BINTANG (Journey Of Love)

BINTANG (Journey Of Love)
BINTANG 41


__ADS_3

Deras hujan sudah mengguyur jalanan yang di lewati Dirgan dengan kecepatan penuh tanpa takut jatuh di aspal berair, ia mengendarai Mogenya ke arah Taman kota, sebelumnya ia mampir di taman kompleks karena Bintang belum sempat mengatakan keberadaannya dengan pasti hanya 'KO' saja, makanya ia mampir dulu di taman tersebut tapi nihil, berarti Bintang ada di taman Kota. Asumsi Dirgan.


Di atas motor, Pikirannya semakin kalut jika mengingat teriakan samar samar Bintang minta tolong di panggilan tadi. Jika ia Jin atau malaikat, Mungkin sesegera ,ia langsung mengucap mantra supaya dirinya sampai di mana Bintang berada. Tapi sayang, ia tidak mempunyai kemampuan seperti itu, kini hanya doa lah yang ia panjatkan agar Bintang baik baik saja saat ini.


""Bin...kamu baik baik saja kan?"" lirihnya dengan keadaan basah kuyup di atas kendaraannya.


***


"" Pengecut...Banci.. brengsek"" Geram Bintang hanya sekedar itu ke Justien, pergerakannya sangat terbatas sekali, ia merutuki tali yang mengikat tangannya.


Tangan terikat kuat, kaki pun masih di injak. sangat biadab kelakuan Justien tidak memandang jika yang di aniaya adalah seorang perempuan.


""Banci, kamu bilang.?"" Justien melepas injakannya, mencengkeram kuat dagu Bintang, mendekat kan wajahnya ke wajah Bintang, berniat ingin ******* habis bibir yang sudah kurang acar menghinanya.


""Cuih.."" Bintang yang melihat wajah mesum Justien yang sangat dekat, langsung meludahi wajah tampan menjijikkan itu sebelum di ciumnya.


""Menjauh Bodoh..""


""Aiss.."" Justien memalingkan wajahnya, mengusap kotoran yang menempel di wajah yang seakan tak berdosa.


""Lepaskan aku."" Bintang kembali menendang ke arah Justien tapi pria itu menangkap dan menepis langsung dengan kuat sampai tubuh Bintang terhuyung ke samping.


""jangan harap bisa lepas dengan selamat kali ini.""


Justien menaruh pisau ke dalam jaketnya, lalu menghampiri Bintang dengan tatapan lapar penuh nafsu.


""Plaaakk.."" Justien menampar pipi Bintang, menarik lengan baju Bintang sampai sobek.


""Hiks..hiks...."" Tubuh Bintang sudah bergetar hebat, bulir bulir air bening dari matanya semakin deras mengalir membasahi pipinya, penghinaan Justien kali ini membuatnya merasakan ketakutan. ""Tolong, Aku.?!."" Histerisnya.


""Aku suka teriakan dan tangismu, sebentar lagi suara itu akan berubah menjadi desahan yang nikmat di dengar.""


Justien lagi lagi menampar pipi Bintang, serta menyobek paksa baju lengan yang masih utuh.


""Hiks...hiks..hiks.. brengsek, kamu akan mati di tangan ku jika kamu melanjutkan perlakuan menjijikkan itu."" Longlong Bintang seraya mengesotkan bokongnya agar bisa menjauh dari Justien.


""Mati..?"" Justien tersenyum meledek, ia sengaja bermain main sebelum ke intinya, menikmati aksi bejatnya karena tidak ada gangguan dan perlawanan dari gadis galak yang tidak bisa berkutik, alam pun mendukungnya di luar sana, hujan.


Hujan di luar semakin deras, Rico dan Roy mendengus kesal kedinginan yang menunggu Justien tidak keluar keluar, ingin masuk tapi apalah daya, mereka kali ini tidak di ijinkan ikut menikmati seperti korban sebelum-sebelumnya.


""Roy..si Justien pasti lagi kenikmatan dalam lenguhannya bersama Bintang."" Ucap Rico.


""Aiss..pasti.."" sahut Roy. lalu di sambung gelak tawa mereka berdua.


Sementara Dirgan, ia sudah sampai di taman tersebut, mengerlyatkan matanya untuk mencari sosok Bintang di bawa deras hujan.


""Bintang..."" Teriak lantangnya seraya berlari lari di area taman itu.

__ADS_1


Dirgan semakin kalut tak bertepi, ia bertanya tanya sendiri, Apakah Bintang baik baik saja? di mana dia sekarang? apa yang terjadi? kenapa ia minta tolong ? bukannya ia pintar bela diri, seharusnya sahabatnya itu bisa menjaga dirinya kan, dan kenapa Bintang tadi di taman kota dengan kondisi sudah mendung gelap sebelumnya? Apakah Aksa bersamanya? atau...Aksa yang membuat Bintang minta tolong..? ""Aaaaarg.."" ia pusing sendiri.


Langkahnya terhenti saat samar samar mendengar gelak tawa seseorang di sela derasnya hujan, ia kembali mengerlyatkan mata elangnya dari kejahuan ia melihat sosok dua pria yang agak femiliar.


Dirgan mendekat ke arah toilet umum, ingin memastikan itu Roy dan Rico atau hanya orang lain yang sedang berteduh.


""Roy, Rico?!"" panggilnya saat sudah memastikan. kedua pria remaja itu menoleh ke asal suara.


""Dirgan..? Mampus ! ada penolongnya."" kaget Rico berucap tanpa di saring.


Mulut licin Rico membuat Dirgan mengkerut curiga. ia meneliti pintu toilet tersebut yang di jaga oleh kedua cecunguk Justien


""Awas..Aku mau pake toiletnya."" Bohong Dirgan.


""Aaaah...i-i-itu..? toiletnya sedang rusak."" ucap Roy terbata bata.


Dirgan mengkirut menautkan alisnya, tidak mungkin kan, tidak ada yang spesial di dalam sampai ada dua orang yang menjaga pintu toilet umum yang sudah rusak untuk di pakai, Pikirnya.


""Awas.."" Dirgan menerobos ingin masuk, tapi di cegat cepat oleh kedua teman Justien.


Semakin curiga, ia mendorong kuat Rico, lalu menendang kuat Roy sampai keduanya tersingkir dari pintu tersebut.


BRAAAAK...


Tak ingin lama dan tak perduli ia merusak pintu fasilitas umum, Dirgan mendobrak pintu itu dengan sekali hantaman tubuhnya.


wajah cantik Bintang sudah babak belur dengan darah segar keluar dari sudut bibir mungilnya, Hati Dirgan semakin hancur saat melihat baju Bintang sudah terombang-ambing sobek tak berbentuk. Air matanya mengalir begitu saja.


Sontak Justien dan Bintang menoleh cepat ke arah pintu.


""Dirgan.."" Lega Bintang.


""Dirgan.."" Takut Justien.


Bintang dan Justien berucap nama Dirgan serempak.


Bintang bernafas lega saat penolongnya sudah datang, Namun di sela perasaan campur aduknya, ia berharap ada sang kekasih yang datang juga menolongnya karena tidak secara langsung, Aksa lah yang menempatkan dirinya di posisi yang hampir terhina di nodai, untung sang sahabat datang sebelum itu terjadi.


Sementara Justien, pria tampan Jerman itu, merutuki kedua cecunguknya yang gagal menjaga pintu toilet dengan benar, Bisa bisanya Dirgan datang di waktu yang sangat menggangu kesenangannya.


""Justien..Bajingan..""


Dirgan dengan geram langsung naik pitam menghantam kan kekuatan penuhnya ke arah dada Justien.


Justien tersungkur kuat terpental di pojok dinding toilet dengan tangan memegang dadanya yang di serang kuat oleh Dirgan.


Dirgan langsung mencopot jaket basahnya, setelah membantu membuka ikatan tangan Bintang dan langsung menutup tubuh Bintang yang hampir terekspos. tak lupa pelukan menenangkan di daratkannya membelakangi Justien yang masih meringis.

__ADS_1


Justien tidak terima, ia bangun dan ingin membalas Dirgan, Dengan cepat Justien ingin menendang balik punggung kokoh Dirgan dari belakang.


Namun nihil, pergerakan Dirgan lebih cepat dan lebih gesit, Justien hanya menendang angin kosong saja.


Dirgan bergeser menghindar seraya menyeret tubuh menyedihkan Bintang masih dalam dekapannya.


""Bajingan."" Marah Dirgan melepas pelukannya lalu menyerang Justien secara membabi buta..


Bersambung...


WajibπŸ‘‰πŸ˜‰Like.. komen.. bunga bunga, Vote dan rate 🌟 5...


Thanks.. masih setia mengikuti dan menunggu Update-tan dari Novel yang jauh dari kata bagus ini...! Author sedikit Curhat, Boleh yah..😊 Boleh dong..😁.


Maaf ya kaka Kaka para pembaca.. Author ini tidak bisa crazy up ya..di karena kan....




Author punya anak dua yang super dupel Badung..apalagi yang kecil berumur dua tahun lebih, kalau Author megang layar Handphone, Baby ku selalu merebutnya dengan alasan ingin melihat dan mendengar Video cicak cicak di dinding dan Video lucu lainnya. adeeeh.. anak sekarang memang ajaib baru berumur segitu udah ngerti tempat Videonya di mana, dan Author yakin pasti salah satu dari kalian yang punya anak sama seperti Author, rebutan handphone.




Author ingin menghalu lewat layar laptop, Author rebutan dengan anak pertama yang berumur delapan tahun lebih, Author mengalah lagi karena laptop tersebut memang miliknya untuk akses belajar onlinenya. Ok.. Author hanya bisa sabar.




Ingin menghalu di malam hari saat anak anak sudah tidur, eeeh..sang anak kepala tua alias suami tercinta yang mengoceh tidak boleh begadang karena Author juga punya usaha kecil-kecilan di rumah jadi sang suami kadang rewel tidak memperbolehkan Author menulis untuk begadang, jadi sebagai istri yang Soleha, author hanya menurut patuh, itu demi kesehatan juga.




Kalau anak anak pada main atau tidur siang, itu waktu tepat ngehalu sekaligus menjaga tempat usaha kecil-kecilan di rumah, Namun oh.. ternyata..masih kadang ada gangguan seperti, pelanggan hilir mudik datang bergantian, rumah berantakan ulah anak anak di beresin dulu, menghalu encer tiba tiba mendal otaknya..bla..bla.bla..pokoknya banyak amat godaannya, sampai sampai nulis satu Bab Aja butuh beberapa jam karena sering di tunda.




So...Maaf sekali lagi, author tidak bisa Crazy up, dan kepada Kaka Kaka yang meninggal kan komentarnya, author juga minta maaf tidak bisa membalas satu persatu, Tapi Author baca semua komen tersebut dan dijadikan penyemangat untuk menulis Author.


Aiiih..dasar Author tidak memengang ucapan sendiri, awal curhat hanya ingin menyampaikan sedikit, ini...eeeh..kok panjang benar yaah..Aah...maaf sekali lagi.😁😁😁 salam sayang, hangat dan sehat selalu untuk para pembaca yang jauh di mata tapi dekat di layar..😁😘😘 sekian.. wassalam..

__ADS_1


Ct: Author nulis curhatan seraya memasak..πŸ˜€


__ADS_2