air mata buayanya.


""Iya Nona, jadi saya mohon jangan keluar dari sini, kalau itu terjadi saya pun di pecat oleh atasan karena tidak becus, dan otomatis keuangan saya untuk mengobati Oma ku akan berantakan, Huawaaa..Hiks.. Huwaaaa.."" Wiwid nangis kejer tidak tahu malu dengan umur yang sudah matang.


Wiwid nangis benaran saat dirinya mengingat kenangan Omanya yang sebenarnya sudah meninggal lama.


""Oma..maafkan Cucu laknat mu."" Batinnya meminta ampun. ""ini demi mencari nafkah agar cucu mu yang sudah matang ini segera dapat uang untuk biaya pernikahan jika ada yang mau.""


""Cup.. cup.."" Bintang menenangkan Wiwid layaknya anak kecil yang sedang menangis di rebut robot mainannya.


""Baiklah, saya tidak jadi keluar dan cek ini saya kasih ke pak Wiwid aja buat Omanya berobat dan semoga cepat sembuh, kalau bisa masukin saja kerumah sakit Miller Hospital atau KA Hospital di kota ini, tahu kan rumah sakitnya ? itu rumah sakit keluarga ku, dan aku akan membantu berbicara kepada papa atau Om ku untuk memberi keringanan kepada Oma Anda.""


Bintang menyobek Cek yang tertuju atas nama perusahaan dan menulis cek baru atas nama Wiwid, hatinya sungguh tidak tega jika menyangkut nama keluarga.


""Nona Jaauza, maaf, saya tidak bisa terima maksud baik anda, saya hanya ingin anda untuk tidak keluar dari sini, itu saja sudah membuat saya dan Oma saya tertolong dan menyangkut rumah sakit yang Nona maksud saya pun tidak bisa menerimanya. Maafkan saya""


Wiwid mendorong cek tersebut ke depan Bintang, ia benar benar tersentuh terharu atas kebaikan Bintang, ia merasa sangat bersalah, demi kerjaan ia membohongi Bintang sampai sejauh ini.


""Tapi saya ikh...""


Ucap Bintang terpotong saat Wiwid mengatupkan kedua tangannya di depan dada memohon.


""Hmm..baiklah. sampai kan salamku ke Oma anda dan semoga cepat sembuh, saya pamit.""


Bintang menarik kembali cek dan surat pengunduran dirinya.


""Miller Hospital dan KA Hospital, Astaga...Nona Jaauza adalah anak konglomerat berkepongpo menjadi karyawan biasa,. dan setahuku rumah sakit tersebut mempunyai ahli hukum kondang yang bernama Nyonya Meca dan setahuku pula itu istri pemilik rumah sakit yang dulu pernah memberi keringanan untuk almarhumah Oma ku, dunia sesempit daun kelor, Terima kasih tuhan aku sudah di kelilingi orang baik seperti mereka.""

__ADS_1


Wiwid bergumam terharu seraya menatap punggung Bintang yang sudah di ambang pintu.


__ADS_2