
Malam penuh duka pun berubah hari yang cerah penuh harapan bagi keluarga Gion dan Fina atas kesempatan kesembuhan jantung Dirgan.
Dua hari berlalu pasca kejadian malam itu, Aksa sudah siuman dengan keadaan baik baik saja, Sementara Dirgan dua hari yang lalu di larikan ke rumah sakit khusus saraf Jantung terbaik di luar Negeri atas rekomendasi dokter Jantung relasi Kemal dan Vero yang bekerja di salah satu naungan yayasan rumah sakit Kemal dan Vero yang selalu bekerja sama jika perihal medis.
Tidak ada yang boleh ikut oleh Fina termasuk Bintang untuk menemani Dirgan berobat ke luar Negeri, Entah apa maksud Fina akan hal itu, Tapi.....Niat orang tua itu, selamat atau tidak terselamatkan anaknya maka keluarga kecilnya akan menetap di luar Negeri meninggalkan usahanya di bawah naungan orang kepercayaannya, Gion mendukung saja keputusan istrinya, bahkan Gion rela mengambil cuti panjang dan minta di turunkan kan pangkatnya dikepolisian demi tinggal di luar Negeri bersama istri dan anaknya jika Dirgan benar benar terselamatkan.
Bintang terpaksa menurut tidak ikut menemani Dirgan berobat karena Fina begitu kekeh dan keras kepala, toh Dirgan akan kembali lagi ini setelah sembuh dan Dirgan harus kembali demi Dirinya, pikir Bintang.
Namun....Di sisi lain, tidak ada yang tahu niat keluarga Dirgan bahkan keluarga besar Bintang pun tidak yang tahu jika Fina mempunyai rencana lain demi kelangsungan hidup bahagia anaknya jika Bintang dan Aksa benar benar menikah. pikir Fina, Dirgan akan terluka jika melihat Bintang bahagia bersama orang lain.
Kini Bintang lagi duduk di atas pembatas Balkon dengan kaki di ayun ayun kan di udara tanpa takut jatuh di ketinggian rumahnya seraya memandang pekarangan rumah yang luas tempat dirinya dan Dirgan sering bermain di waktu kecil.
pikirannya melanglang di kenangan kenangan dirinya di masa-masa kecilnya bersama Dirgan.
Dulu.......Di waktu itu...di pekarangan luasnya.
Flashback on.
""Bibin.."" panggil Dirgan kecil dengan suara khas cadelnya seraya berlari menghampiri Bintang kecil yang sedang rebahan di atas selimut yang sengaja di gelarnya di bawah sinar matahari berkhayal itu adalah tikar piknik.
Bintang kecil menoleh ke samping tepat berdirinya Dirgan yang tangannya membawa keranjang berisi makanan manis.
""Bukan Bibin, gagan !"" protesnya "" Tapi. BINTANG atau JAAUZA."" ucapnya membenarkan namanya.
""Aku pun bukan Gagan tapi Dilgan."" Dirgan pun ikut protes tidak terima namanya di panggil tidak benar oleh sahabatnya. Namun Dirinya masih cadel R di bilang L membuat Bintang yang jail Menyeringai.
""Baiklah, Dilgan..!"" Bintang dengan iseng meledek Dirgan kecil yang sengaja di cadelkan padahal dirinya sangat jelas dalam berucap R.
""Bukan Dilgan tapi Dilgan."" Protesnya dengan muka asem ke Bintang ingin menyebut Dirgan namun masih tetap Dilgan.
""iya...Dilgan!."" Lagi lagi Bintang menjahili. Seraya bergeser untuk memberi ruang Dirgan agar rebahan di dekatnya. ""Ayo sini.!"" Tepuknya ke selimut yang di gelar Dirgan sebelum masuk ke rumah sebelah kiri untuk memungut makanan di dalam rumah milik Fina.
Dirgan kecil menggeleng. ""Tidak mau.!"" Dirgan pun menunduk sekilas hanya menaruh keranjang makanan dan kembali berdiri menghadang silau matahari sehingga bayangannya menutupi wajah Bintang.
__ADS_1
""Kenapa ? ini bersih kok, empuk lagi."" Bintang lagi lagi menepuk selimut tebal yang di ambil Dirgan dari kamar Fina.
""Tidak mau, kalau aku duduk atau lebahan, nanti mata kamu akan silau telkena cahaya matahali."" Ucap Dirgan dengan cadel dan penuh perhatian yang tidak mau Bintang merasakan sakit mata akibat cahaya matahari yang begitu silau nan panas di tengah hari bolong.
""Kenapa begitu, aku tidak apa-apa !"" Heran Bintang dengan tingkah sahabatnya.
""Kata siapa tidak apa apa ? lihat tuh mata mu melem melek akibat sinal mentali."" Ucap Dirgan polos dengan wajah perhatiannya.
""Yaelah Gagan,ini cuma silau aku tidak apa apa."" Bintang menarik tubuhnya untuk duduk, menarik ujung baju Dirgan agar sahabatnya ikutan duduk.
Dirgan pun terpaksa duduk yang sedari tadi melindungi Bintang dari panasnya mentari.
""tuh kan, kamu kelingatan."" Dirgan kecil menghapus peluh yang akan menetes dari pelipis Bintang akibat kepanasan.
Bintang tersenyum manis memperlihatkan gigi ompongnya.
""Aku tuh tidak mau kamu kenapa kenapa, aku akan melindungi mu dali apa pun itu, sepelti papa ku, Om Velo, Om Titan dan Om Kemal pada menjaga temannya."" Kata Dirgan kecil, menganggap jika para istri adalah teman layaknya dirinya dan Bintang yang berteman seraya mengeluarkan kue kue manis yang di ambilnya tanpa sepengetahuan Fina. Mereka akan piknik menghayal dirinya dan Bintang sedang berlibur di pesisir pantai.
""Hahaha...Kamu meniru mereka.?"" Bintang terkikik geli. "" Mereka semua kan sudah besar, mereka juga itu pasangan suami istri."" Bintang kecil begitu pintar sehingga sangat mudah mencerna perilaku orang dewasa yang tanpa sengaja di dengar dari ucapan mama papanya.
""Istri, Gagan ? bukan istli?"" Bintang mulai menggoda kecadelan Dirgan lagi.
""iya itu? kamu itu istli ku ! aku akan menjagamu dan melindungi mu dari apa pun itu sampai kita besal seperti Olang olang."" ucap Dirgan.
""Terserah kamu saja."" Malas Bintang kecil meladeni kecadelan dan kepolosan Dirgan padahal mereka sepantaran.
Dirgan tersenyum senang, ia pun kembali menyuapin Bintang dengan kue kue manis ke sukaan Bintang, sesekali dirinya pun menyuapkan makanan ke mulutnya sendiri.
Flashback off.
Bintang tersenyum kecut seraya meneteskan air matanya di kala mengingat tingkah perhatian Dirgan kepadanya.
""Kamu memang selalu menjaga ku Dirgan, aku berharap kamu segera pulih dan kembali di dekat ku, aku merindukan mu."" ujarnya sedih.
__ADS_1
""Bin."" Sedari tadi saat Bintang melamun, Meca berada di belakang anaknya.
Bintang menoleh dengan cepat mengusap air matanya. ""Mama."" Lirihnya.
""Turun sayang, apa kamu ingin mati terjatuh."" Cemas Meca yang takut jika Bintang melamun tanpa sengaja bisa terjatuh.
Bintang menggeleng. ""Tidak akan ma, aku damai duduk di sini. ?"" Tolak Bintang tidak mau turun.
""Baiklah. ""Meca mengalah. iapun berdiri di sisi kanan Bintang.
""Aksa sudah sadar ! apa kamu tidak mau menjenguknya, dan bagaimana nasib perencanaan pernikahan kalian ? bagaimana keadaan mu ?"" Meca masih berpikir jika anaknya benar benar hamil. Namun anehnya, Meca tidak mendapati ciri ciri orang hamil di diri Bintang.
Bintang terdiam berpikir seraya bertanya tanya dalam hatinya masalah pernikahannya bersama Aksa, apa di lanjutkan atau di batalkan saja.?
""Masalah pernikahan aku akan berbicara kepada Aksa jika ia sudah pulih betul, Dan aku akan menjenguk nya nanti setelah ini.!""
Meca mengangguk. "" Apa kamu ingin makan sesuatu ? biasanya orang hamil kan ngidam apa gitu ?""
""Uhuhk..uhuhk.."" Bintang tersedak ludahnya sendiri dengan ucapan Mamanya. ternyata ia lupa menjelaskan jika dirinya tidak hamil.
""Ma.?"" Meca menoleh dengan alis terangkat. ""aku sebenarnya tidak hamil."" Meca terkejut dengan penjelasan Bintang. ""itu hanya akal akalan Aksa yang ingin melancarkan niat buruknya.... entah apa yang akan di lakukan Aksa kepada ku di waktu itu sebelum dirinya mengetahui kebenaran masa lalu kalian, aku pikir Aksa ingin menikahi ku mungkin ia hanya ingin balas dendam ke kalian saja."" Timpalnya menebak. Meca mengangguk membetulkan.
""Jadi bagaimana dengan rencana pernikahan kalian ?. Mungkin Aksa betul betul mencintai mu ?""
""Entah lah, aku akan ke rumah sakit sekarang." Bintang memutar tubuhnya dari atas pembatas Balkon. shap, berloncat tepat di sisi berdirinya Meca.
""apa butuh di temani ?"" Tawar Meca. Bintang menggeleng.
""Aku hanya ingin minta bantuan ke mama, Tolong hubungi rekan papa yang menangani kasus Jantung Dirgan.! Bisa ?"" Meca mengangguk mengiyakan permintaan anaknya.
""Mama akan menghubungi Tante Fina atau Om Gion saja.!"" Ucap Meca.
""Percuma ! tidak ada yang tersambung."" Sedih Bintang kesal sedari tadi ia mencoba menghubungi orang tua Dirgan tapi sepertinya orang tua itu sengaja memutuskan komunikasi.
__ADS_1
Bersambung....