BINTANG (Journey Of Love)

BINTANG (Journey Of Love)
BINTANG 30


__ADS_3

Sore hari sudah menyapa orang orang yang berada di atas gunung, semua panitia bergegas mengumpulkan murid bimbingannya masing-masing untuk segera menuruni gunung tersebut. Dengan kesaksian Dirgan menyatakan bahwa Aksa sudah balik duluan membuat Panitianya mendengus. Panitia hanya berharap anak bimbingan yang satu orang itu selamat sampai tujuan.


Gissel dan Justien sudah bersiap siap dengan rencana nekat mereka, Geng mereka sengaja memperlambat jalannya karena hanya Bintang yang berjalan di antara mereka paling belakang dengan pengawasan satu panitia, Namun, panitia tersebut sudah di buat sibuk dengan Selly dan Alifia. Morgan pun jauh di depannya. entah apa yang membuat Bintang berjalan paling lelet namun matanya meneliti orang orang mencari sosok sang pacar.


Gissel dengan sengaja menaruh ranting untuk memperlambat jalan Bintang supaya bisa memperlancarkan aksi Justien yang sengaja bersembunyi di balik semak semak.


""Eits..kok ada ini?"" protes Bintang berjongkok ingin menyingkirkan penghalang itu.


Baru juga ingin membuang ranting itu, di arah belakangnya sudah ada Justien dengan cepat membekap mulut dan hidungnya memakai sapu tangan yang sudah di kasih obat Bius.


""Mmmpp...""Mata Bintang membelalak dengan kuat, tangan lembutnya memukul mukul tangan orang yang sudah membekapnya. Namun nihil, Gelap seketika Bintang tidak sadarkan diri.


""Gadis malang, aku tidak akan memakan mu, jadi bersyukurlah dengan perbuatan ku yang terpuji ini, padahal aku ingin sekali memakan mu. tapi tidak, Biar binatang buas saja yang menggigit mu sampai mati."" Sadis Justien menaruh tubuh pingsan Bintang di balik pohon besar yang sedikit jauh dari jalan yang akan di lewati oleh panitia yang sudah di recok oleh Gengnya Gissel.


Senja sudah terlihat dengan indah, para murid langsung menaruh tanda pengenalnya untuk memudahkan panitia mengabsennya, Tapi ada keganjalan panitia di pihak teamnya Bintang. para panitia itu menghitung tanda pengenal berkali kali namun nihil masih kurang satu, dan Panitia itu menyadari jika Bintang tidak mengabsen dirinya.


Dengan panik panitia itu langsung mengumumkan pake toa.


""Saudari Bintang, tolong agar segera menghadap untuk mengabsen diri."" Ucap sang Panitia berulang ulang. Namun Bintang tidak kunjung memperlihatkan Batang hidungnya.


Aksa dan Dirgan yang mendengar suara toa itu, seketika langsung kalang kabut kecacingan. Dua cowok itu langsung mencari sosok Bintang di sekitar Villa yang tersedia. Namun tetap saja nihil, mereka hanya ke capean tanpa ada hasil.


Morgan tidak menyadarinya, cowok yang lagi patah hati itu, sibuk menyumpel telinganya dengan earphone musik untuk membuang rasa galaunya.


Di dalam Villa, Geng Gissel dan Geng Justien, sedang menyeringai senang sudah berhasil mengerjai Bintang, mereka tanpa dosa menertawakan ke susahan Bintang yang keadaannya seperti apa sekarang.


Aksa yang seketika mengingat video yang di kirim oleh Gissel, langsung mencari sosok Morgan yang terakhir kali terlihat bersama kekasihnya itu.

__ADS_1


""Morgan."" geram Gumam Aksa yang melihat orang itu hanya santai dengan earphonenya.


Aksa mendekat dengan urat marah yang tertahan.


""Morgan, Bintang kemana.?"" Serang nya menarik kasar Earphone Morgan lalu mencengkeram kerah baju Morgan.


""Eits..apa apa ini ?"" Dengus Morgan tidak terima dengan aksi marah Aksa yang tidak jelas kepadanya. ia berusaha untuk melepaskan tangan Aksa tapi nihil.


""Bintang tidak terlihat, Panitia sudah memanggilnya dengan toa tapi Bintang tidak muncul muncul sedari pendakian, dan terakhir kali gadisku terlihat bersamamu."" kesal Aksa.


""Gadis ku."" Ulang Morgan. seketika Morgan langsung mengerti bahwa pengganti dirinya di hati Bintang adalah pria yang sekarang mencengkeram erat kerah bajunya.


Dirgan yang tadinya ingin bertanya kepada Morgan keberadaan Bintang langsung tertahan melangkah mendekat ke orang yang sedang beradu tatapan tajam itu.


Dirgan tersentak, jantungnya yang kesekian kalinya merasakan sakit tertahan, ternyata Bintang sudah mempunyai hati baru, mungkin dirinya memang hanya di takdir kan sebagai sebatas sahabat saja, tidak lebih. dirinya memang pecundang yang tidak mau mengungkapkan isi hatinya ke Bintang. karena disisi lain ia takut, Takut jika Bintang membencinya, pacar tidak jadi, sahabat yang dari kecil pun menjadi renggang. jadi ia lebih memilih mencintai dalam diam saja, sampai ada sosok yang bisa menggantikan Bintang di hatinya secara alami.


"" Kalian apa apaan sih? malah berantem, jika kalian perduli dengan Bintang, maka ayo kita cari, jangan sampai ke buru gelap karena gadis yang kamu sebut sebagai pacarmu itu, mempunyai Fobiah yang takut dengan kegelapan."" kesal Dirgan menatap marah ke Aksa.


Aksa lagi lagi tersentak, memori saat mengajak Bintang ke atapnya terlintas seketika, ternyata gara gara itu, Bintang langsung terlihat pucat dan memilih langsung minta pulang.


Aksa langsung mengejar Dirgan yang berjalan menujuh ke arah pos panitia.


""Pak.. tolong cepat cari sahabat ku."" Mohon Dirgan dengan sangat,ke panitia yang sedang kebingungan.


""Kami mengerti? tapi apa Benar teman mu itu masih di atas.?"" ucap panitia yang bertanggung jawab di teamnya Bintang.


Dirgan mendengus marah dengan keraguan orang yang ada di depannya. ""Yakin."" Sentaknya tidak takut oleh polisi hutan tersebut.

__ADS_1


Aksa dan Morgan terlihat baru sampai di belakang Bintang.


""Kalian tunggu apa lagi, tolong bantu kami.?"" Timpal Aksa memohon. wajah dinginnya tidak terlihat karena kepanikan yang tersirat di wajah tampannya itu.


""Tapi cuaca tidak mendukung."" ucap salah satu polisi hutan itu.


""Aaahh.. kalian lelet sekali, jika kalian tidak mau membantu maka aku bisa sendiri mencarinya."" Marah Aksa, ia langsung melangkah pergi ke arah pendakian.


Dirgan dan Morgan ikut mencari, mengekor Aksa, Mereka tidak perduli dengan cuaca yang sebentar lagi akan turun hujan di langit yang sudah mulai gelap di tambah awan mendung jadi terlihat semakin seram mencengkeram di pedesaan tersebut.


""Anak anak remaja yang keras kepala, Tapi aku suka sikap perduli kalian.""


ucap salah satu panitia yang berjumlah enam orang itu, Mereka mau tidak mau ikut mendaki karena itu memang tanggung jawab mereka.


Di posisi Bintang, Gadis itu terlihat sedang ketakutan, ia sudah sadar beberapa menit yang lalu ketika ada serangga kecil yang mencoba mengganggu hidungnya.


Bintang terduduk melemas dengan kedua lutut di tekuk untuk menjadi sandaran pelukannya. Matanya sengaja di pecamkan dengan terpaksa, Suara bising serangga kecil masuk ke telinganya menambah ketakutan Fobiahnya di tempat gelap.


Nafasnya memburu terpacu dengan sangat kuat, seketika bayangan masa kecilnya terlintas yang terjebak di gudang kecil gelap rumah sakit papanya, di tempat itu ia hampir kehilangan nyawanya.


""Hiks..papa..mama, tolong Jaauza."" isaknya dengan nafas yang sudah sesak serta bibir yang sudah memucat karena terlalu ketakutan jadi oksigen yang masuk tidak teratur dengan benar.


""Dirgan..Aksa..hiks.. tolong aku."" tangisnya seraya mata terpejam dengan lutut di peluk.


Nama Dirgan yang di panggil Bintang di tempat yang jauh, seketika Sang Empu nama seakan lemas di seluruh saraf tubuhnya. Dirgan memegang jantungnya yang berdetak tidak tenang, apalagi jika ia ingat kejadian waktu ia masih kecil, di waktu dirinya dan Bintang sedang bermain sembunyi sembunyian dan kala itu pula sahabatnya hampir meninggalkan dirinya untuk selamanya. ia semakin panik di posisi Bintang yang takut dengan kegelapan seperti saat malam di atas gunung seperti ini.


""Jaauza.. Bertahanlah."" sedih Dirgan seraya mengusap air matanya dalam kegelapan.

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2