BINTANG (Journey Of Love)

BINTANG (Journey Of Love)
BINTANG 25


__ADS_3

Bintang berjalan biasa, masuk ke dalam rumahnya, seperti tidak merasakan sakit, menyapa orang tua serta adiknya yang sedang bersantai di ruang keluarga. semua mata keluarganya menatapnya dengan seksama. Berbeda.. Penampilan baju yang di kenakan sebelum pamit keluar rumah kini berubah, sudah memakai stail yang berbeda.


Kini Bintang terlihat sedang memakai Hoodie longgar panjang berwarna hitam pekat untuk menutupi bagian lengannya yang sedang di lilit perban medis. tidak ingin membuat orang tuanya curiga, ia ikut nimbrung bersama, menduduk kan bokong sentulnya di sebelah Gilang yang sedang mengotak Atik handphone, bermain game.


Mata Meca memicing selidik ke arah wajah anaknya yang terlihat pucat, Vero pun sama. sebagai dokter, Vero langsung menarik anaknya untuk duduk di sebelahnya, sampai Meca di suruh untuk bergeser dari sampingnya. Memeriksa suhu tubuh Bintang dengan punggung tangannya.


""Kamu sangat pucat? apa kamu sedang sakit? "" Tanya Vero yang merasakan suhu tubuh anaknya sedang tidak stabil.


Bintang langsung gelagapan. Bingung, apa yang harus ia katakan kepada orang tuanya. dengan gugupnya ia malah mengangguk, sedetik kemudian ia menggeleng. membuat orang tuanya bingung serta curiga.


Meca membalikkan tubuh anaknya untuk menghadap ke arahnya.


""Aww.."" ringis Bintang tertahan saat mamanya menekan lengannya yang sedang terluka. Bintang menggigit bibir bagian bawahnya agar desahan sakitnya tidak terdengar.


""Kenapa sayang.?"" lembut Meca menyentuh wajah pucat anaknya dengan sangat lembut.


""A aku..mmm.. sedang merasakan nyeri haid."" bohong Bintang dengan sangat lirih. ""maaf.!"" lanjutnya membatin, karena sudah membohongi orang tuanya.


Meca tersenyum, mengacak acak lembut rambut panjang anaknya. "" minum lah pil penambah darah, mama sudah menaruh di kotak obat mu."" sahut Meca. ia percaya begitu saja karena Bintang memang sering nyeri jika mendapat tamu bulanan.


""eum.. terima kasih, ma?"" leganya, ingin bergegas istirahat.


""Bin..? tadi Morgan ke rumah lho, cariin kamu."" ucap Vero. Namun anaknya tidak menggubrisnya, Anak itu terlihat berlari kecil manaiki anak tangga.


""Mencurigakan."" Ucap Meca, di angguki oleh suaminya. seraya saling tatap.


""Little boy., kamu masuk ke kamar gih? Mama cantik mu mau mengobrol hal penting dengan papa mu."" Lembut Meca ke Gilang yang hanya asyik dengan Gamenya.


""Malam ma, pa.!"" pamit Gilang mencium pipi orang tuanya bergantian.


Kepergian Gilang hening beberapa menit, Meca dan Vero sibuk dengan pikirannya masing-masing.


""Gimana, ma? penyelidikan kamu tentang anak Garlin dan Fatur.?"" tanya Vero memecah keheningan.

__ADS_1


""Tidak ada perkembangan. kata ibu panti yang mengasuh anak itu, dulu sekali sejak anak itu berumur empat tahun, anak itu di nyatakan meninggal karena sakit parah."" jelas Meca.


Sejak kedatangan Aksa ke rumahnya, Meca mendadak ingin tahu ke mana anak Garlin dan Fatur berada. ia takut jika kecurigaannya terhadap Aksa itu benar. secara sekilas wajah Aksa mengingatkan dengan wajah Fatur, yang sedang menaruh dendam terang terangan pas di persidangan pembacaan hukuman di kala waktu itu.


Sebagai orang tua ia khawatir jika anak-anak yang tidak tahu menahu di sangkut paut kan kedalam permasalahan di tempo dulu, dan sebenarnya Meca hanya membacakan hukuman yang benar sesuai undang-undang yang berlaku atas ke tindak jahatan Fatur dan Garlin kepadanya.


Bahkan dengan hati lembutnya. Dulu, Meca malah ingin mengadopsi bayi itu, saat Garlin di nyatakan tidak tertolong pas melahirkan bayi tersebut. Namun tertahan karena Fatur sebagai ayah dari anak itu tidak mengijinkannya dengan telak.


"" terus, tentang asal usul teman baru Bintang, sangatlah tertutup, tidak ada yang menarik, ia hanya di nyatakan bahwa anak itu sebagai pemilik gedung sekolahan itu."" lanjut Meca yang sudah diam diam mencari info tentang Aksa lewat tempat anak itu bersekolah.


"" Nama lengkapnya siapa ?"" selidik Vero, Namun istrinya menggeleng tidak tahu, pihak sekolah benar benar menutup info tentang Aksa.


Meca membuang nafas cemas. ""Semoga perkiraanku salah tentang teman Bintang itu."" ucapnya membuang pikiran buruknya tentang Aksa.


""Eum.. semoga."" Timpal Vero. berdiri, menarik Meca ke dekapannya, lalu menggendong mesra tubuh istrinya itu.


""Yaaak.."" kaget Meca. "" Apa yang kamu lakukan ?"" tanyanya mengaitkan tangannya di leher tunangan kecilnya yang sekarang sudah menjadi suaminya.


""Apa lagi, kita akan main celap celup Lollipop, Lima ronde."" seringai nakal Vero. Lalu mencium mesra bibir ranum istrinya supaya tidak cerewet seraya berjalan menuju kamarnya. ""selalu manis."" lanjutnya menggoda setelah melepas ciuman dalam itu.


""Ahh... orang tua ku, Gila.."" lanjutnya merutuki kemesraan ke dua orang tuanya. ""Untungnya, anak mu ini, bukan tipe penasaran dengan hal hal yang berbau seperti itu."" lanjutnya menuruni anak tangga.


*****


Di tempat lain, tepatnya di jalan pertigaan. di mana Aksa kehilangan jejak pelaku yang telah melukai Bintang, Bohongnya.


Aksa kembali lagi, dan sebenarnya ia sempat melihat motor itu masuk ke tikungan kecil mengarah ke jalan semak semak yang hanya sepeda motor yang bisa melewatinya. karena gelap, makanya Bintang tidak melihat pemotor itu berbelok.


Aksa sengaja berbohong, Agar Bintang tidak nakal dan tidak menambah lagi luka yang di terimanya, jika berkelahi. jadi ia berakting pura pura kesal saat kehilangan jejak pelaku.


""Kalian sudah melukai gadis ku, jadi jangan salahkan aku jika tangan di balas tangan."" Geramnya yang sudah berdiri di depan rumah selayaknya gubuk itu, ia sudah mencap Bintang sebagai miliknya. Jadi, tidak ada yang boleh menyentuh atau memiliki Bintang selain dirinya.


Aksa menyeringai tajam, saat mendengar suara orang orang yang sedang tertawa puas, entah apa yang mereka tertawai. ia tidak perduli ada berapa banyak lawannya yang berada di dalam. ia hanya memikirkan membalas perlakuan bodoh orang itu.

__ADS_1


Aksa dengan beraninya, menendang pintu rumah yang aslinya sudah kreok di makan waktu tanpa membawa senjata apa pun. sedangkan pemotor tadi sudah jelas jelas mempunyai pisau tajam yang di gunakan untuk melukai Bintang.


Sontak orang yang ada di dalam terperanjat kaget yang berjumlah empat orang. ""Siapa kamu..?"" Marah salah satu dari empat orang itu.


""Bocah ingusan, kamu berani sekali mengganggu ke senangan kami."" Timpal temannya.


Aksa tidak menjawab satu kata pun, kilatan matanya sudah siap menerkam orang yang ada di depannya.


Tidak ingin menunggu lama-lama, Aksa langsung menyerang orang yang berada paling dekat dengannya.


""Bagh... Bughh..praaaaang..!""


Mendapat serangan mendadak, ke empat orang yang berbadan selayaknya seorang bodyguard pasaran itu, tidak segan segan melawan Aksa dengan cara keroyokan.


Aksa tidak gentar, walau wajahnya sudah terkena pukulan sampai Sudut bibirnya mengeluarkan darah. dengan garangnya, orang yang mendekat ingin menusuk perutnya, ia langsung menangkap pergelangan tangan orang itu lalu merebut pisau tajam tersebut, menendang orang yang ingin membantu temannya yang masih dalam cengkeraman kuatnya.


""Praaaaang..Kreeeek..Bughh..""


Tiga orang tergeletak langsung pingsan, dengan sadisnya, Aksa menyayat kulit lengan tiga orang itu, yang sebenarnya sudah patah di buatnya.


Melihat temannya terkapar tidak sadarkan diri, sisa dari ke empat orang itu, langsung mundur ingin kabur.


""Jangan berharap bisa pergi tanpa mendapat kenangan dari pisau milik sendiri."" sadis Aksa, melempar pisau itu ke arah lengan belakang orang yang akan kabur. ""jleeb.."" pisau mendarat menancap tepat sasaran.


""Tolong, jangan !"" mohon orang yang terkena tancapan pisau saat Aksa menyeringai mendekat.


"" jika masalah ke jadian tadi, kami hanya di suruh."" terangnya.


""Siapa..?"" Bingung Aksa. Namun orang itu menggeleng.


""Kami hanya saling berinteraksi hanya lewat telepon dan itu pun suaranya di samarkan."" lanjutnya menerangkan tanpa ada ke bohongan.


""Aaaaarg..Bughh.."" Marah Aksa, menendang orang tersebut lalu pergi meninggalkan orang orang yang sudah terkapar dengan darah bercucuran di setiap lengan masing-masing ke empat orang itu.

__ADS_1


Bersambung...


Jejaknya di tinggalkan...🤩


__ADS_2