
Pukul 12 malam, Bintang baru sampai di depan gerbang rumahnya, Mata Aksa meneliti rumah mewah bercat putih keseluruhan.
""Apa ini rumah mu.?"" tanya Aksa.
""Bukan, rumah orang tua ku."" Celetuk Bintang. lalu bergegas meninggalkan Aksa seraya berlari kecil memasuki pekarangan.
""Ah..lupa..!"" Bintang menoleh ke belakang. ""Pria dingin, terima kasih untuk malam ini."" teriaknya tersenyum manis seraya mengibaskan tangannya. lalu kembali menelusuri pekarangan rumah yang luas itu tanpa menunggu Aksa untuk pergi dahulu.
Aksa menggeleng geli, bibirnya lagi lagi tersenyum melihat tingkah Bintang yang terlihat ceria, sangat berbanding balik dengannya yang kaku dan dingin.
""Gadis cantik yang unik..."" pujinya lalu menyalakan mesin motornya setelah punggung Bintang sudah tidak terlihat.
***
Tap..tap..tap..
Bintang mengindap indip masuk ke rumahnya yang sudah gelap dengan tangan memegang ke dua flatshoesnya. ia seakan maling yang takut ketahuan.
""Semoga..semoga...semoga...Mama papa sudah pada tidur."" Batinnya berdoa.
Baru saja sedetik kelar berdoa, lampu rumah sudah menyala terang, dan memperlihatkan dua sosok yang di hindarinya malam ini.
""Mampus..."" Gumamnya membatin dengan wajah terkejut tersenyum kikuk.
""Sini duduk.."" Meca dengan wajah ngantuk lelahnya menyuruh anaknya untuk duduk di ruang tamu. Vero masih belum mengeluarkan suaranya, Namun wajahnya sudah tidak bersahabat lagi ketika melihat memar di wajah mulus anaknya.
""Hiks...di ceramahin."" Batin Bintang seraya melangkah pelan, takut.
Bintang senakal nakalnya, ia sangat menghormati ke dua orang tuanya, jadi..semarah apa pun orang tuanya, ia akan diam, dan mendengarkan apa pun celoteh yang ke luar dari mulut Mama papanya.
""Dari mana ? bersama siapa ? dan kenapa pulangnya malam begini,? dan itu.. kulit mulus mu kenapa bisa biru begitu.? Apa kamu habis berkelahi, kah?"" Cerca Meca panjang lebar dengan suara marah bercampur khawatir melihat anaknya balik balik sudah tidak mulus lagi.
""Ma..!"" Ucap Vero. menenangkan istrinya agar tidak terbawah emosi. Meca hanya menoleh sekilas ke suaminya lalu menatap anaknya kembali.
""Maaf..Ma, pa..!"" sesalnya menunduk tidak berani menatap ke dua orang tuanya.
""Maaf untuk apa? jelaskan dengan benar, sayang..?"" Vero bersuara pelan namun terdengar mengintimidasi.
Bintang mengangguk nurut, lalu menceritakan semuanya apa yang terjadi, ke mana dia pergi, bersama siapa dan balik bersama siapa, tak terkecuali semuanya sampai perkelahian. ia pasrah sudah mau di hukum apa saja.?
""Maaf.."" ucap Bintang lagi.
__ADS_1
""ya ampun Bin..kamu itu perempuan sayang, tidak boleh pergi ke tempat balapan seperti itu."" Lembut Vero menasehati. Namun tangannya mengepal kuat saat mendengar cerita, perkataan kurang acar cowok bertindik itu, Mario.
Bintang mengangguk dengan mata menatap takut dan juga sayang kepada papanya. Namun pas ia menoleh ke Mamanya, ia cepat cepat menundukkan kepalanya, saat mendapat tatapan tajam dari Mamanya, Meca.
""kamu harus di hukum..biar tidak mengulanginya lagi."" telak Meca.
""eum..baiklah.."" Bintang mengangguk pasrah, ia memang salah, sudah pergi ke tempat yang harusnya tidak di datangi, Namun ia tidak menyalahkan Dirgan, ia sendiri yang memaksa sahabatnya itu untuk ikut.
""Sudahlah Ma ! yang penting Jaauza kita, tidak apa apa! dan sudah berjanji tidak akan nakal lagi.! Benarkan Jaauza..?"" ucap Vero. dan di angguki oleh Bintang.
""Pa.. selalu, bela saja terus.!"" sebal Meca.
Vero bukannya tidak tegas, namun ia punya cara sendiri untuk menasehati anaknya, ia menggunakan cara lembut untuk menghadapi sifat anaknya, yang aslinya sangat keras kepala seperti istrinya, jika di kerasin, ia takut suatu saat anaknya menjadi pembangkang. memang ada kalanya ia harus bertindak keras juga, jika Bintang sudah melewati batas.
"" Tidak apa apa Pa! aku siap di hukum, apa pun itu."" Ucap Bintang bijaksana, karena ia memang bersalah.
""Noh.. Anaknya saja tidak keberatan."" Meca mendelik ke arah suaminya dan Bintang secara bergantian.
"" yaakk.. hukum saja, kamu kan memang hakim agung."" Sindir Vero.
Bintang mendongak. "" ini kenapa jadi begini ? Mama papa terlihat berbeda pendapat, hah..! ayo Jaauza, hentikan mereka sebelum menjadi panjang urusannya, jangan sampai papa nebeng tidur di kamar Gilang."" Gumam Bintang.
""Ma, pa? apa hukumannya ?"" Tanya Bintang.
Vero terkikik tertahan atas hukuman yang di berikan istrinya ke Bintang, ia sangat yakin Bintang malah senang, karena anaknya, anak nakal unik yang ingin mengenal hal hal yang baru.
Bintang terkaget, menatap Papanya yang sedang tersenyum tertahan, sedetik kemudian ia tersenyum senang.
""Benarkah Ma? itu hukumannya? Aaahh..makasih lho, Bintang suka hidup di sana."" Senang Bintang memeluk tubuh Meca yang duduk di sampingnya.
""Kok senang sih ? kampung sepi lho Bintang, tidak ada yang menarik."" terang Meca bingung, Melihat anaknya senang di hukum, bukannya malah sedih meninggalkan kota penuh hiburan ini.
""Ah..Mama, justru itu, Anakmu ini senang dengan hal hal yang baru, jika kampung Oma opa sebelumnya sepi, maka kehadiran Bintang akan meramehkannya."" Bintang sudah berangan angan tinggi, memikirkan hal apa yang akan di lakukan di kampung.
""Pfufufufu."" Vero menahan tawanya, melihat istrinya di permainkan oleh ciplakan wajahnya sendiri.
""Aaahh.. tidak jadi, kamu lepas saja topeng jelek mu, jika berada di sekolahan, Mama tidak suka dengan topeng tompel Ompoooong mu, itu saja hukumannya."" Meca mendengus sebal dengan anak uniknya itu. Bisa bisanya orang di hukum malah terlihat senang, dan Akhirnya ia memutuskan untuk menyuruh melepas topeng culun Bintang saja, yang mengganggu pemandangan jika sedang sarapan bersama.
""Yaak..jadi tidak jadi, Gitu..?"" Angan angan indah Bintang yang baru saja di impikan di Kampung, sirna sudah.
""ahh.. kenapa harus copot topeng, aku kan betah jika berpenampilan itu, kan tidak ada mata jahat yang menggangu jika aku jelek."" Batin Bintang.
__ADS_1
***
Di rumah deretan ke tiga, tepatnya di rumah Dirgan. Anak remaja itu, sama seperti Bintang di adili dan lebih parahnya lagi, Gion sendiri yang menggerebek area balapan liar itu.
Gion terkaget kaget melihat anaknya ada di area situ dengan geram Gion menarik Dirgan ke dalam mobil box polisi. ia tidak pandang bulu sama sekali.
Dirgan yang mencari cari sosok Bintang yang riuh dengan penonton berlari tidak beraturan, membuat dirinya susah meninggalkan tempat itu, dan pas ia akan menstater Mogenya, ia sudah di duluin di tarik seseorang dari belakang. dan itu adalah papanya sendiri.
""Bughh..Bughh.."" Fina memukul kepala anaknya dengan bantal sofa yang sudah gepeng letoy.
""Mau jadi apa kamu, hah? apa kamu mau jadi pembalap kaya di Tv tv itu?"" Tanya Geram Fina. Namun anak itu mengangguk ingin menjadi pembalap, dan alhasil mendapat timpukan bantal sofa lagi.
""Mama tidak suka, Dirgan.."" seru Fina kesal tertahan.
""Papa mau tidur, ngantuk, capek habis menggerebek anak nakal mu."" Ucap Gion yang apa adanya, ia percaya kepada istrinya akan menyelesaikan masalah tentang anaknya.
""Yaak.. pergilah."" sahut Fina. Namun matanya masih menatap anaknya yang sudah babak belur.
""Tch..mukamu sudah pas Pasan di tambah blush-on biru begitu, mau jadi jagoan kamu.?"" tanya Fina yang belum tahu cerita sebenarnya.
Dirgan menggeleng. ""Aku berantem sama orang yang menghina Bintang.? jelas Dirgan.
""Bintang ?"" Lirih Fina menyerinyit dahinya, Bingung. ""Apa Bintang ikut?""
Dirgan mengangguk seraya menyahuti iya.
""Yaaak ampun.."" Fina di buat prustasi oleh anaknya, jika anaknya membawa Bintang di tempat itu, terus anak sahabatnya itu kenapa kenapa, bisa berabe panjang lebar.
""Kunci motor sini?"" Pinta Fina.
""Buat apa mah?""
""Buat mama sitah lah, kamu di hukum tidak membawa motor untuk satu bulan ke depan atau seterusnya jika mama masih marah."" Telak Fina menghukum anaknya.
""Aku naik apa, ke sekolahannya, terus, Bintang siapa yang ngebonceng.?"" Dirgan malah memikirkan sahabatnya.
""mama yang akan mengeluarkan mu atau naik taksi saja, jika masalah Si Jaauza ada si Biru, Si brownies itu."" Fina menarik paksa kunci yang ada di tangan anaknya, lalu pergi berlalu menyusul suaminya, masuk selimut.
""Yaaak.. menderita lah.. hidupku..tanpa si Moge cewek merah ku."" lirihnya sedih.
""Ma..! Aku rela tobat lho jadi playboy bohay, asal si cewek besi ku tidak di sita."" teriak Dirgan, namun Mamanya tidak menggubrisnya.
__ADS_1
Bersambung...