
Bintang meneliti kamar Dirgan yang masih terlihat sama dari dulu, tidak ada yang berubah sama sekali, Foto foto dirinya bersama dengan Dirgan masih terpajang indah di dinding tembok. Sunggingan manis tak sadar terlukis begitu saja di bibir mungilnya.
""Cih, apa yang aku pikirkan, kata Dirgan hanya omong kosong doang, dia tidak mencintai ku, G-R amat sih Bintang."" Bintang menoyor kepala sendiri dari arah samping, untuk membuang pikiran PD-nya, ia pun melanjutkan niatnya mencari sketsa wajah wanita cantik misterius.
Bintang mencari di meja khusus buat belajar Dirgan, membuka laci demi laci, Namun...
""Tidak ada.."" ujarnya.
Bintang menggirlya tangan lembutnya di rak rak buku Dirgan. Bukan sketsa wajah yang ia temukan tapi sketsa Moge. Rupanya Dirgan bercita cita memodifikasi motor motor dengan rancangannya sendiri. Begitu banyak sketsa motor yang di gambar oleh Dirgan dan ada satu seketsa yang terbalik yang mempunyai tulisan sendiri dari sketsa lainnya.
""Moge istimewa."" Bintang membaca tulisan itu, ia pun meraih dan langsung membaliknya.
Dan... Bintang terbelalak saat tahu isi sketsa tersebut bukan Moge melainkan wajahnya sendiri yang sedang tersenyum manis.
""Astaga Dirgan, Aku di pikir Moge."" Bintang menggeleng geli, dengan senyum tulus yang merekah. Entah kenapa, walaupun Dirgan tidak ada di hadapannya, ia selalu tersenyum saja seperti layaknya orang gila yang tidak ada bahan di senyumin tapi tersenyum sendiri.
""Ayo... lagi apa ? Senyum gaje begitu."" Suara Fina yang baru masuk memupuskan senyuman gajenya.
Fina, Wanita paruh baya itu rupanya belum berubah, masih pencinta beo, sudah terlihat di mata Bintang, jika tantenya lagi membawa biji bijian untuk sarapan sang Beo yang terkurung di sangkar besi yang tergelantung kuat di luar balkon.
""Hai Tan."" Bintang merapikan kembali sketsa berharga Dirgan.
""Hay sayang, sedang apa ? apa ada yang bisa Tante kerenmu ini bantu, kapan kamu baliknya ? kenapa tidak sekalian mengajak anak Tante ? Tante rindu, sini aku peluk."" cerewet Fina, setelah menaruh biji bijian beo, ia merentangkan tangan, Wanita beo itu masih terlihat manis walaupun ada sedikit garis halus yang timbul di wajahnya.
Tanpa menjawab kecerewetan Fina, Bintang berhambur masuk ke dekapan sahabat mamanya yang sudah seperti mamanya sendiri.
""Tante sudah tua ternyata."" Songong Bintang menggoda.
""Aih... dasar ! anak kurang ajar, kamu seperti mama mu yang ingin mencari masalah dengan ku."" Fina melepaskan pelukannya.
Bukan kemarahan di raut wajah Fina, malah senyum merekah yang tersirat setelah berucap.
""Kan anaknya Tan.""
__ADS_1
""iya, Mama mu itu minta di tabok sekarang, dia sibuk melulu di dunia ahli hukumnya sampai lupa bernostalgia dengan Tante, Tante kan jadi bosen."" Fina malah curhat. pikirnya, Bukan Meca yang di dumelin, Bintang anaknya pun jadi.
Bintang cengengesan.
""Ada Tante Vane kan.!"" saran Bintang.
""Wah, jangan sebut adik ipar manja itu, dia lagi sibuk mengurus Biru, Biru lagi membuka cabang perusahaan dan anak brownies itu tinggalnya di apartemen. tidak ada lagi anak muda di sini selain Gilang, tapi Gilang pun tidak asyik, adik mu Hanya sibuk dengan monyetnya."" Uneg uneg Fina terhempas ke Bintang yang jadi sasarannya, Gadis itu pun malah melupakan awal niatnya masuk ke kamar Dirgan.
""Apa hubungannya Biru tinggal di apartemen dengan tante Vane, kenapa tante Vane ikutan sibuk."" penasaran Bintang.
""Biru kan anak manja, apa apa harus di siapkan, seperti baju, makanan atau apapun itu, nah.....Vane tidak rela melepaskan anaknya, dengar dengar sih adik ipar manja itu lagi mencari asisten untuk Biru, tapi Vane sangat pilih pilih di tambah Biru orangnya juga pemilih. Biru dan Vane sama saja sifatnya Manja, entah obat kuat apa yang di minum oleh Titan sehingga bisa kuat hidup lama lama bersama Tante Vane mu.""
""Hust...Tante Fina cerewet amat sih, Biru hanya manja ke keluarga Tan, di luar itu walaupun terlihat manis tapi ada saatnya seperti singa jika di usik."" Bintang membelah sepupunya yang benar adanya jika Biru hanya bisa manja ke Vane saja.
""iya, terserah. kamu kan Sepupunya jadi di belain. tapi ngomong ngomong kamu berniat apa masuk ke kamar Dirgan, apa kamu berniat mencuri.?"" Fina selalu ceplos ceplos.
Bintang memutar bola matanya, jengah.
""Jaauza lagi cari Sketsa yang pernah Dirgan gambarkan."" Jelas Bintang. tidak suka di katain maling oleh Fina, untung saja ia masih ingat sopan santun jika tidak Fina pun kena tangan entengnya. eits... Bintang tidak akan bisa memukul guru bela dirinya sendiri, Fina lah yang pertama membangunkan jiwa bela diri Bintang. Bintang kecil tidak sengaja melihat Fina berlatih menggunakan Samsak dan awal itulah Bintang mulai tertarik.
""Sketsa wanita cantik."" Bintang mulai mengerlyatkan matanya untuk memulai pencarian lagi.
Sementara Fina mulai bingung. ""Apa wanita cantik itu si bohaynya Dirgan."" Fina pun mulai membantu mencari, tanpa sadar Mak dari Dirgan itu malah memberantakan isi kamar anaknya.
Bintang menggeleng. ""Bukan Tan, tapi wanita misterius yang pernah masuk ke mimpi Jaauza. dan entah kenapa aku penasaran ingin menyamakan foto yang ku temukan di ruangan kerja Mama.""
""Wanita misterius, aneh ?"" Fina semakin bingung tanpa Ingin bertanya lagi, ia kembali membantu Bintang, penasarannya akan terobati jika sketsa itu ketemu, pikirnya.
Semua isi kamar sudah di jabah tanpa ada yang tertinggal. Bintang dan Fina yang sudah capek malah membanting bokongnya ke kasur Dirgan.
""Tan, capek.!"" keluh Bintang.
""Apa lagi tante, ini Tante sudah mulai kerasa, lupa minum obat."" Fina memegangi pinggangnya.
__ADS_1
""Hahaha...Tante sudah tua sih, jadi penyakit enjok menggorogoti."" Bintang terbahak saat melihat Fina memijit pelan pinggangnya.
Plak....
Fina menggeprak lengan Bintang. ""Tante memang sudah tua.!"" Cengir Fina.
""Yaak.."" protes Bintang. ""nyadar tua tapi malah menggeprak."" lanjutnya dengan sangat lirih.
""Kira kira Dirgan menaruhnya di mana ya Tan, apa sudah di buang kali yah."" Tanya Bintang, ia sudah menyerah, tubuhnya pun di rebahkan ke kasur empuk Dirgan dengan dua tangannya di jadikan bantalan seraya menatap langit langit.
Fina langsung mengingat sesuatu mendengar kata membuang, ia pernah memindahkan satu kardus yang berisikan buku buku Dirgan ke dalam gudang penyimpanan barang barang.
""Mungkin di kardus yang tante simpen kali Bin. ayo..."" Tarik kuat Fina di tangan Bintang sehingga kepala Bintang yang ketempu seketika ikut terseret.
""iish..Tante."" cibiknya cemberut.
""Kemana sih."" Lanjutnya.
"" Ke gudang, ayo."" Tarik Fina lagi.
""aah... tidak... tidak.. Saya benci yang namanya gudang."" Trauma Bintang yang berbau bau ruangan pengak, debu, dan pastinya gelap. itu kesimpulan Bintang yang berbau bau kata gudang.
""Dasar gadis nyebelin, Gudang Tante tuh bersih dan terang tidak seperti gudang di rumah sakit papa mu yang terbengkalai itu."" Jelas Fina menjeda.
""Yakin.."" sahut Bintang.
""Yakin, paling satu dua ada tikus atau kecoa aja."" Goda Fina.
""yaak..itu namanya kotor, tidak ah, Jaauza tuh masih trauma yang namanya gudang, sana...tante saja yang bawa kesini, Jaauza istirahat dulu."" Bintang kembali rebahan membuat Fina mendengus kesal.
""siapa yang di bantu, siapa yang repot.""Cibik Fina berlalu pergi.
******
__ADS_1
Vote...Vote....vote....