
Mata kucing Bintang yang biasanya terlihat berbinar penuh keceriaan kini tertunduk sendu yang baru terbangun dari pingsannya.
""Hay, Bin."" Senyum manis masih tercampur wajah khawatir, Dirgan sematkan di raut wajah tampannya saat melihat mata kucing itu sudah terbuka.
Bintang langsung menoleh ke asal suara dengan alis bertaut, Bingung.
Di samping bangsalnya ada Dirgan yang terduduk menyenderkan punggung kekarnya ke punggung kursi sedang tersenyum manis kepadanya.
""Dirgan ? kok, kamu disini.??"" Tanyanya Bingung. ia pikir dirinya masih berada di area kantor.
""Justru aku yang harus bertanya ? kenapa kamu bisa sakit dan berakhir di rumah sakit?"" Tanya Dirgan balik.
""Rumah sakit.?"" tanya Bintang memastikan. Dirgan mengangguk dengan alis terangkat satu meminta penjelasan.
""Eum, apanya yang sakit ? ayo beritahu! apa kepala mu sakit?, atau perut mu yang sakit? makanya jangan konsumsi makanan yang tidak sehat."" selidik cerewet Dirgan. ""Aksa, Aksa yang menghubungi ku, dan menyuruh ku kesini."" Lanjutnya seperti beo yang berkicau.
Mendengar nama Aksa, Bintang langsung melengos menatap langit langit yang tadinya menatap Dirgan.
Penghinaan Aksa terngiang kembali, spontan tangannya terulur ke bibirnya.
""Sialan."".Umpatnya dalam hati tertuju ke Aksa
Dirgan menyerinyit, mengikuti arah tangan Bintang yang sedang mengelus bibir mungil berwarna merah muda itu.
""Apa Bibir mu yang sakit.?"" Ceplos Dirgan. Bintang menggeleng.
""Hati ku yang sakit. !"" Ucap Bintang dalam hati.
""Terus kenapa kamu memegang bibir mu?."" selidik Dirgan.
""Aku lagi sariawan, aku pingsan mungkin karena kecapean saja."" kilahnya.
""Yakin.?"" Dirgan masih tidak percaya.
""Aku mau pulang."" Bintang bukannya menjawab Dirgan, Gadis itu langsung menarik tubuhnya untuk duduk. membuat kecurigaan tumbuh di benak Dirgan.
""eits.. tunggu dulu."" Dengan cepat Dirgan menahan kedua bahu Bintang agar kembali berbaring. Tapi Bintang reflek menepis tangannya.
""Jangan sentuh aku."" Geramnya tak sadar kalau yang di bentaknya adalah sahabatnya sendiri.
__ADS_1
""Maaf."" Dirgan langsung mengangkat kedua tangannya ke atas sehingga tangan itu menengadah di udara seperti burunan polisi yang sedang tertangkap menyerahkan diri.
Bintang terkesiap, ia baru sadar kalau yang di bentaknya dengan geram adalah Dirgan, bukan Aksa. Spontan ia memeluk perut Dirgan yang berdiri di samping bangsalnya.
Dirgan mematung dengan tangan masih menjulur ke atas, ia semakin bingung dan aneh dengan kelakuan Bintang saat ini.
""Maafkan aku."" Sesal Bintang di dalam dekapan perut Dirgan. ""Aku tidak bermaksud untuk membentak mu.""
""Bin."" Kaget Dirgan dengan tangan spontan terulur mengelus kepala Bintang untuk menyalurkan ketenangan.
""Kamu kenapa ? apa Aksa berbuat macam macam ?"" Curiga Dirgan.
""Tidak."" sahutnya berbohong, tapi tangannya terkepal kuat di belakang tubuh Dirgan yang masih di peluknya.
""Maaf Dirgan, ini urusan pribadi ku, aku akan menyelesaikannya sendiri, Aku tidak mau kamu terkena masalah hanya karena diriku, aku yakin, kalau aku menceritakan tentang penghinaan Aksa maka kamu pasti tidak akan tinggal diam."" Lanjut Bintang dalam hati.
""Aku tahu kamu pasti berbohong Bin, aku benar benar tidak ada artinya untuk mu, sampai curhat tentang masalah mu pun kamu tidak mau membaginya."" Sedih Dirgan membatin.
Dirgan menjadi bingung sendiri dengan pendiriannya, kadang kala ia berpikir untuk mengutarakan isi hatinya, Namun terhenti seketika jika melihat Bintang yang hanya acuh kepadanya.
""Kamu istirahat saja lagi, Aku ada urusan."" Bohong Dirgan, padahal Niatnya ingin menemui Aksa dan mempertanyakan dengan jelas apa yang sebenarnya terjadi kepada Bintang.
""Aku ingin pulang."" rengeknya tidak mau melepas perut Dirgan.
""Aku ingin pulang, aku tidak sakit !"" Potong Bintang. ""aku sudah sehat justru aku malah ingin berlatih bela diri lagi bersama mu, kita sudah lama tidak berlatih bersama, aku rindu itu."" Lagi lagi Bintang merengek seperti anak kecil.
Dirgan tersenyum senang, ia suka sisi manja Bintang seperti itu kepadanya.
""tch, Gadis nakal. Kamu baru bangun dari tidur kebo mu, jangan minta macam macam.""" Dirgan menepuk manja jidat Bintang yang sedang mendongak di depan perutnya. ""Noh..itu permen pahit buat kamu konsumsi."" Timpal Dirgan menunjuk obat yang di atas nakas sebelah bangsal.
""Issh.."" Dengus Bintang cemberut melepas tangannya dari pinggang Dirgan. "" Bilang saja kamu takut kalah."" ejeknya.
""Aku tidak sakit, ayo kita pulang, obat itu tidak mempan buatku, hanya makanan manis yang membuat ku sembuh."" Cerewet Bintang.
""Tch, apa kamu lapar ?"" tanya Dirgan. Bintang menggeleng.
""Terus ?"" Bingung Dirgan sampai alis tebalnya pun bertaut.
""Aku ingin makan kue yang manis."" Antusias Bintang yang suka dengan makanan manis.
__ADS_1
""Ayo, kita pulang dan beli kue yang banyak di---""
""Cafe Tante Nina."" sambung antusias Bintang.
""Tante Nina ? siapa ? "" Tanya Dirgan.
Bintang mendelik datar. "" Tante Nina yang mengurus Cafe mama.! apa kamu lupa ?""
Dirgan mengangguk, sedetik menggeleng. "" Apa Tante Nina yang dulu pernah berkunjung di kota lama.? yang punya anak dua cewek semua.?"" ingat Dirgan. Bintang menjentikkan jari membetulkan.
""tch, aku pengen lihat sosoknya sekarang, apa masih nyebelin atau sudah berubah manis."" Celetuk Dirgan.
""Hihihi."" Bintang tergelitik hatinya. saat mengingat Dirgan cilik yang di galakkin oleh salah satu anaknya Nina, dengan takutnya, Dirgan berlari di belakang tubuh Bintang kecil untuk meminta perlindungan.
""Jangan terkikik geli, Ayo pergi!"" Ajak Dirgan seraya tangannya menjulur agar Bintang mempunyai tumpuhan yang akan turun dari bangsal.
""Yaaak.., pasti anak Tante Nina sudah tumbuh menjadi anak yang manis."" Goda Bintang seraya menyikap selimut khas milik rumah sakit.
""eits tunggu..! Rok, Baju ?"" Kaget Bintang. ia baru menyadari kalau pakaiannya sudah berubah menjadi dress anggun selutut.
""Eum, kenapa ? "" Dirgan memperhatikan gelagat Bintang yang berubah aneh lagi.
""Apa suster mengganti pakaian ku ? tapi kenapa harus pakaian mewah, bukan baju rumah sakit.? Oh..shit.. tidak.. tidak mun---!""
Hati Bintang bermonolog sendiri, otaknya melayang kemana-mana, Apa Aksa yang mengganti pakaiannya ? pikirnya.
Niat hati ingin melupakan sejenak penghinaan Aksa dengan cara memakan kue manis kini moodnya kembali down.
""Bin ? kenapa .?"" Bingung Dirgan lagi. ia jadi pusing sendiri dengan mood Bintang yang berubah ubah terus.
""Ah, tidak ! ayo kita pulang, makan kuenya tidak jadi."" sahutnya datar.
Bintang menyambut tangan Dirgan untuk di jadikan tumpuhan turun dari bangsal.
""Kenapa tidak jadi ? apa kamu ingin makan yang lainnya.?"" Tanya Dirgan.
""iya, makan orang."" Celetuk Bintang dengan kilatan mata terlihat marah.
""Maksud mu? kamu aneh."" cibir Dirgan.
__ADS_1
""Ayolah Dirgan kita pulang jangan banyak tanya, aku sekarang ingin berlatih saja dan kamu harus mau di ajak berlatih.""
"" Tidak, kamu lagi sedang tidak fit, jadi kita pulang, No latihan, no mampir di cafe, No..No..No.. yang macam macam."" Tegas Dirgan lalu menarik lembut tangan Bintang yang lagi berwajah cemberut akut.