BINTANG (Journey Of Love)

BINTANG (Journey Of Love)
BONUS CHAP


__ADS_3

Di pertengahan malam, Dirgan di bikin heboh panik, cemas, gemetar campur aduk di buat oleh Bintang yang sedang kontraksi. Air ketuban sudah mengalir dari pangkal paha ke bawa.


Dirgan heboh sendiri mencari kunci mobil yang entah di mana keberadaannya. "" Kunci Go'ib."" umpatnya kasar masih mengobrak abrik tempat biasanya menaruh kunci. Namun belum ketemu.


""Tidak mungkin kan, aku membawa Bintang menggunakan Moge."" Dirgan melempar kesal kunci Moge yang tidak sengaja di temukan.


""pfuufuf, huha..huha...huha"" Nafas Bintang memburu menahan kontraksi hebat. ia tidak menyangka jikalau perkiraan dokter tidak akurat, ia akan melahirkan lebih awal. ""Ho-honey."" Pekiknya sakit luar biasa, kontraksi semakin hebat, jika tidak cepat di tangani...amit amit cabangnya akan keracunan ketuban.


""Ketemu ! iya baby. bertahanlah...DiBi yang nurut ya, jangan merojol di jalan, papamu keder.!"" Titahnya bodoh.


""Ayo.!"" Bintang terperangah mengelus perut buncitnya saat Dirgan ngebirit sendiri meninggalkannya. Namun sebelum Bintang menggonggong. Dirgan terpontan panting berlari kembali ke arahnya. Mungkin saking paniknya, Suaminya itu lupa siapa yang akan melahirkan.


""Maaf."" Ujarnya konyol. Dirgan menggendong Bintang tak sadar hanya menggunakan kolor saja, baju pun terbalik ia kenakan.


""Honey, hati hati ! aku berat lho jangan sampai aku di jatuhkan bisa bahaya."" Warningnya.


""Tenang saja, Sayang. Gunung pun aku kuat mengangkat jika sedang keadaan tersedak eh, terdesak."" Dirgan mengecup bibir yang meringis sakit itu.


Sampai di rumah sakit, di luar ruangan keluarga inti sudah menunggu mondar mandir. Dirgan sendiri berada terus menerus di sisi Bintang untuk menyemangati isterinya yang akan melakukan proses kelahiran secara normal, cukup sedikit lama mereka menunggu pembukaan terakhir.


Saat dokter menyuntikkan cairan induksi ke selang infus, Bintang semakin menjerit kesakitan.


""Aaarghhh."" Teriakan Bintang menggelagar seisis ruangan persalinan itu, Dokter dan suster yang berada tepat di kakinya berdiri sampai terkena tendangan mautnya, Dokter di bikin kualahan oleh bumil satu ini.


Dirgan saja terkena tarikan maut saat kontraksi hebat kembali menerjang istrinya, kera bajunya di tarik kuat oleh Bintang sehingga ia spontan tengleng ke kepala Bintang.


""Sakit Dirgahaaayuu."" Pekik Bintang galak.

__ADS_1


""Iya sayang, sabar ya.!"" Sahut Dirgan menenangkan Terus menerus mencium pucuk kepala Bintang dengan keadaan tengleng di tarik terus kerah bajunya.


""Sabar sabar ! enak di kamu Dirgahaaayuu, bikinnya enak tapi tidak pernah merasakan sakitnya, pokoknya aku tidak mau hamil lagi, Sakit.!"" Galak Bintang semakin sakit dan rambut Dirgan yang sekarang menjadi cekalannya.


""iiih....Aaarghhh. !"" Pekik Dirgan yang di Jambak melebihin teriakan Bintang yang akan melahirkan. Sampai Dokter dan suster menutup telinga masing masing.


""Huha..huha..huha."" Nafas Bintang yang di atur atas perintah dari dokter yang akan mulai mengobrak abrik pintu keluar sang kepala bayi.


Walaupun sakit terkena Jambakan, cakaran dari kuku lentik Bintang, dan kadang tercekik tengleng mendapat tarikan maut dari istrinya yang sedang berjuang melahirkan anaknya, Dirgan selalu mendampingi istrinya. sampai terdengar suara tangisan bayi lucu masuk ke indranya, ia langsung meneteskan rasa harunya. ia sudah menjadi papa muda. tapi....belum sempat Dirgan melihat wajah anaknya, ia sudah pingsan duluan tidak sanggup melihat ada banyak darah yang berceceran dimana-mana sampai ke pinggul istrinya. Bintang sendiri sudah terpejam cantik pucat Sebelum menyentuh bayinya, Pendarahan hebat menyerangnya.


...****...


Selang beberapa waktu, Dirgan terbangun dari pingsannya. ia langsung di suruh menemui dokter di ruangan oleh suster.


""Ada apa, dok ?"" ada rasa takut di wajahnya, apalagi mengingat di akhir kesadarannya kalau Bintang sedang mengalami pendarahan hebat. ""Apa anak saya sehat ?"" Dokter perempuan itu mengangguk.


Booom....Telinga Dirgan seakan meledak mendengar penjelasan sang dokter. Tidak... Tidak mungkin Bintang pergi meninggalkannya, istrinya sudah berjanji akan membesarkan anaknya bersama sama tanpa ada ikut campur tangan orang lain. Hidupnya akan hampa dan mati rasa jika Bintang pergi meninggalkannya, ia lebih memilih akan ikut mati juga jika Bintang tega pergi selamanya. Tapi..... anaknya ? bagaimana.? aaargh....Dirgan menangis hati. ia tidak sanggup tanpa Bintang.


Dengan seribu langkah panjang, Dirgan berlari cepat ke ruangan tempat Bintang dirawat tapi sebelum ia membuka ruangan, dirinya terjatuh, seakan lemas tidak sanggup dengan kenyataan yang ada. Namun matanya sempat mengerlyat, kemana para orang tuanya, kok cuma dirinya yang ada di lorong itu. Mungkin di dalam ? pikirnya.


Dirgan tidak percaya dengan dokter itu sebelum mata polosnya melihat sendiri keadaan isterinya. Dengan menguatkan hati, ia pun bangkit cepat dan membuka pintu pun dengan cepat.


Tidak ada orang, Hanya ada Bintang yang ada di atas brankar, Bintang terpejam cantik dengan kain hampir menutupi semua tubuhnya. Dirgan memegang dadanya yang sesak seakan lupa berdetak lagi, Istri yang di cintainya benar benar sudah pergi.


""Bintang, ya tuhan... tidak...hiks..hiks..kamu tidak mungkin pe-pergi tidak, bangun sayang..!"" Guncang Dirgan ke tubuh Bintang. berharap istrinya cuma tidur kelelahan setelah berjuang melahirkan. Namun tidak ada respon dari Bintang, sampai ia mengecup kasar ke seluruh wajah pucat itu, Bintang tak terganggu.


Dirgan semakin meracau dengan air mata tak ada hentinya. ""Kamu sudah janji akan memberikan nama untuk anak kita, ayo bangun ! aku benci melihat kamu terpejam damai."" Dirgan tak mau berhenti mencium wajah pucat itu. Sekebet...ia mengingat ucapan aneh dari Bintang tadi sore.

__ADS_1


Beberapa jam yang lalu, Di ruang Tv. Dirinya dan Bintang sedang bercanda gurau dengan sesekali mengecup dan mengelus perut buncit istrinya.


""*Dir, kok rasa rasanya ada yang aneh yang aku rasakan saat ini, rasanya tidak enak sekali....panas dan gerah."" Manja Bintang menyenderkan kepalanya di bahu Dirgan. suaminya mengelus sayang kepala itu.


""Rasa apa sayang ? apa ada yang sakit di bagian tubuh mu, atau aku pijat saja ya, mungkin itu hanya hormon kehamilan biasa saja..suka porno. yang terasa pegal, yang mana?"" Tepis pikiran Dirgan menganggap biasa perasaan sang istri.


""Entahlah....tapi kalau aku sudah melahirkan nanti, tolong jaga anak kita dengan baik ya, jangan ada tangan lain yang menggenggamnya, aku tidak sudi.""


Dirgan mengecup bibir cerewet itu dengan lembut. ""Jangan berbicara yang aneh aneh lagi."" Lerainya.


""Ya sudah, tapi aku di buat kan mie rebus dengan cabe banyak, boleh.?"" Ijin Bintang yang jika ingin makan mie instan pasti di larang keras oleh sang suami.


""Jangan ah, yang lain. itu tidak sehat, aku buatkan salad buah saja ya."" Tawar Dirgan.


Bintang hanya mengangguk terpaksa.


Hanya beberapa menit, Dirgan sudah kembali dari dapur dengan sepiring salad buah di tangan.


""Ayo di makan, aku akan menyuapimu."" Dirgan langsung menyodorkan setusukan garpu ke mulut Bintang.


Namun isterinya menolak dan menarik lembut garpu itu dari tangan Dirgan. ""Aku ingin menyuapi mu sayang dan jangan menolak."" Dirgan mengangguk dengan mulut sudah menganga. Lebih anehnya lagi, Bintang malah menyuruhnya push up dengan alasan untuk kenangan. Dirgan menurut, apa pun akan di lakukan untuk membuat Bintang senang jika masih dalam hal wajar.


""apakah ini maksudmu, Bintang. kamu jahat yang pergi meninggalkanku, selamanya.""


Vote dong ah, atau bunga bunga....


Mak author kabur yang menulis part ini.

__ADS_1


__ADS_2