
Setelah menunggu beberapa menit, Dokter yang di telpon Aksa sudah sampai dan langsung memeriksa keadaan Bintang atas perintah dari Aksa yang terlihat panik.
""Bagaimana dok? kenapa dia bisa pingsan ? apa dia sakit ? tapi suhu tubuhnya tidak panas.? Cerewet Aksa langsung menghujami pertanyaan setelah dokter itu selesai dalam tugasnya.
Dokter paruh baya tersebut menarik nafas panjang sebelum menjawab pertanyaan beruntung Aksa.
""Sekretaris anda memang tidak demam tuan muda, tidak juga sakit parah, hanya saja kondisi tubuhnya tidak stabil, detak jantungnya juga tidak normal, apa sebelumnya sekretaris anda mendapatkan guncangan mental, atau hal lainnya, itu semua bisa mempengaruhi fisiknya melemah dan mengakibatkan pingsan mendadak."" Jelas Dokter.
Aksa terdiam mencerna perkataan dokter pribadinya, di dalam hatinya yang paling dalam, ia merutuki kelakuannya yang menyebabkan Bintang terguncang.
""ini resep obat yang harus tuan muda tebus."" Sang Dokter menjulurkan secarik kertas untuk Aksa.
""semoga karyawan tuan muda lekas sembuh, dan tolong pastikan dia meminum obatnya, kalau sudah tidak ada pertanyaan lagi, saya undur diri."" pamitnya dengan sopan.
""Silahkan dan terimakasih."" sahut Aksa seraya menggiring dokter itu keluar dari kamar pribadinya.
""Tuan muda."" Sapa seorang wanita paruh baya yang terlihat memakai baju maid.
Aksa menghentikan langkahnya yang ingin kembali ke kamar pribadinya.
""Ini baju yang anda pesan."" Lanjutnya menyodorkan paper bag berwarna coklat ke Aksa.
""Terimakasih."" Aksa tidak menyambut paper bag tersebut. ""Ikut aku, ada lagi satu tugas untuk mu."" Titahnya, lalu berjalan menujuh di mana Bintang yang lagi tidur tidak sadar..
Pelayan yang dari rumahnya pun mengekor dengan banyak pertanyaan yang muncul tertahan, Kenapa majikannya menyuruhnya ke kantor, buat apa pakaian wanita yang di bawahnya, seingatnya ia tidak pernah tahu kalau tuannya mempunyai keluarga wanita.
""Tuan muda, Nona ini sama persis dengan foto yang ada di dalam kamar anda."" Ceplos sang pelayan yang sering di sebut oleh Aksa dengan nama Bu Retno, sekaligus pelayan setia Aksa dari kecil.
__ADS_1
""eum..benar, apa bu Retno lupa namanya, dia itu Bintang yang dulu, Bu Retno kan sering membuat minuman untuk dia di rumah lama."" Aksa sangat merindukan Bintang yang welcome kepadanya.
Bu Retno kembali meneliti wajah Bintang dengan senyum hangat yang terlukis di bibirnya.
""Nona Bintang kenapa bisa tidur di sini? apa dia sakit."" Tanya Bu Retno, wanita paruh baya tersebut sudah menganggap Aksa sebagai anaknya sendiri.
""Pingsan, dia pingsan karena ulah ku, dan aku takut setelah sadar nanti dia akan pergi jauh dariku, jadi aku minta ke Bu Retno tolong buka pakaiannya lalu tutup tubuh polosnya dengan selimut sampai batas di atas dada."" Jelas Aksa akan memulai rencana tipu muslihatnya agar Bintang tidak lepas dari genggamannya, walaupun Bintang menerimanya dengan terpaksa.
Mata tua pelayan Aksa membulat sempurna, mendengar titah Aksa, otak kosletnya pun tertuju ke bau bau yang mesum.
""Ma-ma- maksud tu---""
""Jangan pikir yang tidak tidak, cepat lakukan saja, aku tidak sebejat itu Bu Retno, aku hanya melakukan tipu muslihat agar Bintang tidak pergi jauh dariku."" jelasnya dengan mata sendu untuk meyakinkan Bu Retno.
Bu Retno hanya mengangguk pasrah, tapi di dalam hatinya, ia tidak tega dengan Bintang yang akan mendapat masalah setelah ini.
""Apa boleh saya memb---""
Aksa tahu kalau Bu Retno akan memberinya petua karena jalannya yang salah, ia akan melakukan apapun agar Bintang tidak pergi meninggalkannya.
""Maaf, Nona Bintang, aku tidak punya keberanian untuk melawan tuan ku, tapi percayalah dia melakukan ini karena tuan Aksa sangat mencintai anda, hanya caranya saja yang salah dalam bertindak dan aku pun tidak tahu apa yang sedang di rencanakannya, dan aku hanya berdoa supaya tuan Aksa tidak mengambil mahkota mu ."" Batin Bu Retno sedih.
Bu Retno dengan patuh melepas satu persatu pakaian Bintang, hanya pakaian dalamnya saja yang tersisa, dengan mata perih Bu Retno langsung menutup tubuh setengah polos itu sampai di atas dada supaya belahan gunung kembar Bintang tidak terekspos, yang bisa bahaya jika Aksa melihatnya. sebagai sesama wanita, Bu Retno merasakan hatinya terisis, membayangkan kalau anaknya atau dirinya yang di perlakukan seperti itu. Tapi apa boleh buat dirinya hanya seorang pelayan setia yang harus patuh dengan majikannya.
Setelah melakukan tugasnya, Bu Retno pun keluar menemui Aksa yang sedang duduk tertunduk di kursi kebesarannya.
""Tuan Aksa."" Panggilnya.
__ADS_1
Aksa mendongak.
""Sudah ?"" tanya Aksa.
Bu Retno mengangguk lemas. ""Sudah tuan?""
Aksa dengan cepat beranjak dari duduknya.
""Ayo ikut aku ke dalam."" Titah Aksa, ia malah menyuruh Bu Retno ikut bersamanya.
""Ais.. aku, aku juga ikut ! apa tuan muda ingin aku menonton aksi panasnya. apa sih yang di rencanakannya.?"" Batin Bu Retno frustasi masih terdiam di tempatnya padahal Aksa sudah di ambang pintu kamar pribadinya.
""Bu Retno."" panggil Aksa dengan sedikit membentak.
""A a aku. eh i i iya, tuan muda."" Gagap Bu Retno lalu dengan cepat mengikuti keinginan Aksa.
""Astaga, tenang saja Bu, Aku tidak akan berbuat mesum, kalau aku mau melakukan itu bersama Bintang maka tidak mungkin aku memanggil Bu Retno kesini."" Aksa seperti tahu isi pikiran Bu Retno.
""Gila saja, kalau aku melakukan itu, terus dengan bodohnya aku menyuruh orang untuk menonton, tch, dasar."" Batin Aksa, ia malah kesal sendiri dengan pemikiran pelayannya.
Dengan langkah berat Bu Retno pun mengekor Aksa masuk ke kamar itu. Matanya semakin membulat melotot, mulut yang tadinya terkunci kini ikutan mangap mangap di kala Aksa membuka Jas serta membuka kancing kemejanya satu persatu dan dengan santainya tuan mudanya itu melepas kemejanya sehingga dada serta perut atletisnya terekspos, untungnya cuma baju yang di lepas kalau sampai pakaian bawahnya pun di lepas maka Bu Retno akan kabur sebelum melakukan tugasnya.
""Tu-tu-tuan."" gagap Bu Retno.
""Diam, dan ambil ini."" Aksa memberikan sebuah kamera ke Bu Retno.
""Bu-Bu-Buat apa, tuan muda ?"" Bu Retno sudah menebak nebak kalau ia akan di suruh merekam aksi panas tuannya, sungguh ia jadi malu sendiri kalau itu terjadi.
__ADS_1
Aksa memasang lakban hitam di kedua matanya supaya mata nakalnya tertutup dan tidak melihat tubuh polos Bintang kalau ia membuka selimut tersebut.
Bu Retno semakin pusing dan Bingung melihat apa yang di lakukan majikannya. saat ini, ia hanya bisa berpura pura menulikan mata tuanya.