BINTANG (Journey Of Love)

BINTANG (Journey Of Love)
BINTANG 63


__ADS_3

Byuuur..


praaaaang...


Cangkir kopi yang di bawah Bintang tertumpah saat Aksa tidak sengaja menabraknya ketika mondar mandir seraya membaca file yang ada di tangannya.


""Panas...panas.. panas."" Teriak Bintang, kopi itu mengenai pakaian putih formalnya dan sedikit membuat kulit tangannya memerah.


Aksa dengan cekatan meniup niup tangan Bintang.


""Maaf..aku tidak sengaja."" Sesal Aksa, ada rasa khawatir menyerangnya.


""Damn..."" umpat Bintang seraya menarik kasar tangannya yang memerah.


""Biar aku sendiri, aku bisa.""


Bintang mengambil tissue menyelupkan sedikit ke gelas air minum Aksa lalu mengompres tangannya yang terasa perih terbakar.


""kenapa sih harus mondar-mandir hah? kursi mewah buat apa ? lihat baju ku, rok serta sepatu ku, dan lebih parahnya tanganku terluka.""" Longlong Bintang.


""ya..maaf, aku akan menggantinya."" Aksa malah menyulut emosi kekesalan Bintang.


""Aksa.."" Geram Bintang.


""Berapa ? aku akan menggantinya."" ulang Aksa.


""Ni orang, ngeselin amat sih.."" Batin Bintang menyeringai.


""Baiklah, karena baju, sepatu, dan rok ku sangat mahal, maka kamu harus mengganti dengan sejumlah 2 M."" tantang Bintang tidak tahu malu mengeluarkan sisi kematrean yang di miliki setiap kaum wanita.


""Tidak salah?."" kaget Aksa.


""Di timpal 1 M untuk biaya tangan ku yang terluka jadi total 3 M."" Bintang semakin bermuka tembok mengeluarkan sisi kematreannya.


""Haha..kapan lagi dapat kesempatan seperti ini, nyahoo kan, makanya, walaupun punya uang banyak kalau bisa jangan terlalu sombong, apa apa berapa ? aku akan menggantinya ! huuu."" Batin Bintang bersorak-sorai, ia pikir Aksa akan memecatnya.


Aksa menggeleng geleng mendengar pakaian sebegitu mahalnya, Namun ia tidak menciut dengan tantangan dari gadis yang selalu memporak porandakan hatinya.


""Baiklah, tunggu sebentar, Perusahaan ini pun akan aku berikan kalau itu perlu."" Sindir Aksa seraya membuka laci mengeluarkan cek dan dengan cepat menulis jumlah yang di inginkan Bintang.

__ADS_1


""Nih...ambil lah.! ""Seringai Aksa beranjak lalu menyodorkan cek tersebut.


""Sial... kenapa tidak marah dan memecat aku saja sih."" Batin Bintang tidak enak mau mengambil cek tersebut.


""Ayo ambil."" Paksa Aksa menyodorkan ke Bintang.


""Baiklah, aku akan mengambil nya kalau kamu memaksa"" ragu Bintang menerimanya.


Aksa langsung menyeringai, dengan cepat ia menyudutkan tubuh Bintang ke tembok. Dengan kekuatannya, Aksa mengunci pergerakan tubuh Bintang , mengingat Bintang pintar bela diri, bisa jadi Bintang bisa terlepas begitu saja, pikir Aksa.


""Aksa.."" Sentak Bintang.


"" Sialan, kurang ajar, minggir."" rontanya ingin membuka kuncian Aksa.


""Tidak mau, kenapa ? takut hah ? aku sudah memberi banyak uang untuk mu, ternyata kamu sama saja dengan wanita lainnya, matre."" serang Aksa. membuat hati Bintang tertampar mendengar penghinaan itu.


""Aku tidak butuh uang,, Mmmppp...""


Aksa tanpa aba aba langsung menyerang bibir Bintang, ia begitu tergoda dengan bibir mungil yang dari dulu tidak pernah di sentuh oleh pria manapun.


Sementara Bintang yang selama ini menjaga ciuman pertamanya langsung meneteskan air matanya, hatinya sakit, tidak percaya dengan kelakuan Aksa yang kurang ajar kepadanya. padahal Aksa tahu kalau ciuman pertamanya hanya untuk calon suaminya kelak nanti.


Merasa tidak mendapat respon positif dari bibir mungil Bintang, Aksa menghentikan aksinya, menatap wajah Bintang yang sudah merah padam menahan marah dengan air bening menghiasi pipi putih namun terdapat goresan kecil ulah pisau Justien.


Aksa masih mengunci pergerakan Bintang tanpa di kunci pun kaki Bintang sudah lemas bergetar seketika bayangan kurang ajar Justien kembali terlintas.


Gadis itu hanya meneteskan air matanya mendengar Aksa yang sudah merendahkan martabatnya, saat ini, ia akan mendengar kan penghinaan apa yang Aksa akan katakan padanya.


""Tuan Dinata Kedward adalah pria yang berumor sebagai pria Casanova, pasti dia sudah melakukan hal lebih dari aksi ku tadi kan.? katakan ? apa dia sudah membuka segel mu,? sangat menjijikkan ? sangat tidak pantas di sebut sebagai wanita terhormat, mana Bintang yang dulu ? mana Bintang yang selalu menjaga kesuciannya, bahkan hari ini di cium oleh ku pun hanya bisa pasrah.""


Lagi lagi Aksa ******* kasar bibir Bintang. Bintang semakin syok dan terpukul.


Merasa tidak mendapat respon lagi, Aksa kembali melepas pangutannya.


""Lepas Justien."" racau Bintang dengan bibir bergetar ketakutan. ""Aku mohon lepas, tolong Aku, Dirgan..Aksa.. siapapun.""


Bintang meracau seakan akan yang melakukan aksi jahat tersebut adalah Justien, memorinya kembali berputar, seluruh tubuhnya pun beraksi gemetar ketakutan.


Deg...

__ADS_1


Hati Aksa tersentak, mendengar permintaan tolong tertuju kepada nama Dirgan dan Namanya, seketika ia mengingat penjelasan Biru di kala waktu itu. kalau Bintang hampir mati di tangan Justien karena menunggu dirinya yang sudah terbang ke Berlin.


""Minggir.""


Merasa sudah terlepas dari kuncian Aksa, Bintang langsung menampar berkali kali pipi Aksa, lalu mendoronguh Aksa untuk menjauh.


""Bin.."" sesal Aksa ingin memberi pelukan menenangkan. padahal wajahnya sudah memerah panas ulah tamparan Bintang.


Mendengar suara Aksa, Bintang tersentak tersadar kalau yang melakukan aksi kurang ajar tadi adalah Aksa bukan Justien.


""Diam di tempat, Jangan berani berani menyentuh kulit ku lagi."" Cegat Bintang melayangkan tangannya ke udara agar Aksa tidak mendekat lagi.


Bintang berjalan cepat ke meja kebesaran Aksa, menarik telpon untuk menghubungi seseorang.


Sementara Aksa mematung di tempatnya, mencoba mencerna siapa yang akan di hubungi Bintang dan apa yang akan di lakukan oleh gadis yang sedang terlihat marah.


""Keruangan pak Bos sekarang."" Titah Bintang menyentak orang yang di seberang telpon.


Hening, Bintang menunggu orang yang barusan di hubunginya, padahal cacian di mulut pedasnya sudah tidak tertahan ingin menyerang Aksa saat ini juga.


""Aku kenapa ? kenapa harus melakukan penghinaan tadi.? Hah..! maaf Bintang, aku bingung dengan hati dan pikiran ku sendiri."" Batin Aksa.


Ketukan pintu terdengar, Bintang langsung menyuruh orang itu untuk masuk.


""Pak Wiwid ?"" Bingung Aksa, ternyata yang di telpon Bintang adalah wakilnya.


""Maaf, ada ya---!""


""Pak Wiwid."" Potong Bintang


"" ambil cek ini dan cairkan segera, setelah itu bagikan semua ke karyawan Kecuali aku, itu adalah hadiah dari Pak CEO kita."" Bintang menaruh paksa cek tersebut ke tangan Wiwid.


Wiwid seperti orang bodoh, memandang cek tersebut dengan mata melotot seakan akan mau copot dari tempatnya.


""Buat kami nih, Nona?"" Senang Wiwid meyakinkan.


""iya, Tunggu apa lagi, sana cairkan, atau aku akan berubah pikiran dan menyobek kertas sialan itu."" kesal Bintang.


Melihat ada ketegangan di antara Aksa dan Bintang, Wiwid dengan cepat menaruh cek itu di saku jasnya, kalau di sobek kan sayang, duit segitu banyak nya bisa buat modal untuk nikah, pikir pak Wiwid.

__ADS_1


""Saya undur diri."" Hormat pak Wiwid saat tangan Aksa memberinya kode untuk segera keluar.


Kini mata kucing Bintang menatap tajam ke arah Aksa.


__ADS_2