
Aksa melajukan motornya dengan kecepatan sedang, dengan Bintang berada di boncengannya. Hening.. mereka sibuk dengan pikiran masing-masing, tidak ada yang bersuara, hanya suara bising angin malam yang tertiup kencang masuk ke telinga Bintang yang tidak memakai Helm.
Aksa mencuri pandang lewat spion, Bibirnya tersungging manis tanpa di suruh, saat bibir mungil Bintang terlihat menggigil lucu.
""Apa itu si culun.?"" Batinnya.
""Aaaaarg..Si Dirgan ke mana sih? kenapa aku malah berakhir sama si pria dingin ini, lihatlah.. karena pria dingin ini, efeknya ke aku, ikutan menggigil saat di dekatnya.""
Bintang berkomat Kamit dengan pikiran kalut, entah kemana ia akan di bawah oleh Aksa. ia sudah berteriak untuk minta di turunkan di jalan, namun pria dingin itu seakan akan seperti orang budek tidak mengindahkan ucapannya, Aksa malah menambah laju motornya, spontan membuat Bintang kaget dan langsung memeluk pinggang Aksa untuk berpegangan.
Deg..
Rasa itu muncul lagi, rasa yang sama seperti saat memeluk Bintang culun, Jantung Aksa berdebar tidak beratur, darahnya berdesir hangat. Tangan kirinya yang terluka tanpa sadar reflek memegang tangan Bintang yang berada di pinggangnya.
""A ah..maaf.. aku tidak bermaksud."" Bintang menarik tangannya saat tangan basah darah Aksa memegangnya. ia berpikir Aksa akan menepis tangannya, jadi sebelum itu, ia menariknya terlebih dahulu.
""Pegangan yang kuat, aku akan menambah kecepatan."" Teriak Aksa. Bintang mengangguk canggung, ia hanya berpegangan di ujung jaket Levis Aksa.
Hanya beberapa menit, Aksa sudah sampai di halaman rumahnya, rumah mewah yang selalu sepi layaknya tak berpenghuni.
""Turun."" perintah Aksa saat Bintang masih duduk di boncengannya, Gadis itu menggeleng cepat.
""Aku mau pulang."" Juteknya.
""keras kepala ! turun nggak !"" Aksa masih stay di atas motor Nya, ingin turun namun susah karena masih ada Bintang di belakang.
""Tidak, lagian ini di mana ? Aku mau pulang."" Kekeuh Bintang.
"" iya.. nanti aku akan mengantarmu, ini rumah ku, jadi turunlah."" Jutek Aksa.
""Tapi."" Bintang masih kekeuh ingin pulang, ia belum kenal baik sifat Aksa, jika pria itu macam macam gimana? waspada tidak ada salahnya kan, walaupun Aksa tadi menolongnya, tetap saja ia harus berhati-hati.
""Turun nggak.., lihatlah tanganku, Aku mau mengobatinya, jika darahnya masih keluar maka kamu harus bertanggung jawab, Golongan darah ku sangat langkah."" Terang Aksa ketus.
Bintang meneliti tangan Aksa yang benar masih mengeluarkan darah, sampai tangannya saja terkena darah Aksa yang sempat di pegang oleh pria Dingin itu.
__ADS_1
""Eum.."" lirihnya lalu turun dari motor.
Setelah Bintang turun Aksa bergegas masuk tanpa melirik Bintang yang ada di belakangnya.
""hu..Aku..masa Aku berdiri di sini kaya secu---
""Ayo masuk..!""
Belum juga Bintang menyelesaikan batin gerutunya, Aksa sudah memotongnya dengan suara dinginnya, tanpa menoleh sedikitpun.
""tch..apa begini cara menyambut tamunya."" Cibik Bintang.
Setelah berada di ruang tengah yang luas, Bintang hanya duduk sendiri tanpa ada Aksa. Entah kemana pria itu, Bintang tidak perduli, ia hanya berpikir, Alasan apa yang harus di berikan kepada orang tuanya setelah ini, apalagi ia mempunyai memar di bagian pipinya. ia juga memikirkan Dirgan, sahabatnya. ia Takut jika Dirgan tertangkap oleh petugas gimana?
""Eheem.."" Aksa berdehem keras. tangannya membawa kotak obat dan semangkok Es batu. ia menaruh barang itu di atas meja dan mulai mengobati tangannya sendiri yang sedikit susah memperbannya tanpa bantuan seseorang.
Bintang tersungging melihat itu, ""Dasar pria dingin, datar, minta tolong ke' !"" Gumamnya. mendekat lalu menarik tangan pria itu.
""Apa yang kau lakukan."" sentak Aksa
Tatapan itu sama, sama punya tatapan si culun, dan lagi lagi Aksa di buat penasaran dengan jantung tak selayaknya berdetak hebat.
""Terimah kasih."" ulang Bintang.
Aksa tidak menjawab, ia hanya bergulat bersama pikirannya, kenapa ia mau menolong Gadis yang ada di depannya? trus kenapa dengan mudahnya, ia membawa gadis ini ke rumahnya? hanya Gadis ini yang pertama di ajaknya ke rumah mewah tapi sepi itu. Dan suaranya? suara itu mirip si culun punya? ia tumben tumbenan kepo masalah orang. aah..biasanya kan ia paling cuek. ingin bertanya langsung tapi gengsi.
""sudah.."" ucap Bintang melepas tangan Aksa. ""Aku mau pulang."" lanjutnya minta di antarkan sesuai ucapan Aksa tadi.
""Obati dulu muka memar mu, jangan sampai terlalu membiru."" Aksa menyodorkan semangkok es batu, dan kain kecil.
""Ahh..kau benar juga, pulang dari rumah mu, orang tua ku pasti mengoceh, apalagi Mama pengacara ku, adeeeh..abis Aku."" Bintang malah curhat membuat Aksa geli sendiri di batinnya.
""Lucu.."" Batin Aksa.
""Rumah mu gede, tapi kok sepi? apa sudah pada tidur.?"" Cerewet Bintang matanya berkeliling meneliti ruang keluarga itu.
__ADS_1
""Aku tinggal se---!""
""Meow..meow.."" Di kaki Aksa tiba tiba ada si Bambang yang main menyerudukkan kepalanya di betis Aksa yang sedang duduk di sofa.
""itu...."" Bintang menaruh kain es batu lalu berdiri dan menarik kucing tersebut di kaki Aksa. "" ini Bambang kan?"" senang Bintang. Aksa mengangguk cepat.
""Waaah..kamu masih hidup, kucing manis, dan lihatlah bulumu sudah tidak dekil lagi."" Bintang tersenyum manis seraya mengelus bulu kucing itu di depan kaki Aksa dengan posisi berjongkok. ""kenapa kamu ada di sini? pria dingin ini tidak menyiksamu kan?""
Aksa mendelik tajam ke Bintang, ia tidak seperti itu.justru ia malah memandikan kucing itu. bahkan tidur bersama.
""Kok kamu tahu jika itu namanya Bambang? kan yang tahu namanya, cuma si culun.?"" Aksa memastikan kecurigaannya, padahal ia mulai yakin, orang yang ada di depannya adalah si culun.
""tch...si culun..Aku si setan tompel Ompooong itu."" terang Bintang mencibik. membuat Aksa semakin Bingung. kok bisa? punya wajah perfeck namun di buat seperti setan tompel Ompong.?
""Tch... ternyata kamu penipu besar?"" celetuk Aksa ingin memancing Bintang, kenapa ke cantikannya di sembunyiin.
""Yaaak.."" Bintang tidak terima di katain penipu. Gadis itu spontan mengeluarkan sisi galaknya, ia berdiri dan melayangkan tangannya ingin memukul kepala Aksa seperti yang sering di lakukannya ke Dirgan.
""Aww..kamu.."" setelah di timpuk, Aksa menahan tangan Bintang sampai Bintang terjatuh di pangkuan Aksa.
Deg... Suara jantung kembali berdegup, bahkan saling terdengar satu sama lain, wajah Bintang yang begitu dekat benar benar menghipnotis Aksa yang dingin dan kaku. ia tidak bisa menolak pesona mata Bintang yang menatapnya tak berkedip.
Bintang terlihat gugup, malu..ia langsung menarik tubuh dan tangannya yang masih di pegang oleh Aksa, membuat Aksa tersadar dari keterhipnotisnya pesona Bintang.
""Aku mau pulang.."" Gugup Bintang langsung berjalan keluar.
Aksa tersungging tipis, memandang punggung Bintang yang berada di depannya. ""Cewek unik..."" Gumam Aksa.
""hah.. kenapa rasa ini, rasa aneh itu, seperti rasaku ke Morgan waktu kami masih punya hubungan. No Bintang..no..no..no.. jangan pakai hati lagi.. cukup satu kali kamu merasa sakit jika cinta itu pergi."" Bintang membatin seraya menyusuri jalan menuju ke depan.
Bersambung...
Biasakan setelah membaca tinggalkan jejak mu..š
Like..komen..hadiah bunga bunga..Vote..Rate Lima Bintang..š
__ADS_1