
Merasa capek berjalan jalan, Bintang pun tertidur di atas mobil Dirgan Selama perjalanan pulang menuju ke kediaman Keluarga Dirgan yang sekarang di tempati selama di kota paris. Dirgan hanya bisa tersenyum sendiri memperhatikan wajah mantan sahabatnya yang tertidur pulas walau ada guncangan di mobil yang berjalan tapi tak merasa terusik tidurnya. Hari ini bagaikan mimpi indahnya yang di idam idamkan semasa hidupnya dan tidak menyangka itu menjadi kenyataan, Bintang sekarang kekasihnya sekaligus sahabatnya selalu.
""Istli.."" Lirih Dirgan merasa geli jika mengingat masa kecilnya yang cadel serta menjadi korban kegalakan Bintang terus di kala mereka masih kecil.
Mobil berhenti di halaman sederhana perumahan dengan gaya khas klasik Eropa, Rumah sederhana tapi indah dan enak di pandang mata.
""Bin, sudah sampai !"" Dirgan membangunkan Bintang yang masih tertidur di samping kursi kemudi. Menyilapkan rambut Bintang ke belakang yang menetupi wajah cantik itu.
Tidak ada respon, Bintang mungkin terlalu lelah seharian ini, Dirgan pun turun dari mobil, berputar dan membuka pintu mobil berniat menggendong Bintang masuk tanpa membangunkannya. Shap...Dirgan mengangkat tubuh Bintang perlahan dan sangat hati hati, Supaya kekasihnya itu tidak terbangun, Pintu mobil pun di tutup dengan pelan.
Ceklek....
Dirgan menekan knop pintu utama menggunakan kakinya, Tangannya sudah ribet tidak berkutik hanya membuka pintu saja, sebab ada bayi besarnya yang berada di gendongannya.
""Dir...! kenapa ?"" Fina yang keluar dari kamar berniat mengisi air minum tak sengaja melihat anaknya pulang dengan Bintang di gendongannya. tatapan curiga pun di layangkan ke anaknya.
""Calon mantu Mama sedang kelelahan.!"" Santai Dirgan melewati Mamanya yang melongo mendengar ucapannya.
Mata Fina terbelalak. ""Calon Mantu ? Bintang ?"" Smirk manis pun terlukis yang sudah mempunyai garis garis halus yang tercetak di wajahnya.
""Asyik...aku akan menjadi calon Oma sebentar lagi."" Pekik Fina sampai Gion mendengar suara istrinya yang berteriak di malam hari berhambur keluar kamar, takut kalau kalau ada maling bule yang menerobos masuk kerumahnya, Bukan apa apa , Gion hanya kasihan pada malingnya saja, yang akan babak belur terkena pukulan maut dari istri bar barnya.
""Ada apa, beo ! ganggu saja."" Kesal Gion yang terganggu istirahatnya.
""Kita akan segera menjadi Nenek nenek dan kakek kakek."" Senang Fina Seraya menatap pintu kamar anaknya.
"Maksud mu ? "" Bingung Gion, orang masih perkasa di atas ranjang di katain Kakek Kakek, ogah terima Dia di katain Kakek Kakek yang masih bisa bermain beberapa ronde bergulat dengan Fina. !
""Tuh..."" Tunjuk Fina ke kamar Dirgan menggunakan gerakan dagunya.
Kakek ? Gion mengerti ! akan menjadi Opa ? tapi.....ia mengira anaknya sedang bermain nakal di dalam kamar bersama bule Paris.
Seketika rahang Gion mengeras marah, ia tidak mau anaknya nakal di luar nikah, bermain gila bersama wanita tanpa status hanya karena patah hati. Cih... menjijikkan, Cibik Gion di otaknya.
__ADS_1
""Dasar anak gendeng, papa kebiri tahu rasa kamu."" Gion menghampiri kamar anaknya dengan mengebu gebu menahan marah dengan gaya langkah panjang serta Tangan berdecak pinggang.
Fina tersadar, rasa senangnya mendadak panik..."" polisi tengik jangaaaaan...."" ia pun berlari mengejar Gion dengan panggilan keras tapi tidak di hiraukan oleh Gion.
braaak.. Tendang Gion ke pintu kamar Dirgan yang sebenarnya tidak di kunci.
Hening, setelah pintu kamar terbuka...Gion mematung di tengah tengah pintu yang sudah menganga lebar melihat siapa wanita yang di kiranya bule paris. Dirgan yang akan memasang selimut ke Bintang, hanya mengudara saja selimut tak terpasang lagi... sebab yang akan di selimutnya sudah terperanjat kaget ulah papanya. Fina sendiri menepuk jidatnya kesal di belakang Gion dengan sikap suaminya yang kadang pemarah tanpa jelas.
""Apa sih pa ?"" Kesal Dirgan tertahan.
""Ah....ih... i-itu..papa..?"" Gion merasa tidak enak dengan Bintang yang terganggu tidurnya.
""Papamu lagi ngigo sambil berjalan...dia sudah kaya vampir mencari keberadaan petinya."" Fina menyelamatkan suaminya dari kekesalan anaknya yang sudah di ganggu dengan alasan yang asal asalan ucapannya. Semakin malu deh Gion.
""Aneh..."" datar Dirgan.
""Ya sudah, Om mau istirahat...Bin, Boy, selamat malam."" Ucapnya berlalu. Bintang mengangguk tersenyum geli. Dirgan menggeleng geleng kesal.
""Boy...ingat belum sah... tidur di lantai !"" Sindir keras Fina berteriak mengingatkan batasan anaknya seraya menutup pintu dan segera mengejar suaminya yang merah menahan malu.
Bintang sedari tadi hanya tersenyum gaje, Jika bersama dengan keluarga Dirgan, masalah apa pun akan terlupakan melihat kekonyolan satu keluarga itu. Tantenya yang bar bar selalu menghidupkan suasana, Om Gionnya yang susah di tebak, kadang marah sedetik kemudian luluh lantak kemarahannya jika berurusan dengan istrinya sendiri, dan Dirgan...dia selalu membuat hatinya tenang, entah di waktu masih bersahabat dan sekarang... mungkin semakin tenang dan nyaman sebab ia akan menjadi keluarga Malik sebentar lagi....
""Tidur lah, Bin."" Lembut Dirgan.
Bintang mengangguk patuh yang sebenarnya memang mengantuk dan lelah di hari yang panjang.
""Selamat malam, Sayang..."" Dirgan mengecup kepala Bintang penuh dengan sayang yang sudah kembali rebahan.
""Malam."" balas Bintang tersenyum simpul dan langsung memejamkan matanya, semenit kemudian ia kembali melebarkan matanya. ""Jangan matikan lampunya, Dirgan."" Larangnya saat Dirgan hampir mematikan.
""Maaf, aku lupa.!"" Ucapnya yang kalau kalau Bintang di tempat gelap akan susah tidur.
Dirgan pun tidak jadi men-Of kan penerangan, ia sendiri langsung membanting tubuhnya di atas sigle sofa yang ada di dalam kamarnya, menurup wajahnya menggunakan bantal sofa yang aslinya tidak bisa tidur jika lampu terang menderang. Dan pergerakan itu tak lepas dari pandangan Bintang yang sudah hilang rasa ngantuknya.
__ADS_1
""Kenapa kamu tidur di sofa ? kenapa tidak di kamar lain. ?""
Dirgan yang menutup wajahnya dengan bantal sofa kembali mendongak ke asal suara. Bintang malah duduk yang tadinya sudah rebahan.
""Kenapa kamu malah bangun lagi ?"" Dirgan malah melayangkan pertanyaan, tanpa Ingin menjawab. Dirgan beranjak dari sofa.
""Aku tidak mengantuk lagi.""
Bintang turun dari ranjang setelah mengibaskan selimut yang menutupi sebagian kaki jenjangnya, matanya baru sempat menjelaja isi kamar Dirgan. begitu banyak foto-fotonya yang terpajang rapi, tidak di kamar rumah besar Dirgan, Tidak di luar negeri, Dirgan memang selalu tak pernah melupakannya.
""Dir...kamu memang benar benar mencintai ku."" Lirihnya seraya tersenyum ke fotonya sendiri yang ada di hadapannya.
""Eum.... sangat.""
Dirgan mendengar, yang posisinya berada di belakang Bintang.
""Terimakasih...dan Maafkan aku yang pasti telah memberimu banyak luka yang tak kusadari."" Bintang berbalik dan langsung memeluk kekasihnya itu dengan perasaan campur aduk antara terharu dan perasaan bersalah yang dirinya tidak peka. Pasti sakit menjadi Dirgan.... Pikirnya.
""Sudah lah, Bin... tidak ada yang perlu di maafkan dan minta maaf...memang ini takdir ku, Sakit dahulu bersenang-senang kemudian, dan inilah balasan atas kesabaran ku, kamu berada di depanku dengan rasa yang berbeda, bukan rasa sahabat lagi."" Dirgan meneteskan rasa harunya yang kesekian kalinya yang Bintang tak sadari dan lihat.
""Ayo cepat tidur, besok katanya mau jalan jalan lagi.. atau mau di Nina boboin baru mau tidur."" Dirgan menggoda, melonggarkan pelukannya dengan tatapan nakalnya.
""aih...ini mau..!"" kepalan tangan Bintang mengudara di hadapan wajah Dirgan yang sedang tertawa kecil.
""Masih saja galak...! buruan tidur.. kalau tidak kamu akan menyesal, aku tidak bisa menjamin kalau ada cewek bohay di kamarku malam malam bisa selamat dengan mulus."" Goda Dirgan mengancam.
""Ish.. nyebelin..aku mau tidur kamar lain saja."" Bintang berjalan ke arah pintu. Namun anehnya Dirgan malah tersenyum geli tidak melerainya.
""Yaaa..sana ke kamar lain..pilih saja di gudang penyimpanan atau di kamar papa mama ku, kamu bisa tidur di tengah tengah mereka."" Dirgan semakin menggoda yang benar adanya jika di rumah sederhananya cuma ada dua kamar yang sudah di tempati.
Seketika Bintang berbalik lagi, Alon alon beranjak naik ke kasur tanpa mengindahkan Dirgan yang lagi terbahak geli.
""Hust... kuntilanak..diam, eeh...bukan ! tapi Kang tilanak, jangan terkikik tengah malam."" Bintang menenggelamkan seluruh tubuhnya kedalam selimut.
__ADS_1
""Hahaha..kang tilanak... istrinya Bu tilanak.! Astaga Bintang !"" Dirgan masih menggeleng geleng geli seraya kembali tidur di sofa yang sebenarnya kurang panjang buat tinggi badannya, demi Bintang ia rela tidur di sofa yang esok harinya pasti akan terasa remuk tuh badan.