
Suara Ayam jantan berkali kali sudah menyapa desa Oma Opanya Bintang, mentari yang baru lahir cahayanya pun menyapa kamar yang di tempati tiga anak remaja itu.
Aksa yang tidak bisa tidur di lantai semalaman, mau tidak mau pindah ke atas punggung sofa yang di tiduri Dirgan dengan nyaman, Aksa tidur di atas punggung sofa panjang dengan posisi tengkurap, dan jika bergerak sedikitpun maka tubuh kekarnya akan menimpa Dirgan yang masih tertidur nyenyak di atas sofa yang sama.
Mata kucing Bintang mengerjap berkali kali, mengeliatkan tubuhnya yang terasa remuk seakan semalaman sedang melakukan pekerjaan rodi, padahal ia merasakan halusinasi yang ke dua kalinya.
""Seakan nyata, siapa sih wanita cantik itu.?"" Gumam nya mengingat mimpi yang di bilang buruk bukan, yang di bilang mimpi indah juga bukan. rasanya ia bermimpi seakan di suruh memecahkan teka teki hidup seseorang.
""Bodohlah."" Gumamnya lagi menepis mimpinya, mungkin itu hanya bunga tidur saja, pikirnya.
Dengan hati ceria mengingat sekarang ia berada di desa omanya, Bintang langsung duduk dan mengerlyatkan mata kucingnya, mendelik ke Aksa dan Dirgan.
"" Astaga lucu amat, pacar dan sahabat ku, beruntungnya aku."" Bintang tersenyum geli saat melihat posisi intim Aksa dan Dirgan.
Aksa dengan nyamannya tidur di atas tubuh Dirgan, dan dengan jailnya, Bintang segera mengambil handphone Dirgan di atas meja lalu memotret ria ke dua pria yang masih sama sama nyenyak itu.
Dirgan yang tidur di tindihin Aksa, Benar benar tidak merasakan berat sama sekali. mungkin Dirgan merasa jika tubuh Aksa adalah selimut jumbo yang menghangatkan tubuh di desa yang cuacanya sangat dingin itu.
Setelah memotret jail, Bintang meningkalkan kamar, mencari sosok Oma Opanya.
""Oma Opa.."" Teriaknya yang tidak tahu kemana sosok orang tua itu.
""Yaa..Oma ada di dapur."" balas teriak Airin.
Bintang menghampiri arah suara Omanya, tersenyum hangat saat matanya bersitatap dengan Airin, mendudukkan Bokongnya di meja makan.
""pagi sayang."" sapa Airin menaruh sarapan di meja. ""Apa kamu sudah baikan?""
Bintang mengangguk, lalu bercerita tentang mimpi susulannya dengan secara rinci tanpa terkecuali.
Kali ini, Bintang berhalusinasi Bertemu sosok wanita yang pertama kali yang di impikannya, Namun anehnya, wanita itu sedang melahirkan seorang anak laki laki lucu, di tempat yang sepi, sempit dan kotor, Bintang juga di suruh merawat anak bayi tersebut, dengan ragu ragu dirinya menerima bayi lucu yang masih suci berlumuran darah
""Jaga dia, jangan sampai salah jalan, dan jika itu sampai terjadi maka dirimu yang akan mendapat imbasnya."" Bintang mengulang perkataan wanita cantik tersebut ke Oma nya.
Airin nampak berpikir keras, kenapa cerita cucunya seperti kisah kelam Garlin yang hampir melahirkan di dalam penjara, karena orang tua Garlin, dengan santainya angkat tangan tidak mau mengakui anak yang sudah mencoreng nama keluarga Dani.
""Jangan di pikirkan, itu hanya bunga tidur."" Airin menepis prasangka buruknya, ia hanya berharap jika cucunya tidak tertimpa masalah yang menyangkut pautkan cerita masa lalu orang tuanya.
__ADS_1
""Begitu kah, Oma.?"" sahut Bintang dengan penuh pisang goreng di mulutnya.
"" Eum.. panggil teman teman mu, kita sarapan bersama, dan sebelum itu kamu temui dulu Opa mu di belakang rumah."" perintah Airin.
""Tidak Oma..aku akan memanggil Opa saja, Biarkan Dirgan dan Aksa tidur bermesraan."" Geli Bintang mengingat posisi kedua pria remaja itu.
Di kamar, Dirgan mengeliyatkan tubuhnya yang terasa berat dan tidak bisa mengeliyat sama sekali, dengan mata yang susah terbuka ia paksakan saat pipinya terasa basah basah terkena air liur Aksa ke mana mana di pipinya.
Mata Dirgan mengerjap sekali, mengumpulkan ke sadarannya dengan paksa saat merasa tubuhnya seakan tertindih cewek yang bohay nya minta di tabok.
""aaaaaa..."" teriak Dirgan, pas di muka Aksa.
Aksa terperanjat kaget, cowok itu bergegas bangun dari tubuh Dirgan dan tanpa salah, Aksa duduk di sofa setelah menepis paksa kaki Dirgan yang masih selonjoran sampai tubuh Dirgan terjatuh ke lantai.
""ihhh... najoong... tubuh sixpack ku ternodai."" Ucap Dirgan bergidik geli.
""plaaakk.."" Aksa menabok kepala Dirgan yang masih terduduk di lantai.
""Benar benar gila.. kenapa aku yang di tabok, harusnya aku yang nabok kamu, Aksa.. lihat ni, pipi ku bau iler mu."" protes Dirgan. ""jorok.."" umpatnya.
Aksa mendelik malas, sebenarnya ia merasa malu, sudah tidur di atas tubuh Dirgan, takut jika pikiran Dirgan melayang kemana-mana, takut jika ia di sebut gay. ia juga malu kalau posisi intim tadi di saksikan oleh gadisnya.
""Waaah.. kalian sudah bangun, apa tidur kalian nyenyak?"" Sindir Bintang tersenyum geli.
""Yang nyenyak si Aksa tuh.."" celetuk cemberut Dirgan.
""Apa sih.."" ketus Aksa.
""Hahahaha.. kalian sangat lucu, selain itu kalian juga romantis."" Goda Bintang.
""Gadis nakal...Bintang..."" Dirgan dan Aksa tidak terima di goda seperti itu oleh gadis yang berdiri di hadapannya.
Aksa dengan cepat menghampiri Bintang yang masih berdiri di dekat pintu.
""coba ulangi lagi."" Seringai Aksa.
""Apa..""
__ADS_1
""ucapan kamu yang tadi.""
""Oh.. romantis.."" santai Bintang.
Aksa dengan cepat menggelitik perut kekasihnya, tanpa ada rasa ampun, padahal Bintang sudah terbahak minta di lepaskan.
Sementara, Dirgan bergegas keluar memegangi dadanya yang terasa sesak dan sakit, seberapa kuat dirinya menepis perasaannya, tetap saja ada rasa sakit yang mendalam di hatinya.
""Dirgan, Bodoh.. Bodoh.. Bodoh.."" rutuknya membuang rasa kecemburuannya. ia duduk di belakang rumah yang ada kolam ikan koi peliharaan Angga.
"" Kamu tidak boleh cemburu, tidak boleh..!"" Suruhnya ke diri sendiri.
""Cemburu ke siapa, Boy...?"" ucap Angga yang sedari tadi mendengar Dirgan mendumel sendiri.
Dirgan mencari sosok suara itu ada di mana, dengan malunya ia menunduk saat Angga berdiri yang sedari tadi berjongkok di sebelah kolam ikan yang tinggi.
""Opa.."" malunya tersenyum kikuk seraya menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.
Angga mendekat berdiri di samping Dirgan yang duduk di atas pinggir kolam.
""Apa kamu cemburu ke teman mu yang ada di dalam."" tebak Angga.
""Tidak Opa, siapa yang berucap cemburu, pasti opa sudah budek."" elak Dirgan.
""Yaaak..Dasar cucu durhaka."" Serang Angga menyentil kuat bibir Dirgan.
Dirgan mengelus bibir cemberutnya. ""Sakit Opa.."" rengeknya.
""Siapa suruh ngatain Opa budek, hah? dengar ya anak nakal, Opa itu sudah tahu jika kamu suka sama tuan putri Opa.""
""Sok tahu..""
""plaaakk.."" lagi lagi Dirgan mendapat tangan enteng dari Angga, orang tua itu menjitak kepala Dirgan.
""Biarin cucu Opa di ambil oleh laki laki lain, seperti teman kamu yang di dalam mungkin, lagian kamu tidak mau mengakuinya."" Geram Angga meledek kemunafikan Dirgan.
""Opa..!"" panggil Dirgan ke Angga yang sudah berjalan masuk, ia takut jika Angga menceritakan perasaannya ke Bintang, walaupun sakit tapi ia tidak mau merusak hubungan Aksa dan Bintang, yang terlihat bahwa Bintang benar benar mencintai Aksa.
__ADS_1
Bersambung...