
""Dokter Samuel..?"" Wajah Vero terlihat tak sabar ingin mengetahui keadaan anaknya dari Dokter yang bernama Samuel. begitu pun yang lainnya.
Dokter Samuel membungkuk sekilas, sebagai sapaan sopan kepada pemilik rumah sakit tempatnya bekerja.
""Anak Tuan Miller kehilangan banyak darah, tapi kami sudah mengatasinya, operasinya juga lancar, untuk luka tusuknya hampir saja mengenai organ dalamnya, jika pisau itu lebih dalam lagi maka kemungkinan lain bisa melukai organ tertentu dan kondisi pasien akan lebih parah, tapi syukur itu tidak terjadi, Namun maaf..goresan kecil yang di wajah pasien kami tidak bisa mengembalikannya seperti layaknya tidak pernah terluka."" Jelas Dokter Samuel sehati hati mungkin. Dokter itu merasa kasihan dengan wajah cantik Bintang yang banyak goresan goresan kecil bekas pisau.
""Pasien akan di pindahkan ke ruang pemulihan pasca operasi, kalau begitu saya permisi."" Timpalnya pamit.
""Dok, anak saya kapan sadarnya.?"" Tanya Meca menghentikan langkah Dokter itu.
""Tergantung kondisi pasien, Nyonya ! kedepannya saya akan memantau terus.!"" Sahutnya. Meca dan lainnya mengangguk paham.
Mata semua tertuju ke Dirgan lagi, perihal wajah mulus Bintang terdapat goresan bekas pisau. Seberapa kejam Justien menyiksa Bintang ? sehingga wajah cantik itu pun menjadi sasaran? apa Justien benar benar mau membunuh Bintang ? begitu kejinya dia, pikir mereka.
""Maaf kan aku."" Dirgan yang di tatap seperti itu hanya bisa menunduk dalam, ia lagi lagi merutuki dirinya sendiri yang tidak bisa datang lebih awal untuk membantu Bintang. jika saja, sejak kepergian Bintang dari rumahnya, ia langsung mengikutinya maka kejadian ini tidak akan terjadi. Sesalnya menyalahkan diri sendiri.
Vero mendekati Dirgan yang menyender di tembok, ""Tidak..kamu tidak salah, Justru Om, berterima kasih kepada mu, jangan pernah menyalahkan dirimu, ini bukan salah mu."" Tepuk Vero di bahu Dirgan.
Dirgan mengangguk pelan, tersenyum paksa sebagai sahutannya.
Sementara Biru yang tenang sedari tadi, terlihat berjalan mundur ingin pergi dari rumah sakit, Wajah yang tenang selayaknya kolam renang yang belum tersentuh ternyata bisa menenggelamkan orang, Begitu lah sifat Biru. ia ingin diam diam turun tangan untuk menangkap si pelaku.
Vane menyadari pergerakan mundur anaknya. ""Biru..mau kemana.?"" Tanyanya.
Biru terhenti dengan wajah datarnya. ""Aku mau nyari keringat dulu, Ma. di sini terlalu dingin."" sahutnya. lalu berlalu pergi tanpa bersembunyi lagi.
""Boy...hati hati.."" Hanya Titan yang tahu maksud dari keringat tersebut. "" Aku percaya kepada mu, jagoan ku."" Batinnya memandang punggung Biru yang semakin menjauh dari matanya.
""Maksudnya.."" Vane yang berdiri di samping suaminya menautkan alisnya meminta penjelasan dengan kata hati-hati.
""Tidak ada.!"" Titan hanya tersenyum simpul ke arah istrinya. ia yakin jika menjelaskannya pasti istri Manjanya menjadi panik, bahkan melebihi syoknya Meca, mungkin.
__ADS_1
Ruang operasi terbuka kembali, di susul beberapa suster keluar yang mendorong brankar Bintang untuk di pindahkan ke ruangan pemulihan pasca operasi.
""Suster..aku Bantu.."" Vero ikut mendorong brangkar itu, memori menyakitkan itu kembali, ia mengingat di kala dulu Meca yang berada di brangkar tersebut, Sesak dan sakit, Bukan istri, sekarang anak tercintanya yang terbaring karena ulah seseorang yang tidak bertanggung jawab.
Sementara Meca yang menitihkan air mata terlihat di apit berjalan oleh sahabat dan adik iparnya, Fina dan Vane.
""Sabar ya..Kaka ipar."" ucap Vane.
""Eum... Bintang itu anak kuat, galak, tidak mungkin dia kenapa kenapa? jika anakmu nakal maka aku yang akan menghajarnya."" Fina menenangkan Meca di sela langkahnya dengan cara bar barnya.
""Beo.."" Panggil Gion, Fina berhenti dan membiarkan Vane untuk menemani Meca.
""Eum Apa.?""
""Aku akan pergi, rekan ku sudah memberi kabar tentang jejak Justien dan teman temannya, dan rekan ku juga memberi laporan jika keponakan kita yang menangkap duluan dan menghajar Justien sampai babak lebur.""
""Ponakan? maksud mu si Brownies, Biru?"" pekik Fina.
Gion mengangguk membetulkan, setelah mengecup hangat istrinya, Gion pergi dengan langkah terburu-buru. ia takut kalau Biru malah menghajar Justien sampai mati.
****
Ke esokan harinya, tepat pukul tujuh pagi.
Bintang membuka mata kucingnya dengan perlahan, ia baru sadar sehabis pasca operasi.
""Bin.. kamu sudah sadar.."" pekik lega Dirgan yang pertama melihat Bintang membuka matanya.
Semua orang yang ada didalam ruangan langsung berhambur mendekat ke sisi bed, kiri kanan. Bahkan Morgan juga terlihat di sana. mantan Bintang itu dapat info dari Gilang, semalaman Morgan menelpon Bintang tapi tidak tersambung, jadi ia memutuskan untuk menelpon rumahnya saja.dan alhasil dapat info mengejutkan.
Semalaman tidak ada yang pulang kerumah masing-masing, padahal Vero sudah mengusir mereka, tapi dengan keras kepala mereka ingin menunggu Bintang, Vero hanya pasrah seraya bersyukur mempunyai kerabat yang mau menemani di saat keluarga kecilnya terkena musibah.
__ADS_1
""Sayang..."" Meca membelai lembut pucuk kepala Bintang. Bintang tersenyum lemah.
""Ma.."" rengeknya
""Bin...maaf kan aku."" Sesal Dirgan.
Bintang menggeleng kecil. "" Bodoh...kenapa harus minta maaf, sini aku pukul."" suara Bintang terdengar parau lemah.
Dirgan melempar senyum legahnya. bersyukur, ia akan mendapat enteng tangan lagi dari sahabatnya.
""Sweetie... cepat pulih.."" Morgan tersenyum hangat.
""eum.. pasti."" sahut Bintang.
""Jangan terlalu banyak bergerak dan berbicara dulu, sayang. Perutmu tidak boleh mendapat tekanan sekecil apapun dulu, Papa takut jahitannya akan terbuka.""
Vero berbicara ke Bintang, tapi matanya seolah menyindir kerabatnya, yang akan siap melempar pertanyaan demi pertanyaan ke Bintang.
""Mulai deh, jadi orang nyebelin."" Sindir terang terangan Titan. Vero cuek pura pura budek.
""Kalian pulang lah dulu, cium deh masing-masing badan kalian, pasti bau."" usir Vero secara halus tak kecuali Meca, Tapi sebenarnya di hatinya merasa terharu ke semua kerabatnya.
""Yaaak..ngusir, dari semalam itu melulu maksudnya."" Dengus Fina.
Bintang meneliti satu persatu orang yang sudah mengkhawatirkan dirinya, Sedari sebelum tragedi terjadi, otaknya di penuhi pertanyaan tentang Aksa.
Kemana Aksa ? kenapa Aksa tidak datang ke taman tersebut? bahkan dirinya mendapat musibah, batang hidung kekasihnya tidak terlihat.? Bukannya kemarin kemarin Aksa tidak mau jauh dari nya satu hari pun, tapi ini..? Morgan saja sebagai Mantan terlihat khawatir mencemaskan dirinya.? tapi Aksa... kenapa? Apa kekasihnya itu dalam kesusahan ? atau Aksa cuma berpura pura cinta kepadanya selama ini.? Aksa ternyata cuma memanfaatkan dirinya, setelah lulus dan tidak butuh pelatihan belajar bersamanya, Aksa main pergi saja tanpa permisi. miris sekali... perjalanan Cinta nya tidak pernah mulus sampai sekarang.
Bintang berkecamuk sendiri, pertanyaan serta perasaan penilaian negatif tentang Aksa terlintas begitu saja.
""Kalian semua pergilah, pasti kalian capek ! Terimakasih sudah perhatian kepada ku, Aku sayang kalian.!"" Bintang menatap satu persatu semua orang termasuk papa dan mamanya.
__ADS_1
Semua orang mengerti, pikir mereka, Bintang butuh istirahat, tidak boleh mendapat tekanan di perut, walaupun hanya sekedar berbicara, lukanya pasti sakit.
""Kecuali Dirgan."" Lanjutnya..