BINTANG (Journey Of Love)

BINTANG (Journey Of Love)
BINTANG 7


__ADS_3

""Perkenalkan nama, Kau.?"" ulang Logat pak Togar bersuara pelan tapi terdengar menggelegar.


Bintang mengangguk kecil menuruti perkataan gurunya yang berperawakan pendek perut buncit dengan kumis tebal panjang berkulit coklat butek.


""Hai..nama ku Jaa---- Eeeh BINTANG."" Lantang Bintang tidak membocorkan nama aslinya.


""Hadeeh...ni anak..unik sekali kau."" Logat Batak pak Togar membatin yang sudah tau nama asli Bintang.


""Bintang, Bulannya mana?"" Tanya iseng salah satu siswa


""Bulannya jangan di tinggal dong..!"" sahut siswi yang lain.


""Bintang sudah punya pacar belum? kalau belum? aku nggak mau lhooo...""


""Dirgan...mau nih.! kan play boy cap Bohay.."" Celetuk teman Dirgan yang duduk di sampingnya.


""Hahahaha..."" kelas pak Togar rame dengan suara tawa murid nakalnya.


Dirgan langsung bangun dari tidur ayamnya, yang sudah mengejes membasahi mejanya, saat di tepuk oleh teman sebangkunya, mata separuh sekelasnya pun menatapnya termasuk Bintang yang sudah menyeringai. Namun ia belum sadar temannya lagi menertawakan siapa?


""Hussst..Diam semuanya, atau kalian akan aku hukum."" lerai pak Togar. Semua murid pada diam, takut. Tapi bukan takut di hukum, melainkan takut terkena muncratan lahar ludah pak Togar seperti nasib temannya yang duduk paling depan yang sudah menutup mukanya pake buku paket tebal.


""Silahkan kau duduk di...."" pak Togar mengerlyatkan mata seramnya untuk mencari bangku kosong. ""nah..di belakang sebelah Aksa anak paling duaaaangteng itu."" Lanjutnya menunjuk Aksa yang duduk paling belakang, anak the mosh cool dan jutek, sama dengan juteknya Bintang.


""Bintang?."" Lirih Dirgan memicingkan matanya""Ah..Bukan Bintang ku."" Batinnya. ia masih fokus menatap Bintang yang berjalan ke arah meja pojok menuju tempat Aksa. Matanya tidak sengaja menatap jari tengah Bintang yang memekai cincin pemberiannya.


""Yaaak ampun, cewek culun itu benar benar Bintang, hadeeeh.. !"" Kaget melongo Dirgan. ""bakal ramai sekolahan ini, dan Aaahhh.. kenapa harus duduk sama Aksa sih..!"" Batin Dirgan takut, takut jika sahabatnya di kerjai oleh Aksa yang terkenal dingin dan tidak mau berdekatan dengan cewek manapun, baik itu cantik mau pun culun kaya Bintang sekarang.


Bintang sudah berdiri di samping meja belakang paling pojok punya Aksa.


""Geser dong."" pinta Bintang sopan menyuruh Aksa untuk menggeser duduknya agar mepet ke dinding.


""Jangan nyuruh nyuruh, jika mau duduk maka duduklah."" Dingin Aksa tidak mau bergeser atau pun berdiri memberi jalan untuk lewat, matanya pun enggan untuk menatap Bintang. cowok Dingin itu hanya lurus lurus menatap pak Togar yang sedang berkicau muncrat muncrat.


""tch baik.."" santai Bintang langsung duduk di atas meja Aksa.


""yaaak.."" kaget Aksa mendongak menatap Bintang di hadapannya dengan tatapan tajamnya. tapi tatapan itu tidak membuat Bintang menciut, ia malah menyengir kuda memperlihatkan senyum ompongnya.

__ADS_1


""iiihh..dasar.. cewek ompong.. menyebalkan, tunggu pembalasanku, jika kamu bisa betah duduk di bangku ini, maka kamu adalah cewek pertama yang bisa berlama-lama dekat dengan ku."" Batin seringai Aksa dengan seribu otak jailnya. ia pun terpaksa berdiri untuk memberi jalan Bintang untuk duduk di dekat tembok.


""Ya ampun, anak culun cari mati berurusan dengan Aksa gila itu."" gumam siswi yang duduk sederetan dengan bangku Aksa. ia melihat Bintang dengan tatapan ibanya, Namun salah, jika Aksa rajanya Gila, Bintang pun sama, bisa bisa ia lebih gila jailnya dari pada Aksa,kalau di usik duluan.


Dirgan tidak konsen dalam pelajaran kali ini ia hanya sibuk menatap ke arah meja Bintang yang berada jauh posisinya pojok kanan ketemu pojok kiri.


Bukan hanya kali ini, Dirgan memang malas belajar jika menyangkut hal yang berbau bau berhitung seperti pelajaran pak Togar.


Aksa pun sama, ia malah terlihat menguap berkali kali mendengar kan penjelasan gurunya. sebenarnya anak keren tapi malas belajar itu adalah anak dari pemilik sekolahan, dan kadang seenaknya saja ia bolos untuk masuk kelas, Tapi entah kali ini, ia menampakkan muka kakunya di kelas.


Pak Togar sudah menulis tugas di papan tulis untuk memberikan soal latihan yang baru saja di jelaskannya. dan sekarang ia mencari korbannya untuk mengerjakan langsung di atas. Biasanya pak guru berlogak Batak itu mencari muka muka yang terlihat serius tapi aslinya serius bohongnya.


""Aksa, kerjakan."" pak Togar menangkap basah Aksa, menguap lebar.


Semua mata menatap Aksa, yang terkenal malasnya di kelas itu, dan biasanya kalau di suruh mengerjakan latihan, ia sering beralasan untuk kabur dan tidak kembali lagi sampai mata pelajaran selesai.


""Saya, pak. Tapi saya harus ke toilet."" elaknya menyeringai melirik Bintang dengan ekor matanya.


""Anak baru katanya mau pak."" Lanjutnya tersenyum sinis ke Bintang.


""tch,kapan aku ngomongnya."" Bingung Bintang membalas menatap tajam Aksa.


""Baik.."" Sudut bibir Aksa terangkat saat melirik jam tangannya yang hampir menunjukkan pelajaran berakhir dan akan segera bel istirahat.


****


Bel istirahat berbunyi, Aksa pun bebas dari kejaran pak Togar, Kini hanya beberapa siswa yang terlihat di kelas.


Dirgan berjalan mendekat ke bangku Bintang yang masih setia duduk karena si Aksa tidak mau berdiri untuk memberi jalan keluar Bintang.


""Bin, Kantin yuk."" Ajak Dirgan berdiri di samping Aksa duduk.


Bintang mangap manap, seraya mengerutkan keningnya. ""Apa? Dirgan mengenaliku?"" Batinnya.


""iya..Aku kenal !"" Celetuk Dirgan mengerti pikiran Bintang. ""Lihat jari tengah mu."" lanjutnya.


""hm.. dasar cincin jimat bohongan."" rutuknya ke cincin yang lupa di lepas.

__ADS_1


""Awas..ratu Ompong mau lewat."" terobos Bintang menggunakan lututnya untuk melewati kaki kekar Aksa.


""Woy sakit."" sentak Aksa.


""Bodoh."" cuek Bintang pergi meninggalkan kelas yang di tarik tangannya oleh Dirgan.


""Gila si Dirgan, cewek ompong pun di embat."" Lirih Aksa menatap punggung Bintang dan Dirgan yang menghilang di ambang pintu kelas.


Di koridor menuju kantin.


""Woy...cewek Dirgan ganti lagi.."" celetuk siswa.


""ya ampun, Si Dirgan memang cowok mata Bohay.""


""Mata Dirgan sudah tidak waras..""


""Anak baru, hati hati lho, kena bullyannya si Gissela.""


Banyak ocehan tak bermutu masuk ke kuping Dirgan dan Bintang namun satu pun tidak di gubris oleh sepasang sahabat itu, mereka hanya berjalan lurus lurus berjalan menuju kantin.


Di kantin.


""Bughh.."" Dirgan menepuk pelan kepala Bintang memakai sendok.


Bintang nyengir ompong. ""Cantik kan Aku."" Celetuk Bintang.


""gila... kenapa harus pindah kesini dan itu apa? pakai tompel dan gigi kok di hitam hitamin pake semir sepatu.?"" celetuk cibik Dirgan memarahi sahabatnya.


"" Ahh..kamu mah nggak asyik, Aku lagi nyari sensasi baru dengan penampilan begini, seruuu tahu."" cuek Bintang ngomong seraya mengunyah makanan ringan.


""tch..sampai kapan? dengar ya, Bin.! jika kamu masih berpenampilan begini,kamu akan terkena masalah."" serius Dirgan memperingati sahabat nya, ia takut jika salah satu geng pembully mengusik sahabatnya, bukan takut kepada Bintang yang akan di bully Namun sebaliknya, Bintang akan melakukan hal sama kepada orang yang mengganggunya.


""Dirgan..?"" Tepuk siswa dari belakang Dirgan duduk.


Bintang melongo kesal melihat orang itu, sedetik kemudian ia meremas Snack yang di pegangnya.


""Morgan..?"" Batin marah Bintang.

__ADS_1


Bersambung...


Like.. komen.. Hadiah..Vote and Rate Lima 😘😘😘


__ADS_2