Blue Lotus Flower

Blue Lotus Flower
Mengerjai Gadis Mungilnya


__ADS_3

...Happy reading πŸ’•...


...Hope you enjoyed.....


...----------------...


Saat Javer memasuki kamar, dia mengerutkan keningnya karena tidak melihat keberadaan Teya. Namun, pria itu tersenyum ketika melihat pintu balkon yang sedikit terbuka.


Javer lantas melepaskan jas yang di kenakannya lalu segera menghampiri Teya.


"Setelah ini, pakailah pakaian yang sedikit tertutup." Javer berkata seraya memakaikan jasnya pada Teya.


Teya menoleh pada Javer. "Why??"


"Aku tidak ingin tubuhmu di nikmati oleh banyak pasang mata"


"Cih.. Tubuh ini adalah milikku, kau tidak berhak melarangku"


Javer sedikit kehilangan kesabarannya saat mendengar perkataan Teya yang begitu sarkas. Emosi Pria itu kini berbeda karena status mereka yang telah menjadi tunangan. Dia lantas memegang tangan kiri Teya lalu mengangkatnya ke depan wajah gadis itu.



Pict by : Pinterest


"Apa kau lupa jika aku telah mengikatmu menggunakan cincin ini, hmmm?"


Teya seketika terdiam, dia hanya bisa memalingkan wajah karena kehilangan kata-katanya, dia tidak lupa jika baru saja telah bertunangan dengan Javer. Hanya saja, Teya masih belum bisa menerima kenyataan ini. Lagi pula, kenapa juga keluarganya begitu mendukung pertunangan ini. Apa mereka tidak takut jika Teya berada dalam bahaya?


Bukan tentang bahaya yang akan datang dari musuh, karena Teya bisa menjaga dirinya sendiri. Justru bahaya terbesar yang mulai saat ini akan di hadapinya adalah Javer itu sendiri.


"Masuk lah, sudah waktunya untuk beristirahat"


Teya tidak menanggapi ucapan Javer, dia lebih memilih untuk menarik kembali tangannya yang masih di pegang pria itu kemudian berlalu masuk ke dalam kamarnya.


.....


"God.. Apa yang harus aku lakukan??"


Teya terus saja berjalan mondar mandir di dalam kamar mandi.


"Kenapa aku bodoh sekaliiii..!!"


Gadis itu melirik ke arah dress yang kini sudah tertumpuk dengan pakaian kotor.


"Tidak mungkin kan, jika aku harus kembali mengenakan pakaian itu!!"


"Aduh... Berpikirlah Teya...!!!"


Gadis itu mengetuk-ngetuk keningnya menggunakan jari telunjuk seraya masih berjalan mondar mandir di depan cermin.


Hingga..


Tok.. tok.. tok.. "Baby... Are you okay?"


Rasa panik gadis itu semakin menjadi ketika mendengar suara Javer.

__ADS_1


"Babby???"


"Aaaa.. Ya.. Tunggu sebentar.." Teya menyahut dengan cepat.


"Apa yang sedang kau lakukan? Ini sudah hampir satu jam berlalu semenjak kau masuk ke dalam"


"Aku.. Aku.." Teya bingung harus berkata apa.


"Apa kau membutuhkan handukmu babby?" Javer terdengar bertanya dengan nada jahilnya.


Ya, itu yang di butuhkan oleh Teya sekarang ini. Hanya saja, gadis itu terlalu gengsi untuk meminta bantuan kepada Javer. Dia kemudian melirik ke arah bath tub yang masih terisi penuh dengan air yang berbusa.


"Babby??" Javer kembali terdengar memanggilnya.


Mau tidak mau, Teya mendekati pintu dengan pasrah. Dan Cklek.. Terdengar suara kunci yang di buka secara perlahan.. Teya lalu sedikit mengulurkan tangan kirinya dari celah pintu.


"Bisa kah kau menyerahkan handuknya padaku?" Teya bertanya dengan sedikit memelas.


Alih-alih memberikan handuk itu, Javer justru menerobos masuk ke dalam kamar mandi.


Namun, berhubung Teya sudah memprediksi hal ini akan terjadi, dia sudah lebih dulu kembali menceburkan diri ke dalam bath tub. Dan beruntungnya, Bath tub itu terletak tidak terlalu jauh dari pintu, sehingga memungkinkan Teya untuk kembali menceburkan diri sebelum Javer benar-benar masuk ke dalam kamar mandi.


"Yakkkkk!! Cepat letakkan handuknya dan keluar dari sini.!" Teya berkata seraya menyilangkan tangannya di depan dada.


Javer tidak menghiraukan perkataan Teya, pria itu lantas berdiri menatap Teya dengan tangan kiri yang memegang handuk, dan tangan kanan yang di masukkan ke dalam saku celananya.


"Memohonlah" ucap Javer seraya menimang handuk yang dia pegang.


"Tidak!!" sahut Teya cepat.


Teya memejamkan matanya sejenak lalu menatap Javer dengan sangat tajam.. Sungguh, kini tubuhnya sudah merasa kedinginan, bahkan mungkin sebentar lagi akan menggigil. Bagaimana tidak? Setelah menyelesaikan acara mandinya, gadis itu terus saja berjalan mondar mandir tanpa mengenakan sehelai benang pun hingga membuat tubuhnya kering dengan sendirinya.


Teya menghela nafasnya pasrah lalu berkata dengan senyum yang di paksakan "Javer.."


"Hmm?" sahut Javer cepat.


"Bisa kau letakkan handuknya dan keluar dari sini?"


"Kumohon??"


"Ku mohon...." Teya menirukannya dengan terpaksa.


"Please..??"


"Please..." kini Teya mengatupkan giginya rapat-rapat, gadis itu terlihat mulai kehilangan kesabaran.


"Sayang??"


"Ayolah Javer.. Aku mulai menggigil.." Teya pun akhirnya tidak bisa untuk tidak merengek.


"Memohonlah dengan benar" Javer berkata seraya menaikkan sebelah alisnya.


Teya menghela nafasnya sejenak. "Javer.. Sayang.. Bisakah kau meletakkan handuknya dan keluar dari sini?? Please.. Ku mohon.."


"Tcih.." Javer mengalihkan pandangannya seraya mengulum senyum, pria itu tidak kuat menahan rasa gemasnya kepada Teya. Rasanya sungguh menyenangkan ketika dapat mengerjai gadis mungilnya.

__ADS_1


Javer lantas menggantungkan handuk itu pada gantungan wastafel lalu segera keluar dari kamar mandi.



Picy by : Pinterest


Setelah memastikan pintu tertutup dengan rapat, Teya bergegas keluar dari bath tub lalu segera memakai handuk itu.


Saat Teya keluar dari kamar mandi, dia sedikit mengerutkan keningnya karena tidak melihat tanda-tanda keberadaan Javer. Tapi, sedetik kemudian, gadis itu terlihat mengembangkan senyumnya. Bukan kah akan lebih baik jika pria itu tidak berada dalam satu ruangan bersamanya.


Teya pun berjalan menuju walk in closet lalu bergegas untuk mengenakan piyamanya.


Namun, saat Teya hendak keluar dari walk in closet, dia seketika mematung di ambang pintu. Bagaimana tidak? Gadis itu melihat Javer yang sudah terlelap di atas kasur dengan hanya mengenakan celana training panjang tanpa mengenakan atasan.


Teya meneguk ludahnya dengan kasar saat menatap tubuh sempurna yang Javer miliki. Lihatlah, bahkan perut pria itu bisa Teya gunakan untuk mencuci baju. Teya terus terpaku pada tubuh Javer hingga tidak menyadari jika pria itu kini sedang menatapnya.


"Apa kau sedang mengagumi tubuhku babby?" Javer mencoba untuk membuyarkan lamunan Teya.


Yang mana hal itu membuat Teya sedikit gelagapan. "A.. Aku tidak" gadis itu berkata seraya memalingkan wajahnya yang kini terlihat memerah.


"La, lagi pula.. Apa yang kau lakukan di situ??" Teya mengigit bibirnya karena telah mengajukan pertanyaan yang tidak masuk akal. Sudah jelas-jelas yang di lakukan Javer disana adalah untuk tidur.


Melihat tingkah gadisnya yang menggemaskan, Javer tidak kuasa menahan kekehannya. "Apa kau tidak melihat jika aku sedang mencoba untuk tidur?"


"Aku tau, tapi.. Bukan kah masih banyak kamar tamu yang tersisa, kenapa kau harus tidur di kamarku.." Teya enggan beranjak dari ambang pintu.


"Aku sudah mencoba, tapi Mama tidak mengijinkannya.." ucap Javer dengan acuh tak acuh..


"Haaaaah...." Teya menghembuskan nafasnya dengan pasrah..


Jika sudah menyangkut tentang mamanya, Teya tidak bisa berbuat apa-apa lagi selain pasrah. Sungguh, saat ini dia merasa sangat lelah dan mengantuk, di tambah lagi dengan hawa yang sangat dingin, membuat tubuhnya kian mendaba akan kenyamanan kasurnya yang empuk juga selimutnya yang hangat.


Teya tidak memiliki pilihan lain selain melangkah mendekati kasur, gadis itu pun akhirnya membaringkan tubuh di sisi kanan Javer.


"Jangan melewati batas" Teya berkata seraya menempatkan guling di antara mereka, lalu mulai memejamkan matanya.


Javer hanya menanggapinya dengan deheman kecil.


Hingga beberapa saat kemudian, Javer terkekeh saat Teya mulai mengeluarkan dengkuran halus. Javer lantas menyingkirkan guling itu lalu menarik Teya untuk masuk ke dalam pelukannya.


"Apa kau selelah itu, hmm.." ucap Javer seraya menyingkirkan helaian rambut yang menutupi wajah Teya.


Setelah membenarkan selimut yang mereka kenakan, Javer mengecup kening Teya untuk beberapa saat.


"Good night my babby girl.." ucap Javer lalu memejamkan mata, menyusul Teya yang sudah memasuki alam mimpinya.


...-TBC-...


Thanks for reading..


Jangan lupa kritik dan saran..


Salam sayang dari sensi πŸ’•


Byee byeeee..

__ADS_1


__ADS_2