BINTANG (Journey Of Love)

BINTANG (Journey Of Love)
BUNUS CHAP AKSA RERE


__ADS_3

Semelir angin menerpa kulit sepasang suami istri di pemakaman umum di sore hari....Aksa dan Rere. Yaaa.... mereka sudah menikah.


""Bunda..!"" Aksa berjongkok di sisi kuburan milik orang tuanya, Garlin. Rere pun ikut berjongkok.


""Aku datang lagi bunda, dan kali ini aku membawa menantu mu.!"" Senyum Aksa melirik istrinya yang menaruh bunga tepat di sebelah batu nisan.


""Aku harap bunda di sana ikut bahagia dan mendoakan kerukunan rumah tangga kami."" Ujar Aksa meminta restu.


""Dia...Rere, istri ku... Sudah termasuk Keluarga besar Al Miller."" rangkul pundak Aksa ke Rere.


Rere tersenyum manis. ""Hai, Bunda mertua...anak mu sangat lah baik ingin meminang ku....lihatlah aku, tidak ada sisi lembutnya, mungkin anakmu sedang katarak kali ya atau otaknya lagi bergeser."" Cerewet Rere menggoda Aksa tepat di hadapan peristirahatan mertuanya.


""eum...benar, aku katarak dan salah pilih.!"" Aksa ikut menggoda dengan membenarkan jika Rere tidak ada lembut lembutnya sama sekali.


""Yaaak...!"" dengus Rere memerengut.


""Haha... lihatlah Bunda, Dia terlihat jelek, tidak hanya bar bar melainkan dia juga tidak ada bagus bagus nya jika sedang memerengut seperti itu."" Aksa masih menggoda dengan tawa kecil di bibirnya.


""...Ya...aku memang jelek....maka hust.. pergi saja."" Cemberut Rere mengusir.


""Bunda..dia juga tukang usir... dengar kan Bun ? ini kan tempat bunda ku...malah anak mu yang di usir."" Adu Aksa menggoda dengan rangkulan semakin posesif. Rere tersenyum tipis.


""Aku bercanda, Bunda..! Istriku walaupun terlihat bar bar tapi dia sangat lah penyayang, dan baik hati, bahkan dari kecil kami sudah saling menyayangi sebagai teman. jadi restui perjalanan kami.... berbahagia lah di alam sana, anak mu sudah mendapatkan kebahagiaan dan kehangatan dari wanita pilihan ku.... beristirahat tenanglah di sana.... Keluarga Al Miller, Tante Meca sudah memaafkan mu dan beliau malah menganggap aku sebagai putranya.""


Rere tersenyum lebar, mengelus punggung suaminya untuk memberikan kehangatan....Aksa meneteskan air mata..ini pertama kalinya Rere melihat air mata suaminya.


""Cengeng.!"" Goda Rere.


Aksa menoleh dengan sudut mata berembun.


""Apanya ? siapa yang cengeng eum.? ini tuh air mata haru. !"" elaknya. ""Lihat lah, Bunda...dia begitu menyebalkan.!"" rengutnya.


""Ais... Bunda mertua, anak mu juga menyebalkan...apa itu ? tukang ngadu !"" Sindir Rere. namun senyum geli terus terhias di bibir padat sensual itu.


Aksa berdiri dari jongkoknya, menarik Rere agar ikut berdiri.


""Istriku suka bercanda Bun, aku suka kekonyolannya, yang bisa mematikan suasana sifat ku yang terlanjur dingin dan datar.... di dekat Rere...aku bagaikan anak kecil yang cerewet tak mau diam untuk beradu argument dengannya. tapi itu menyenangkan bagiku..!"" Aksa mengambil nafas dalam dalam dan menghembuskannya perlahan. ""aku pamit...Bunda, dan doakan kami agar dengan cepat ada Aksa junior atau Rere junior yang hadir di antara kami.!""


Aksa menggenggam tangan Rere. menatap mata kecoklatan itu begitu pun Rere yang membalas tatapan dalam suaminya dengan senyum manis terlukis di bibir Rere. ""aku mencintai mu, aku berjanji di hadapan makam orang tua ku, kamu lah wanita satu satunya yang akan menjadi pendamping ku. tidak ada yang lain....masa lalu biar lah berlalu dan masa depan temani aku tanpa ada keraguan di hati mu."" Tekad Aksa bersungguh sungguh.

__ADS_1


""Dengar tidak, Bunda mertua ? anak mu juga ternyata pintar merayu.... bahkan hati ku yang keras tak tersentuh oleh pria manapun seketika meleleh di buatnya."" Cengir Rere senang menggoda Aksa saat terlihat serius.


""Menyebalkan....ayo kita pulang, aku akan menghukum mu."" Seringai nakal Aksa tersenyum devil.


""Hais... Bunda mertua...aku pamit...dan selamatkan aku dari kejauhan, anak mu akan menerkamku dia seperti singa."" Rere berkicau seraya Terus di tarik oleh Aksa dengan lembut.


""Bukan menerkam sayang...tapi kita akan saling menerkam di kasur."" Nakal Aksa.


""Hemm..."" Malas Rere menyahuti yang sudah menjurus ranjang.


...******...


Hari dan Minggu pun berlalu tidak terasa menyapa kehangatan rumah tangga Aksara...


Kehangatan....? itulah mimpi Aksa dari dulu, mendapat kehangatan. Walaupun tidak ada kehangatan sang Bunda, tapi ada kehangatan seorang istri yang bisa menggantikan perannya.


Seperti saat ini, Rere sudah siap segalanya di pagi hari, sudah menyiapkan keperluan suaminya, Dari sarapan, pakaian untuk Aksa kenakan ke kantor. dan sekarang giliran membangun kan kebo yang masih tidur.


""Aksa..hei bangun, waktunya mandi, sarapan dan berangkat kerja."" Guncang Rere di tubuh suaminya.


Tidak ada respon, Aksa masih asyik dengan dunia mimpinya.


""Aksa..."" Panggil Mesra tepat di telinga suaminya. jika tidak berhasil...hujan deras akan masuk kedalam rumah.


""Begitu dong sayang...yang lembut untuk menyapa suami."" Cengir Aksa yang langsung melek strong.


""Aih, tadi cuma pura pura kah ?"" Heran Rere. Aksa mengangguk menarik istrinya untuk ikut berbaring lagi.


""Aku sudah rapih lho, Aksa.!. penampilan ku berantakan lagi, kan."" Rengutnya.


Cup....cup....cup...""Kamu cerewet sekali."" Cium Aksa di seluruh wajah istrinya, tubuh tinggi Rere pun di bikin guling dirinya sehingga istrinya susah untuk bernafas.


""Aksa.... Nafas ku akan habis, lepaskan...sayaaaaang."" Serunya panjang.


""Tidak mau, aku suka harum tubuh mu."" Rere semakin tenggelam dalam dekapan suaminya.


""Sumpah, aku sesak."" Jujur Rere dengan Nafas tersenggal.


""Baiklah."" Aksa merenggangkan pelukannya namun tak seutuhnya, wajah Rere masih menyandar di dadanya. ""tapi kita lakukan satu kali lagi, biar cepat menyusul Keluarga Dirgan dan Bintang."" Seringai nakal di wajah bantal Aksa.

__ADS_1


Rere menelan ludahnya cepat. Suaminya tidak ada lelahnya untuk berolahraga ranjang.


""ini sudah pa------Hoek....Hoek."" Mual Rere tiba tiba dengan tangan membekap, beranjak ke kamar mandi.


""Apa aku bau ?."" cium Aksa di ketiak sendiri. setelahnya, raut wajah itu terlihat kecut. ""pantas Rere mual ? aku bau asem... hahaha."" Gelinya dan segera beranjak menyusul Rere ke kamar mandi.


""Re.... kenapa pakai di kunci segala.?"" Pria itu mondar mandir di depan kamar mandi hanya menggunakan kolor saja.


""Ayo, buka sayang..."" panik Aksa yang tadinya masih mendengar suara munta munta kini tidak ada lagi suara suara, bahkan gemericik air pun tak ada, Senyap.


""Re.."" gedor Aksa menggebu. ""Rere...!"" Cemas nya.


""R---""


Rere mengelus jidatnya yang tidak sengaja di ketuk suaminya setelah membuka pintu.


""Maaf ! kamu kenapa ? sakit kah ? atau gara gara bau badan aku ? ayo kita kerumah sakit ? aku tidak mau kamu sakit ? ayo buruan. !"" Cerewet Aksa mencerca pertanyaan dengan sekali tarikan.


Rere termangu dengan sikap posesif suaminya. berlebihan....sampai ia tidak bisa menjawab pertanyaan itu yang sekarang di geret keluar kamar.


""Aksa ! Aksaaaa !"" pekiknya untuk menyadarkan rasa cemas berlebihan itu.


Aksa berhenti yang sudah berada di luar kamar. ""Apa ?""


""Apa kita kerumah sakit dengan penampilan mu yang begitu."" tangkap mata Rere ke Aksa yang hanya menggunakan kolor. Senyum geli pun terlihat di sana.


""Oh... astaga, bodoh."" rutuknya dengan penampilan konyolnya. berbalik ke kamar namun tangan itu di tarik oleh istrinya.


""Aku punya sesuatu untuk mu, sayang."" tangan jenjang Rere bergelayut manja di leher suaminya. "" Lupakan rumah sakit.!""


""Tidak, aku akan membawa mu kerumah------!""


""Shut up."" Rere menangadakan Teks pack di udara tepat di depan wajah Aksa.


""Garis dua ?"" Selidikinya ke alat itu. Rere mengedipkan mata menggoda dengan senyum manis merekah.


""Kamu hamil ?"" Rere mengangguk. ""aaaah....aku akan punya anak ! benarkah itu, rasanya senang sekali. ? "" Histeris senang Aksa berloncatan dengan kepalan di udara, Yes. Setelahnya ia menarik tubuh istrinya.


""Aku mencintai mu, sayang."" Kecup hangat di ubun ubun Rere.

__ADS_1


""Aku, tahu."" Sahut Rere begitu senangnya.


__ADS_2