
Dentingan sendok makan dan piring terdengar nyaring di ruang makan rumah keluarga Al Miller. Tidak ada suara orang, padahal ada lima manusia yang mengisi table tersebut.
Bintang sendiri hanya mengaduk aduk makanannya, baru kali ini orang tuanya mengabaikannya, dan itu semua gara gara kebohongan Aksa. Vero dan Meca sangat terpukul dengan kelakuan Bintang yang sebenarnya tidak di betul sama sekali.
"" Jangan sesekali menceritakan kepada orang tuamu jika aku hanya berbohong akan kehamilan mu, jika berani maka foto foto hot mu akan tersebar, dan sama saja...orang tuamu akan kecewa, malah sangat kecewa melebihi kekecewaan tadi malam, bahkan bukan hanya kecewa saja melainkan akan malu di muka umum.""
Semalam, Aksa dan Bintang lagi lagi beradu mulut dengan sangat hebat dan berhasil Bintang lagi yang kalah telak sebab Aksa selalu menggunakan foto hot Bintang, dan untungnya setiap kamar di rumah mewah itu di lapisi anti suara sehingga perdebatan keduanya tidak terdengar di telinga Meca dan Vero.
""Ma, Pa. apa kalian masih marah ?"" Tanya Bintang dengan nada sedihnya.
Meca hanya melirik dengan malas, Sementara Vero menulikan telinganya seraya memakan sarapannya.
""Makan sarapannya dan habiskan, ibu hamil membutuhkan asupan gizi yang banyak."" Berucap pun Meca sangat malas. di sisi lain wanita paruh baya itu merasa senang akan mendapatkan cucu, namun di sisi lain ia sangat kecewa dengan anaknya yang salah dalam bertindak sebelum menikah, yaaaak... walaupun ada Aksa yang mau bertanggung jawab, Pikir Meca Bintang tetaplah salah.
""Aku tidak hamil ma, pa, aku masih Jaauza mu yang masih menjaga tubuhnya."" ingin sekali Bintang berteriak menyampaikan isi hatinya, Namun tertahan karena ancaman Aksa.
""Papa sudah selesai."" Vero beranjak dari kursinya dan menarik tas kerjanya.
""Mama pun, ayo Gilang ! Mama antar ke sekolah mu."" Ucap Meca ke Gilang. ""Bi inah, tolong bersihkan ruang kerjaku, arsip arsip sudah pada debuan."" Lanjutnya berteriak ke ARTnya.
Bintang menghela napas beratnya menatap punggung Keluarganya yang sudah beranjak pergi dari hadapannya.
""Puas, hah ?"" Kesal Bintang ke Aksa.
""Jangan marah marah sayang, Nanti bayi kita bisa stres."" Bukannya takut, Aksa malah menggoda Bintang.
""Dasar...Stres."" Kesal Bintang ke Aksa. ""Bi Inah, biar Jaauza yang beresin ruang kerja Mama."" Lanjut Bintang ke ART yang sedang membereskan meja makan.
""Tapi No----""
""Tidak apa apa Bi.""Bintang langsung beranjak meninggalkan Aksa.
""Bin, aku mau keluar, apa kamu mau ikut kita jalan jalan mumpung ada di kota ini."" pekik Aksa.
""Sana pergi, jangan balik lagi kalau bisa."" Bintang berujar tanpa menghadap ke belakang. Gadis itu malah menuju ke ruang kerja Mamanya.
Ceklek...
Bintang membuka pintu ruangan yang bernuansa cet pink, Mamanya sangat menyukai warna itu sehingga ruang pribadinya di buat senyaman mungkin.
Bintang pun meneliti ke segala arah ruangan, mencari rak yang di maksud Mamanya.
__ADS_1
""Waduh..."" Matanya menatap heran ke Arsip arsip tebal yang begitu banyak tersusun rapi.
Jari telunjuknya pun sengaja di mainkan dengan cepat di sampul arsip layaknya sedang berseluncur.
""kasus Mama banyak juga ya sebagai ahli hukum.""
Bintang mulai membersihkan sesuai titah Mamanya ke Bi Inah, melap debu debu yang menempel ke arsip arsip tersebut....Awas penyakit cerobohnya jangan sampai kumat lho.
Bugh..Bugh..
Nah..kan, baru juga di ingatin.. Kecerobohannya sudah On, dua Arsip jatuh ke lantai dengan beberapa kertas penting keluar dari wadahnya.
Bintang dengan teliti membenah kedua arsip tersebut, menyamakan tanggal yang tertera di lembaran kertas penting dengan sampul arsipnya. agar tidak tertukar isi nya.
""Garlin."" Bintang tidak sengaja membaca nama orang yang muncul di lembaran penting kasus kasus Meca, mengingat ingat nama itu, rasanya... tidak asing dengan nama itu, tapi di mana ? kadang kadang otak Pintar pun tidak menjanjikan akan kepikunan.
Matanya membelalak saat menemukan foto di antara kertas kertas penting. dan foto itu....Mirip orang yang pernah muncul di mimpinya.
""Foto wanita ini kok mirip sih dengan wanita cantik itu.""
Bintang pun mencoba mengingat kembali pesan yang disampaikan olehnya.
Bintang memejamkan matanya seraya berucap kata kata dari wanita misterius yang pernah masuk ke halusinasinya di waktu dirinya berada di kampung Oma Opanya.
Tak ingin penasaran Bintang membereskan satu arsip dengan asal asalan tanpa membaca lengkap isi arsip tersebut dan beranjak pergi membawa arsip itu, meninggalkan arsip satunya yang masih tergeletak di lantai.
Gadis itu berlari keluar ruangan dengan memeluk arsip ke dadanya, entah apa yang membuatnya penasaran, Bintang berlari menaiki tangga menuju kamarnya.
""Bin, jangan lari lari, Nanti jatuh dan bayi kita bisa keguguran."" Aksa masih menggoda, yang berpapasan di anak tangga. pria itu sudah siap pergi dengan baju casualnya.
""Berisik."" Hanya sekedar sentakan yang Bintang lontarkan tanpa ingin berhenti maupun menatap wajah Aksa, gadis itu masih berlari bergegas menuju kamar.
""Mana...Mana...Mana."" Bintang mengacak acak rak bukunya yang berada di dalam kamar. Entah apa yang ia cari.
""Perasaan aku menaruh gambar itu disini."" Bintang kembali mengacak pelan isi raknya.
Sampai rak buku berantakan semua, Bintang belum menemukan apa yang ia cari. ia pun mengeluarkan smartphonenya dan mendail kontak.....
""Halo Dirgan ?"" Ucap Bintang setelah tersambung, ia ternyata mendail kontak sahabatnya.
""eum...ada apa ? kirain sudah lupa."" sahut Dirgan di seberang telpon.
__ADS_1
Bintang menjauhkan layarnya dari telinganya saat mendapat suara ketus dari Dirgan.
""Anak ini lagi PMS kali ya."" Gumam Bintang. ia pun kembali memasang handphone itu ke telinganya.
""Dirgan, sketsa wajah wanita yang pernah kamu gambarkan waktu dulu, ingat tidak ?""
""ingat ? kenapa ?""
""Ada salinannya tidak, waktu itu kan kamu bikin dua. ?""
""Buat apa ?""
""Jawab saja Dirgahayu.""
""Ada."
""di mana.?""
""Di......kamar ku.""
""Naruhnya di sebelah mananya, aku akan mengambilnya.""
""hey...bukan di kamar apartemen, tapi di kamar rumah di kota lama.""
""iya aku tahu, aku ada di sini, lebih tepatnya di balkon mu.""
""Hah.. benaran.""
""Astaga, ini anak ko cerewet amat si, ada di dekat ku aja, Uda aku tampol tu muka."" Lirih Bintang mengomeli smartphonenya.
""iya benar, aku pulang bersama Aksa dan cepat katakan di mana kamu menaruh sketsa itu.""
Tut.... Tut...Tut..
Sambungan terputus tanpa ada jawaban benar dari Dirgan, di mana posisi sketsa wajah yang di cari Bintang. Mungkin diseberang telpon lagi merasakan patah hati lagi mendengar jika Bintang pulang ke kota lama bersama Aksa.
""Ya Tuhan. Benar benar nih..Dirgahayu.. jika di butuhkan saja main mati matiin."" Bintang mendumel seraya membuka pintu balkon kamar Dirgan dengan kasar.
****
Vote... Vote...Vote...
__ADS_1