BINTANG (Journey Of Love)

BINTANG (Journey Of Love)
BINTANG 73


__ADS_3

Aksa pagi pagi sudah memijarkan kakinya di lantai koridor khusus di mana ruangannya dan ruangan sekretarisnya berada. Alex pun berada di belakangnya mengekor.


Seketika langkah panjang Aksa berhenti mendadak, dan membuat Alex menabrak punggungnya.


Aksa menoleh ke arah Alex seraya menggeleng kepalanya pelan.


""Maaf, tuan mu--?


""Pergilah Alex, cari bukti yang lebih akurat lagi, aku Heran dengan kinerja kamu, Lambat. kerahkan anak buah mu yang jenius, buat apa aku harus menggajimu kalau aku juga yang harus turun tangan."" Titah Aksa menyuruh Alex untuk menyelidiki perihal hidup Bundanya.


""Baik tuan muda, saya undur diri."" ucap Alex.


Aksa pun kembali meninggalkan Alex yang masih membungkuk hormat, melangkah pelan ke arah ruangannya, Namun ketika melewati ruangan Bintang, langkahnya terhenti kembali saat melihat ruangan sekretarisnya sudah menyala di pagi yang belum mulai untuk jam kantor.


Aksa menyerinyit bingung. "" Apa Bintang sudah sampai ? tidak mungkin, Bukannya Gadis nakal itu yang selalu mengabaikan pekerjaannya, ia tidak mungkin sudah bekerja sepagi ini, atau jangan-jangan maling.?"" monolog Aksa.


Sebagai pemberontak penasaran, Aksa pun langsung membuka pintu ruangan Bintang dengan terburu-buru.


""Aish, aww.."" Ringis sang empu ruangan ke jedot pintu saat dirinya mau keluar pintu tiba-tiba di dorong kuat dari luar.


""Bisa tidak sih, sehari jangan membuat aku sakit."" Ketus Bintang seraya mengelus dahinya.


""Yaa..maaf, aku tidak tahu kamu akan keluar, sini aku obati.""


Bintang menepis tangan Aksa yang akan meraih dahinya. ""percuma di obati, ujung ujungnya juga di bikin luka lagi."" Sindir Bintang.


Bintang pun kembali lagi ke mejanya untuk memulai bekerja, niat keluar ruangan sudah tidak mood setelah melihat Aksa yang pagi pagi sudah memberi sarapan kejedot.


""Apa yang kamu lakukan pagi pagi begini di kantor ?"" Bingung Aksa.


""Kerja, apa lagi ? aku harus menurut perintah bos, kalau tidak repotasi keluarga ku taruhannya."" Lagi lagi Bintang menyindir Aksa. Menyahut pun seraya tangannya berselancar di papan keyboard layar yang menyilaukan mata.


Aksa menghela napas panjang, bukan itu yang ia mau dari Bintang, Bintang melalaikan tugasnya pun tidak apa-apa yang penting gadisnya itu tetap ada di depan matanya seharian penuh.


""Tapi ini belum mulai jam kantor Bin, ?"" protes Aksa seraya melangkah ke belakang kursi kebesaran Bintang. ia penasaran, Bintang sedang mengerjakan apa ?


Bintang tak menggubris, ia masih setia apa yang ada di depannya.


Aksa semakin bingung saat melihat pekerjaan Bintang. Gadis itu berbelok haluan mengerjakan tugas maneger marketing, mata Aksa pun semakin terbelalak saat melihat isi meja Bintang begitu banyak berkas yang menumpuk, ada laporan keuangan, marketing dan pekerjaan dari divisi lainnya.


""ini bukan tugas mu ? kenapa malah kamu yang kerjakan?"" Heran Aksa.


""Biarin, yang penting saya bekerja, tugas sekretaris ku sudah selesai sejak tadi."" Bintang menunjuk beberapa berkas untuk Aksa periksa.

__ADS_1


Rupanya gadis itu berniat protes dengan cara bekerja rodi, pekerjaan orang pun di embat paksa.


""beberapa menit lagi saya akan keruangan anda untuk membacakan agenda hari ini."" Bintang mulai menunjukkan keformalitasnya, Namun Aksa malah kurang suka dengan cara Bintang seperti itu.


""Bin.?"" Panggil Aksa di belakang kursi Bintang yang di duduki oleh gadis itu, lebih tepatnya wajah Aksa pas di atas kepala Bintang.


""Eum."" Reflek Bintang mendongak ke atas.


Deg..dug..deg..dug..


Seketika jantung Aksa berdetak kencang saat mata Bintang bersitatap dalam dengan matanya. ia merindukan tatapan itu, tatapan yang membuat jantungnya bergetar serta tatapan yang membuat hatinya merasa tenang.


Bintang memalingkan wajahnya untuk memutuskan pandangan Aksa.


""Jangan menatap ku seperti singa yang kelaparan.""


""Aku mencintai mu ! beri aku kesempatan untuk masuk ke hati mu lagi."" Aksa mencium hangat kepala Bintang dari belakang.


Jari jemari Bintang berhenti berselancar sejenak, memejamkan matanya saat perkataan dan pergerakan hangat yang Aksa lontarkan.


Bintang menggeleng pelan, hatinya sekarang lagi buta untuk siapa pun, Tidak untuk Aksa tidak juga untuk orang lain saat ini.


""Entahlah.., aku lagi gelap."" Sahut Bintang. ia masih belum terima perlakuan kurang ajar Aksa yang kemarin kemarin.


"" Saya akan membaca agenda hari ini untuk anda, sekarang sudah masuk jam kerja, jadi... di sini apa di ruangan pak Aksa.""


Bintang mengalihkan pembicaraan, saat ini ia akan mulai bersungguh-sungguh menjadi sekretaris yang bertanggung jawab dan tidak mementingkan hatinya yang masih sakit karena pemaksaan Aksa terhadapnya.


""Bintang !"" Aksa langsung menarik Bintang dalam dekapannya saat gadis itu sudah berdiri dari kursinya.


""Pak Ak---"" Ronta Bintang terhenti saat mendengar jantung Aksa berdegup degub kencang, ia pun memberi ruang Aksa untuk memeluknya.


""Apa kah kamu benar benar mencintai ku, Aksa? tapi cara mu salah ! aku tidak suka di kekang ! saat ini aku akan bertahan walaupun terpaksa karena kamu mempunyai kartu As, tapi tidak untuk selamanya, kecuali....hati ku menetap lagi untuk mu."" Batin Bintang.


""Aku akan berjuang, suka tidak suka, aku akan terus ada di dekat mu, jadi beri aku ruang."" Ucap Aksa dan lagi lagi memberi ciuman hangat di pucuk kepala Bintang.


""Akan aku coba, tapi aku tidak berjanji akan bisa."" sahut Bintang dalam hati.


""Pak Aksa, jam kantor sudah mulai, saya akan bekerja dan mohon keformalitasnya.""


Aksa langsung melepaskan pelukannya dengan senyum manis mengembang, hatinya sudah tenang saat mendapat pelukan hangat tanpa ada pemberontakan dari Bintang.


""Ayo kita bekerja, aku akan bekerja keras membuat projek target hati ku."" Semangat empat lima Aksa seraya menarik Bintang ke pintu khusus penghubung antara ruangannya.

__ADS_1


Bintang yang di tarik hanya menggeleng patuh dengan senyum tipis tersungging.


*****


Jam terus berdenting mengerjakan tugasnya, Bintang kalau sudah bersungguh sungguh dalam bekerja, waktu jam istirahat pun di abaikannya. gadis itu masih membolak balikan berkas berkas sesekali matanya menatap layar laptopnya.


Aksa masuk pun tidak dihiraukannya, entah tidak sadar atau memang sengaja menggubris kedatangan Aksa.


""kenapa kamu masih bekerja ? ini sudah jam makan siang, ayo kita makan."" ajak Aksa.


Bintang mendongak sekejap lalu kembali lagi dalam kesibukannya, ia sama sekali tidak menggubris Aksa yang sedang sibuk menyiapkan makanan siang untuknya.


""Ayo makan, jangan sampai sakit."" Aksa mendorong sekotak makanan ke hadapan Bintang.


""eum, sebentar, nanggung."" Sahut Bintang tanpa menoleh sedikitpun.


Aksa mendengus, menarik kursi lainnya ke samping kursi Bintang, membuka kotak makan itu.


""Aa.. buka mulut mu."" ucap Aksa dengan menyedorkan satu sendok makanan ke hadapan mulut Bintang.


Gadis itu tanpa sadar langsung melahap makanan yang ada di dekat mulutnya, mengunyah pun seraya berselancar terus.


Aksa tersenyum manis, meneliti dalam dalam wajah serius Bintang yang masih bekerja, kepalanya tidak berhenti menggeleng geli dengan kekonyolan gadis yang ada dihadapannya.


""Ternyata kamu rakus juga ya.!"" Cibir Aksa.


Bintang mendongak dengan alis terangkat, ia baru engeh kalau dirinya seperti anak kecil yang sedang di suapin oleh orang tuanya saat matanya melirik tangan Aksa menaruh sendok ke bekas kotak makanan.


""yaaak.. mana ada, makan ku hanya sedikit."" protesnya.


""eum, benarkah? lihatlah di depan mu, dua kotak sudah habis, bahkan kotak makanan ku pun sudah kamu habiskan."" Geli Aksa.


Bintang melirik dua kotak yang sudah ludes tak bersisa. hatinya pun ikut tergelitik melihat nanar kotak makanan Aksa yang ludes olehnya.


"Masa sih ? tapi aku masih lapar lho, aah.. palingan juga sekotaknya kamu yang makan diam diam. mana tau aku, kan aku tidak melihatnya."" Bintang mencoba berkelit namun hatinya membenarkan kalau dirinya memang rakus dalam hal makanan.


""Ya...ya...ya..! terserah kamu saja, aku akan memesan lagi kalau kamu masih laper."" Ucap Aksa mengalah, dari pada Bintang ngambek lagi cuma gara gara makanan.pikirnya.


""Aku sudah kenyang, pesan buat kamu saja dan pergi lah, aku masih sibuk."" usir Bintang.


Namun tidak mempan buat seorang Aksa, pria itu terlalu senang menatap wajah Bintang dari pada harus mengisi perutnya sendiri.


Bersambung....

__ADS_1


Vote...Vote...Vote...šŸ‘Œ


__ADS_2