
Aksa, Setelah Berbicara singkat dengan Bintang. Pria yang di bawah sugesti Fatur itu langsung pergi dari gudang menuju ke rumah besarnya.
Pernyataan Bintang mengiang ngiang terus, hatinya merasa bingung siapa yang harus di percaya antara papanya atau anak dari musuhnya.
Tak ingin penasaran, Aksa pun berniat Ingin melihat bukti Bintang yang katanya ada di dalam handphone, dan Aksa yakin jika handphone Bintang ada di dalam tas yang terjatuh pas Bintang kabur dari rumahnya. Tapi...Tasnya kemana ? bukannya tas itu tergeletak begitu saja. Apa papanya yang mengambilnya ? Buat apa?
""Bu...Bu Retno."" Teriak Aksa.
Bu Retno yang merasa di panggil datang dari arah dapur dengan cara berlari kecil.
""Iya..Tuan Muda."" Ujarnya.
""Yang beresin pecahan Guci siapa ?"" Tunjuk Aksa ke lantai yang sudah bersih.
""Sa-Saya, Tuan Muda."" Gugup Bu Retno, sebab Tuan Mudanya itu terlihat sedang marah besar.
""Tas wanita berwarna putih apa Bu Retno juga yang menyimpannya ?""
Bu Retno menggeleng. "" Tapi Tuan, saya membersihkan pecahan guci emang tidak ada tas yang terlihat."" Jelasnya.
Mendengar penjelasan Bu Retno, Aksa bergegas menuju ruang kerja papanya, Jika bukan Bu Retno yang menyimpannya, berarti Papanya sendiri. Tapi buat apa papanya mengamankan tas Bintang ? Timbul rasa curiga di benaknya.
Aksa mengerlyatkan mata dan tangannya untuk mencari tas milik Bintang, di rumah ini ! ruangan favorit papanya hanya dua antara kamar dan ruang kerja, Dan jika papanya menyimpan hal yang penting maka orang tuanya itu pasti menaruhnya di ruang kerja.
Aksa sekarang mengacak acak ruangan tersebut, Tak perduli berkas berkas penting papanya yang berhamburan ke luar dari lemari khusus berkas berkas.
Matanya tak sengaja melihat tombol merah yang menempel di balik tumpukan berkas.
""Tombol ? Tombol apa ?"" Aneh Aksa yang tidak pernah melihat tombol mencurigakan di dalam lemari, jika lemari biasa maka tidak mungkin ada tombol aneh seperti itu.
Tangan Aksa gatal untuk memencet tombol merah yang seperti melambai kepadanya.
Tek...Aksa menekan tombol power merah. Namun alangkah terkejutnya saat ada sistem untuk menyuruh menyebutkan nama untuk melewati pengamanan lemari yang mencurigakan di mata Aksa.
Dengan bangga Aksa menyebutkan nama Damian Lionel. Di tolak, Nama salah....Sistem canggih Berbicara kurang ajar ke orang yang sedang marah. dengan Geram pun Aksa melayangkan tinjunya ke tombol merah. Namun lagi lagi terpencet dan menyuruhnya untuk menyebutkan nama.
__ADS_1
Terlintas di otaknya saat Bintang menyebutkan nama asing untuk Papanya. ia pun mencoba.....
""Gunfatur Gilman."" Lantang Aksa.
Ceklek.
Lantai yang di pijar oleh Aksa seketika berputar bersama dengan lemari canggih itu. dengan terkejut Aksa spontan berpegang di salah satu pintu lemari yang terbuka.
""Ruang rahasia...dan nama itu...?"" Mata Aksa terbelalak sempurna. Saat melihat begitu banyak foto orang orang yang sangat di kenalnya terpangpang jelas.
""Keluarga Bintang ?"" Lirihnya. detik kemudian Aksa semakin mempertajam matanya, ternyata ada foto dirinya serta foto sang Bunda. Namun sedihnya, fotonya tertulis 'pion' dan foto keluarga Bintang tertulis 'Mangsa', dan sedihnya semakin memuncak saat melihat jelas Foto Bundanya yang sudah tercoreng dengan spidol merah dengan bertuliskan is dead.
Apa maksud tulisan dan Silangan itu.? tanpa sadar kepalannya mengerat kuat. kecurigaan ke Papanya timbul tersendiri ?
""Aku pion.?"" Aksa tersenyum miris ternyata ia baru sadar bahwa dirinya hanya sebatas alat untuk melangsungkan rencana pembalasan dendam.
Mata Aksa kembali mengerlyat. ada tas Bintang di atas meja. dengan cepat ia mengeluarkan isi tas Bintang.
""Ais...kenapa malah mati.!"" rutuknya. Namun tak ingin menyerah Aksa membuka smartphone Bintang untuk mengambil memori card dan langsung menghubungkan ke layar laptop yang sudah tersedia di atas meja.
""Ini apa."" Saat Aksa ingin mengangkat alat perekam suara, ia tidak sengaja menekan tombol On, hatinya langsung tersentuh dan juga tersentak mendengar isi rekaman suara saat memperkenalkan dirinya.
""Garlin..? Ini Suara bundaku?."" Aksa meneteskan air mata haru, walaupun lewat rekaman suara, tapi ia legah bisa mendengar suara yang begitu di rindukan selama hidupnya. Kenapa Papanya begitu tega menyembunyikan rekaman yang tertuju kepadanya, pikir Aksa.
Ya... Garlin memang membuat rekaman suara sebelum melahirkan, Saat itu... Garlin merasakan ada keanehan di hatinya sendiri tapi entah apa itu.....jadi sebelum melahirkan anaknya dan takut jika firasat buruknya terjadi ia pun meninggalkan pesan ke calon anaknya serta pesan untuk Meca, dengan mohon ke Meca agar mau membesarkan anaknya dan mendidiknya agar calon anaknya tidak salah jalan seperti dirinya. Namun rekaman itu jatuh ke pihak fatur selaku ayah dari calon bayi.
""Maafkan aku Meca ?"" Ulang Aksa dari kata kata bundanya.
""aaah...sial, aku sudah salah."" rutuknya ke diri sendiri dengan rasa sesal ke keluarga Meca terutama ke Bintang yang entah bagaimana nasib Bintang sekarang di tangan papanya.
""Bintang.!"" Tanpa melihat bukti yang tertera di memori card Bintang, Aksa langsung bergegas pergi dari ruangan itu, Namun...sebelum lemari berputar sempurna, Aksa kembali memperhatikan Foto keluarga Bintang.
""Om Vero atau Tante Meca."" Lirihnya merasa bingung sasaran utamanya siapa sebab keduanya di tancapkan pisau.
""Gilang dan Bintang...?"" Mata Aksa membelalak bersamaan dengan pintu rahasia berputar sempurna. ekor matanya menangkap tulisan mematikan di sana.
__ADS_1
******
Di Gudang tua....
Keadaan sangat menguntungkan bagi Fatur yang sekarang memegang kendali, Orang licik itu menggunakan Bintang sebagai senjata ampuh untuk mengancam musuhnya dan berhasil semua keluarga Bintang menurut patuh. Dengan licik ia memerintahkan semua keluarga Bintang untuk duduk di kursi yang sudah di siapkan kecuali Vero.
Vero sendiri hanya menurut paksa dan merasa bingung, kenapa dirinya di suruh tetap di tempat dan berdiri di tengah tengah ruangan sedangkan yang lainnya disuruh duduk di kursi dengan kondisi terikat paksa tanpa melawan.
""Mmmmm.."" Bintang meronta ingin melepaskan penutup mulutnya. ""Pergilah, ku mohon."" Batin Bintang menyuruh papanya untuk pergi. Hatinya berkata jika Fatur akan melakukan sesuatu ke papanya.
""Apa kamu ingat tempat ini, Vero ? ini adalah tempat kita dulu berkelahi, aku di ikat di situ.!"" Fatur menunjuk ke tali yang menggantung.
Vero menyeringai tajam. "" Ya, aku sangat ingat dan bodohnya aku di waktu itu, aku tidak membunuh mu saja."" Sesalnya. pikir Vero kalau di waktu itu ia membunuh Fatur maka kejadian ini tidak akan terjadi.
""Hahaha... harusnya seperti itu."" Ejek Fatur. ""Dan sepertinya roda memang berputar, Vero. Sekarang sebentar lagi...."" Fatur menjeda. ia mengode anak buahnya untuk segera mengikat Vero dengan keadaan berdiri.
""Jangan sentuh aku."" tunjuk Vero ke anak buah Fatur. bodyguard Fatur maju mundur.
""Jangan melawan Vero atau aku akan mengaktifkan tombol bom waktu yang ada di pangkuan Bintang dan Gilang.... boy tampan itu juga akan mati di ruangan lain, Satu tombol tersambung dua bom.."" Lagi lagi Fatur mengancam dengan seringai jahatnya.
Vero pun mengalah demi keselamatan anaknya, sungguh Vero serta keluarga yang lainnya merasa marah dengan keadaan tersudut seperti itu.
Vero sudah terikat berdiri dengan posisi tangan terikat keatas.
""Alex."" Kode Fatur menyuruh Alex untuk menghajar Vero dalam keadaan terikat.
Alex pun mengangguk. ""Aku akan berolahraga dengan samsak bernafas."" Ejeknya yang sudah berada di hadapan Vero.
""Jangan, jangan sakiti suami ku."" Histeris Meca. Gion, Fina, Titan dan Kemal memalingkan wajahnya, tidak sanggup melihat Vero yang sudah di hajar oleh Alex.
Sementara Bintang semakin marah dalam ketidak berdayaannya melihat papa yang begitu di sayangnya di hajar dengan di ikat tak berdaya. Geramnya tertuju ke Aksa yang tidak percaya atas pernyataan yang sebenarnya.
""Ini gara gara kamu, Aksa. keluarga ku di dalam bahaya karena kebodohan mu."" Ucap Bintang dalam hati.
Bersambung....
__ADS_1