BINTANG (Journey Of Love)

BINTANG (Journey Of Love)
BINTANG 21


__ADS_3

""Aksa..! maafin sikap mama ku .."" Ucap Bintang tidak enak hati atas sikap mamanya semalam yang kurang welcom kepadanya, baru kali ini ia merasa mamanya seperti itu, setiap ada teman-temannya ke rumah, Meca tidak pernah semasam itu, hanya kepada Aksa seorang.


Aksa mendongak dari tumpuhan kepalanya di meja kelas, menatap Bintang dengan bibir tersenyum manis.


""Santai aja kali, Aku tidak apa apa !"" Bohong Aksa. padahal sepulang dari rumah Bintang, ia sampai tidak bisa tidur memikirkan sikap Mamanya Bintang, baru saja ia merasa nyaman di dekat Bintang tapi melihat mamanya begitu, dia jadi tidak berani mengutarakan keinginannya lebih lanjut.


""Trus.. semalam kenapa perginya buru buru sekali?"" Ucap Bintang.


""Aku hanya kepikiran Bambang, takut jika si kucing kecil itu mengotori mobil ku."" Bohong Aksa. padahal ia seakan akan lemas di bagian otot kakinya saat Meca sehabis dari dapur menatap tajam ke padanya.


Bintang manggut-manggut mengerti, namun ia tidak bodoh percaya dengan alasan konyol Aksa. tapi ia juga bingung harus berbuat apa, ia penasaran kenapa mamanya bersikap seperti itu.


""Sweetie."" Morgan berjalan menuju bangku Bintang dengan senyum manisnya. Cowok satu ini tidak ada henti hentinya mengajak Bintang untuk balikan lagi, padahal ia sudah tahu sikap galak Bintang, tapi ia tidak perduli, pikirnya jika masih cinta kenapa harus takut di galakin.


Aksa menyerinyit bingung mendongak menatap Morgan, mendengar panggilan sayang untuk Bintang. pikirannya nambah kacau. Ah..seharusnya ia tidak harus membuka hati kepada siapapun, harusnya ia mempertahankan hidup sepinya dari pada harus merasakan hati yang patah sebelum mendapat gadis yang sudah membuatnya nyaman. pikirnya.


""Sweetie.."" panggil Morgan lagi.


""apa.."" Jutek Bintang.


Bukannya kesal di jutekin, Morgan malah tersenyum manis seraya duduk di bangku depannya Bintang, Morgan tidak perduli ada Aksa yang menatap dingin kepadanya.


"" Uda sarapan belum ? kantin yuuuk."" ajak Morgan seraya mengedipkan matanya menggoda mantan terindahnya.


""Uda."" sahut Bintang malas.


""kalau gitu ntar malam kita jalan, yuk.""


Aksa mengepalkan tangannya, mendengar Morgan akan mengajak Bintang jalan. tanpa menunggu jawaban Bintang, pria Dingin itu, berdiri kasar pergi meninggalkan kelas.


"" Yaak..pasti bolos lagi."" Gumam Bintang menatap punggung Aksa keluar dari pintu kelas.


""Sweetie..Gimana..?"" ulang Morgan.

__ADS_1


""Gimana apanya?""


""ntar malam jalan ?""


""Ogah..""


""Gitu...""


""iya..""


""kalau begitu aku kerumah mu saja."" Morgan tidak berhenti membujuk Bintang, hatinya masih tidak rela jika orang yang masih di sayangnya tidak meresponnya dengan baik, iya juga yakin, kalau Bintang masih ada rasa untuknya. jadi ia berniat dan menunggu waktu tepat untuk menjelaskan semua kesalah pahaman yang menimpa hubungan mereka sehingga menjadi kandas.


""Jangan ke rumah ku.."" Ketus Bintang melototi Morgan.


""ihhh.. nambah cantik deh.."" Goda Morgan.


""yaaak.. pergi nggak."" nyalang Bintang menimpuk Kepala Morgan dengan tasnya.


""Hahahaha..iya..iya..sampai jumpa nanti malam, sweetie.."" gelak Morgan seraya kabur sebelum kena timpukan kursi.


Bintang jadi di lemah dengan sikap manis Morgan, di sisi lain rasa itu masih ada walaupun sudah tidak seperti dulu. namun, di sisi lain rasa sakit juga masih terasa jika bayangan itu terlintas di pikirannya.


""Aaahh..stop Bintang..! Mantan harus di buang untuk orang lain."" Gumamnya meyakinkan diri sendiri.


***


""Aksa..!"" Marah seorang pria berumur, dengan postur tubuh yang masih terlihat berkarisma dengan stail jas kantor masih menyelimutinya di tengah malam.


Aksa menghentikan jalannya yang baru pulang dengan seragam sekolah masih menempel di tubuhnya yang di tutupi oleh jaket kulit hitamnya.


""Papa.."" Lirih Aksa terharu.sekian hari ini, ia merindukan papanya yang tidak pulang selama satu bulan. jika pun pulang tidak pernah ada kehangatan yang keluar dari mulut papanya. papanya hanya mementingkan perusahaan, perusahaan dan perusahaan.


""plaaakk.."" satu tamparan mendarat mulus di pipi Aksa, di susul secarik kertas di lemparkan ke wajah Aksa yang tertunduk.

__ADS_1


Aksa tak bergeming, mendapat tamparan keras dari papanya, ia hanya tersenyum kecut, sakit. sakit di bagian hatinya, saat melihat tangan kekar papanya hanya di gunakan untuk memukulnya, bukan untuk membelainya sayang, sakit. sangat sakit mendengar suara yang begitu di rindukannya hanya terdengar marah, bukan terdengar lembut untuk menyapanya.


"" apa itu, jelaskan sama papa ! kenapa semua guru mengadu tentang kelakuan buruk mu, Bolos..bolos..dan bolos."" teriak papanya begitu lantang masuk di pendengarannya.


Aksa tersenyum miring, ternyata hanya gara gara masalah sekolahnya yang membuat papanya menamparnya, hanya gara gara itu pula yang membuat papanya menyapanya. jika begitu ia malah berpikir akan melakukan hal yang lebih nakal lagi untuk bisa mendengar suara papanya walaupun suara yang keluar tidak pantas untuk di dengar, Namun ia tidak masalah dengan itu, yang penting papanya menyapanya, pikirnya.


""Eum.. aku begitu karena papa juga."" sahut Aksa datar.


""plaaakk.."" lagi lagi pipi Aksa di tampar dengan sangat keras, hingga membuat pipi itu menjadi merah.


""Kamu sangat kurang ajar, Aksa. kamu malah menyalahkan papa ?"" marahnya.


""Terus, siapa yang harus aku salahin, pa? mama ku? mama yang tidak pernah sempat mendidik ku karena Tuhan lebih sayang kepadanya ! jika aku bisa memilih, Aku lebih baik mati bersama mama setelah mama melahirkan ku, dari pada hidup tanpa ada kasih sayang dari seorang papa."" Aksa menutup matanya setelah mengeluarkan separuh unek-uneknya, hati dan matanya sangat perih, rasanya ia ingin sekali memeluk hangat orang yang berdiri di depannya. namun ia tidak bisa, ia sangat membenci papanya dengan sikap dinginnya kepada dirinya.


""Jika kamu mau menyalahkan orang, maka jangan salah kan papa atau pun almarhumah mama mu, tapi salahkanlah orang orang yang telah membuat mama mu menderita selama sisa hidupnya di dalam penjara."" terang papanya. paru baya itu, mengepalkan tangannya dengan sangat kuat, kilatan matanya memancarkan sinar penuh kebencian dan dendam mendalam, jika harus mengingat orang orang yang sudah menjebloskan dirinya kepenjara serta mamanya Aksa yang sebenarnya belum resmi menjadi istrinya.


Aksa tersentak, ia berpikir keras, kenapa harus menyalahkan orang lain untuk masalah hidupnya yang menderita sedari kecil.


""Maksud papa.?"" sahutnya Bingung.


""Suatu saat aku akan menceritakan semuanya, jika kamu sudah lebih dewasa dan bisa menggantikan papa di perusahaan, yang penting kamu harus sekolah yang benar dan jadi orang hebat. tapi satu yang harus kamu ketahui, kamu di lahirkan di tempat yang sangat tidak layak dan mamamu meninggal karena menderita di tempat tidak layak itu, dan semua itu yang melakukannya adalah orang orang yang jahat kepada kami."" Ucap papanya. ia berniat untuk menanamkan rasa kebencian dan dendam di diri Aksa, supaya suatu saat nanti anaknya itu bisa membantunya dalam membalaskan dendamnya.


Aksa hanya diam mendengar dengan kepalan kuatnya, matanya langsung menetes buliran bening tanpa di paksa, hatinya semakin perih mendengar kronologis hidupnya dan mamanya yang sangat pahit. teka teki hidupnya sangat tertutup, ia sendiri tidak mengenal dari mana asal usul keluarga besar mamanya, ia hanya mengetahui satu keluarganya yaitu hanya papanya seorang. Namun sama, ia juga tidak tahu asal usul keluarga papanya. dan itu yang membuatnya merasa bodoh dan sepi.


"" Papa berusaha dari Nol membangun Bisnis papa, dan papa berharap kamu bisa menjaganya kelak nanti, jadi belajarlah dengan baik, papa akan mengirim mu ke luar negeri untuk melanjutkan kuliah jika kamu sudah lulus nanti, dan papa berjanji akan menceritakan masa lalu papa dan mama kamu kepadamu dan menceritakan kepada siapa kamu harus menyalahkan orang yang sudah membuat mu kehilangan beliau."" Terang panjang lebar papa Aksa.


Aksa meninggalkan papanya di ruang tamu, berjalan gontai tanpa Ingin bertanya apa apa lagi, bertanya tentang siapa orang itu juga percuma, papanya tidak mungkin menceritakannya sekarang. jadi ia hanya menurut kali ini, belajar dan menjadi orang hebat demi mengetahui kronologis lengkap tentang hidupnya dan hidup keluarganya.


""Kamu akan membantu papa, Aksa."" Gumamnya menyeringai dengan kilatan dendam yang begitu tersirat di matanya.


Bersambung..


Author sedih lho...Bunga bunga nya tidak bertambah😭..ngehalu pun rasanya gimanaaaa gitu...tidak semangat. jadi pemaksaan sedikit boleh dongπŸ˜†.. Bolehlah...πŸ™„β˜ΊοΈπŸ˜€ jadi tinggalkan jejak muπŸ‘‡πŸ‘‡πŸ‘‡

__ADS_1


Like..Komen... bunga bunga..Vote..πŸ‘ŒπŸ‘Œ


__ADS_2