
Dirgan melesatkan mogenya di jalan beraspal mulus dengan kecepatan pelan, sebab ia ingin menikmati momen berdua dengan Bintang yang sedang memeluk erat perutnya serta kepala Gadis itu di tenggelam kan di atas pundaknya.
""Bin ? apa kita akan langsung pulang ? maksud ku, apa kamu ingin berjalan jalan dulu?"" Tanya Dirgan dengan suara sengaja berteriak di atas motor.
""Terserah kamu saja."" Sahut Bintang kurang semangat sebab acara kumpul bareng sahabatnya berakhir tegang.
""Kalau di ajak ke KUA mau tidak.?"" sungging Dirgan.
Bintang menarik kepalanya dari pundak Dirgan.
menatap kepala Dirgan yang terbungkus oleh Helm.
""Bercanda."" Lanjut bohong Dirgan. ia kira Bintang akan marah dengan ucapannya.
Mendengar ucapan terakhir Dirgan, Bintang kembali menenggelamkan kepalanya di pundak Dirgan lagi.
""kamu selalu menggodaku."" Gumam Bintang.
Melihat perban luka yang di tangan Bintang berdarah lagi, Dirgan sengaja berhenti di depan apotek untuk membeli obat luka.
Merasa motor telah berhenti, Bintang pun menarik kepalanya di pundak Dirgan, menatap bangunan yang ada di depannya dengan dahi mengkirut bingung.
""Turun, Bin."" ucap Dirgan. ia tidak bisa turun kalau Bintang masih memeluknya dengan erat.
""Kamu mau beli obat,? apa kamu sakit ? apanya ? kenapa kamu tidak bilang kalau kamu tidak baik baik saja ? ayo capat kita beli obatnya dan balik ke apartemen agar kamu bisa beristirahat, angin malam tidak baik untuk kesehatan."" Cerewet Bintang.
Gadis itu bukannya turun dulu, malah mengeluarkan pertanyaan bergandeng dengan suara terdengar perhatian dan lembut.
Dirgan tersenyum manis mendengar pertanyaan kekhawatiran untuknya dari Bintang, walaupun hanya sekedar khawatir sebagai sahabat tapi tidak masalah baginya, itupun sudah membuatnya senang.
""Bagaimana mau beli obat kalau perut ku masih di peluk erat."" Sindir Dirgan geli.
""hihi, iya yah."" Bintang tertawa kecil, ia pun melepaskan tangannya dan turun dari motor Dirgan.
""Kamu tunggu di situ aja."" Dirgan menunjuk kursi panjang yang tersedia di depan koridor apotek.
__ADS_1
Bintang mengangguk cepat dengan senyum tipisnya.
Tak ingin lama lama, Dirgan bergegas masuk ke apotek untuk membeli obat luka yang di butuhkannya.
Sementara Bintang langsung duduk manis seraya meneliti keadaan sekitar.
""Apa aku lama? "" Tanya Dirgan dengan plastik kecil putih di tangannya, pria itu langsung duduk di sisi Bintang. mengeluarkan isi dari plastik tersebut.
""Tidak, tapi buat apa perban dan obat merah itu?"" Bingung Bintang.
""Buat apa lagi ? aku akan mengobati luka mu gadis kuat ? lihatlah ?""
Dirgan langsung menarik lembut tangan Bintang, membuka perban lama dengan teliti dan hati-hati lembut, ia melakukan step by step mengobatinya.
Bintang menurut manis, tanpa sadar bibirnya pun tersungging manis, ia menatap lekat wajah Dirgan yang sedang serius membolak balikan tangannya.
Dirgan selalu baik dan perhatian kepadanya. apa kah ini perhatian sahabat atau perhatian cinta untuknya ? semenjak Nata melontarkan pertanyaan teka teki di Cafe tadi, Bintang menaruh curiga terhadap Dirgan ke dirinya.
Tapi kan.... Dirgan dari orok juga sudah sayaaaaang dan perhatian kepadanya, dan itu perhatian sahabat bukan perhatian cinta, pikir Bintang. gadis itupun menggubris pikiran bingungnya, lagian saat ini ada Aksa yang harus ia pikirkan, Bagaimana caranya agar ia terlepas dari ketidak berdayaannya terhadap masalah kartu As yang di pegang oleh Aksa, si tukang paksa itu.
Aaah.. Ingin sekali ia kabur jika harus memikirkan masalah Aksa, Aksa membuatnya tidak tenang, hidupnya seakan di kekang, caranya sangat salah terhadapnya. memaksa bukan lah hal baik dalam hubungan, justru pemaksaan akan menimbulkan kemuakan hati yang entah kapan pastinya akan di muntahkan keluar sebersih bersihnya.
""aaah.. tidak, aku sedang memperhatikan wajah mu, yang semakin hari semakin jelek."" kilahnya.
""Begitu ? aku kira wajah ku itu bertambah tampan lho, lihat saja cewek bohay di sana."" Dirgan menunjuk seorang wanita di sisi koridor apotek menggunakan dagunya. "" Sedari tadi wanita itu mencuri curi pandang ke arah ku.""
Bintang menengok kebelakang sekilas, benar ada wanita yang sedang memperhatikan mereka. ia pun kembali menatap Dirgan dengan gelengan kepala di akhirnya.
""dasar mata bohay."" Umpat Bintang terang terangan. Dirgan tertawa kecil.
""Asumsi ku salah besar."" celetuk Bintang.
""Asumsi apa ? "" Dirgan menaikkan satu alisnya.
""Tidak ada ?"" kelitnya. ""ayo ajak aku bermain malam ini ?""pinta Bintang.
__ADS_1
""Bermain ?"" otak Dirgan koslet mendengar kata main di waktu malam begini, apakah maksud Bintang bermain yang itu...
""kenapa melongo begitu ? tutup mulut mu, entar ada nyamuk malam yang masuk."" Bintang mengatupkan mulut Dirgan yang menatapnya tak berkedip.
""Otak mu jangan omes., maksud ku bermain di sana."" Bintang dengan antusias menunjuk jauh ke atas langit, bukan... Bintang menunjuk ke arah cahaya lampu sorot yang tembus naik di kegelapan malam.
""itu tem----?""
""itu kayanya festival pasar malam."" potong Bintang.
Dirgan tersenyum geli, ia pun menggeleng membuang otak omesnya.
""Ayo, kita habiskan malam ini untuk bermain."" Dirgan beranjak dari duduknya, menarik lembut tangan Bintang menuju mogenya.
""Asyik.."" Antusias Bintang tanpa sadar membalas genggaman tangan Dirgan dengan erat.
Mereka sudah sampai di parkiran, Tangan mereka pun tanpa sadar saling terlepas, Dirgan dengan cepat membuka jaket kulitnya dan langsung memasang kan ke tubuh Bintang.
Bintang spontan mematung tak bersuara, Gadis itu hanya menatap Dirgan menggunakan ekor matanya.
"" Siap."" ucap Dirgan setelah menutup Zipper bagian depan tubuh Bintang. ""Biar jangan masuk angin."" Lanjut Dirgan mengacak acak lembut rambut Bintang.
""Kalau seperti ini terus, hati ku yang kosong bisa kamu isi, pria mata bohay."" batin Bintang seraya melempar senyum manisnya.
""Kamu hari ini terlalu banyak makan makanan manis, sampai senyum pun tertular manis."" Goda Dirgan menyentil lembut bibir mungil Bintang.
""Yaaak.."" Bintang memanyunkan bibirnya beberapa senti yang tadinya tersenyum manis. "" kamu seharusnya dapat bibir cemberut dari ku, pria bohay."" Lanjutnya mencibik.
""Apa pun itu aku terima lapang dada."" sahut Dirgan penuh maksud.
""Ayo berangkat, jangan sampai festival malam keburu tutup, jika itu terjadi maka kamu akan merengek terus seperti anak kecil."" Ledek Dirgan.
""yaak..mana ada begitu, aku tidak pernah merengek kepada mu, aku hanya memaksa mu sedikit."" Bintang menunjukkan ujung jarinya ke hadapan wajah Dirgan seraya menekan akhir kalimatnya.
""ya..ya.. terserah, merengek dan memaksa hanya berbeda tipis."" malas Dirgan. ia pun segera memasang helmnya sebelum Bintang berkicau seperti burung beo milik mamanya, Fina.
__ADS_1
Bersambung...
Vote....Vote...Vote...!