
Di kantor orang tua Aksa, Lebih tepatnya perusahaan yang bergerak di bidang manufaktur, Semua pegawai wanita memandang Aksa dengan tatapan takjub karena wajah tampan yang terkesan dingin seakan menghipnotis mereka, sebagian besar orang yang bekerja di perusahaan milik papanya Aksa tidak ada yang tahu siapa itu Aksa, benar benar tertutup info Aksa itu siapa, dan pastinya itu adalah ulah pihak dari papanya sendiri.
Aksa terlihat di berhentikan oleh resepsionis yang sedang menunggu lift untuk mengantarkan ke lantai 15 tempat papanya berada.
""Maaf..Anda mau kemana? ada yang bisa saya bantu.?"" Sopan resepsionis wanita tersebut.
Aksa melirik sekilas dengan wajah datarnya.
""Aku mau bertemu dengan CEO perusahaan ini.!"" Dingin Aksa.
""Tapi.."" ucap resepsionis itu terhenti, saat Aksa sudah melangkah masuk ke dalam lift.
""Astaga.. Tampan sih tampan, tapi sikapnya tidak mencerminkan kesopanan.!"" keluh resepsionis itu seraya mengomeli dinding besi lift yang sudah tertutup rapat.
Ting..Bunyi lift pertanda Aksa sudah sampai di lantai yang dituju, kaki jenjangnya melangkah panjang menuju ruangan papanya.
""Maaf tuan muda..Anda mau ke mana?"" ucap sekretaris papanya yang sudah tahu Aksa itu siapa karena ia sering melihat potret Aksa di ruang kerja Bosnya.
""Aku mau bertemu papa, Apa beliau ada?"" Datar Aksa. sikapnya sangat berbeda jika beranteraksi kepada orang lain, berbeda jika bersama Bintang, hangat.
""Maaf tuan Muda, beliau sudah pergi bersama Asisten pribadinya saat satu jam yang lalu"" Jelasnya.
""Ke mana?"" Aksa memandang kesal pintu yang bertuliskan ruangan CEO.
""Ke cabang, lebih tepatnya di luar kota."" sopan sekretaris perempuan itu dengan tangan berkeringat karena aura Aksa seakan-akan mengintimidasinya.
Aksa berkacak pinggang, mendengus kesal, ia yakin papanya pasti tidak akan pulang lagi. ia pun pergi dengan membawa kekesalannya.
*****
Hari berlalu dengan cepat, semua siswa siswi antusias ria mengantri ingin membaca deretan nama pengumuman kelulusan mereka di Mading sekolah.
""Awas awas..calon menantu pemilik sekolahan mau lewat."" Gissel dengan sombongnya membela segerombolan murid yang mengantri demi mencari namanya di Mading.
Bintang melengos mendengar pengakuan Gissel, ia meneliti Aksa yang berdiri di sampingnya, pria itu hanya datar tidak menegur Gissel yang menyebutnya sebagai menantu dari pemilik sekolahan.
""tch..calon istri mu, menyebalkan."" Sindir Bintang menyikut kuat lengan Aksa.
Bagaimana Bintang tidak mendengus, ia sedari tadi mengantri di depan Mading tapi tak kunjung bisa melihat, apakah namanya termasuk lulus atau tidak.
__ADS_1
Aksa membalas lirikan Bintang dengan seringai manis di bibir sensualnya, ia senang melihat ada kecemburuan di diri Bintang, Cemburu tanda sayang kan? pikir Aksa.
""Tunggu di sini."" ucap Aksa merangkul pinggang Bintang sekilas.
Bintang hanya diam saja dengan tangan melipat di perut.
""Awas..."" ketus teriak Aksa di belakang murid murid yang sedang mengantri, menyuruh murid-murid itu agar memberinya jalan.
Bintang langsung mangap melongo, melihat kelakuan Aksa, Sementara orang orang yang berada di depan, betul betul menyingkir memberi luang untuk Aksa lewat.
""Benar benar preman sekolahan, kenapa sih pada takut kepada Aksa, apa karena ia anak pemilik sekolahan. tch..pada Cemen gitu aja takut.."" Gumam Bintang, ia sama sekali tidak suka dengan sikap Aksa yang tidak mau mengantri. padahal Aksa melakukan itu demi dirinya.
""Awas.."" tekan Aksa ke Gissel yang sedang meneliti mading.
Gissel menoleh dengan senyum manis yang tergambar di bibirnya.
""Hai sa..sayang.."" Manja takut takut Gissel.
Aksa tidak merespon, malah terlalu malas mengindahkan gadis cantik seksi di sampingnya. ia hanya menatap tajam ke Gissel sebagai peringatan darinya, Bisa di artikan ' jangan sok akrab dan mengaku ngaku.'
Gissel langsung menelan ludahnya dengan kasar, membuang mukanya agar tatapan Aksa tidak mengintimidasinya.
""Hah..seram amat sih, Bintang kok bisa naklukin singa seperti dia, Tapi tidak masalah..aku akan naklukin kamu lewat papamu."" seringai Gissel.
""Jangan ada yang protes.."" Tekan Aksa ke semua murid, lalu menarik beberapa kertas penuh dengan nama kelulusan.
""Astaga.."" Bintang menepuk jidatnya prustasi, ia sekarang mengerti kalau Aksa main menerobos demi mendapatkan kertas tersebut demi dirinya.
""ini culun.. jangan cemberut lagi, aku tidak suka.""
Aksa menjulurkan kertas itu ke arah Bintang, Bintang menarik kertas tersebut dengan perasaan campur aduk antara tidak enak dengan murid lainnya serta rasa perhatian Aksa kepadanya yang rela menerobos paksa hanya demi untuknya.
""Wow..Aku masuk tiga besar."" Senang Bintang setelah membaca pengumuman itu. ia pun tanpa sadar spontan memeluk Aksa di tempat umum yang banyak pasang mata menatap ke arah mereka berdua.
""Selamat, Culun.."" Aksa menarik kertas itu untuk mencari namanya sendiri, ia jadi deg degan, takut jika ia tidak lulus, bisa gagal dia mendapatkan info tentang kronologis hidupnya dari informan satu-satunya, papanya.
Aksa bernafas lega saat namanya terdaftar di antara nama nama deretan orang yang lulus, justru namanya malah masuk sepuluh besar yang tak pernah terpikirkan olehnya bisa mendapat nilai yang cukup bagus secara dirinya tidak seperti murid murid lainnya yang patuh dan pintar. Ternyata belajar bersama Bintang membuatnya mempunyai otak yang sedikit encer.
Aksa tanpa aba-aba langsung menarik Bintang menuju parkiran, ia akan membawa kekasihnya itu berkeliling kemanapun untuk merayakan kelulusannya.
__ADS_1
""Kita mau ke mana ?"" Tanya Bintang sebelum naik ke Moge Biru Aksa.
""Kita akan jalan jalan ke manapun."" jelas Aksa.
""Sekarang.""
Aksa mengangguk di balik helm hitamnya.
""Ssshh.. jangan sekarang, Aku ingin cepat pulang."" Pinta Bintang karena otaknya sekarang tertuju ke keluarganya untuk membagikan rasa senangnya atas kelulusan terbaiknya.
""Kenapa..?"" sahut Aksa.
""Tidak kenapa kenapa..! Bagaimana kalau nanti malam saja kita ketemunya di taman kota."" Tawar Bintang.
Aksa mengangguk menurut, lagian ia juga belum sempat berbicara dengan papanya tentang keinginannya jadi ia harus pulang, ia harus bisa bertemu papanya hari ini juga. tiap hari belakangan ini, papanya itu tidak pernah pulang kerumah, Aksa benar benar kesal atas kesibukan seorang CEO paru bayah itu.
""Taman kota.. ! Boleh tuh, aku akan bersenang senang malam ini."" Seringai Justien yang mendengar Bintang mengadakan janji temu.
Justien-tapi-bukan-Bieber itu, benar benar tidak ada kapoknya mengganggu Bintang, mungkin Bintang belum sempat memberi pelajaran yang membuat pria keturunan Jerman itu kejerahan.
Dirgan yang habis di buat sibuk dengan pacar Bohay nya baru ingin mencari daftar namanya di mading. matanya mengerlyat mencari sahabatnya, Bintang.
""Ahh.. kenapa harus mencari Bintang, pasti ia bersama pacarnya secara Aksa kan perangko yang selalu menempel di mana pun Bintang berada."" Gumamnya.
""Dirgantara Malik.. Dirgantara Malik..""Berulang ulang Dirgan mencari namanya naik turun tapi tidak kunjung menemukannya.
""Aiss.. jangan sampai."" Sedihnya takut tidak lulus, Bisa hancur dirinya jika itu terjadi, Cita citanya yang ingin kuliah di bidang Tehnik otomotif sirna sudah.
""Hiks..Ayo dong, Nama Dirgantara Malik harus ada, Mama..hiks..anakmu tidak lulus.."" ia pun mencari namanya di daftar orang orang yang tidak lulus namun nihil namanya juga tidak ada di situ.
""Aaaah.. Lulus tidak terdaftar, tidak lulus pun sama, aku di akuin tidak sih sekolah di sini." lirih nya menghentak hentakan kakinya, ngambek.
""tch..dasar, cowok kok cengeng.."" ledek siswi yang sedikit tomboi namun terlihat manis jika di poles sedikit.
""Apa..nyahut saja, Aku tidak kenal dengan mu."" ketus Dirgan yang baru lihat ada sosok bohay manis namun terlihat tomboy.
Cewek tersebut tidak menyahut lagi, ia pun sibuk mencari namanya karena memang dirinya jarang bergaul dengan orang yang berbeda kelas, jadi Dirgan tidak pernah melihatnya, namun cewek tomboi ini tahu sekali siapa sosok Dirgan sepenuhnya, dan ia benci sosok pria yang sering gonta-ganti pacar seperti tipe orang sok ganteng di sampingnya.
""Tch.. Nama mu ada Bodoh, di urutan 131, Bisa baca tidak sih.."" Cewek itu tersenyum meledek ke wajah tampan Dirgan lalu sedetik kemudian ia menambrak sisi bahu Dirgan dengan sengaja supaya jalannya tidak terhalang.
__ADS_1
""Tch.. cewek aneh.."" maki Dirgan menatap punggung serta bokong sentil cewek tersebut. ""Tapi bohay.."" lanjutnya tersenyum miring.
Bersambung...