
""Tinggal di sini saja bersamaku."" Tawar Bintang ke Dirgan seraya mengunyah makanan sarapannya.
Dirgan sudah menjelaskan tujuannya ke Bintang yang akan membangun cabang baru di kota sekarang yang di pijarinya.
""Tidak, thanks."" sahut Dirgan menghentikan suapan sarapannya. ""Dan terima kasih tumpangan semalam, aku sudah boleh nginap disini, dan setelah ini aku akan mencari unit Apartemen untuk aku tinggali.""
""Yaaak.. kenapa harus nyari sih, kita kan sahabat sudah seperti saudara, jadi kamu boleh tinggal di sini."" Bintang merengek seraya menggoyang goyangkan lengan Dirgan.
""Ais.. Bin, berantakan."" protes Dirgan saat air putih yang sedang di pegangnya bercipratan ke luar dari gelas.
""Maaf, Sini aku lap."" Bintang merebut tissue yang di pegang Dirgan lalu menggantikan Dirgan yang sedang membersihkan air yang ada di lengan sahabatnya.
Deg...
Jantung Dirgan kembali merasakan berdag dig dug ria saat tangan Bintang meraba lengannya yang sedang membersihkan cipratan air, mata elangnya mencuri curi pandang ke wajah Bintang yang lagi serius membersihkan lengannya.
""Menggoda."" celetuk Dirgan tidak sadar saat matanya menyorot tepat di bibir Bintang.
Bintang mendongak.
""Apa yang menggoda."" Bingung Bintang menaut kan alisnya.
""Ahh..mmh..i i itu."" Dirgan gelagapan seraya menggaruk tengkuknya.
""Apanya yang menggoda ?"" ulang Bintang dengan wajah semakin di dekatkan ke depan wajah Dirgan meminta penjelasan.
""Astaganaga, Bin. kalau dekat seperti ini rasanya aku seperti kesetrum listrik bertegangan tinggi dan bisa bisa aku bisa khilaf."" Batin Dirgan tidak bisa mempungkiri pesona pacar khayalannya.
""Hah! mm..ah... Bintang menjauh, atau...!""
""....Atau apa hah ? mau mengancam ingin mencium."" Bintang semakin menantang Dirgan, dengan jailnya Gadis itu semakin memajukan wajahnya untuk menjaili sahabatnya,wajah merah Dirgan sudah tertangkap basah oleh Bintang.
Dirgan sudah terhipnotis, memejamkan matanya, ia pikir Bintang mau menciumnya.
""Ni anak, omes otaknya."" Bintang menjewer telinga Dirgan agar sadar dari lamunan mesumnya.
""Adauuw.."" celoteh Dirgan dengan tangan mengusap telinga yang sudah memerah.
""Bin.?"" protesnya.
""apa ? Ban Bin Ban Bin, otak kamu lagi mikirin pacar pacar Bohay mu yah? hah? sampai sampai aku di jadiin kambing putih."" oceh Bintang seraya mengetuk ngetukkan sendok makan di jidat Dirgan.
""Kambing hitam, Bin."" ralat Dirgan.
""Aku tidak suka dengan warna gelap, nuansa putih lebih indah.""
""tch, apa hubungannya dengan kambing."" Celetuk Dirgan.
""Ada lah, karena kamu adalah kambingnya."" sahut asal asalan Bintang.
""Aah.. sudahlah sana berangkat kerja nanti telat, aku juga mau nyari Apartemen di dekat sini.""
__ADS_1
Dirgan sudah malas membalas ocehan Bintang, ia yakin kalau di jawab terus maka tidak akan ada ujungnya.
""Jangan Dirgahayu."" Cegat Bintang menahan tangan Dirgan yang sudah berdiri dari meja makan.
""Hah? jangan apanya?"" Spontan Dirgan terduduk lagi.
""Jangan nyari Apartemen lagi, Noh sebelah Apartemen bekas papa dulu, di sana saja."" Tawar Bintang.
""Tapi Bin."" Dirgan ragu untuk menerima.
""Tidak ada tapi tapian, aku tidak menerima penolakan dan ini pin unit sebelah. kata papa Apartemen ini adalah tempat di mana papa dan mama ku bertemu semenjak terpisahkan dua tahun, jadi semoga kamu bisa bertemu jodoh idaman di sini."" Jelas Bintang seraya menaruh kartu unit untuk Dirgan pakai.
""Ok, thanks, aku akan izin dulu ke Om Vero."" Dirgan menerima ragu ragu kartu tersebut. ""Dan semoga jodoh ku orang yang ada di depan ku."" Lanjutnya membatin.
plaaakk...
Bintang memukul lengan berotot Dirgan, ia jadi kesal sendiri karena keraguan Dirgan hanya karena masalah tempat tinggal.
""kenapa harus izin papa sih, keputusan ku sudah sangat telak bagi profesor pembuat obat itu."" Kesalnya.
""iya..aku terima, sana kerja nanti telat di telan Aksa, nyahoo."" Dirgan mengusir Bintang dengan tangan di tarik untuk berdiri, ia tidak mau kalau pacar khayalannya menjadi pusat kemarahan Aksa.
""aku memang sengaja mau telat, biar di ocehin, di pecat deh."" Harap Bintang.
""Sana pergi Bintang, kalau tidak aku...""
""Begini kan?"" Bintang mengecup pipi Dirgan, ia sengaja ingin mengetes prasangka buruk kalau Dirgan mempunyai rasa untuknya.
""Hahaha.. aku cuma ngetes Dirgahayu, tenang saja, cewek bohay mu tidak akan lihat, kamu sedang di dalam area terlarang ku."" Bintang tertawa renyah, ia mulai curiga dengan perubahan wajah Dirgan.
""tch, ngetes apa maksudmu ?"" selidik Dirgan merasa sok bodoh, padahal ia menyadari jika dirinya tertangkap basah.
Bintang mengedipkan bahu.
""Entahlah.."" ucapnya lalu beranjak.
""Aku kerja dulu, bye."" Pamitnya dengan banyak pertanyaan yang tiba-tiba muncul dari otaknya.
""Bin, Bin.."" pangil Dirgan. Bintang tidak merespon gadis itu terus melangkah tanpa menoleh sedikitpun.
""aaah Shit..!"" Umpat Dirgan "" Apa Bintang curiga ya ? dan kenapa terlihat kecewa ? tidak boleh di biarkan!"" Dirgan mulai was was, ini yang ia takutkan kalau Bintang mengetahui perasaan cintanya, ia tidak mau menerima penolakan dan tidak mau kalau Bintang marah kepadanya.
*****
Bintang sudah nyampe di kantor, walau ia sudah terlambat namun dengan santainya ia masih asyik tenggelam dari lamunannya.
""Dirgan tidak mungkin kan...."" Bintang menggeleng geleng, ia menepis asumsinya yang mampir di otaknya.
""Nona."" panggil Alex. Bintang masih melamun tak menyahut.
""Nona Jaauza."" Alex berseru seraya menggeprak meja Bintang.
__ADS_1
Spontan gadis itu memberi Bogeman mentahnya ke perut Alex yang berdiri di samping duduknya.
""Nona."" protes Alex meringis.
""Aaah..ais..mm..Maaf pak Alex, aku tidak bermaksud, anda mengagetkan ku."" Bintang terucap berbata bata dengan senyum kikuk terlukis.
""Tidak apa-apa ! aku anggap itu sarapan yang langkah."" ucap Alex namun di dalam hatinya ia sudah mengumpat kasar buat Bintang.
""Bin, kamu masih galak seperti dulu."" Geli Aksa melihat aksi Bintang dari dalam ruangan kerjanya.
""Ada apa?"" Tanya Bintang.
""Anda di panggil oleh pak Aksa."" ucap Alex.
""eum..baiklah, pasti mau di pecat karena telat kan."" Senang Bintang bergegas beranjak.
Alex tidak menyahut, ia malah pusing dengan sikap aneh Bintang.
""Pagi."" sapa ledek Bintang ke Aksa.
Gadis itu tanpa basa-basi mengetuk pintu, terlebih dahulu langsung nyelonong masuk, sudah seperti ruangannya sendiri.
""Lebih tepatnya selamat siang, bukan pagi."" Tekan Aksa.
""Terserahlah."" Cuek Bintang mendudukkan bokongnya di depan meja kebesaran Aksa.
""Bin, aku mohon, bersikap profesional lah dalam bekerja."" Pinta Aksa.
""Tidak suka maka pe----!""
""Tidak ada kata pecat, walaupun kamu datangnya sore sekalipun."" Tekan Aksa, ia memijit pelipisnya yang merasa pusing dengan ulah sekretarisnya.
""kalau kamu masih berkeras untuk berbuat aneh aneh, maka gaji untuk semua karyawan akan aku potong lima puluh persen."" Ancamnya.
Bintang melotot horor, lagi lagi Aksa mengancam ketenangan orang lain.
""Baiklah, tuan CEO tukang ngancam."" kesalnya.
""Sudahkan ceramahnya, kalau begitu saya permisi."" pamitnya dengan stay di buat sesopan mungkin.
""Bikin kopi, tapi...."" Aksa menyeringai geli.
""iya..aku paham, tidak terlalu manis, tidak pahit."" terang Bintang mencibik.
""Tidak asem, dan tidak asin."" Timpal Aksa trauma dengan kopi yang di buat Bintang sebelumnya.
"" ok, aku akan membuat kopi sianida."" Celetuk Bintang lalu pergi dengan kaki menghentak hentak kesal.
""Yaak, Buat dua, di buat dengan rasa cinta aku rela mati bersama"" ledek Aksa berteriak. ia senang melihat Bintang cemberut.
Bersambung...
__ADS_1
Vote vote Vote...