
""Aku ingin kita menikah."" Tekan Aksa dengan Seringainya.
Buuuuummmm....
Seperti bom atom yang di lemparkan Aksa kepadanya mendengar penuturan itu.
Semua wanita mendambakan ajakan manis itu, tapi..... tidak dengannya saat ini apalagi harus menikah dengan Aksa yang semakin lama semakin menjadi jadi ke egoisannya mementingkan keinginannya tanpa harus melihat di sisi pihak Bintang sendiri.
Bintang mau menikah! Namun ia mau menikah bersama orang yang benar benar mencintainya, menghargainya, menerima apa adanya, tidak memaksakan kehendaknya, serta Bintang mendambakan ketulusan bukan kekangan dari calon suaminya. ia tidak menemukan sifat itu di diri Aksa yang sekarang, beda dengan Aksa yang remaja di kala itu, Aksa yang dulu terlihat mempunyai cinta yang tulus, sekarang Aksa dewasa terlihat adanya Obsesi bukan cinta kepadanya.
""Aku tidak mau."" tolak Bintang cepat.
""Aku tidak menerima penolakan."" Tajam Aksa seraya berdiri di hadapan Bintang sehingga mata itu saling memancarkan ketajamannya.
""Dan Aku tidak menerima pemaksaan."" Tantang Bintang dengan sinis.
""ini bukan permintaan tapi perintah, mau tidak mau harus siap dan setuju."" Aksa tak mau kalah.
""Aku tidak mau."" kekeuh Bintang.
""Harus mau dan harus iya."" keras kepala Aksa.
""Aksa...arrhgg, aku tidak mau...aku tidak mau.. aku tidak mau."" Tolak Bintang berkali kali dengan suara keras di hadapan Aksa.
""Bagaimana kalau kita bermain ini."" Aksa mengeluarkan benda pipinya dengan seringai liciknya.
Bintang memincingkan matanya kelayar yang sedang di goyang goyang kan Aksa tepat di depan matanya.
""Damn, menjijikkan, licik, jahat."" Umpat Bintang dengan berteriak di depan wajah Aksa.
Aksa hanya tersenyum misterius dapat umpatan kasar dari Bintang.
""kamu selalu memerasku dengan menggunakan foto yang tidak senonoh, Aksa."" marah Bintang. Bintang ingin merebut smartphone Aksa namun dengan cepat pria itu menghindarinya.
""Kartu As-ku akan menyebar luas, kalau kamu menolak ku untuk menikah."" Licik Aksa yang menggunakan foto muslihat Bintang lagi.
""Sini."" Bintang berniat merebut smartphone milik Aksa yang sekarang di umpatin ke belakang tubuh kekar Aksa.
__ADS_1
""aku akan menghancurkan benda sialan itu."" Lanjutnya.
Aksa tersenyum remeh. ""Tidak akan bisa, walaupun ini sudah di hapus, tapi aku masih punya salinannya yang lain."" Jelas Aksa
Seketika Bintang langsung berhenti meraih ponsel sialan itu.
""Kamu."" tunjuk Bintang di depan wajah Aksa. ""Tidak mencintai ku."" Tekan Bintang.
""Salah."" Aksa menangkap tangan kurang ajar Bintang yang mengudara. ""Justru aku sangat mencintaimu."" Sungging Aksa.
""Benarkah ?"" Bintang menyentak kan tangannya yang di genggam oleh Aksa. ""cara mu sangat salah, itu bukan cinta tapi Obsesi."" Jelas Bintang.
""Aku tidak perduli, yang aku perduli kan adalah kamu dan aku menikah secepatnya."" Seringai Aksa.
Bintang dengan geram malah lebih maju kehadapan Aksa yang sebenarnya sudah sangat dekat, posisinya sekarang hanya satu jengkal.
""Aku tidak mau menikah. titik."" tekan Bintang berulang ulang lalu mundur dari hadapan Aksa.
""Baiklah, jangan salah kan aku, jika....."" Aksa masih mengancam akan menyebar luaskan Fofo foto panas Bintang.
""Satu, aku akan menghitung sampai tiga, jika kamu tidak merubah keputusan mu, maka foto ini......"" Aksa siap menekan tombol enter.
""Dua.."" Serius Aksa.
Bintang malah menenggelamkan wajahnya di atas meja, memejamkan matanya seraya mengingat wajah papa dan mamanya, jika foto itu menyebar maka repotasi Keluarganya akan tercoreng, tapi kalau ia menerima pemaksaan Aksa maka kebebasannya yang akan di pertaruhkan. Jadi....
""Ti----?""
""Ok..ok..aku kalah."" ucap Bintang terpaksa dengan wajah masih terbenam di atas meja.
Sebagai anak yang baik, Bintang tidak mau membawa nama keluarganya malu di muka umum dan sangat di pastikan kalau foto itu menyebar bukan hanya keluarga yang hancur tapi orang tuanya pasti akan kecewa besar kepadanya, pikir Bintang, lebih baik hidup pribadinya saja yang akan di pertaruhkan dari pada hidup seluruh keluarganya yang akan di permalukan
hidup itu misterius, tidak ada yang tahu kedepannya seperti apa ? Bintang akan mencoba mempertaruhkan masa depan hidupnya, pernikahan apa kah yang menunggu di dalam sana? hubungan yang di dasari pemaksaan akan sampai di mana ? bahagia, apa hancur berkeping keping.?
Aksa menyeringai penuh kemenangan seraya mendekat ke Bintang yang masih tertunduk, mengusap rambut lurus Bintang dengan lembut.
""Terimakasih."" ucap Aksa tanpa dosa.
__ADS_1
Bintang menarik kepalanya, mendongak ke atas, menatap wajah Aksa dengan wajah yang sudah terlihat frustasi.
""cih, jangan senang dulu, Bintang adalah Bintang jadi jangan harap aku menerima mu dengan lapang dada, kamu sangat suka membuat aku hancur berulang ulang kali, dan ini terakhir kalinya kamu memerasku dengan foto foto sialan itu. aku minta foto foto itu di hapus di depan mataku, maka aku akan menurut, aku tidak mau mengambil resiko lagi jika foto kampret itu masih kamu simpan."" Jelas Bintang.
""Tidak masalah ! tapi setelah kita menikah.!"" licik Aksa yang takut jika foto di hapus sekarang maka Bintang akan mengingkari ucapannya.
Bintang tersenyum meledek tajam. ""Jangan sama kan aku dengan mu yang sering mengingkari janji."" Sindir Bintang
""yaak.."" protes Aksa, ia merasa tidak pernah mengingkari janji.
Bintang berdiri kasar seraya menarik tasnya, menambrak sebelah bahu Aksa yang menghadangi jalannya untuk pergi.
Aksa masih mengulas senyum kemenangan di bibir sensualnya walaupun sudah mendapat tabrakan bahu.
""Satu minggu dari sekarang, kita akan menikah."" ucap Aksa memberhentikan hentakan Bintang yang akan pergi.
""dasar gila, pernikahan kamu anggap mainan ? pernikahan bukan hanya sekedar kita berdua, tapi menghubungkan ke dua keluarga."" Bintang berbalik menghadap Aksa lagi. ""Sampai saat ini, aku belum pernah bertemu dengan keluarga mu, baik mama serta papa mu."" lanjutnya memicing tajam.
Aksa mengeram tertahan mendengar Bintang ingin bertemu Keluarganya. apalagi mendengar kata mama, tangannya spontan terkepal erat dan Bintang tanpa sengaja melihat tangan itu terkepal kuat.
Mata Bintang pun menatap curiga ke wajah Aksa yang terlihat tiba tiba menahan marah.
""Cih, Aneh, aku yang di paksa, wajah mu yang terlihat marah."" lirih Bintang curiga.
""Bunda ku sudah meninggal dan papa ku.... aku tidak janji akan hadir apa tidak."" Jelas Aksa.
""Meninggal ?"" pantas saja dari dulu tidak pernah kelihatan."" Gumam Bintang yang tidak pernah tahu menahu asal usul keluarga Aksa.
""Bilang ke beliau, calon menantu hasil pemaksaan ini minta bertemu."" Songong Bintang penasaran sosok seorang Gunfatur Gilman.
""Aku tidak janji, beliau selalu sibuk."" cemas Aksa yang tidak tahu akan terjadi apa, jika anak dari musuhnya berhadapan sekarang.
""Dasar, Beliau harus mau, aku ingin protes ke dia, bisa bisanya punya anak yang suka memaksa kehendak orang.""" Sinis Bintang dan berbalik menuju pintu, tidak ada gunanya memohon ke Aksa lagi agar hubungan paksaan itu di hentikan, Aksa terlalu keras kepala dan ingin menang sendiri.
""Bin, mau kemana ? ini masih jam kerja.!"" cegat Aksa.
Bintang masih melangkah menuju pintu, persetan dengan kerja hari ini, moodnya sudah hancur.
__ADS_1
""Aku mau menyusul Bunda mu di alam lain, apa kamu mau menitip pesan."" ketus Bintang tanpa menoleh sedikitpun.
""Yaaak.. kasih tahu sana, jika anaknya ini akan membalas penderitaannya dan itu di mulai sebentar lagi, bersiap siaplah."" seringai tajam Aksa yang sudah tersugesti seratus persen oleh bukti bukti kebohongan dari Alex atas perintah Fatur.