
Aksa memandangi rumah yayasan yatim piatu yang tidak pernah berubah bangunan serta tak pernah berubah taman mainannya untuk para anak anak yatim-piatu bermain. itu tempatnya bermain dulu di waktu dirinya masih kecil di saat papanya masih di dalam penjara. tinggal di tempat yang penuh canda tawa sebayanya sangat lah menyenangkan baginya. ya.... walaupun mereka dulu tanpa di dampingi orang tua tapi setidaknya ada teman teman serta para pengasuh yang ikhlas tulus memberikan mereka kasih sayang yang hangat.
ibu pengasuh keluar dari rumah yayasan setelah melihat wajah muda yang sedari tadi hanya menatap rumah singgah milik anak-anak yang kurang beruntung.
""Bu Ruri.?"" Lirihnya tersenyum hangat.
""Maaf Nak ! Apa ada yang bisa ibu bantu.?"" ibu Ruri yang di maksud Aksa rupanya tidak mengenali anak asuhnya dulu, kini rambut hitamnya sekarang di tumbuhi rambut putih yang terselip selip bermunculan.
Aksa berbicara dengan isyarat Tangannya berharap agar ibu Ruri tahu maksudnya dan segera mengenalinya.
Bu Ruri nampak berpikir. ia mengingat isyarat tangan itu ? isyarat khusus dari salah satu anak asuhnya yang sangat khusus di hatinya. Tapi..... bukannya anak asuhnya itu sudah meninggal ? dan itu yang di katakan oleh orang tua tunggal dari anak itu.
""Kamu ?"" Bu Ruri masih ragu untuk menebak tapi ia ingat betul siapa yang sering berbicara dengan isyarat tangan padahal anak itu tidak lah gagu atau pun bisu.
Aksa mengangguk. "" Bisu, Bu ! ini aku ?"" Mata Aksa berkaca kaca, ia sangat merindukan ibu yang berdiri di hadapannya. dan 'Bisu' itu adalah nama ledekan dari teman temannya dulu sebab Aksa kecil sangat malas berbicara kepada siapapun, dingin dan pemarah. hanya Bu Ruri yang bisa mengendalikannya di waktu itu dan ada lagi seorang gadis kecil yang sering datang berkunjung ke panti asuhan yang membuatnya tertarik untuk berteman. Namun... entah kemana anak gadis kecil itu berada, Aksa hanya tahu jika anak gadis itu tidak tinggal di panti melainkan cucu dari donatur tetap yayasan tersebut.
pelukan hangat berlangsung lama serta obrolan obrolan sesi tanya kehidupan pun berlangsung lama, anak asuhnya ternyata masih hidup dan sudah tumbuh tinggi nan gagah serta sangat lah tampan. kenapa Aksa baru ke tempat itu ? itulah pertanyaan ibu Ruri. Aksa sedikit menjawab kebohongan. tidak mungkin ia menjawab jika papanya yang melarang untuk menghampiri rumah singgah nan hangatnya itu.
""Lili mu sekarang tiap hari ke sini, hari ini pun dia sudah berkunjung membawa kan sekarung mainan untuk anak anak !""
__ADS_1
Lili yang di maksud dengan Bu Ruri adalah anak gadis yang berhasil membuat dirinya berbicara untuk pertama kalinya ke orang lain kecuali ibu Ruri. dulu di waktu kecil ia benar benar dingin dan sangat irit untuk berbicara dan Gadis kecil cadel itu lah yang satu satunya yang berani kepadanya di kala itu.
""Aku akan datang lagi besok, Bu."" Ibu Ruri mengangguk. selain ingin menjadi donatur panti itu, Aksa pun ingin melihat wajah teman kecilnya yang di namai Lilin. Bagaimana rupa gadis cadel itu sekarang.?
**********
Di Negera lain, atau lebih tepatnya di negara Prancis ber-ibu-kota-kan Paris tepat di lingkupan sekitaran menara Eiffel yang terkenal dengan kata kota romantisnya dunia.
Bintang ! Gadis cantik itu sudah berada di sana, setelah mendapatkan alamat Dirgan dari relasi papanya. Namun ia tidak langsung bertemu dengan Dirgan melainkan Gion dan Fina lah yang pertama mereka temui sebab sahabatnya itu tidak ada di rumah dan setiap hari kata Fina anak nya itu hanya menghabiskan waktunya di taman indah yang berada tepat di bangunan menara Eiffel. Dan Bintang tidak berniat menghubunginya lewat komunikasi layar, ia akan memberi kejutan ke Dirgan dengan mencari sendiri di tempat yang di maksud oleh Fina
""Excusez moi madame."" (Permisi nyonya )- 'dalam bahasa Prancis'
""Oui (Ya)" Sahutnya dingin.
Bintang mengeluarkan selembar foto dan foto itu wajah tampan Dirgan.
""As-tu deja vu at homme.�! (apakah anda pernah melihat pria ini�)"" Tanya Bintang.
Nyonya itu menggeleng. "" Ne pan ! ( tidak!)"" ucapnya yang terlihat cuek.
__ADS_1
Bintang mengucapkan salam sopan walau Nyonya tersebut terlihat risih di tanyai olehnya. dan sungguh, jika di negaranya ada turis prancis yang bertanya kepadanya suatu saat nanti maka ia akan membalas dengan hal yang sama. Bukan apa apa ia kesal dan dongkol, sedari tadi menanyai peribumi itu tidak ada yang terlihat welcome. apa yang aneh coba darinya, ia bisa berbahasa dengan baik, berpenampilan anggun nan Cantik. iri bilang patron!
Bintang kembali berjalan seraya mata kucingnya mengerlyat ke wajah satu persatu ke orang orang bule tersebut. dan janji, jika ia bertemu Dirgan ! maka ia akan menghukum orang yang sangat penting itu di hatinya sekarang.
""Aah... capek juga."" Bintang duduk di atas rerumputan taman hijau dengan asal asalan. ia sudah seperti anak kecil yang lagi kehilangan jejak orang tuanya dengan penampilan yang tadinya rapih anggun kini terlihat berantakan dengan bot di copot sebab kakinya sudah terasa panas dan pegal dari sore hari berputar sampai malam hari hasilnya masih nihil.
""Kamu menyiksa ku Dirgahayu ! demi apa ? Journey of Love ku baru kali ini aku yang ngebet sampai rela rela datang ke negara orang ! kamu harus membayar mahar kali ini."" Saking capeknya, Gadis itu malah mengeluarkan sesi matrenya, aji mumpung ia berada di Made dunia, itulah rumornya.
Malam semakin indah di tempat itu, lampu kerlap kerlip menghiasi taman apalagi lampu kerlap kerlip yang berasal dari menara Eiffel langsung, sangat INDAH. ingin sekali Bintang mengebadikan tower indah itu, Tapi sayang, yang ia dengar dari hukum uni Eropa sangat ilegal jika memotret di menara Eiffel di malam hari, Turis hanya bisa mengabadikan jika siang hari dan Bintang sebagai anak ahli hukum tidak boleh melanggar hukum dari negara romantis tersebut. Berabe nanti, bukannya dapat romantisnya malah dapat jerujinya.
""Di Paris, orang gila ternyata bebas juga berkeliaran.!""
Bintang tersenyum geli, dari tempat duduknya, ia melihat orang yang sedang tiduran di atas rerumputan hijau yang di rawat khusus, Dan orang itu terlihat frustasi, Bintang di langit di tatapnya dengan jemari jemari di jadikan objek sebagai teropong instan.
""Dasar, ternyata....awas saja !"" Gumam Bintang mendekat ke arah yang di sebutnya orang gila.
Bintang sudah di belakang orang yang tiduran asal asalan tanpa takut di injak oleh turis turis lain yang berlalu lalang melewati tubuh rebahannya, tapi ia belum berniat untuk menegur orang yang sedari tadi membuatnya capek berkeliling di area itu yang sangat ramai pengunjung lokal dan non lokal. Bintang hanya berdiri dengan sepatu bot berkelas di jinjingan jari jemari lentiknya.
Ya..... orang yang di sebut Bintang sebagai orang gila yang bebas berkeliaran adalah Dirgantara Malik.
__ADS_1
******